Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Dua Puluh Juta Dollar


__ADS_3

"Fel, kamu yakin rencana ini bakal berhasil?" Barbara bertanya gusar.


"Yakin!" Felix menjawab dengan sangat yakin.


Mereka telah selesai menyusun rencana. Felix memanggil beberapa orang yang ia percaya dan yang ahli dalam melakukan peretasan agar dapat meretas ponsel Harvest Mario untuk mengetahui letak lokasi mereka.


Felix sangat yakin kalau Harvest dan Mario menculik Fera demi sejumlah uang.


Mereka kini sedang menanti panggilan dari kedua pecundang itu.


Denio mencoba bersikap tenang meski hatinya dipenuhi amarah dan rasa khawatir.


Felix, Barbara, dan Denio berada di sebuah gudang tua. Mereka tidak ingin membuat Dean dan Jacob khawatir sehingga merahasiakan semuanya dari kedua anak remaja itu.


Frans diminta untuk menjaga Tasya dan kedua remaja itu di rumah.


Ponsel Barbara berbunyi.


Barbara segera menjawab panggilan itu setelah mendapat anggukan dari anak buah Felix karena sebelumnya ponsel Barbara juga disadap agar memudahkan pekerjaannya.


"Hallo.." Barbara menjawab panggilan itu.


"Hai sayang, apa kabar?" Suara yang berbicara adalah suara Harvest.


"Harvest?" Barbara bersandiwara.


"Ya ampun, ternyata aku sangat membekas di hati kamu sampe dengan cepat kamu bisa kenal suara aku." Harvest seolah mengejek.


"Ada apa hubungi aku?" Barbara mencoba untuk setenang mungkin meski ia sudah sangat marah.


"Gak sabaran banget sih sayang? Santai dong.." Harvest yang tidak tahu dirinya sedang dilacak pun berbicara dengan bertele-tele dan santai.


"Katakan Harvest!" Barbara meninggikan sedikit suaranya.


"Ma..Fera takut.." Suara Fera terdengar karena Harvest mengarahkan ponselnya ke Fera


"Fera? Fera itu kamu?" Barbara khawatir bukan main, tapi dia juga harus mengulur waktu sejenak.


"Em..itu adalah suara putri cantikmu. Ckckck..aku jadi nggak sabar mau nyicipin dia." Harvest berkata dengan suara merendahkan.


"Katakan apa mau kamu Harvest? Jangan sakiti putriku!" Barbara kini tidak dapat menahan emosinya lagi.


Felix merangkul Barbara untuk menenangkannya, sedangkan Denio berdiri tegak seolah siap berperang dan mengepalkan kedua tangannya.


"Dua puluh juta dollar!" Harvest menekan setiap katanya.


Anak buah Felix yang melacak keberadaan Harvest mengangguk kepada Felix dan Barbara pertanda dia sudah menemukan lokasi Harvest dan Mario.


"Aku kasih! Tapi jangan sakiti putriku seujung kuku pun!" Barbara tanpa ragu menyanggupi keinginan Harvest.


Terdengar tawa menggelegar dari Harvest.


"Alamatnya ... kalau sampai kamu telat dikit aja, lihat apa yang bisa aku lakuin sama putri cantik kamu ini. Aku dari kemarin udah nggak tahan pengen nyobain." Harvest mengancam dengam nada yang terdengar bergairah.


Panggilan langsung diputus sepihak oleh Harvest.

__ADS_1


Barbara menggenggam kuat ponselnya hingga layarnya retak.


"Kita jalan sekarang!" Felix menuntun Barbara keluar dari ruangan itu. Denio mengikuti dari belakang bersama belasan orang bayaran Felix lainnya.


Mereka segera menuju ke lokasi yang sudah dilacak oleh orang suruhan Felix tadi.


•••••••••••••


"Ma, Fera takut.." Fera bergumam sambil terisak.


"Ssttt...cantik jangan nangis!" Harvest berjongkok di depan Fera dan menghapus air mata Fera.


"Lepasin aku! Aku nggak kenal sama kalian dan gak punya salah sama kalian!" Fera berteriak frustasi.


"Kamu memang nggak salah. Yang salah adalah kedua orang tua kamu." Harvest kini membelai pipi mulus Fera.


Hasrat birahinya mulai terpancing.


"Kalian pasti mati! Papa, Mama, bahkan Nio pasti hukum kalian! Kalian nggak pantes hidup!" Fera kembali berteriak bahkan dengan berani meludahi wajah Harvest.


