Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Demi Kebaikan kamu.


__ADS_3

Sepeninggal Frans, Fanco kembali masuk kedalam rumah nya.


Ia tidak lagi melihat Barbara diruang tamu nya, hanya ada istrinya Kimberly.


Fanco memutuskan untuk duduk di samping istrinya, ia duduk bersandar di sandaran sofa nya dan menengadahkan kepalanya keatas dan memejamkan matanya.


Tak lupa memijat pangkal hidung nya beberapa kali.


"Kacau." Fanco berucap geram.


"Sayang, apa kamu lebih percaya apa yang Felix bilang dibanding anak kita?" Kimberly bertanya meminta kepastian.


Kimberly sebagai seorang wanita dan seorang Ibu pastilah merasakan sakit yang dialami putrinya, walau hatinya ragu entah harus percaya pada siapa.


Awalnya dia memang percaya pada Felix apalagi setelah melihat kedatangan Barbara bersama pria asing.


Tapi setelah mendengar cerita Barbara dengan derai air mata, Kimberly juga tidak memungkiri jika ia lebih ingin percaya pada putrinya sendiri.


"Apa aku bisa percaya sama orang asing kayak Felix? Dia emang suaminya Bar, tapi tetap aja dia itu orang asing dan seorang psikopat." Ucap Fanco kesal.


"Jadi gimana? Masa iya kita kayak gini terus. Kasian Bar, kasian cucu kita kalo Bar stres." Kimberly meminta penjelasan dan keputusan dari suaminya.


"Bar itu putri kita sayang. Nggak mungkin lah setelah lihat dan dengar dia cerita dengan keadaan hancur gitu aku masih nggak percaya. Dari kecil kita didik dia dengan baik. Setelah hidup terpisah pun dia nggak pernah bohong sama kita." Ucap Fanco lagi.


"Terus kenapa kamu ngomong kaya gitu? Kenapa kamu usir Frans juga?" Kimberly bertanya bingung.


"Aku nggak mau Bar keluar dari lobang buaya malah masuk kedalam kandang harimau. Kamu dengar sendiri kan Frans itu kakak nya Felix. Itu artinya mereka sama. Aku nggak mau pada akhirnya Bar ngerasain luka yang sama untuk kedua kalinya atau malah lebih parah." Fanco menjelaskan dengan getir.


Kimberly mengangguk mengerti.


"Tapi belum tentu juga Frans kayak gitu kan?" Kimberly mencoba berpikir positif.


"Aku nggak tahu Frans itu seperti apa? Sama nggak dengan Felix. Tapi yang jelas, saat ini aku nggak akan ijinin Bar menjalin hubungan dengan siapa pun. Bar harus fokus nyembuhin luka hati nya dulu. Dan juga fokus sama kandungannya." Ucap Fanco tegas.


Kimberly mengangguk.


Ia kini mengerti kenapa suaminya tadi sekeras itu pada putrinya.

__ADS_1


Suaminya hanya ingin melindungi putri mereka.


"Ingat, kalo Frans datang kesini saat aku nggak ada, jangan ijinin Bar ketemu sama dia." Titah Fanco pada istrinya.


Kimberly mengangguk mengerti.


Fanco pun segera naik keatas menuju kamar nya. Ia memilih menyiram tubuhnya dengan air dingin yang mengalir dari shower.


"Kenapa hidup kamu jadi hancur kayak gini Bar? Papa dulu jagain kamu kayak nyawa Papa, tapi kenapa kamu malah dihancurkan sama pria bajingan kayak gitu?" Fanco bertanya geram seolah berbicara pada putrinya.


Ia bahkan memukuli dinding kamar mandi nya untuk meluapkan amarah nya.


"Maafin Papa Bar. Papa salah, Papa nggak becus lindungin kamu. Papa terlalu mudah lepasin kamu dulu. Papa pikir brengsek itu benar-benar kebahagiaan kamu sampe-sampe Papa nggak mikir panjang." Ucap Fanco lagi dan terus memukuli dinding kamar mandi, hingga buku-buku jarinya tampak memar, bahkan ada yang mulai mengeluarkan darah.


