Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Rindu


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian.


"Bar, hari ini aku banyak banget kerjaan jadi malam kamu nggak usah nunggu aku yah." Frans mengingatkan Barbara.


Barbara hanya mengangguk.


Mereka sedang menikmati sarapan.


Kaki Barbara juga sudah bisa berjalan walau masih menggunakan tongkat.


"Nggak ada bekal buat aku?" Frans bertanya, niat nya hanya bercanda.


"Nggak. Kan emang nggak pernah juga bawa bekal." Barbara menjawab seadanya.


Frans tersenyum.


"Bercanda Bar." Ucap nya.


Barbara hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Frans yang sudah selesai pun bangkit dari duduk nya.


"Ya udah, aku pergi dulu ya. Kamu kalo ada apa-apa langsung hubungi aku." Titah Frans.


"Eh, nggak usah. Kamu duduk aja." Frans memerintah saat Barbara hendak berdiri.


Barbara akhirnya duduk kembali.


"Aku pergi ya. Sampe nanti." Frans mengecup sayang kening Barbara.


Kebiasaan nya setiap kali ia akan pergi bekerja.


Barbara awalnya selalu menolak, namun Frans tetap melakukan itu hingga akhirnya Barbara malas berkata lagi.


Sepeninggal Frans, Barbara pun menyudahi kegiatan sarapan nya.


Ia memilih berjalan ke arah taman belakang rumah Frans.


Taman bunga mawar merah. Tampak indah walau sedikit tidak terurus.


Ia kemudian memilih duduk di kursi taman itu.


Matanya memandang ke langit.


Air mata nya kembali menetes.


"Fel, kamu lagi ngapain?" Barbara bertanya seolah bertanya pada Felix langsung.


"Kenapa kamu tega banget sama aku kayak gini? Apa salah aku? Cuma karna aku hamil anak kamu, kamu dengan mudah campakin aku. Lalu apa makna dari semua janji suci bahkan sumpah sarah yang udah kita lakuin itu? Apa semuanya benar-benar nggak ada artinya buat kamu? Apa segitu dangkal cinta kamu buat aku? Kamu yang selama ini bilang nggak mau kehilangan aku, tapi kamu juga yang dengan mudah campakin aku. Kenapa Fel? Kenapa kamu jadi kayak gitu? Apa nggak bisa kamu coba sekali aja, sekali aja buat nerima anak kamu. Ketakutan kamu nggak beralasan Fel kalo kamu memang cinta beneran sama aku. Kamu nggak akan berkhianat, aku juga. Jadi nggak ada alasan buat anak kita bakal punya masa kecil kayak kamu." Barbara membatin panjang lebar dalam hati nya.


Air mata nya terus mengalir deras, dan tangannya setia memeluk perut nya.


"Aku kangen Fel." Barbara kembali membatin sambil memegang dadanya yang sesak.


#####


"Felix." Seseorang menyapa Felix dari balik pintu ruangan kerja nya.

__ADS_1


Sudah sebulan ini Felix menghabiskan waktu hanya dengan bekerja dan bekerja.


"Masuk." Titah Felix tanpa mengetahui siapa yang ada dibalik pintu itu.


Cekrek


Pintu itu dibuka.


Felik mengangkat kepalanya.


"Ngapain kesini?" Felix bertanya dingin.


Frans adalah orang yang mengunjungi Felix.


Tanpa menjawab, Frans langsung duduk di hadapan nya.


Frans bisa melihat foto pernikahan Felix dan Barbara masih terpajang rapi di atas meja kerja Felix, bahkan ada beberapa di sudut ruangan nya.


"Kamu benar-benar nggak mau nyoba sekali lagi?" Frans bertanya mencoba membujuk Felix sekali lagi.


Felix diam dan tidak menghiraukan nya.


"Fel, dia masih cinta banget sama kamu." Frans kembali berkata, namun lagi-lagi Felix mengabaikan.


"Dia tiap malam nangis mikirin kamu Fel, dan didepan orang lain dia pura-pura sAkuenyum, ketawa buat nutupin luka nya." Frans terus berbicara walau Felix tidak menghiraukan nya.


Felix akhirnya menghentikan pekerjaan nya.


"Bukan nya kamu pengen banget milikin dia? Kenapa nggak ambil aja?" Felix bertanya santai walau sebenarnya hatinya menahan sesak.


Hah


"Aku mau, mau banget milikin dia. Tapi dia nggak akan bisa nerima aku. Mau sebaik apapun aku, semanis apapun aku, bahkan seromantis apapun aku, yang dia cinta cuma kamu Fel. Yang dia mau cuma kamu." Frans tetap berusaha membujuk Felix.


