Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kembali ke Rumah


__ADS_3

"Nio, bosan.." Fera merengek manja.


Baru dua hari berada di tempat asing ini, tapi Fera merasakan bosan yang luar biasa.


"Ya, terus maunya apa?" Denio bertanya sambil mengelus rambut panjangnya.


Mereka sedang berbaring di sofa dengan posisi Fera di atas Denio.


"Pulang! Di sini bosan. Aku kangen sama keluarga kita." Fera kembali merengek.


"Kan janjinya seminggu? Masa udah mau pulang?" Denio mencoba bernegosiasi dengan kekasihnya.


Denio tentu akan lebih bahagia jika ia bisa berduaan terus bersama Fera.


"Tapi aku bosan.." Kini mata Fera sedang berkaca-kaca.


Denio kasihan melihat Fera.


"Ya udah, kita gituan sekali aja, habis itu besok kita pulang." Denio meminta dengan wajah mesumnya, tapi ia hanya berniat mengerjai kekasihnya.


"NO! Kalo kamu minta yang lebih sebelum kita nikah, jangan salahkan aku kalo aku ninggalin kamu!" Fera tak kalah mengancam Denio.


Denio tersenyum manis.


"Bercanda sayang. Ya udah, kita pulang besok atau sekarang? Kalo sekarang, sampenya bisa tengah malam ke rumah. Ini aja udah jam sepuluh lewat." Denio meminta pendapat kekasihnya.


"Sekarang aja yah, please." Fera mengatupkan kedua tangannya.


"Em...sogokan dulu!" Denio memonyongkan bibirnya.


CUP


Fera memberikan sebuah kecupan singkat untuk Denio.


"Okay, kita pulang sekarang." Dengan gerakan cepat Denio menggendong tubuh Fera, lalu mengambil kunci mobilnya.


Setelah keluar rumah, Denio mendudukkan Fera ke dalam mobil dengan hati-hati.


Denio kembali ke rumah untuk mengunci pintu rumah mereka dan setelah itu ia masuk ke dalam mobil.


Denio mulai menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankan dengan perlahan.


"Tidur aja kalo ngantuk." Denio mengusap lembut kepala Fera.


Fera hanya mengangguk sebagai jawaban.


Fera pun memilih memejamkan matanya dan mencoba beristirahat.


Denio fokus menyetir.


Denio tidak ingin menyetir terlalu cepat, rasanya tidak rela jika waktunya berdua dengan Fera habis begitu saja.


Sesekali Denio setia mengusap lembut kepala Fera.


Satu setengah jam kemudian mereka sampai di rumah.


"Sayang, bangun! Kita udah sampe." Denio membangunkan Fera dengan lembut.


"Engh.." Fera melenguh pelan dan membuka matanya perlahan.

__ADS_1


Fera merentangkan tangannya dengan manja bermaksud meminta Denio menggendongnya.


Denio dengan senang hati menuruti. Ia turun dari mobilnya dan berjalan ke arah Fera lalu membuka pintu mobilnya dan melepaskan seat belt Fera.


Dengan berhati-hati Denio menggendong Fera masuk ke rumah menuju kamarnya.


Anggota keluarga yang lain sudah tidak terlihat saat Denio melangkahkan kakinya masuk ke rumah.


Denio menaiki tangga dengan berhati-hati hingga sampai ke kamar Fera.


Setelah di dalam kamar, Denio membaringkan Fera dengan berhati-hati lalu melepaskan sepatu dan kaos kaki Fera.


Denio memilih tidur bersama Fera.


"Good night, sayang." Denio mengecup lembut kening Fera dan memeluknya erat.


Perlahan ia pun ikut terlelap.


•••••••••••••••••


"Mama, kak Fera sama kak Nio udah pulang." Dean berteriak dari kamar Fera.


Fera dan Denio langsung terbangun begitu saja saat mendengar suara teriakan Dean.


"Ssttt..Dean jangan ribut.." Fera berusaha menghentikan adiknya.


Barbara dan Felix sudah berdiri di depan pintu kamar Fera dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Pa, Ma, ini semua nggak kayak yang kalian liat kok." Fera mencoba menjelaskan kepada kedua orang tuanya.


"Dean, ke bawah! Sarapannya sama Tante Tasya!" Barbara memberi perintah pada putra bungsunya.


"Denio, ikut Papa!" Felix memanggil Denio sedangkan Fera ia serahkan kepada Barbara.


Denio segera menyusul Felix yang sudah berjalan duluan menuju ruang kerjanya.


