
...NOTE : Terdapat Adegan Dewasa dan Kekerasan!!...
...Yang Dibawah Umur Diharapkan Minggir Dulu!!!...
.
.
.
.
.
"Hem..nggak terasa udah siang aja. Jadi kangen Bar." Felix bergumam sendirian.
Jam sudah menunjukkan waktu istirahat, dan Felix memilih merehatkan sejenak tubuh dan pikirannya dari pekerjaan yang melelahkan.
Felix memutuskan untuk meraih ponselnya dan menghubungi istrinya tercinta.
"Iya Fel?" Barbara menjawab panggilannya.
"Sayang, lagi apa? Udah makan siang?" Felix bertanya perhatian.
"Udah, aku udah makan siang. Ini lagi mau jemput Dean sama Jacob." Barbara menjawab.
"Oh, ya udah kalo gitu. Hati-hati dijalan. Aku bentar lagi juga mau makan siang. Love you." Felix berucap manja.
"Love you too." Barbara membalas suaminya tak kalah manis.
Panggilan pun berakhir. Usia mereka memang tidak muda lagi, tapi hubungan mereka tetap harmonis dan romantis hingga membuat beberapa orang iri.
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Felix diketuk.
"Masuk." Felix berucap dengan nada dingin dan mengancam.
Seorang wanita yang adalah sekretarisnya melenggang masuk dengan langkah menggoda. Dua kancing kemeja atasnya sengaja dibuka hingga menonjolkan belahan dadanya. Sekretaris itu juga mengenakan rok span yang sangat pendek dan ketat.
"Tuan, ada yang Tuan perlukan untuk makan siang ini?" Sang sekretaris bertanya dengan suara mendesah dan dengan berani ia mendekati Felix dan merangkul Felix dari belakang.
Sang sekretaris tak segan meraba dada bidang Felix.
"Saya memang butuh makanan, tapi saya juga butuh sesuatu yang lain." Felix menjawab dengan nada tak biasa dan meraih tangan sekretarisnya lalu mengelusnya lembut.
"Apa aja yang Tuan perlukan, saya bisa kok." Sang sekretaris sekarang dengan berani memilih duduk di atas pangkuan Felix.
"Amel, yang saya butuhkan itu nggak bisa kamu berikan di sini." Felix seolah memancing.
Sungguh, saat ini bukan hasrat birahi Felix yang terpancing melainkan hasrat membunuhnya yang sudah belasan tahun terkubur.
"Tuan cukup bilang aja dimana? Saya akan dengan senang hati datang untuk Tuan." Amel kini meraih tangan Felix untuk menyentuh dadanya.
Felix hanya menuruti permainan sekretarisnya itu. Ia kemudian meraih sebatang pulpen dan menuliskan sebuah alamat.
__ADS_1
Felix dengan sangat sengaja memasukkan kertas tersebut ke dalam bra milik Amel.
"Nanti malam jam sembilan. Jangan lupa!" Felix bahkan dengan sangat sengaja mengecup pipi Amel.
"Fel." Suara Barbara memanggilnya.
Amel sedikit gelagapan dan segera turun pangkuan Felix. Ia segera meninggalkan ruangan Felix dengan tergesa-gesa.
Felix dengan santai menghampiri Barbara yang sudah memasang wajah marah.
"Sayang, katanya jemput Dean? Kok malah kesini?" Felix memeluk manja istrinya dan mengecup bibir Barbara.
"Jadi gini ya kelakuan kamu selama ini?" Barbara bertanya kesal, namun tak ada sedikitpun raut wajah bersalah dari Felix.
"Sayang, dia yang godain aku. Udah deh, kamu itu jangan banyak mikir. Aku nggak bakal khianatin kamu." Felix membujuk istrinya.
Felix memang jujur, tidak akan ada lagi wanita lain yang mampu menggoyahkan hatinya selain Barbara.
"Kamu ngapain di sini?" Felix masih setia memeluk istrinya.
"Bawain makan siang buat kamu. Sekalian jemput Dean tadi, cuma Dean masih ada kelas tambahan." Barbara menepis tangan Felix sedikit kasar dan berjalan duduk di sofa sambil menata makanan yang ia bawa.
Felix memilih mengunci pintu ruang kerjanya.
Ia kembali menghampiri istrinya dan menghentikan pergerakan tangan Barbara.
"Sayang, liat kamu datang, aku udah nggak laper lagi. Yang laper adek kecil aku." Felix mengecup leher istrinya dan tangannya dengan leluasa memainkan bola kenyal kembar Barbara.
