Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Aku akan kembali.


__ADS_3

"Om, tante aku mohon restui aku buat bahagikan Bar." Pinta Frans dengan segala keberanian dan ketulusan nya.


Fanco dan Kimberly tersentak melihat Frans yang tiba-tiba berlutut di depan mereka.


Namun mereka membiarkan nya sesaat.


Frans tidak keberatan jika memang bisa meluluhkan hati kedua orang tua dari wanita yang ia cintai.


Meski mungkin terlihat bodoh dan rendah dimata orang lain.


Tapi apapun akan ia lakukan untuk memperjuangkan wanita yang ia cintai.


"Frans, kamu ngapain?" Barbara bertanya sedikit berteriak saat melihat Frans berlutut di depan orang tua nya.


Ternyata Barbara sudah terbangun dari tidurnya.


Ia hendak menghampiri Frans dan membantu Frans berdiri, namun Frans mengangkat tangannya memberi tanda agar Barbara tidak ikut campur.


Barbara akhirnya menurut.


"Om, tante, aku tau aku bukan pria baik. Aku nggak sebaik pria normal lainnya diluar sana, aku aneh, aku player, tapi satu yang aku tahu sekarang yaitu aku mencintai Barbara. Dan satu yang aku mau sekarang hanya Barbara. Aku nggak akan berjanji apapun sama om dan tante, tapi aku akan berusaha semampu aku untuk menjadi yang terbaik buat Bar dan kasih dia kebahagiaan yang seharusnya dia dapatkan." Frans mencoba meyakinkan orang tua Barbara.


"Bar, sini." Fanco meminta putrinya agar berdiri di samping Frans.


Barbara menurut.


"Kamu percaya sama dia? Sama semua yang dia bilang?" Fanco bertanya meminta jawaban dari putrinya.


"Aku nggak tau Pa. Tapi selama aku dapat masalah, Frans yang selalu ada di samping aku buat dukung aku." Barbara menjawab jujur.


Frans sedikit tersenyum, setidaknya Barbara mengakui keberadaan nya.


"Status kamu dan Felix apa sekarang?" Barbara Fanco lagi.


Ia tentu tidak ingin jika nanti putrinya benar-benar disebut sebagai istri tukang selingkuh.


Barbara diam sejenak tampak sedang berpikir dan mengingat.


"Hari itu sejak dia minta maaf dan bilang pengen berubah terus Bar ikut dia pulang, dia sama sekali nggak ngurus surat rujuk kami atau surat menyurat lain nya yang menjelaskan status kami Pa. Jadi tetap status kami udah pisah." Barbara menjawab jujur sesuai kenyataan.


Fanco mengangguk pelan.


"Berdiri." Fanco memberi perintah pada Frans.


Frans menurut, ia pun segera berdiri di samping Barbara.


"Saya nggak mau denger segala ucapan cinta dari kamu. Semua itu udah nggak penting. Udah muak saya dengar laki-laki yang bilang cinta sama Bar, tulus sama Bar, tapi ujung-ujungnya tetap aja nyakitin Bar. Saya sebenarnya nggak ada niat mau nyari menantu lagi, putri dan cucu saya udah cukup buat saya. Tapi saya akan coba kasih kamu satu kesempatan buat kamu. Saya mau melihat bukti tindakan dari kata-kata kamu." Ucap Fanco panjang lebar namun nada bicara nya datar.


Frans tersenyum.


"Saya akan berusaha semampu saya om. Saya nggak mau berjanji apapun, tapi saya yakin saya pasti bisa bahagikan Bar om." Bicara Frans menjadi formal dan ia sesekali menatap Barbara dan Fanco bergantian.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu boleh pulang." Fanco mengusir halus.


"Um, ada satu lagi om. Besok saya mesti balik ke Las Vegas buat selesaikan sedikit urusan om." Frans meminta ijin.


"Urusan apa? Jangan bilang kamu baru mau ceraikan istri kamu?" Fanco bertanya menuduh asal.


"Oh bukan om. Saya masih lajang kok. Tapi ini urusan kerjaan om. Mesti turun tangan sendiri." Frans menjawab jujur.


Fanco berusaha mencari tanda kebohongan sari wajah Frans, namun nihil.


"Ya udah kalo gitu. Cepet selesaikan urusan kamu dan balik kesini buat buktikan ketulusan kamu sama putri saya." Ucap Fanco dingin.


"Iya om. Saya janji bakal usahakan selesai cepat om." Frans mengangguk pelan.


Frans kemudian menatap kekasihnya yang menunduk.


"Sayang, kenapa?" Frans bertanya khawatir.


Barbara akhirnya menatap nya lalu menggeleng pelan.


"Nggak kok." Barbara menjawab singkat.


Frans tersenyum.


Ia kemudian memeluk erat Barbara.


