
"Ini kan?" Mario bergumam pelan.
Prang
Kotak kaca tersebut tak sengaja jatuh dari tangan Mario saat ia terkejut mendengar suara pergerakan Barbara dari ranjang.
"What? Astaga, ngapain sih Mar pake rusakin barang aku?" Barbara bertanya kesal saat mendengar suara barang pecah dan langsung turun dari ranjangnya dan memunguti gelang beserta pecahan kaca tersebut.
"Bar, kamu dapet darimana gelang itu?" Mario bertanya penasaran.
"Bukan urusan kamu." Barbara menjawab kesal.
"Jawab aku Bar!" Mario bertitah lalu mencengkram pundak Barbara namun tidak sampai menyakiti nya.
"Apaan sih Mar? Udah aku bilang bukan urusan kamu." Barbara kembali menjawab dengan kesal dan menepis tangan Mario yang memegang pundak nya.
"Bar, please jawab." Pinta Mario penuh harap.
"Teman masa kecil." Barbara menjawab seadanya dan terus memungut sisa pecahan kaca tersebut, sedangkan gelang nya tadi sudah ia masukan kedalam laci nakas nya.
Mario langsung memeluk Barbara.
"Makasih Bar. Makasih kamu udah kembali lagi buat aku. Makasih kamu udah nepatin janji kamu." Mario berucap penuh haru.
Barbara sedikit bingung.
"Apaan sih Mar?" Barbara bertanya bingung meminta Mario melepaskan pelukan nya.
Mario tetap memeluk Barbara tanpa mempedulikan permintaan nya.
"Makasih Bar." Hanya itu yang terucap dari bibir Mario.
Barbara akhirnya pasrah dan membiarkan Mario memeluk nya sejenak hingga Mario melepas sendiri pelukan nya.
"Kamu teman masa kecil aku Bar, dan aku teman masa kecil kamu." Mario berkata membuat Barbara membulatkan mata nya.
"Masa iya?" Barbara bertanya tidak percaya.
Mario mengangguk.
"Kamu masih ingatkan waktu aku kasih kamu gelang itu? Gelang yang aku bikin sendiri dengan tali pita seadanya dan aku kasih ke kamu sehari sebelum kamu dan keluarga kamu pindah dari Melbourne." Mario menjelaskan.
Barbara mencoba mengingat. Ia memang ingat gelang itu pemberian dari teman masa kecil nya, namun ia sudah tidak terlalu ingat kejadian persis nya seperti apa.
Barbara akhirnya mengangguk anggukan kepalanya setelah mengingat kejadian itu.
"Jadi kamu Mar mar beneran?" Tanya Barbara tersenyum jahil.
Mario tersenyum bahagia dan mengangguk.
"Tapi kenapa nama kamu jadi Barbara? Bukannya dulu nama kamu Gwen?" Mario bertanya bingung.
"Nama aku Barbara dari lahir kali. Cuma kamu nya aja yang suka manggil aku Gwen. Kata kamu Barbara kepanjangan." Barbara menjawab.
Mario menggaruk tengkuk lehernya dan tersipu.
"Makasih bar." Mario kembali memeluk Barbara erat.
"Udah ih." Barbara meminta Mario melepaskan pelukan nya.
Mario menurut.
"Sini aku yang buang." Mario merebut pelan semua pecahan kaca yang sudah Barbara pungut dan ia masukkan ke dalam kotak sampah tadi.
Barbara mengiyakan.
Mario membuang pecahan kaca tersebut ke tong sampah yang ada di pojok ruangan kamar Barbara.
Setelah itu ia kembali dan duduk di samping Barbara yang sudah duduk di sofa ujung ranjang Barbara.
__ADS_1
Mereka duduk bersama sambik bercerita tentang masa kecil mereka.
"Ya ampun, lucu banget kalo diingat ya." Barbara terkekeh geli.
"Iya Bar. Nggak nyangka anak cewe yang kecilnya tomboy banget, sekarang malah cantik banget dan bentar lagi bakal jadi Mama." Mario menatap intens setiap inci wajah Barbara.
"Dan nggak nyangka juga anak cowo yang kecilnya hopeless banget, sekarang malah jadi pengacara yang digandrungi banyak orang. Duduk aja sampe dikelilingi cewe-cewe bohay dong." Barbara menggoda Mario mengingat kejadian di acara Fashion show tadi.
"Bukan gitu Bar. Awalnya aku duduk bareng klien Papa kamu loh. Nggak taunya malah mereka pindah dan nyuruh itu cewe-cewe duduk di samping aku." Mario menjelaskan dengan rasa bersalah.
Barbara terkekeh.
"Nggak masalah kali Mar. Siapa tau mereka jodoh kamu?" Barbara menggoda Mario lagi.
"Mereka? Berarti dua sekaligus dong." Mario terkekeh geli.
Mereka tertawa bersamaan.
"Haha. Udah ah, aku udah ngantuk nih. Besok-besok lagi kita ngobrol." Barbara mengusir Mario secara halus.
"Iya iya. aku pulang." Mario akhirnya bangkit dari duduknya dan beranjak dari kamar Barbara.
Sepeninggal Mario, Barbara langsung beristirahat.
Mario didalam mobil.
"Ya Tuhan, jadi dia benar-benar orang yang aku cari. Gwen kecil ku. Apa aku masih harua meneruskan misi ku sama Harvest atau stop sampe disini?" Mario menggerutu bingung.
Ia masih di halaman rumah Barbara dan belum beranjak.