"Fel..ih.." Barbara menepuk gemas tangan suaminya dan berusaha untuk kabur.
Bukan Felix namanya jika membiarkan Barbara kabur. Dengan gerakan cepat ia membalik badan Barbara dan mencium buas bibir Barbara.
Felix menggendong Barbara dan berjalan masuk ke dalam ruangan pribadinya yang masih berada di dalam ruangan kerjanya.
Ia membaringkan Barbara dengan lembut, lalu turun dan berjalan ke arah nakas. Ia mengambil seutas tali dan kembali ke atas ranjang.
Dengan gerakan cepat ia mengikat tangan Barbara pada besi di kepala ranjangnya.
Dengan gerakan cepat Felix segera menanggalkan semua pakaian Barbara, dan kemudian miliknya.
Felix mulai mencumbu setiap inci lekuk tubuh istrinya yang tidak berubah sedikitpun dari sejak Barbara masih gadis hingga menjadi ibu dua orang anak.
"Fel..um.." Tubuh Barbara bergetar saat Felix bermain pada area pribadinya.
Felix tersenyum puas melihat istrinya diselimuti gairah yang memuncak.
Tanpa menunggu, Felix segera memasuki istrinya dan mulai menggerakkan pinggulnya.
Pertarungan sengit dan panas terjadi begitu saja dan berulang kali.
Selesai dengan pertarungan panas mereka, Felix kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Barbara ketiduran karena lelah.
Selesai mengerjakan pekerjaannya, Felix segera menggendong Barbara keluar dari ruangannya untuk kembali ke rumah mereka.
Ia tidak tega membangunkan Barbara karena ia tahu Barbara pasti kelelahan akibat ulahnya.
__ADS_1
"Kamu masih cantik sayang. Nggak pernah berubah. Dan perasaan aku ke kamu juga, nggak akan pernah berubah." Felix mengusap lembut pipi istrinya yang sedang terlelap di sampingnya.
Mereka saat ini sedang di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.
Tadi, Felix meminta Frans yang menjemput Dean karena Dean memang sekolah dengan Jacob.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah.
Felix kembali menggendong Barbara untuk masuk ke dalam kamar mereka.
"Pa, Mama kenapa?" Fera bertanya khawatir. Ia bersama Denio dan kedua adiknya sedang belajar di ruang keluarga.
"Mama nggak papa kok. Cuma kecapean aja." Felix tersenyum pada Fera.
Fera mengangguk paham dan Felix melanjutkan langkahnya.
"Kamu tidur ya sayang. Aku harus bersenang-senang nanti." Felix mengecup sayang kening Barbara setelah membaringkan Barbara di ranjang.
Ia memilih untuk membersihkan diri. Selesai, ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian. Ia memilih pakaian serba hitam.
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh untuk melihat Barbara dan memastikan Barbara masih tidur.
Setelah memastikan, segera ia pun keluar dari kamar dan berlari kecil untuk masuk ke dalam mobilnya.
Anak-anaknya sudah tidak kelihatan lagi ada di ruang keluarga.
Segera ia melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah ia berikan pada Amel tadi.
Felix sangat tidak sadar ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang.
Tak lama, ia pun sampai di sebuah gubuk tua yang jauh dari perkotaan dan bahkan bisa dibilang sangat terpencil. Felix turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam gubuk tua itu.
"Tuan Felix." Amel langsung menyambutnya, bahkan pakaian Amel sangat minim.
Felix tersenyum menakutkan, namun bagi Amel itu sangat menggoda.
Ia mencoba memeluk Felix, namun dengan gerakan cepat Felix mencekik lehernya dan mendorong tubuh Amel hingga menabrak dinding dengan sangat kuat.
Tatapan Felix berubah menjadi sangat menakutkan.
"Tu..an Fel..ix ... " Amel kesulitan untuk berbicara.
"Mau menggoda aku? Nggak akan mempan jalang! Istriku lebih dari segalanya dibandingkan kamu!" Felix mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya dan dengan brutal ia menusukkan pisau itu pada area lambung Amel.
Kegilaan Felix muncul kembali setelah terkubur belasan tahun.
Ia menyeret tubuh lemah Amel dan melemparnya di atas lantai.
Jlebb..srettt
Felix menancapkan pisau di tangannya pada dada Amel dan menyeret pisaunya hingga membelah perut Amel.
Sungguh, sisi psikopat Felix kembali bangkit dan entah apa yang menjadi pemicunya.
Felix tersenyum puas dengan darah yang terpercik di tubuh dan wajahnya.
__ADS_1
"FELIX"
...~ TO BE CONTINUE ~...