Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Psikopat


__ADS_3

"FELIX" Barbara berteriak dari arah pintu.


Ia tadi berusaha mengejar Felix karena penasaran untuk apa Felix keluar malam-malam begini, namun ia sempat kehilangan jejak.


Felix tersentak dan berbalik menghadap Barbara.


Ekspresi Barbara sangat sulit diartikan.


Marah, kesal, sedih bercampur satu.


Felix segera menghampiri istrinya.


"Sayang, kamu kok bisa di sini?" Felix bertanya mencoba santai.


"Harusnya aku yang tanya Fel, kenapa kamu kayak gini lagi?" Barbara kini menitikkan air matanya.


Ia tidak menyangka bahwa sisi psikopat suaminya yang terkubur belasan tahun bisa bangkit lagi.


"Aku cuma menghukum dia sayang. Dia udah berusaha merusak hubungan kita." Felix menunjuk jasad Amel yang sudah terbujur kaku dan bersimbah darah.


"Menghukum? Nggak harus sampe ngebunuh dia Fel." Barbara kini meninggikan suaranya.


Felix merasa bersalah melihat kemarahan dan tangisan istrinya yang sudah sangat lama tidak ia lihat juga,


"Fel, aku udah bilang kalo kamu sakit bilang sama aku. Lampiaskan semuanya sama aku, tapi jangan bunuh orang lagi." Barbara kini terduduk lemas di lantai.


Tatapan matanya kosong tertuju pada jasad Amel.


Felix berjongkok menyamakan tingginya dengan Barbara.


Ia meraih Barbara ke dalam pelukannya meski tubuhnya kotor karena percikan darah Amel.


"Maafin aku. Aku yang salah. Aku janji ini yang terakhir. Aku nggak akan lakuin ini lagi dan kalo aku sakit lagi aku bakal nyari kamu." Felix memeluk erat istrinya yang menangis dalam diam.


Barbara jelas tak ingin suaminya kembali menjadi seorang pembunuh, apalagi jika sampai kedua anak mereka mengetahuinya, itu akan sangat berdampak buruk untuk pertumbuhan mental anak-anak mereka.


"Dengan kamu setia sama aku dan anak-anak dan gak termakan sama godaan wanita lain itu udah cukup buat aku Fel. Nggak perlu sampe harus menghabisi nyawa orang lain." Barbara masih saja menangis dalam pelukan Felix.


"Aku janji, aku janji nggak akan ulangi lagi. Kalo sampe terbukti aku langgar janji aku, kamu boleh hukum aku sayang. Kamu boleh hukum aku apa aja." Felix berjanji dengan tulus.


Ia sadar dirinya yang bersalah.


"Janji Fel, jangan cuma janji lagi. Aku perlu bukti!" Barbara menekan setiap katanya dan membalas pelukan Felix.


"Em..aku bakal buktiin. Nggak cuma janji." Felix semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang!" Barbara mengajak Felix beranjak dari tempat itu.


Ia tidak ingin semakin lama berada di tempat itu akan semakin berbahaya untuk Felix apalagi melihat pemandangan yang begitu indah untuk seorang psikopat.


Felix mengangguk. Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, namun sebelumnya Felix meminta seseorang untuk membereskan hasil karyanya dan menghapus jejak yang ia ciptakan.


Ia dan Barbara pun beranjak dari tempat itu.


Mereka sama sekali tidak sadar bahwa dari tadi Denio melihat semua yang terjadi. Dari awal Felix sampai di tempat itu hingga ia dan Barbara pergi, Denio melihat semuanya.


Denio mengikuti Felix sebelum Barbara, namun ia menjaga jarak aman saat sadar Barbara juga mengikuti dari belakang, namun Barbara sama sekali tidak tahu bahwa mobil Denio ada di depannya. Barbara hanya fokus pada Felix saat itu. Dan mobil Denio jugalah yang membuat Barbara kesulitan hingga terlambat sampai ditempat itu.


