
"Sayang..Fera kamu kenapa?" Denio panik karena Fera ternyata pingsan dengan wajah berlumuran darah yang mengalir dari hidungnya namun sudah mulai mengering.
Tanpa ingin menunggu lama, Denio langsung menggendong Fera dan berlari keluar kamar.
"Dean, bawakan kakak kunci mobil!" Denio memerintah Dean yang baru saja pulang sekolah dan Dean segera menurut.
Anggota keluarga lain sudah panik melihat Denio menggendong Fera yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri seperti itu.
Tanpa menunggu atau memberi penjelasan, Denio segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Kamu kenapa sayang? Jangan bikin aku takut!" Denio cemas dan gelisah.
Bahkan ia juga menyetir dengan hati yang tidak tenang hingga hampir menabrak beberapa pengguna jalanan lainnya.
"Bertahan sayang! Jangan sampe kamu kenapa-kenapa!" Lagi Denio memberi perintah.
Sungguh di luar dugaan Denio melihat Fera dalam keadaan seperti itu. Awalnya ia menduga Fera paling hanya menangis tersedu setelah masuk ke dalam kamar.
Denio sampai di rumah sakit dalam waktu dua puluh menit.
Segera ia turun dari mobil dan menggendong Fera kemudian berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Denio segera membawa Fera ke dalam ruang UGD.
"Segera tangani dokter!" Denio memberi perintah kepada dokter yang menghampiri Denio dengan tergesa-gesa.
Sang dokter segera masuk ke dalam ruang UGD diikuti beberapa perawat.
Denio dilarang masuk, jadi dia hanya bisa menunggu di luar dengan perasaan gelisah.
Barbara dan Felix bersama Frans baru datang.
"Gimana Nio? Fera kenapa?" Barbara bertanya khawatir langsung memeluk Denio seperti memeluk anaknya sendiri.
"Dokter masih di dalam Ma. Fera masih ditangani." Denio menjawab terbata.
Jelas sekali Denio sedang menahan tangis agar tidak pecah.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Felix bertanya dengan nada yang di buat tenang tapi di dalam hatinya sudah sangat khawatir.
"Tadi pas aku masuk ke kamar Fera, aku liat Fera bungkus dirinya pake selimut. Awalnya aku kira dia nangis karna habis bertengkar sama aku tadi, tapi pas aku deketin dan buka selimutnya, ternyata muka Fera setengahnya udah merah karna darah mimisan dan Fera pingsan." Denio menjelaskan dengan tegar walau ia sangat ingin menangis.
Felix terduduk lemas di kursi tunggu depan ruangan UGD.
__ADS_1
"Tenang dulu, kita sekarang hanya bisa nunggu hasil dari pemeriksaan dokter." Frans menenangkan adiknya dan meremas pelan pundak Felix.
"Tuhan, jangan sampe anakku kenapa-kenapa!" Felix bergumam dan tidak mampu menahan air matanya.
Fera adalah kesayangannya dan kekuatannya untuk berubah menjadi lebih baik setelah Barbara, jika sampai Fera menderita otomatis dirinya juga akan ikut menderita.
Kesalahan terbesarnya adalah ia sempat tidak menginginkan Fera dan hingga hari ini pun Felix merasa belum selesai menebus kesalahannya.
Kurang lebih satu jam menunggu akhirnya dokter yang menangani Fera pun keluar dari ruang UGD.
"Dok, gimana keadaan putri saya?" Felix langsung menghampiri dokter itu.
Hah...
Dokter tersebut menghela nafas kasar.
"Sesuai gejala yang kami dapati, diagnosa awal kami adalah putri anda menderita Leukimia. Tapi kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan darah san sumsum tulangnya." Sang dokter yang masih sangat muda itu menjelaskan.
"Nggak mungkin..ini pasti bohong.." Felix tidak terima dengan penjelasan dokter.
Rasanya sangat tidak mungkin jika gadis yang sehat-sehat selama ini seperti Fera tiba-tiba terserang penyakit mematikan seperti itu.
"Tenang dulu Tuan! Ini hanya diagnosa awal kami. Setelah melakukan pemeriksaan detail baru kami bisa memastikan apakah benar atau tidak kalau putri Tuan menderita Leukimia." Sang dokter mencoba menenangkan Felix yang kini dipeluk erat oleh Barbara.
Frans kini harus menjadi yang paling tegar untuk menenangkan keluarganya.
