
"Duh, Papa sama Mama kok belum datang sih?" Dean mondar-mandir gelisah menunggu kedua orang tuanya.
"De, bentar lagi juga datang kok. Sarapan dulu sini." Fera membujuk adiknya yang sudah seperti cacing kepanasan.
Dean menurut dan bergabung dengan Fera dan Denio di meja makan.
Dengan malas Dean menyantap makanan di depannya.
"De, sebenarnya kenapa sih Dean ngga sabaran banget nungguin Papa sama Mama?" Denio bertanya bermaksud menggoda.
"Kakak nggak liat dari kemarin aku belum ganti pakaian?" Dean menjawab dengan pertanyaan ketus.
Fera hanya mengulum senyum melihat tingkah kedua lelaki yang ia sayangi itu.
"Iya kakak tau. Tapi kan bisa sabar nungguinnya." Denio mencoba mengalah.
"Emang kalo ngomong sama orang jorok itu nggak akan ngerti." Dean langsung pergi meninggalkan Denio dan Fera. Dean memilih kembali menunggu di pintu depan.
Gelisah dan menunggu cukup lama, akhirnya Denio dapat melihat mobil Felix memasuki pelataran rumah Denio dan Fera.
Dean segera menghampiri kedua orang tuanya.
"Ma, pakaian Dean mana?" Dean bertanya tidak sabaran kepada Barbara yang baru turun dari mobil.
"Ada di bagasi. Fel, bukain bagasi nya." Barbara menjawab Dean dan menyuruh Felix sekaligus.
Dean segera berlari ke bagian bagasi mobil Felix lalu mengambil tas yang berisi pakaiannya setelah Felix membuka pintu bagian bagasi dari dalam mobil.
"Dean ganti pakaian dulu." Dean langsung berlari kembali ke dalam rumah dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Barbara dan Felix menggeleng gemas melihat tingkah putra bungsunya itu.
"Kaina, ayo turun." Barbara mengajak Kaina yang ternyata ikut bersama mereka.
Kaina menurut dan turun dari mobil.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Denio dan Fera.
"Sayang.." Felix menghampiri kedua orang yang masih asyik menyantap makanan mereka sambil bercanda kecil.
"Eh Papa, Mama.." Fera berdiri dan memeluk kedua orang tuanya bergantian.
Denio hanya senyum dan mengangguk beberapa kali.
"Kaina juga ikut.." Fera menghampiri Kaina yang terlihat murung dan membawa Kaina duduk di sampingnya.
Kaina hanya mengangguk pelan.
"Fer, Nio, Papa sama Mama nggak bisa lama-lama di sini. Papa sama Mama titip Kaina sama Dean yah." Barbara mengelus rambut putrinya.
"Iya Ma. Sebenarnya Fera sama Nio ada kelas hari ini, cuma nanti Fera pesan ke Dean aja biar temenin Kaina." Fera mengusap punggung gadis remaja yang tampak sedih itu.
"Ya udah, kalo gitu Papa sama Mama pergi sekarang. Sampe ketemu nanti yah.." Felix dan Barbara memeluk kemudian mengecup pipi Fera bergantian.
Barbara memeluk Denio dan Kaina juga, sedangkan Felix ikut memeluk Kaina saja.
Tak lama sepeninggal Felix dan Barbara, Dean turun dari kamarnya.
__ADS_1
"Kok ada dia kak?" Dean bertanya bingung saat melihat Fera bersama Kaina.
"Tadi Kaina datang sama Papa sama Mama." Fera menjawab singkat.
"De, kakak sama kak Nio harus berangkat kuliah sekarang. Kamu nggak papa kan kalo di rumah sendiri sama Kaina?" Fera meminta ijin namun terselip kekhawatiran.
"Nggak kok kak. Dean bisa sendiri." Dean menjawab yakin.
"Ya udah, kakak sama kak Nio pergi dulu yah. Hati-hati di rumah. Kalo ada apa-apa langsung hubungi kami." Fera berpamitan lalu mengecup pipi adik tersayangnya.
"Kakak pamit." Denio mengacak lembut rambut Dean membuat sang empunya mendengkus kesal.
Setelah Fera dan Denio berangkat ke kampus, Dean memilih bersantai di ruang keluarga tanpa menghiraukan Kaina yang masih duduk sendirian di ruang makan.
"Hikkss..kakek..Kaina kangen." Terdengar suara isakan Kaina dari ruang makan.
Dean masih tidak terlalu menyadarinya.
"Hikss..Jangan tinggalin Kaina. Kaina nggak mau sendiri." Kaina kembali terisak.
Dean sekarang menyadari suara isakan Kaina.
