Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Lima Bulan


__ADS_3

Kehamilan Barbara telah memasuki usia lima bulan.


Walau begitu, perutnya tidak tampak terlalu membesar.


Apalagi ketika mengenakan pakaian longgar, ia sekilas tidak tampak seperti perempuan hamil.


Hari ini adalah jadwal ia untuk memeriksa perkembangan janin nya.


"Mar, mau ya temenin aku." Barbara meminta memelas pada Mario yang sedang mengantarkan sarapan untuk nya.


Mario menggeleng kepalanya kuat.


"Nggak mau Kim. Aku nggak mau nanti dokter nyebut aku suami kamu." Mario menolak walau sebenarnya didalam hati nya ia sangat ingin menemani Barbara.


"Please lah Mar." Barbara mengatupkan kedua tangannya.


Barbara merasa sangat gugup untuk pemeriksaan kali ini karena ia juga akan memeriksa jenis kelamin janin nya.


Ini pertama kali Barbara pergi ke rumah sakit dengan tujuan utama untuk memeriksa perkembangan janin nya setelah semua yang ia telah lalui.


"Nggak mau Kim. Please lah jangan maksa." Mario tetap menolak.


Mario sebenarnya juga merasa gugup, apalagi jika dia benar-benar menemani Barbara, maka ini kali pertama nya menemani seorang wanita hamil untuk pemeriksaan.


"Ya udah." Barbara menjawab ketus, mengambil tas jinjing nya lalu bangkit dari duduk nya langsung melangkah pergi tanpa sarapan.


"Bar, sarapan dulu." Mario mengejar nya dan mencekal pergelangan tangan nya lembut.


Barbara menepis.


"Nggak usah." Barbara kembali melangkah dengan cepat dan masuk kedalam mobil nya lalu melajukan mobilnya segera kerumah sakit.


Mario memutuskan untuk mengejar nya.


Bagaimanapun Mario tetap khawatir pada Barbara. Ia menyayangi Barbara, namun entah kenapa ia tetap berusaha menjaga jarak dengan Barbara, mungkin karena hati nya masih digenggam oleh seseorang di masa lalu nya.


"Susah banget kalo ibu-ibu hamil udah ngambek." Mario menggerutu sendirian sambil menyetir.


Perjalanan yang cukup lama hingga akhirnya Barbara sampai di rumah sakit tempat ia akan memeriksa kandungan nya.


Mario juga sudah sampai.


"Ngapain juga ngikut." Barbara membatin saat melihat Mario tepat di belakang nya.


Barbara tidak menghiraukan Mario dan langsung berjalan masuk kedalam rumah sakit.


"Pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis rumah sakit itu menyapa Barbara dengan sopan.


"Saya udah buat janji temu sama dokter Elisa." Barbara menjawab sedikit tersenyum paksa.


Barbara kini menjadi lebih dingin terutama terhadap orang asing.


Ia juga menjadi lebih tegas ketika membuat keputusan, walau kadang masih sering pasrah dan apa adanya.


Ia terpaksa harus menghentikan latihan menembak dan bela diri nya karena para pelatih pribadi nya tidak ingin membahayakan janin nya.


"Oh, sebentar saya periksa dulu." Ucap resepsionis tersebut.


Ia pun mulai memeriksa sesuatu di komputer nya.


"Dokter Elisa sudah bisa ditemui." Ucap resepsionis itu lagi.


Barbara pun diarahkan ke ruangan dokter Elisa.

__ADS_1


Mario setia mengikuti dari belakang, ia juga merasa risih ketika para perawat dan orang yang lalu lalang menatap memuja pada nya.


"Silahkan Nyonya." Nggak perawat yang tadi diarahkan untuk menuntun Barbara ke ruangan dokter Elisa setelah ia mengetok dan membuka pintu ruangan dokter Elisa.


Barbara hanya tersenyum kecil dan melangkah masuk kedalam dengan segala rasa khawatir dan gugup.


Mario memilih menunggu di depan pintu ruangan dokter Elisa.


"Nyonya Kim masih kelihatan langsing padahal lagi hamil lima bulan ya." Dokter Elisa memuji Barbara sambil memeriksa kandungan Barbara.


Barbara hanya tersenyum singkat.


"Kondisi janin semuanya sehat, gak ada masalah. Wah, bayi anda berjenis kelamin perempuan." Ucap dokter Elisa menjelaskan.


Mata Barbara seketika berbinar, ia bahagia akan memiliki bayi perempuan, walau sebenarnya ia juga tidak keberatan jika bayinya harus laki-laki.


Selesai memeriksa, dokter Elisa menuntun Barbara untuk duduk di kursi depan meja kerja nya.


Ia menjelaskan sedikit tentang hasil pemeriksaan dari kandungan Barbara.


"Ini resep vitamin yang harus Nyonya konsumsi." Ucap dokter Elisa memberikan resep yang sudah ia tulis tadi pada Barbara.


"Terima kasih." Barbara menjawab dingin, mengambil resep tersebut lalu keluar dari ruangan itu.


Ia sedikit terkejut saat melihat Mario ternyata setia menunggu di depan pintu ruangan dokter Elisa.


Ia memilih mengabaikan Mario dan berjalan melewati nya.