"Kalo aku terusin ... dan kali aku nggak terusin ... " Mario tampak mempertimbangkan keputusan terbaik yang harus diambilnya.
"Argh..bingung aku harus gimana?" Mario mengerang pelan sedikit mengacak rambutnya kasar.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah Barbara tanpa mendapat keputusan yang terbaik.
Pagi telah menyambut.
Tampak Barbara masih nyaman bergelut dengan ranjang empuk nya.
Seseorang yang melihat nya masih tertidur pulas pun menyunggingkan senyuman mesumnya.
Seseorang itu naik keatas ranjang nya dan berbaring lalu memeluk Barbara dari samping.
"Eng." Barbara melenguh pelan saat merasakan sesuatu menghimpit nya.
Perlahan ia membuka mata nya dan mengerjapkan nya beberapa kali.
"Pagi sayang." Ucap si Tuan Mesum pada Barbara.
"Frans kamu ngapa ... " Belum sempat Barbara ingin memaki, bibir nya sudah dilahap dulu oleh Frans.
Frans melahap bibirnya dengan sangat lembut membuat Barbara terbuai dan tanpa sadar membalasnya.
Frans melepaskan ciumannya dan menatap lekat wajah yang ia cintai itu.
Barbara juga membalas tatapan mata tajam Frans.
Mereka beradu tatapan hingga cukup lama.
"Gimana kabar baby kita? Dia nggak nakal kan?" Frans bertanya dengan penuh cinta.
Tanpa sadar senyum kecil terbit di bibir Barbara.
Barbara menggeleng pelan.
Frans tersenyum.
"Ya udah, bangun terus mandi gih. Morning kiss kan udah. Apa mau olahraga pagi juga?" Frans bertanya mesum.
__ADS_1
Barbara menatap tajam pada nya.
"Aku belum maafin kamu tentang tadi malam yah." Barbara mendengus kesal lalu bangkit dari posisinya dan turun dari ranjangnya kemudian berjalan menghentakkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku kan nggak punya salah Bar. Aku cuma jujur sama kamu tentang sesuatu yang memang harus aku katakan." Frans berucap sedikit berteriak.
Frans tidak lagi mendengar suara dari Barbara selain suara gemercik air tanda Barbara sedang mandi.
Frans memutuskan untuk menunggu Barbara di atas ranjang sekalian modus. Bukan Frans jika tidak mesum dan modus pada Barbara.
Selesai mandi, Barbara keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk dari atas dada nya hingga paha nya.
"Sial." Barbara merutuk saat melihat Frans sedang menatap nya dengan tatapan lapar.
Frans malah menaik turunkan kedua alisnya menggoda Barbara.
"Keluar." Barbara menghardik Frans kesal.
"Nggak boleh gitu sama suami." Frans tetap bersikukuh ditempat nya.
Sigap Barbara berjalan mendekati ranjang nya, meraih bantal dan memukul Frans secara brutal.
"Keluar!" Barbara bertitah dan terus memukul Frans hingga Frans turun dari ranjangnya dan semakin menghindar hingga keluar dari kamarnya.
"Sekarang nggak bisa liat, tapi entar juga bakal dapet plus plus Bar." Teriak Frans dari luar kamar nya.
"Brengsek." Ketus Barbara.
Sedangkan Frans hanya tertawa terbahak dan terdengar suara nya semakin menjauh.
"Harusnya aku minta pengawal sama Mario atau Harvest biar nggak ada yang bisa sembarangan keluar dari masuk kerumah ku." Barbara menggerutu sambil mengenakan pakaian nya lalu merias wajah cantik nya.
Setelah selesai, ia pun meraih tas jinjing nya lalu turun ke bawah untuk sarapan.
Saat sampai diruang makan nya, Barbara melihat Frans dengan santai melahap sarapan nya.
"Woi, yang Tuan rumah tuh siapa?" Barbara bertanya kesal dan menepuk keras pundak Frans membuat Frans meringis.
Frans hanya terkekeh.
Barbara pun duduk di hadapan Frana dan menyantap sarapan nya.
Bersyukur Tasya selalu menyiapkan sarapan yang lebih jadi ia tidak akan kelaparan karena ulah Frana yang tidak tahu malu.
"Sayang, ingat ya persaingan aku sama si Mar jelek itu belum selesai. Jadi kamu mulai sekarang harus selalu merasakan pakai hati apa yang kami berdua lakuin buat kamu. Jadi nantinya kamu bisa memutuskan siapa yang bakal kamu pilih." Frans mengingatkan.
Barbara tidak merespon dan asyik menikmati sarapannya.
Selesai sarapan, Frans memaksa mengantar Barbara berangkat ke perusahaan nya.
Barbara akhirnya menurut. Biasanya ia akan dijemput Mario, namun hari ini Mario tidak datang bahkan tidak ada kabar.
Akhirnya Frans dengan senang hati mengantar wanita pujaan nya berangkat ke kantor.
"Sayang, persiapan buat baby udah semua?" Frana bertanya perhatian.
Barbara hanya mengangguk.
"Nggak sabar deh pengen cepet gendong baby." Frans berucap dengan nada lucu membuat Barbara tersenyum kecil.
Tak lama mereka pun sampai di depan perusahaan Barbara. Barbara melaranh Frans mengantar nya kedalam dan Frans menurut.
Frans pergi setelah memastikan Barbara sudah masuk ke dalam dengan aman.
......~ To Be Continue ~......
#####
Yok like dan komen nya...💪💪
__ADS_1