"Saat ini kami akan memindahkan putri Tuan ke ruang perawatan sambil menunggu hasil uji laboratorium dari sample darah dan sumsum tulangnya. Saya permisi." Sang dokter yang masih muda itu pun pamit pergi.
"Kenapa? Kenapa ini semua harus menimpa putriku?" Felix frustasi dan menjambak kasar rambutnya.
"Jangan Tuhan! Jangan putriku! Hukum aku! Aku belum selesai menebus kesalahanku sama Fera!" Felix berteriak frustasi.
"Fel, tenang! Kita masih ada harapan sebelum hasil test lab. nya Fera keluar. Jangan patah semangat kayak gini!" Barbara mau tak mau harus kuat untuk suaminya saat ini.
"Aku gak bisa sayang. Aku nggak bisa kalau sampai Fera kenapa-kenapa. Aku nggak mau Fera kenapa-kenapa." Felix memeluk erat tubuh istrinya.
"Fera nggak mungkin sakit! Nggak, nggak mungkin..Fera nggak mungkin sakit.." Denio komat kamit seperti orang yang tidak waras sambil menggelengkan kepalanya.
"Nio, tenang! Fera nggak akan kenapa-kenapa!" Frans merangkul Denio erat.
Frans yang juga sudah tahu keadaan Denio tentu tidak ingin jika Denio menggila.
"Fera.." Denio memanggil Fera saat melihat beberapa perawat mendorong brankar dengan Fera di atasnya menuju ke ruang perawatan.
__ADS_1
"Fera, sayang..kamu nggak sakit kan? Bangun..buka mata kamu!" Denio menggenggam erat tangan Fera sambil berlari kecil menyesuaikan dengan kecepatan brankar yang didorong para perawat.
"Sayang, bangun! Aku tau aku salah, jangan marah lagi sayang! Please! Kamu boleh hukum aku apa aja, tapi jangan kayak gini!" Denio bahkan menitikkan air matanya.
Mereka telah sampai di ruang perawatan.
Beberapa perawat itu memposisikan Fera dengan benar dan para keluarga diijinkan masuk namun diharapkan tidak membuat keributan dan tidak terlalu ramai.
Denio masih setia menggenggam satu tangan Fera, sedangkan Felix ikut menggenggam satu tangan Fera yang lainnya.
"Sayang, anak Papa bangun! Jangan bikin Papa takut Fer. Main-main nya nggak lucu." Felix sambil mengusap kepala putrinya.
"Fera bangun! Jangan buat aku semakin merasa bersalah!" Denio sedikit meninggikan suaranya.
"Nio, udah! Fera lagi istirahat, percaya sama Mama, Fera baik-baik aja." Barbara mengusap lembut punggung Denio.
"Pa...Nio..." Terdengar suara lemah Fera memanggil kedua lelaki berbeda generasi itu.
"Iya sayang, Papa disini. Mana yang sakit, hah?" Felix bertanya khawatir namun mencoba tenang.
Ia juga tidak mungkin memberitahu putrinya tentang sakitnya sebelum benar-benar mendapat diagnosa dokter.
"Tadi hidung Fera keluar darah Pa..terus Fera juga pusing banget..Fera takut.." Fera merengek dengan suara lemahnya.
"Ssttt..anak Papa baik-baik aja kok..jangan khawatir ya.." Felix mencoba menenangkan putrinya.
"Nio, aku nggak papa kan? Kenapa kalian nangis? Ma? Om Frans?" Fera merasa takut.
"Nggak, kamu nggak papa sayang. Kamu cuma sakit biasa kok. Kita semua tadi panik aja " Denio juga mencoba tenang dan menenangkan kekasihnya.
Fera akhirnya tersenyum dengan wajah pucat nya.
"Nio, maaf tadi aku udah marah sama kamu." Fera tersenyum manis walau dengan wajahnya yang pucat.
"Nggak papa sayang. Aku juga salah karna udah nggak percaya sama kamu. Kamu harus sembuh ya, biar kita bisa cepet nikah." Denio mencoba tersenyum walau hatinya menangis.
"Bener Fer, kamu harus sembuh! Om udah capek-capek loh bantu kalian nyiapin persiapan pernikahan kalian. Masa iya nggak kasian sama Om ganteng ini?" Frans juga mencoba menghibur.
Fera mengangguk pelan.
"Iya om, Fera pasti sembuh." Fera kembali tersenyum.
Suasana sejenak menjadi lebih cair dan terdengar canda tawa kecil dari kelima orang itu meski dalam hati mereka masing-masing mempunyai kesedihan dan beban yang berat.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...