"Bar, gimana hasil nya?" Mario bertanya cemas, takut jika ada sesuatu yang tidak baik terjadi.


Barbara tidak ingin menjawab dan terus melangkah.


"Bar, tunggulah." Mario mempercepat langkahnya karena Barbara juga mempercepat langkahnya.


Barbara segera berbalik hingga tidak sengaja bibir nya menyentuh bibir Mario.


Mereka sama-sama terkejut, namun Barbara menahan Mario agar tidak melepaskan diri.


"Frans." Barbara membatin saat melihat punggung Frans yang sudah melewati nya.


Barbara kembali tersadar.


"Maaf. Aku nggak sengaja." Barbara berucap lirih dengan menahan sesuatu di dalam hati nya.


Mario tidak marah, karena ia tahu Barbara memang tidak sengaja. Ia hanya ingin tahu kenapa Barbara menahan nya agar tidak melepaskan diri.


Namun sepertinya tidak baik jika harus bertanya sekarang.


Barbara kembali melangkah pergi hingga masuk kedalam mobil nya.


Ia segera mengunci pintu mobilnya dan mengabaikan Mario yang mengetok pintu mobil nya.


Ia duduk lemas didalam mobil nya.


Itu pertemuan pertama nya dengan Frans setelah sekian lama. Entah kenapa Barbara merasakan rindu pada Frans.


"Udahlah Bar. Kalo kamu bisa hidup lebih baik tanpa pria-pria gila itu, ngapain juga kamu mesti kangen lagi." Barbara menggerutu menyadarkan diri nya.


Ia perlahan mulai mengeluarkan mobilnya dari parkiran rumah sakit, dan perlahan melajukan mobilnya untuk pergi ke perusahaan nya.


Ia mempercayai Harvest untuk mengelola perusahaan utama warisan Ayahnya, sedangkan dirinya sudah membuka anak perusahaan yang bergerak di bidang modelling.


Mario tetap mengelola aset atas nama Frans pada akhirnya karena Harvest menolak membantunya. Aset atas nama Frans, Mario ubah menjadi atas nama anak Barbara yang belum lahir.

__ADS_1


Mario tidak mengikuti Barbara lagi karena ia tahu Barbara menuju ke perusahaan nya.


Tak lama Barbara pun sampai di agensi modelling yang ia beri nama K'Agency.


Ia turun dari mobil nya dan melangkah masuk kedalam gedung itu.


"Eih Nyonya besar." Adela menyapa Barbara saat mereka berpapasan didepan lift.


Barbara meminta Adela menjadi tangan kanan nya.


Barbara juga berteman cukup dekat dengan Adela dalam urusan pekerjaan.


"Nggak usah Nyonya Nyonyaan. Proyek minggu depan udah kelar belum?" Barbara bertanya sinis pada Adela sambil mereka melangkah masuk kedalam lift yang sudah terbuka pintunya.


"Udah dong. Tapi dari pihak klien kita punya perwakilan baru Kim. Perwakilan mereka diutus dari Las Vegas." Adela menjelaskan terkait proyek pekerjaan mereka minggu depan.


Barbara mengernyit bingung.


"Syuting iklan di sini? Perusahaan produk iklan nya juga disini? Tapi kenapa perwakilan mereka mesti dari Las Vegas?" Barbara bertanya bingung.


Adela jadi berpikir sejenak.


"Aku nggak begitu jelas juga. Tapi ity yang mereka bilang. Mungkin ada agensi lain yang bakal ikut syuting ini iklan." Adela menalarkan.


Barbara sedikit mengangguk.


"Siapa perwakilan dari Las Vegas?" Barbara bertanya ingin tahu saja.


Adela membolak balikkan lembaran map ditangan nya.


"Em...perwakilan dari Las Vegas itu ada satu model cewe namanya Alexiana terus satu lagi CEO nya dia nama nya.." Adela sedikit susah menemukan nama CEO perusahaan perwakilan dari Las Vegas itu.


Barbara setia menunggu kelanjutan jawaban Adela.


Ting


Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar dari lift itu menuju ke ruangan Barbara.


"Ah..nama CEO nya Felix Lorenzo." Adela menjawab semangat.


Barbara membulatkan mata nya mendengar nama Felix begitu nyata di telinga nya.


"Kamu yakin?" Barbara bertanya datar.


"Iya. Yakin aku. Agensi nya itu namanya FL." Adela menjelaskan lagi.


Barbara kini yakin itu adalah Felix yang pernah ia cintai dengan begitu besar, namun pada akhirnya hanya mendapat luka sebagai balasan.


"Aku nggak ikut dalam proyek kali ini. Kamu aja yang urus semua nya. Dokter bilang aku harus banyak istirahat karna janin aku sedikit lemah." Barbara memerintah dengan sedikit dalih.


Ia hanya belum siap untuk bertemu pria brengsek itu untuk saat ini.


"Siap bu Bos." Adela menyanggupi tanpa banyak mengeyel.


Adela memang sangat menurut pada setiap perintah Barbara.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka dengan serius tanpa banyak bicara jika tidak penting.


...~ **To Be Continue ~...


#####


Pengen bikin Felix ketemu Barbara, tapi masih mikir dulu**.

__ADS_1


__ADS_2