Akhirnya Fanco memilih menyudahi kegiatan mandi nya dan menyambar sehelai jubah mandi, mengenakannya pada tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi.


Ia terkejut saat ia keluar dari kamar mandi, Barbara sedang duduk menunduk diatas ranjang nya.


"Bar, ngapain kamu?" Fanco bertanya lembut.


Ia mengangkat kepalanya dan menatap pilu Ayahnya.


Fanco tentu saja merasakan perih dihati, melihat putrinya hancur seperti itu.


Fanco memilih mendekati putrinya dan memeluk putrinya.


"Maafin Papa sayang. Papa udah kasar sama kamu tadi." Pinta Fanco lirih.


"Bar, nggak salah Pa. Anak ini beneran darah daging Felix. Aku nggak bohong. Frans juga nggak bohong. Dia yang udah nyelamatin dan lindungin Bar dari tangan kejam Felix." Barbara berucap lirih dan masih berusaha menjelaskan pada Ayahnya.


"Sstt. Papa tau, Papa tau kamu nggak sama. Papa percaya sama kamu. Udah, nggak usah nangis lagi yah." Fanco membujuk putrinya dan mengecup puncak kepala putrinya beberapa kali.


"Tapi tadi Papa marah sama Bar, Papa juga usir Frans dan nggak mau dengerin penjelasan dia." Barbara terisak pelan dan membalas pelukan Ayahnya.


"Maaf sayang. Bukannya Papa nggak mau dengerin kalian tadi. Tapi Papa nggak mau lagi salah langkah. Semua demi kebaikan kamu sekarang. Jangan mikir yang lain dulu yah. Mikir tentang kesehatan janin kamu, cucu Papa sama Mama dan kebahagiaan kamu dulu. Itu yang penting sekarang." Ucap Fanco menenangkan putrinya.


Barbara menunduk.

__ADS_1


"Maafin aku Pa. Maaf udah kecewain Papa." Pinta Barbara sedih.


"Udah udah. Kamu nggak salah. Kamu hanya kurang tepat memilih aja." Fanco membujuk putrinya.


Barbara masih terisak sambil memeluk Ayahnya.


"Udah, jangan sedih lagi ya. Habis ini kita makan sama-sama. Anak Papa sama cucu Opa pasti laper." Fanco melepas pelukan nya dan menghapus air mata Barbara dengan telapak tangannya.


Barbara sedikit tersenyum.


"Udah, kamu keluar dulu gih, Papa mau ganti pakaian dulu." Titah Fanco pada putrinya.


Barbara mengangguk dan keluar dari kamar Papa nya.


#####


Frans yang merasa terhina karena diusir secara paksa tadi tidak langsung ke hotel dan memesan kamar untuk menginap.


Ia lebih memilih pergi ke gym.


BUKK BUKK


Tampak ia sedang bersemangat meluapkan amarah nya yang ia pendam tadi dengan memukuli samsak yang ada di ruangan khusus tinju di gym itu.


Gym tersebut cukup lengkap bahkan menyediakan fasilitas khusus untuk mereka yang ingin latihan tinju dan sebagainya.


"Bangsat kamu Fel. Nggak cukup kamu nyakitin Barbara dan mau bunuh janin darah daging kamu. Sekarang kamu juga bikin kepercayaan Papa, Mama Barbara ke Barbara hancur. Ingat Fel, selama aku masih hidup, aku nggak akan pernah biarin kamu bersatu sama Barbara lagi sekalipun kamu nangis darah dan menyesal beneran. Udah cukup aku bodoh satu kali berharap kamu berubah, demi Barbara bahagia aku dengan lugunya mohon sama kamu. Udah cukup Fel. Nggak akan ada lagi kesempatan buat kamu. Nggak akan." Frans meluapkan segala amarah nya pada samsak tersebut.


"Bar, aku pasti jemput kamu. Aku pasti ngambil kamu dan bahagiain kamu gimanapun caranya. Meski harus bunuh mereka yang menghalangi jalan aku sekalipun." Frans kembali berkata dengan amarah.


...~ To Be Continue ~...


******


Yang mau menghujat Felix atau Frans, dipersilahkan.


Kalo mau hujat diriku pun, aku pasrah dah.

__ADS_1


__ADS_2