Harvest tersulut emosi.


Mario yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini mendekat.


PLAK


Satu tamparan Harvest layangkan di pipi mulus Fera hingga kini menjadi merah.


"Lepaskan ikatannya Mar!" Harvest memberi perintah kepada Mario.


Setelah Fera terlepas, dengan cepat Harvest mengangkat tubuh mungil itu dan melemparnya ke atas kasur busa yang ada di pojok ruangan itu.


"Pergi!" Fera berusaha menghindar namun Harvest semakin mendekat.


"Kamera Mar!" Harvest meminta Mario untuk menyiapkan kamera agar merekam aksi bejatnya.


Mario menurut dan segera menyiapkan kamera kemudian mulai merekam.


Harvest melepaskan kemejanya dan melemparnya sembarangan.


Dengan cepat Harvest menarik kaki Fera hingga Fera berada di bawah kungkungannya.


"Lepas!" Fera berusaha meronta untuk lepas dan mencoba untuk menendang bagian inti Harvest namun tidak berhasil karena kekuatannya lemah.


"Aku tadinya nggak mau nyakitin kamu, tapi apa boleh buat? Kamu yang minta." Harvest menyeringai.


Dengan kasar Harvest melucuti pakaian Fera dan melemparnya sembarangan.


Harvest mulai mencumbu setiap inci tubuh mungil itu tanpa meninggalkan celah.


Mulut Fera dibekap dengan satu tangannya agar Fera tidak bersuara.


"Ck..kamu ternyata sangat manis.." Tangan Harvest bergerak meremas bukit kembar Fera.


Fera menangis dan berusaha meronta namun sia-sia.

__ADS_1


"Pa, Ma tolongin Fera.." Fera membatin dalam hati berharap kedua orang tuanya segera datang.


"Kamu pasti masih sempit.." Harvest kini memasukkan tangannya ke dalam cd Fera.


DORR BRAKK


Pintu ruangan itu dibuka paksa dengan satu tembakan.


"SIALAN!" Denio langsung menyerang Harvest.


Mario sudah diringkuk oleh anak buah Felix.


"Ma.." Fera memanggil Barbara dengan suara bergetar ketakutan saat Barbara menghampirinya dan memeluknya.


"Pa..Fera takut.." Fera juga mengadu saat Felix melepaskan mantelnya untuk menutupi tubuh putrinya yang setengah telanjang.


"Denio Cukup! Bawa dia ke markas!" Felix menghentikan Denio yang menghajar Harvest habis-habisan.


Denio menurut dan menghampiri Fera sedangkan Harvest dibawa oleh orang suruhan Felix.


"Sayang, kamu nggak papa kan?" Denio bertanya khawatir hendak memeluk Fera.


Fera menghindar dan bersembunyi di belakang Barbara.


"Sayang, kenapa? Jangan takut! Ini aku, Nio." Denio kembali hendak mencapai Fera namun Fera kembali menghindar.


"Jangan! Aku kotor." Fera menyembunyikan dirinya di belakang Barbara.


"Nggak sayang ... "


"Kita pulang dan biarkan Fera tenang dulu." Felix menghentikan Denio untuk berbicara apalagi harus memaksa Fera.


Denio hanya mengangguk dan berjalan duluan dengan perasaan kecewa.


"Ayo sayang." Felix menggendong putri kesayangannya.


Fera menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Papanya sedangkan Barbara berjalan di samping Felix.


"Pa, Papa sayang kan sama aku?" Fera bertanya dengan suara bergetar.


"Ya Papa sayang dong. Gimana bisa Papa nggak sayang sama anak Papa?" Felix menjawab dengan lembut.


Felix mendudukkan Fera dengan hati-hati di dalam mobil. Barbara memilih duduk bersama putrinya sedangkan Felix menyetir.


Felix langsung melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah sedangkan Denio sudah pergi duluan.


"Tapi mereka bilang Papa nggak sayang sama aku. Mereka juga bilang Papa mau bunuh aku waktu aku masih di dalam rahim Mama." Fera memeluk erat Barbara.


"Sayang, Papa janji bakalan cerita semuanya sama kamu, tapi kamu harus pulih dulu!" Felix menjawab dengan setenang mungkin.


Fera hanya mengangguk pelan.


"Udah, jangam takut lagi. Papa, Mama, Nio, Dean, dan semuanya ada untuk Fera. Jangan nangis lagi!" Fera membujuk putrinya.


Fera hanya mengangguk dan terus memeluk erat Barbara.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2