Tinggal Barbara dan Fera.


"Ma, Fera berani sumpah. Semua nggak seperti yang kalian liat." Fera kembali menjelaskan.


"Emangnya apa yang Mama sama Papa liat?" Barbara bertanya memancing.


"Ya liat..aku sama Nio tidur bareng. Tapi kami cuma tidur aja ma, nggak lebih." Fera lagi-lagi kembali menjelaskan.


Barbara hanya diam dan menahan senyum. Entah kenapa, pikirannya malah mengingat masa mudanya dan Felix dulu.


"Ma, beneran Ma. Fera nggak ngapa-ngapain sama Nio." Fera masih berusaha menjelaskan.


Ia tentu tidak ingin jika kedua orang tuanya sampai kecewa padanya.


Lagi-lagi Barbara hanya diam tanpa berkata apapun.


Tak lama kemudian Felix dan Denio kembali.


"Fera, Papa udah ambil keputusan." Felix menekan setiap katanya.


Denio hanya tersenyum penuh makna di antara Felix dan Barbara.


"Ke keputusan apa Pa?" Fera bertanya gugup.

__ADS_1


Fera sangat takut jika kedua orang tuanya akan memaksa ia dan Denio untuk berpisah dan berdampak buruk pada emosi Denio.


"Papa udah ambil keputusan, kami dan Denio lebih baik menikah cepat." Felix tersenyum mengatakan itu.


"What? No..Pa, Fera sama Nio masih kuliah Pa." Fera berusaha menolak.


Bukan tidak ingin menikah dengan Denio, hanya saja mereka baru delapan belas tahun dan baru saja masuk kuliah.


"Nggak masalah. Kalian bisa kuliah setelah menikah. Untuk momongan, kalian bisa menundanya sampai waktunya." Felix kembali memberi saran.


Felix tidak ingin putrinya melewati batas atau melakukan sesuatu yang mengecewakan ke depannya, maka dari itu lebih baik ia memilih menikahkan Denio dengan Fera saat ini.


"Tapi Pa ... "


"Papa nggak mau tau, kalian nikah atau sama sekali nggak perlu lanjutin hubungan kalian!" Felix mengambil keputusan final dan langsung keluar dari kamar Fera bersama Barbara.


Tinggallah Fera berdua dengan Denio.


Fera menatap Denio penuh kemarahan sedangkan yang di tatap hanya tersenyum penuh kemenangan.


Fera berjalan ke arah pintu dan menutup lalu mengunci pintu kamarnya.


"DENIO..." Fera berteriak histeris dan dengan kasar menjambak rambut Denio.


"Argh...akh..sakit sayang.." Denio mengerang kesakitan dan berusaha untuk melepaskan diri namun Fera tidak mengijinkan.


"Apa yang udah kamu bilang sama Papa hah? Kamu pasti bohong tentang sesuatu makanya Papa ngambil keputusan gitu kan?" Satu tangan Fera menjambak rambut Denio dan satu tangannya memukul pundak Denio.


Dengan posisi masih menjambak Denio, Fera menarik Denio dan mendorong Denio ke atas ranjang.


Dengan cepat, Fera naik dan duduk di atas Denio.


"Bilang gak, apa yang udah kamu kasih tau ke Papa?" Fera mengancam dan memasang kuda-kuda hendak mencekik Denio.


Denio tersenyum licik dan timbul ide jahil untuk mengerjai Fera.


"Aku cuma bilang kalo kita udah ehem...dan nggak sengaja ehem.." Denio menjawab dengan santai.


"DENIO...AKU BUNUH KAMU SEKARANG.." Fera berteriak histeris dan kesal.


Ia hendak mencekik Denio namun dengan gerakan cepat Denio memutar posisi hingga kini ia yang berada di bawah Denio.


"Emang kamu tega bunuh aku?" Denio bertanya meremehkan.


Denio sengaja semakin mendekatkan wajahnya pada Fera membuat Fera menelan kasar ludahnya.


"Denio, jangan macam-macam!" Fera menunjuk Denio namun Denio enggan mendengarnya.


"Nio, jangan!" Fera langsung memejamkan erat matanya.


"Cepetan mandi kalau nggak mau telat kuliahnya!" Denio berbisik tepat di telinga Fera dan mengecup lembut kening Fera.


Denio pun segera turun dari atas Fera dan keluar dari kamar itu untuk bersiap pergi kuliah.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#######


Adakah yang berminat gabung grup chat?

__ADS_1


Silahkan ADD 0831-5594-1726


__ADS_2