
"PAPA MAMA" Barbara berteriak histeris melihat kedua orang tua terbaring tak berdaya dengan tubuh bersimbah darah.
"Pa, Ma. Siapa yang lakuin ini?" Barbara bertanya pilu.
"Per..gi Bar!" Fanco bertitah dengan suara menahan sakit.
"Per..gi yang ja..uh Bar." Kimberly pun ikut bersuara dengan susah payah.
Barbara bersimpuh di antara kedua orang tua nya.
"Siapa Pa? Bilang sama aku Ma!" Barbara bertanya dan meminta dengan histeris.
Fanco dan Kimberly menggeleng dan tersenyum getir.
"Ka..mu har..us ingat, Pa..pa Ma..ma say..ang kamu." Fanco kembali berkata dan meraih tangan putrinya lalu ia letakkan di dada nya, begitupun dengan kimberly.
Selesai mengatakan kalimat tersebut, Fanco dan Kimberly menghembuskan nafas terakhir mereka dengan tangan masing-masing menggenggam tangan putri mereka.
"Papa bangun, Ma bangun ma." Barbara berusaha membangunkan Papa dan Mama nya bergantian.
Barbara terus menangis histeris dan menggoyangkan tubuh kedua orang tua nya bergantian untuk membangunkan mereka, namun nihil.
Tak lama kemudian terdengar sirine mobil polisi sampai di rumah nya.
Para polisi masuk secara berombongan dan langsung melakukan tugas mereka masing-masing.
"Nona Barbara." Seorang pria menghampiri Barbara dan memapah nya untuk bangkit dari posisinya.
"Lepasin." Barbara meronta histeris.
Kekuatan pria itu cukup kuat hingga dapat tetap membawa Barbara bangkit dari posisinya.
"Nona Barbara harus tenang." Pria itu kembali berkata.
"Saya Harvest. Saya adalah asisten Tuan Fanco. Tadi saya mendapat pesan kode bahaya dari Tuan Fanco. Maka dari itu saya kemari membawa polisi." Pria bernama Harvest tersebut menjelaskan walau entah Barbara ingin mendengar nya ataupun.
Ia memapah Barbara untuk keluar dan duduk di teras rumah nya.
"Barbara." Sir Erick yang juga terlibat dalam penyelidikan kasus ini kaget melihat ternyata kasus ini berkaitan dengan Barbara.
Barbara tidak merespon, ia hanya duduk mematung dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.
"Tenang lah Nona." Harvest memberanikan diri memeluk putri mendiang atasan nya itu.
Barbara tetap tidak merespon.
"Aku bakal pastiin kasus ini terbongkar dengan cepat dengan atau tanpa menemukan pelaku pembunuhan ini." Sir Erick berucap semangat namun juga geram.
"Pa, Ma jangan tinggalin Bar. Bar nggak mau sendiri. Bar pengen ikut." Barbara menangis merengek seperti anak kecil yang ingin ikut orang tua nya bepergian.
Harvest terus berusaha menenangkan Barbara, sedangkan Barbara tetap tidak merespon apapun.
Hanya isak tangis yang terdengar penuh penyesalan dan derita.
Menunggu cukup lama hingga akhirnya Sir Erick kembali mendekati mereka.
__ADS_1
"Aku nggak nemuin senjata yang di pake buat membunuh Tuan dan Nyonya Alexio. Dugaan sementara penyebab kematian adalah luka tusukan yang berulang kali dibagian lambung.
Bar, apa boleh pihak kepolisian menginvestigasi lebih dalam dan meminta ijin untuk melakukan autopsi pada tubuh kedua orang tua kamu?" Sir Erick bertanya dengan hati-hati.
"Lakukan semua yang harus dilakukan. Aku ingin tau siapa yang udah membunuh kedua orang tua ku dengan kejam." Barbara berucap dengan nada datar nan dingin membuat yang mendengar pasti merasa takut.
Harvest mengangguk pada Sir Erick memberi persetujuan.
Sir Erick pun pamit kembali ke dalam rumah Barbara.
"Nona Barbara, sebaiknya Nona ikut dengan saya aja. Kita belum tau siapa pelaku pembunuhan ini dan apa motif nya. Alangkah baiknya jika Nona ikut dengan saya, itu mungkin akan sedikit membantu memberi perlindungan untuk Nona." Harvest memberi sara.
Barbara masih diam hingga tak lama akhirnya ia mengangguk.
Harvest pun dengan sangat berhati-hati memapah Barbara hingga masuk kedalam mobil nya.
Ia kembali kedalam rumah Barbara sejenak untuk berbicara pada Sir Erick.
"Sir, ini kartu nama saya. Kalau ada penemuan yang penting tolong segera hubungi saya. Saya akan mendampingi Nona Barbara dan juga nanti akan ada seorang pengacara Tuan Fanco." Harvest memberikan kartu nama nya pada Sir Erick.