"Tunggu aku ya sayang. Aku janji bakal usahakan cepat selesai urusan nya. Terus aku bakal balik lagi buat buktiin ke Papa sama Mama kamu kalo aku beneran cinta sama kamu dan aku tulus sama kamu." Frans berucap serius.


"Em." Barbara hanya berdehem pelan dan sedikit mengangguk.


Ia juga membalas pelukan Frans.


"Ya udah, sekarang aku pamit dulu ya. Biar besok bisa cepet balik ke Las Vegas." Frans melepaskan pelukan nya.


"Perlu di antar?" Barbara bertanya.


"Nggak usah sayang. Kamu istirahat aja dirumah. Aku bisa sendiri kok." Frans menjawab sambil menangkup wajah Barbara dengan kedua tangannya.


Frans berjongkok mensejajarkan tingginya hingga ke perut Barbara.


"Baby, Papa mesti pulang ke Las Vegas dulu besok buat selesaikan kerjaan Papa. Kamu jagain Mama ya, nggak boleh nakal. Nggak boleh bikin Mama kecapekan." Frans berbicara dengan perut Barbara.


"Papa sayang kamu." Frans mengecup sayang perut Barbara.


Ia kemudian berdiri dan mengecup kening Barbara.


"Aku pamit dulu ya sayang. Aku janji aku akan kembali." Frans pun melangkah keluar meninggalkan rumah orang tua Barbara.


"Semoga aja aku bisa selesaikan masalah ini." Frans membatin sambil masuk kedalam mobil nya lalu pergi.


"Bar." Fanco memanggil putrinya lembut.

__ADS_1


Barbara mendekati Ayahnya dan memeluk erat Ayahnya.


"Kamu harus bahagia ya. Nggak peduli nanti sama Frans atau siapapun, atau bahkan kamu sendiri. Papa dan Mama nggak bisa selamanya jagain kamu." Ucap Fanco yang malah terdengar seperti ucapan perpisahan.


"Iya Pa. Bar janji. Sendiri dengan anak Bar atau bertiga dengan Frans, Bar janji bakal bahagia Pa." Barbara menjawab lembut.


"Ya udah yuk, kita makan. Papa laper. Tadi udah dimasakin sama pelayan." Fanco melepaskan pelukan nya dari Barbara dan merangkul istri dan putri tercintanya menuju ke ruang makan.


######


"Tuan." Seseorang berteriak memanggil Felix dengan susah payah.


Saat ini Felix sedang berada di sebuah club malam dikelilingi oleh beberapa wanita cantik dan sexy yang rata-rata semuanya hampir telanjang.


Sejak Barbara memilih pergi dari nya, Felix memang menjadi liar lagi. Ia juga sering menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan, bermalam dengan wanita malam, bahkan ia mulai kembali membunuh lagi.


"Apaan sih? ganggu aja." Felix menggerutu kesal.


"Ada hal penting yang mau saya sampaikan tentang Nyonya Barbara." Bawahannya tadi menjawab.


Suara mereka hampir ditelan oleh dentuman musik yang memekakkan telinga.


"Ngomong aja, nggak usah basa basi." Felix bertitah sambil mencumbu wanita yang ada di atas pangkuan nya.


"Orang tua Nyonya Barbara sudah memberi restu pada Tuan Frans untuk mereka bersama Tuan." Ucap anak buah nya lagi.


Seketika Felix geram dan mendorong kuat wanita yang ada di atas pangkuan nya hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai.


"Bangsat." Felix memaki.


Brakk..prang


Felix membalikkan meja yang ada di depan nya hingga gelas-gelas dan botol alkohol yang ada di atas meja pun pecah berantakan.


"Murahan. Bisa-bisanya dia milih pria sialan itu. Apa kurangnya aku. Apa yang nggak bisa aku kasih sama dia? Apa pria brengsek itu lebih bisa muasin dia? Liat aja Bar, kalo aku nggak bisa milikin kamu, jangan harap orang lain bisa milikin kamu. Lebih baik kamu mati." Felix berucap geram dan penuh amarah.


Ia bangkit dari duduk nya dengan menjambak rambut seorang wanita di dekat nya lalu menarik kasar rambut wanita itu agar ikut dengan nya.


Sudah bisa dipastikan Felix akan menyalurkan hasrat birahi dan membunuh nya pada wanita malang yang menjadi sasaran empuk nya malam ini.


...~ To Be Continue ~...


#####


Udah, udah jangan pada debat Felix atau Frans.


Mereka sama-sama gila tapi punya prinsip dan karakter berbeda.


Jadi jika masih berminat untuk ngikutin cerita Barbara, jangan pernah bosan nungguin up nya.


Makasih banyak buat yang selalu setia pantengin kelanjutan cerita nya.

__ADS_1


Buat yang selalu komen dan like juga makasih banyak.


__ADS_2