Frans hampir setiap malam mendengar isak tangis Barbara, mereka tidur dikamar yang sama walau tidak satu ranjang. Maka dari itu Frans bisa mendengar suara isak tangis Barbara walau kadang ia menutup rapat tubuh nya dengan selimut.


Hati Felix terasa sakit dan iba mendengar wanitanya menderita karena ulah nya.


"Fel, masa lalu kamu, masa lalu kita semua nya udah lewat. Kita jadi kayak gini bukan kesalahan kita, tapi salah orang tua kita yang nggak mampu mendidik dan kasih kita kasih sayang yang tepat. Harusnya kamu bisa merubah cara pandang kamu. Bukan malah nggak mau anak itu ada, tapi harusnya kamu berkomitmen biar anak kalian bisa tumbuh dengan baik tanpa kurang kasih sayang dan perhatian." Bujuk Frans pada adik tirinya.


Frans hanya ingin mencoba yang terbaik untuk kebahagiaan Barbara, kecuali jika Felix benar-benar sudah tidak menginginkan nya lagi.


"Kami udah cerai." Felix menjawab dingin dan kembali berkutat dengan kerjaan nya.


Frans geram.


Ia mengambil foto yang terpajang di atas meja kerja Felix lalu melempar nya hingga bingkai dan kaca nya pecah berantakan.


Felix tersulut emosi.


Ia melangkah keluar dari tempat duduknya dan menghantam wajah Frans berkali-kali.


"Kamu pikir kamu siapa? Nyentuh barang aku, rusak barang aku sembarangan?" Felix benar-benar tersulut emosi.


Frans hanya menyeringai.


"Itu cuma foto. Gimana kalo aku bilang aku udah nyentuh Barbara, aku udah ngerusak dia bahkan dalam keadaan dia sedang hamil anak kamu?" Tanya Frans sengaja.

__ADS_1


Ia hanya ingin tahu reaksi Felix.


Felix menghentikan hajarannya pada Frans.


Frans menyeringai, menyentuh sudut bibir nya yang berdarah.


"Bangsat." Felix menjambak kasar rambutnya.


"Dia nggak mungkin kayak gitu. Aku percaya dia nggak mungkin ngijinin orang lain nyentuh dia selain aku." Felix berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Arrgghh." Felix tiba-tiba mengerang, ia kembali merasakan sakit dikepala nya.


Sakit yang sama saat terakhir kali ia gagal membunuh pelayan nya.


"Kalian itu saling melengkapi Fel, kenapa nggak coba sekali lagi?" Frans masih mencoba membujuk.


"Arrghh." Felix semakin berteriak kesakitan.


Ia langsung berlari keluar dari ruangan kerjanya menuju lift dan langsung menekan tombol pada panel lift agar bisa segera sampai di parkiran.


Sampai di parkiran ia langsung masuk kedalam mobil nya.


"Sakit Bar. Aku kangen kamu, aku butuh kamu." Ucap Felix yang kesusahan memasukkan kunci mobil nya dengan tepat.


Wajah cantik Barbara, suara lembut Barbara, bahkan lekuk tubuh Barbara memenuhi pikirannya.


Segera ia melajukan mobilnya menuju ke rumah Frans saat ia berhasil memasukkan kunci mobil nya pada tempat nya.


Sepanjang jalan ia menahan sakit yang amat sangat.


Sementara Frans yang masih berada di ruangan nya sedang menghubungi para pelayan dan pengawal agar meninggalkan rumah nya sejenak.


Ia hanya ingin kebahagiaan untuk Barbara.


#####


"Hah. Kuat Bar. Kamu bisa kok. Kamu nggak sendiri. Kamu punya anak kamu sekarang, kamu juga masih punya Papa Mama kan?" Barbara menguatkan dirinya sendiri.


Ia menghapus air matanya.


Fiuh..


Ia menghembuskan nafas lirih.


"Aku masuk kedalam aja lah, udah terlalu panas disini." Perlahan Barbara bangkit dari duduk nya dan melangkah masuk kedalam rumah kembali.


Saat hendak masuk kedalam lift (lift khusus yang Frans buat setelah Barbara tinggal dirumah nya) untuk naik keatas kamar Frans, ia merasa seseorang mendekapnya dari belakang.


"Frans, lepasin." Pinta Barbara risih.


"Aku kangen sama kamu Bar. Aku butuh kamu." Ucap seorang pria.


"Felix."


...~ **To Be Continue ~...


*****

__ADS_1


Like dan komentar jangan lupa. Think you**


__ADS_2