Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kembalikan Mahkotaku!


__ADS_3

NOTE : 21++


...Bijak Memilih Bacaan!...


...Jika tidak suka, skip aja. Jangan men-judge....


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


.


"Bar, nanti konsep pernikahan kalian mau yang gimana?" Fanco mulai bertanya duluan.


Mereka sedang bersantai diruang keluarga.


Sudah hari ketiga mereka di Sydney, dan Felix selalu dimanjakan oleh Fanco dan Kimberly.


"Nggak punya ide Pa. Simple aja lah. Nggak usah macam-macam. Ribet." Barbara menjawab santai.


Ia sedang menempel pada Felix dengan posisi Felix duduk disofa panjang dan kaki nya direntangkan hingga ke ujung sofa, sedangkan Barbara berada di atasnya.


"Nggak bisa gitu Bar. Kamu itu putri Papa satu-satunya, jadi nggak bisa nggak di bikin party." Fanco menolak ide sederhana Barbara.


Tentu saja Fanco keberatan jika putrinya menikah hanya secara sederhana.


Fanco adalah konglomerat di Australia. Ia juga merajai banyak jenis bidang usaha.


Namanya sangat dielu-elukan di kalangan para pebisnis handal.


Ia juga selalu menyebut tentang Barbara pada setiap kolega nya.


"Terserah Papa lah. Aku mah ikut aja. Aku nggak punya duit." Barbara merendahkan diri nya.


"Hush, kamu itu. Duit Papa tuh menggunung. Terserah kamu mau pake sampe kapan juga nggak bakal habis." Fanco berucap sombong.


Barbara hanya berdecih mendengar kesombongan Ayahnya.


"Fel, kamu mau nya konsep pernikahan kayak gimana?" Fanco melempar pertanyaan pada Felix.


"Aku ngikut aja Pa. Kalo sang ratu pengen yang sederhana, aku ngikut aja. Yang penting nikah nya sama dia." Felix berucap tulus lalu mengecup kening Barbara lembut.


"Kalian kok pasrah gitu sih? Niat nikah nggak sebenarnya?" Kini Kimberly yang bersuara.


"Niat lah Ma. Cuma yah Bar nggak mau aka yang heboh. Yang paling penting terdaftar secara hukum aja Bar udah seneng banget." Barbara tersenyum manis menatap Felix yang juga menatapnya.


"Nggak nggak. Pokok nya Papa tetap bakal bikin party special buat kalian. Gimana pun juga kolega Papa banyak yang ngenal kamu, walau udah lama nggak ketemu." Fanco dengan tegas mengambil keputusan.


"Terserah Pa. Tapi Pa, jangan ngundang pak tua botak buncit ya." Barbara berpesan kepada Ayahnya membuat semuanya menatapnya bingung.


"Itu loh Pa, buncit botak mesum. Yang dulu niat banget minta ke Papa biar bisa nikah sama aku." Barbara berucap polos membuat Felix menatapnya tajam.


Felix sangat tidak suka ada yang menginginkan wanitanya, walaupun itu sudah berlalu.


"Oh, Papa ingat. Udah kamu tenang aja. Tuh orang sekarang udah nggak bisa ngapa-ngapain, udah tinggal nunggu waktu." Fanco memberitahu putrinya tentang keadaan salah satu kolega nya yang hidung belang dan sempat menginginkan putrinya itu.

__ADS_1


Barbara mengangguk mengerti.


Felix masih menatap tajam pada Barbara, namun Barbara tidak menghiraukannya.


"Sayang, lihat ini. Kamu pilih deh gaun pengantin mana yang kamu suka." Kimberly menyerahkan ponselnya yang menampilkan foto-foto gaun pengantin rancangan desainer ternama dan pastinya limited edition.


Barbara menerima ponsel Ibunya.


Dia dan Felix memilih bersama.


"Sayang, yang ini aja. Panas banget." Felix berbisik sensual di telinga kekasihnya saat melihat gaun pengantin yang sangat sexy.


"Modus." Barbara mencubit perut Felix dan Felix hanya terkekeh.


"Yang ini ya?" Barbara menunjukkan sebuah foto gaun yang tampak anggun dan elegan.


Felix mengangguk, pilihan kekasihnya adalah yang terbaik.


"Ini Ma." Barbara memberikan ponsel Ibunya kembali.


"Hoam. Ngantuk sayang." Barbara mengeluh pada Felix sambil membenamkan wajahnya pada dada Felix.


"Ya udah, kalian istirahat gih. Besok mesti mulai preparing semua buat pernikahan kalian." Kimberly berucap memberi perintah pada dua muda mudi itu.


Barbara dan Felix pun beranjak ke kamar mereka setelah Barbara mengecup pipi kedua orang tua nya.


