Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Mine


__ADS_3

"Dean sakit..." Kaina berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Dean, tapi semakin kuat ia memberontak kekuatan Dean semakin besar. Dean menarik Kaina masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Setelahnya remaja itu kembali menyeret Kaina hingga masuk ke dalam kamar mandi.


Dean mendorong Kaina dengan kuat hingga kepala Kaina terbentur ke dinding. Dean menghidupkan air shower dengan suhu yang cenderung panas. Dean dengan gila menyemprotkan air panas itu ke badan Kaina tapi gadis itu berusaha untuk mengindar.


"Jangan Dean...sakit..." Kaina merintih kesakitan saat kulitnya terkena air panas.


"Itu hukuman karna kamu berani dekat dengan Jacob!" Dean masih terus menyiksa gadis itu hingga Kaina perlahan menjadi lemah dan beberapa bagian tubuhnya sudah melepuh.


"Udah aku bilang, kamu punyaku!" Dean tersenyum miring dan memutuskan untuk mematikan air showernya.


Setelah puas melihat kondisi lemah Kaina, Dean menggendong gadis kecil itu keluar dari kamar mandi. Ia membaringkan Kaina di lantai lalu melepas semua pakaian Kaina. Dean merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya saat melihat Kaina tanpa sehelai pun kain penutup, tapi remaja itu belum terlalu mengerti hal tersebut. Dean mengambil sweater dan celana pendek miliknya lalu memakaikan ke badan Kaina. Setelah itu ia memindahkan Kaina ke atas ranjang tanpa mengobati kulit Kaina yang melepuh dan kepalanya yang memar. Dean memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


"Dean, Kaina mana?" Jacob bertanya sambil celingukan mencari sosok Kaina. Dean mencengkram kerah baju Jacob dan memojokkan sepupunya itu hingga membentur dinding.


"Kaina milikku Jac! Jangan coba-coba untuk rebut dia dari aku!" Dean menatap Jacob dengan tatapan amarah.


"Ish..emangnya kamu pikir Kaina itu barang? Enak aja bilang punya kamu!" Jacob berusaha mendorong Dean tapi ternyata tenaganya kalah.


"Kalo kamu berani sentuh dia, kamu akan tahu akibatnya" Dean melempar Jacob hingga Jacob terpelanting ke samping dan merintih kesakitan.


"Sekarang pergi dari rumah kak Nio!" Dean menghardik sepupunya itu. Mau tak mau Jacob memilih pergi karena tidak ingin mencari masalah dengan Dean. Jacob bingung, entah sejak kapan sepupunya itu berubah menjadi sangat emosian seperti sekarang. Mereka sudah sangat jarang bertemu sejak Dean tinggal bersama Denio dan Fera.


Setelah Jacob pergi, Dean kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Kaina. Matanya tidak pernah teralihkan dari wajah cantik Kaina. Sepertinya gadis kecil itu benar-benar tidak akan pernah Dean lepaskan dari genggamannya.


••••••••••


"Nio, laper..." Fera tersenyum pada suaminya yang sudah sejak kemarin menemaninya. Fera berusaha untuk tegar dan kuat meski sebenarnya hatinya masih merasakan luka yang mendalam. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, semua ia lakukan untuk menahan Denio melakukan hal gila.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Denio mengelus pipi istrinya.


"Mau makan kamu..." Fera terkekeh pelan.


"Belum bisa sayang. Kalo udah bisa, tanpa kamu minta juga aku yang bakal makan kamu duluan" Denio mengangkat dagu Fera dan mengecup bibirnya istrinya.

__ADS_1


"Papa sama Mama lama banget sih. Padahal Papa yang nyuruh nunggu, katanya mau bawain makanan buat kita" Fera menggerutu manja dan sedikit kesal.


"Sayang..." Barbara dan Felix masuk dengan senyum terbaik mereka.


"Uh..panjang umur..." Fera memonyongkan bibirnya.


"Maaf sayang, tadi sempet mace panjang banget. Makanya ini engga jadi jemput Dean sama Kaina juga" Felix tersenyum mengelus kepala putrinya.


"Macet apa macet Pa?" Fera menunjuk sebuah tanda merah di leher Felix. Tanda merah itu masih baru dan warnanya masih terang.