"Kenapa dia?" Dean bergumam bingung.
Dean memutuskan untuk menghampiri Kaina.
"Kamu kenapa?" Dean bertanya dingin.
"Kakek..." Kaina terus memanggil lirih kakeknya.
Di tangannya, Kaina menggenggam sebuah gelang tali berwarna merah muda yang sangat manis.
Dengan perlahan Dean mendekati Kaina dan memberikan pelukan hangat kepada gadis mungil itu.
Dengan lembut Dean mengusap punggung Kaina, memberi ketenangan tersendiri untuk Kaina.
"Jangan sedih! Ada aku!" Kata-kata tersebut lolos begitu saja dari bibir Dean.
"Kakek..kakek udah nggak ada..kakek pergi ninggalin aku.." Kaina terus saja menyebut kakeknya.
"Ssttt..jangan sedih! Mulai sekarang aku bakal jagain kamu!" Dean masih setia mengusap punggung Kaina dengan lembut.
Lama memeluk Kaina, perlahan Kaina merasa lebih tenang dan Dean pun melepas pelukannya.
"Kamu pasti belum makan. Ayo, aku ambilin makanan." Dean berinisiatif mengambilkan beberapa makanan yang sudah Fera siapkan tadi pagi di dalam kulkas untuk bekal makan siang Dean.
Dean memanaskan makanan-makanan itu dengan berhati-hati lalu menatanya di atas piring
"Ini makan dulu. Jangan sedih-sedih lagi kalo nggak mau kakek kamu juga sedih di sana." Dean membujuk Kaina.
Kaina yang mendengar kakeknya akan bersedih jika ia bersedih pun segera menghapus air matanya dan perlahan menyantap makanan yang diberikan oleh Dean.
Entah karena lapar atau karena perkataan Dean, Kaina menghabiskan semua makanan yang Dean siapkan untuknya tadi.
Senyum kecil terbit di bibir Dean.
"Ini, minum." Dean memberikan segelas air putih hangat kepada Kaina.
__ADS_1
Kaina menerimanya dan meneguk nya hingga tetesan terakhir.
"Makasih." Kaina turun dari kursinya hendak mencuci piring dan gelas yang ia gunakan tadi.
Dean segera mencegahnya.
"Nggak usah! Biar aku aja." Dean merebut gelas dan piring yang Kaina pegang lalu mencucinya dengan berhati-hati.
"Ayo, ikut aku!" Dean menarik tangan Kaina agar mengikutinya.
Dean membawa Kaina masuk ke dalam kamarnya.
"Duduk." Dean mendudukkan Kaina ditepi ranjangnya.
Dean kemudian berjalan ke arah nakas dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini buat kamu." Dean memakaikan gelang tali berwarna hitam di pergelangan tangan Kaina.
"Dan ini buat aku. Anggap aja aku kakek kamu." Dean mengambil gelang tali Kaina yang berwarna merah muda tadi dan memakainya di pergelangan tangannya.
"Pfttt.." Kaina menahan tawanya.
"Kenapa? Ada yang lucu?" Dean mengernyit bingung.
"Kamu lucu. Mana ada kakek sekecil kamu. Kakek aku aja kulitnya udah keriput." Kaina mulai bisa tersenyum.
Dean pun tersenyum kecil.
"Ya kamu kan bisa anggap aku seperti kakek kamu waktu masih muda." Dean kini duduk di samping Kaina.
Kaina hanya menunduk menatap gelangnya dan gelang Dean.
"Kaina, mau nggak kamu tinggal di sini juga?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Dean.
"Nggak Dean. Aku nggak layak tinggal di sini. Rumah ini terlalu mewah untuk aku." Kaina menolak halus.
Dean tersenyum kecil.
"Ya udah, nanti aku suruh Kak Fera jelekin rumahnya biar kamu mau tinggal di sini." Dean berkelakar.
"Jangan. Masa rumah kakak Fera mau kamu jelekin?" Kaina menatap Dean bingung.
"Ya udah, kamu jangan nolak buat tinggal di sini kalo nggak mau aku jelekin rumah Kak Fera." Dean seolah mengancam.
"Tapi ... "
"Nanti aku bakal ngomong sama Kakak sama Papa Mama juga." Dean mencegah Kaina menolak.
Kaina menatap Dean bingung.
"Ok, kamu diam berarti iya." Dean langsung bangkit dari duduknya dan keluar begitu saja dari kamarnya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#########
Next aku bakal cepetin aja alurnya karna aku yakin pasti banyak yang sudah merasa jenuh dengan cerita yang semakin ngawal ini.. BTW
__ADS_1
...___ MAMPIR YOKKKKKK ___...