Setelah Felix dan Barbara pergi, Denio segera masuk ke dalam gubuk tempat Amel dihabisi


Denio berjongkok tepat disamping jasad Amel yang kaku.


Senyuman mengerikan tersungging dari bibir Denio.


Ia menggunakan jari telunjuknya lalu mencelupkan jari nya ke dalam perut Amel yang sudah terbelah oleh Felix. Denio juga mendekatkan wajahnya dan menghirup dalam aroma anyir dari perut Amel.


"Bau kehidupan!" Gumam Denio tersenyum menakutkan.


Ia juga kemudian mengeluarkan ponselnya lalu memotret jasad Amel.


Denio kini sedang duduk di dalam mobilnya.


Ia tertawa sendiri namun tidak menimbulkan suara sambil memandangi tangannya yang masih berbalur darah Amel.


"Jadi gini rasanya liat orang membunuh dari jarak dekat? Kalau bisa membunuh dari jarak dekat juga pasti menyenangkan." Denio menggerutu sendiri dan terus tersenyum menakutkan.


Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan ia terus tersenyum menakutkan namun bukan lagi mengingat jasad Amel, melainkan membayangkan kedua orang tuanya yang ada di posisi Amel.


Sesampainya di rumah, ia segera masuk namun ia memilih menyelinap masuk ke dalam kamar Fera dan tidur di samping Fera.


••••••••••••••


"Hoam.." Fera menguap saat terbangun dari tidurnya.


Hari sudah berganti pagi.


"Eh...." Fera merasakan sesuatu berat menimpa perutnya.


Perlahan ia melihat perutnya dan ternyata adalah tangan kekar Denio.

__ADS_1


"Ni ... " Belum sempat Fera ingin berteriak, Denio dengan gerakan cepat langsung membekap mulutnya.


"Ssttt..nggak usah teriak!" Nada Denio mengancam dan tatapannya menakutkan.


Fera hanya mengangguk pelan dan perlahan Denio melepaskan tangannya.


"Nio ngapain di sini?" Fera bertanya dengan berbisik.


Bukannya menjawab, Denio malah naik ke atas Fera dan dengan cepat melahap bibir Fera dengan lembut.


Fera terbuai dengan perbuatan kekasih gilanya dan membalasnya.


Denio semakin terbawa suasana dan semakin brutal dan kini ciumannya beralih ke leher putih Fera.


Fera yang terbuai pun tidak ada niat untuk menolak, Denio yang merasa mendapat kesempatan pun berusaha membuka kancing piyama Fera.


"Nio jangan!" Kesadaran Fera kembali dan dengan gerakan cepat ia menahan tangan Denio.


Ada raut ketakutan dari wajah Fera, Denio mau tak mau pun menyudahi aksinya.


Denio kembali berbaring disamping Fera dan kembali memeluk Fera.


"Nio, maaf." Fera merasa bersalah, namun ia tahu memang belum saatnya untuk mereka sampai sejauh itu.


Denio tersenyum lembut pada kekasihnya.


"Janji Fer, nggak ada yang boleh nyentuh kamu selain aku! Dan aku janji, aku bakal nunggu sampe waktu itu datang." Nada bicara Denio lagi-lagi mengancam.


Fera mengangguk patuh membuat Denio tersenyum.


"Mau mandi bareng?" Denio menggoda kekasihnya.


"Nggak mau! Dulu kita kecil Nio, sekarang udah dewasa." Fera menggerutu kesal dan itu tampak menggemaskan di mata Denio.


"Ya udah, kamu mandi gih. Masa cantik-cantik bau iler." Denio mencolek gemas hidung Fera.


Fera mendengus kesal sambil turun dari ranjangnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Denio tersenyum melihat tingkah lucu Fera.


"You're mine Fera! Sampai matipun aku nggak akan lepasin kamu buat orang lain! Bahkan di kehidupan selanjutnya aku bakal tetap ikat kamu seperti sekarang!"


Denio memutuskan untuk meninggalkan kamar Fera secara diam-diam, dan ia sangat bersyukur karena pagi ini Barbara tidak naik untuk membangunkan Fera.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2