"Sayang, emang kamu udah yakin mau nikahin aku?" Barbara bertanya ragu pada Felix mengingat perkenalan mereka yang terbilang singkat ini.


Mereka sudah dikamar dan berbaring di atas ranjang saling memeluk.


Felix menatap kekasihnya dalam.


Namun Barbara menanggapi serius perkataan Felix.


Wajah Barbara menjadi sedih dan ia akhirnya berbalik memunggungi Felix.


Felix tersenyum, tahu jika kekasihnya menjadi sedih.


Ia memeluk Barbara dari belakang.


"Kalo kamu emang nggak yakin, kembalikan mahkotaku Fel. Mahkota yang udah kamu renggut dari aku." Barbara berucap tanpa sadar, sungguh.


Ia bahkan tidak sadar jika perkataannya akan menjadi bumerang bagi nya.


Felix tersenyum licik.


"Aku dengan senang hati ngembaliin ke kamu sayang."


Perlahan Felix menyibak rambut Barbara yang menutupi leher nya.


Felix mulai menciumi leher Barbara sesekali menggigit disana.


Barbara menggeliat dan baru tersadar dengan ucapannya.


"Felix stop." Barbara berucap tegas.


"Nggak sayang. Aku pria yang menepati perkataan ku. Kalo kamu minta aku balikin aku bakal balikin dengan senang hati." Felix membalikkan tubuh Barbara hingga tepat berada di bawah nya.


Kembali ia mencium bibir Barbara lembut dan tangannya membuka kancing piyama Barbara.

__ADS_1


"Fel..ehm nggak mau." Barbara berusaha melepaskan diri dan mendorong Felix namun semua usahanya sia-sia.


Felix bangkit dari posisinya dan turun dari ranjang lalu berjalan ke arah nakas.


Ia kembali meraih seutas tali yang entah sejak kapan sudah ada didalam laci nakas itu.


Felix kembali ke atas ranjang, Barbara berusaha menghindar namun usahanya sia-sia.


Felix mengikat tangan Barbara pada kepala ranjang nya.


Barbara menggeleng, entah kenapa tiba-tiba saja ada rasa takut yang hinggap di dirinya.


"Sstt..aku pengen kamu Bar, dan cuma kamu. Nggak perlu kamu tanya pun aku cuma pengen kamu." Felix berucap tulus menatap dalam mata Barbara dan menangkup wajah Barbara dengan telapak tangannya.


Felix kembali mencium lembut bibir Barbara dan membuka satu persatu pakaian Barbara hingga tak tersisa, kemudian melepaskan milik nya juga.


"Nanti kamu akan terbiasa sayang. Aku nggak akan lebih dari ini." Felix berucap sambil menggenggam tangan Barbara yang terikat.


Perlahan Barbara mulai menikmati setiap cumbuan Felix dan membalas Felix.


"I love you Bar." Felix berucap sambil terus memberi rangsangan panas pada Barbara.


"I love you too Fel..ehm.." Barbara mendesah.


Tak lama Felix pun menyatukan miliknya pada Barbara.


"Sakit Fel.." Barbara merintih.


"Sstt..nanti kamu bakal terbiasa." Felix berucap lalu memasukkan jari telunjuk nya untuk digigit Barbara.


Dan benar saja, perlahan Barbara mulai menikmati setiap permainan Felix.


"Gimana sayang? Masih sakit?" Felix bertanya khawatir, takut wanitanya itu tidak mampu mengimbangi permainan nya.


Barbara menggeleng dan tersenyum kecil.


Felix melepaskan jarinya dari mulut Barbara dan kembali ******* bibir Barbara.


"Jangan pernah tinggalin aku Bar. Cuma kamu yang aku mau disisa hidup aku. Aku nggak peduli tentang orang lain, aku cuma peduli pandangan kamu tentang aku." Ucap Felix saat melepaskan tautan bibir mereka.


Barbara mengangguk.


"Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu Fel." Barbara berucap tulus.


Felix kemudian melepaskan ikatan ditangan Barbara dan membalikkan posisi hingga Barbara berada di atasnya.


"Just do it Babe." Felix meminta Barbara yang memimpin.


Barbara menurut, perlahan ia pun mulai bergerak di atas Felix membuat Felix mengerang menikmati setiap permainan Barbara.


Malam itu pertarungan panas terjadi di antara mereka, tidak hanya sekali. Terjadi bahkan berkali-kali hingga mereka lelah walau tidak pernah merasa puas.


...~ To Be Continue ~...


******


Jangan marah author karena banyak adegan emmmmm nya.


Like dan komentar jangan lupa, bagi yang menyukai jalan ceritanya dari awal sampe sekarang.

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2