"Em...ekhem..." Felix seketika menjadi gugup.


"Papa sama Mama gitu. Fera sama Dean engga mau punya adik lagi loh ya. Jangan sampe..." Fera tersenyum menggoda kedua orang tuanya sementara Felix dan Barbara hanya bisa salah tingkah.


"Ini makan dulu. Semuanya masakan tante Tasya" Barbara menyodorkan makanan yang sudah ia tata untuk Fera dan Denio.


"Aku kangen deh sama tante Tas mesum. Udah lama engga ketemu" Fera sambil mengunyah makanannya.


"Ya udah nanti kalo udah boleh keluar dari rumah sakit. kamu langsung balik ke rumah Papa sama Mama aja dulu. Nginep beberapa hari baru balik ke rumah kalian" Barbara memberi usul dan Fera mengangguk setuju.


"Apaan Pa?" Fera mengernyit bingung.


"Dean dan Kaina gimana kesehariannya kalo lagi di rumah?" Felix bertanya dengan hati-hati.


"Dean nempel terus sama Kaina, Pa. Bahkan Dean lebih seneng ngabisin waktu berduaan sama Kaina di kamar. Fera engga begitu larang mereka, lagian anak kecil bisa ngapain" Fera tersenyum geli mengingat adiknya yang selalu menempel bak lem dengan Kaina.


"Kamu biarin mereka berduaan di kamar?" Tanya Felix dengan lantang dan nadanya terdengar seperti marah.


"Em...lagian anak tiga belas tahun bisa apa Pa?" Fera seolah meremehkan keadaan adiknya.


"Fer, anak laki-laki itu cepet dewasanya. Apalagi Dean udah pernah mengenal hal-hal dewasa melalui pelecehan yang dia alami beberapa waktu lalu. Mama engga mau kalo sampe Dean salah jalan" Barbara kini terlihat khawatir.


"Udah, Mama sama Papa tenang aja. Janji deh Dean engga akan macam-macam, Dean kan anak baik" Fera tersenyum manis pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Semoga aja deh. Papa pengen Dean kembali ke rumah sama Kaina, tapi Dean pasti engga mau" Felix mengusap wajahnya sedikit kasar.


"Udah Pa, Dean jangan terlalu dipaksa apalagi dikekang. Nanti malah jadi lebih ribet urusan loh, tau sendiri kan kondisi mental Dean udah engga kayak dulu" Fera berusaha menenangkan Ayahnya.


"Bener Pa, kondisi mental Dean udah engga kayak dulu. Sekarang kita engga bisa selalu memaksa atau keras sama dia. Sebisa mungkin kita mendampingi dia untuk menjelaskan yang boleh dan yang engga" Denio menimpali.


"Hah...Papa percaya sama kalian. Semoga aja ketakutan Papa engga akan terjadi" Felix berusaha bernafas lega.


"Kakak..." Jacob masuk bersama Tasya.


"Jac...." Fera merentangkan kedua tangannya untuk menyambut adik sepupunya itu.


"Kangen kakak" Jacob bermanja dalam pelukan Fera.


"Kangen kamu juga nakal" Fera mengacak rambut Jacob.


"Gimana kabarnya Fer?" Giliran Tasya yang memeluk keponakannya.


"Baik tante. Tante gimana? Makin cantik aja, pasti Om Frans ngasih vitamin terus yah?" Fera terkekeh menggoda Tasya. Tasya hanya tersenyum dan mencubit pelan pipi Fera.


"Kak Fera, tadi Dean marah sama Jacob k


gara-gara Jacob main sama Kaina. Kata Dean, Kaina itu milik dia. Emang Kaina itu mainan apa yang bisa diatur-atur" Jacob memasang wajah kesalnya yang terlihat lucu.


"Udah lupain aja. Biasa kalo udah ada temen baru kan engga suka berbagi. Nanti kalo Dean udah bosan main sendiri sama Kaina, Dean pasti ijinin Kaina main sama Jac kok" Fera tersenyum membujuk Jacob, tapi pikirannya tidak sesuai dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Begitupun dengan Felix dan Barbara yang saling beradu tatapan dengan putrinya.


......~ TO BE CONTINUE ~......


#####


...___ MAMPIR YOKK ___...


__ADS_1



__ADS_2