"Baik Tuan Harvest." Sir Erick sedikit mengangguk.
"Apa saya boleh membawa Nona Barbara pergi dulu dari sini? Nona Barbara harus ditenangkan dulu, apalagi Tuan Fanco sempat bilang pada saya kalau Nona Barbara sedang hamil muda." Jelas Harvest bermaksud pamit.
"Silahkan. Jika ada penemuan terbaru dan jika kami membutuhkan kesaksian, kami akan menghubungi kalian lagi." Sir Erick memberi ijin.
Setelah membungkuk satu kali, Harvest pun mundur dan melangkah menuju ke mobil nya.
Ia memutuskan untuk membawa Barbara kembali ke rumah nya.
Tak lama mereka pun sampai di sebuah rumah minimalis yang tampak nyaman.
Harvest turun terlebih dulu dan mengitari mobilnya lalu membuka pintu mobil nya untuk Barbara.
Saat ia hendak membantu Barbara turun, Barbara menolak nya.
"Saya nggak lemah." Barbara berucap dengan nada datar.
Harvest mengangguk dan berjalan duluan masuk kedalam rumah nya.
Harvest mengetuk pintu rumah nya, dan tak lama kemudian seorang perempuan mudah membukakan pintu untuk mereka.
"Sayang." Harvest memeluk perempuan itu yang tak lain adalah istrinya.
Perempuan itu juga memeluk nya tak kalah erat.
"Oh ya, ini Barbara putri nya Tuan Fanco atasan aku dan ini istri saya Nona Barbara." Fanco memperkenalkan dua wanita itu bergantian.
"Adela." Istri Harvest mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Barbara." Barbara menjawab seadanya dan menerima singkat uluran tangan Adela.
"Sayang, tolong bawa Nona Barbara ke kamar buat istirahat." Harvest bertitah lembut pada istrinya.
Adela mengangguk.
__ADS_1
"Mari Nona Barbara." Adela menuntun didepan.
Adela tidak ingin bertanya tentang apa yang terjadi walau ia bisa melihat dengan jelas noda darah di tangan Barbara dan dibeberapa bagian tubuh nya, ia yakin suaminya akan menceritakan pada nya.
"Silahkan Nona. Maaf kamarnya sederhana." Adela berkata dengan sopan.
Barbara hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Adela pun pamit keluar dari kamar itu.
Adela memilih menghampiri suaminya yang sedang berbaring di sofa ruang tamu nya.
Adela duduk dan mengangkat kepala Harvest agar berbaring di atas paha nya.
"Sayang, kok anak atasan kamu ikut kesini? Terus juga badan nya ada bercak darah." Adela bertanya lembut sambil mengelus rambut suaminya lembut.
"Papa sama Mama nya dibunuh." Harvest menjawab singkat dengan mata terpejam.
Adela terkejut mendengar perkataan suaminya.
"Ceritain bener-bener deh." Adela menuntut kejelasan cerita dari suaminya.
"Aku juga nggak terlalu tau gimana kejadiannya." Harvest membuka matanya dan menghela nafas kasar.
Ia pun mulai menceritakan semua yang ia ketahui.
Adela kembali terkejut mendengar cerita dari suaminya.
"Jadi Tuan Fanco mengirimkan pesan kode bahaya ke kamu sesaat sebelum dia dan istrinya terbunuh?" Adela mencerna cerita dari suaminya.
"Mungkin sesaat sebelum itu, atau mungkin saat dia baru mendapat ancaman. Aku juga kurang tau, soalnya pas nyampe ke rumah nya aku lihat mereka udah nggak bernyawa dan Nona Barbara bersimpuh di antara mereka sambil menangis." Harvest menjelaskan sesuai yang ia lihat dan ketahui.
Adela mengangguk.
"Kasian Nona Barbara. Ya udah, biarin Nona Barbara tinggal di sini aja dulu." Adela memberi usul.
"Kamu nggak takut?" Harvest bertanya menggoda istrinya.
"Takut? Oh, takut kamu gila? Ya nggak lah. Iya kali kalo anak atasan kamu mau sama kamu. Aku mau sama kamu aja kamu udah harus bersyukur." Adela meledek suaminya.
Mereka berdua terkekeh kecil.
"Iya, biarin aja Nona Barbara tinggal di sini dulu sekarang. Paling nggak sampe hasil autopsi Tuan Fanco dan Nyonya Kimberly keluar baru dia bisa ngambil keputusan." Harvest berkata sambil mengelus lembut telapak tangan istrinya yang berada diatas dada nya.
...~ To Be Continue ~...
########
Maafkan aku reader yang tersayang, dari jumat kemarin sampai hari ini bahkan mungkin satu minggu kedepan diriku sibuk banget.
Bab ini aja tadi malam mau up tapi ngetiknya pending melulu.
Sekali lagi maaf yah.
Jangan bosan nunggu up dari ku hehe.
__ADS_1