Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Lamaran untuk Tasya


__ADS_3

Satu minggu setelah pulang dari liburan lokal mereka, Frans berencana untuk melamar Tasya.


Tepatnya hari ini dan Frans sudah mempersiapkan segalanya tanpa sepengetahuan Tasya.


Frans menyiapkan semuanya dengan seromantis mungkin sesuai yang Tasya inginkan waktu itu.


Frans tidak sendiri. Ia juga meminta bantuan Felix dan Barbara.


Mereka bertiga melakukan dengan baik benar-benar tanpa sepengetahuan Tasya.


"Udah rapi semuanya kan?" Barbara bertanya memastikan pada tim EO yang terlibat.


Meski hanya untuk lamaran pribadi karena mereka sudah tidak punya keluarga yang dituakan, tetapi Frans tetap ingin memberikan Tasya sebuah lamaran yang berkesan dan romantis, sehingga ia meminta Barbara agar menggunakan jasa EO.


Dan walaupun Frans adalah kakak tiri dari suaminya dan Tasya hanya pelayan nya, namun Barbara tetap ingin yang terbaik untuk keduanya dan ingin keduanya juga bahagia.


"Udah Nyonya Barbara. Semua udah beres." Salah satu dari tim EO menjawab sopan.


Barbara tersenyum puas memperhatikan setiap dekorasi ditaman itu.


Taman yang sama saat mereka piknik minggu lalu. Frans memilih tempat itu karena Tasya sempat berangan ingin dilamar ditempat seperti itu walau ia hanya mengatakannya secara tersirat.


"Gimana Bar?" Sang empunya agenda bertanya sambil mendekat pada Barbara dan mengecup pipi Barbara sekilas.


Bukan lagi kecupan cinta atau yang lainnya, melainkan kecupan seorang kakak untuk adiknya.


"Udah semua Frans. Pokoknya dijamin deh Tas mesum kamu bakal ke sengat lengket nggak bakal nolak kamu deh." Barbara menjawab semangat.


Frans tersenyum.


"Akhirnya ya, aku bakal beneran ngelamar seseorang dalam hidupku. Nggak harus jagain jodoh orang lagi." Frans tersenyum geli.


"Nyesel yah?" Barbara malah bertanya meledek.


"Nggak juga. Banyak yang aku syukuri Bar. Akhirnya hubungan aku dan Felix beneran jadi kakak adik seharusnya, dan aku juga dapat si Tas mesum." Frans berucap bahagia.


"Bar, maafin aku buat semua kelancangan aku dulu ya? Aku udah nggak sopan sama kamu." Frans meminta maaf.


"Udah nggak papa. Aku udah maafin jauh jauh hari." Barbara menjawab enteng.


Memang malu jika dikenang kembali, namun jika tidak dilepaskan maka hidup mereka hanya akan berputar ditempat yang sama dan tidak ada penyelesaian yang seharusnya.


"Udah yuk masuk, kamu mesti siap-siap jemput Tasya kan?" Barbara bertanya memastikan.


Frans mengangguk.


Mereka pun masuk kedalam salah satu tenda yang dibangun oleh tim EO untuk mereka merias diri dan berganti pakaian jika diperlukan.


"Ini cincinnya jangan lupa! Paling penting itu! Terus, oh ini dress nya Tasya, nanti biar aku yang dandanin dia. Udah, kamu jemput dia dulu kesini, tapi tutup matanya. Jangan kasih dia lihat sekitar dulu dan langsung bawa dia kedalam sini." Barbara memerintah dengan rempong nya sebagai seorang wanita.


"Iya iya. Emang ya emak emak tuh bawel banget." Frans meledek dan keluar secepat mungkin dari tenda sebelum dilempar sendal oleh Barbara.


Frans pun segera menuju kedalam mobilnya kemudian melajukan mobilnya kembali kerumah Barbara untuk menjemput Tasya dan baby Fera yang seharian Barbara tugaskan pada Tasya untuk menjaganya.


••••••••••••


"Sayang." Frans yang sudah tiba dirumah Barbara langsung memeluk Tasya dari belakang saat melihat calon istrinya sedang sibuk di dapur.


"Tuan Frans, kok tiba-tiba datang?" Tasya bertanya bingung karena biasanya Frans akan mengabari dirinya jika ingin berkunjung.


"Tuan lagi." Frans bersungut kesal.


"Eh maaf. Sayang." Tasya menarik ucapan nya.

__ADS_1


"Ikut aku yuk..bawa Fera sekalian." Frans menarik lembut tangan Tasya untuk mengambil baby Fera.


"Mau kemana sih?" Tasya bertanya bingung setelah mereka mengambil baby Fera dari kotak bayinya yang tak jauh dari dapur.


"Udah, nurut aja. Kita bikin adik sepupu buat Fera." Frans menggoda calon istrinya sambil menuntun Tasya masuk kedalam mobilnya.


Setelah ia masuk, ia pun melajukan mobilnya menuju ke taman yang akan menjadi saksi bisu lamarannya untuk Tasya.


"Kok bikin adik sepupu mesti bawa orangnya juga?" Tasya bertanya bingung.


Frans tidak menjawab dan hanya mengulum senyum.


Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.


Frans segera menuntun Tasya yang menggendong Fera turun dari mobil.


"Bentar bentar." Frans melepaskan dasinya untuk menutup mata Tasya.


"Lah, kenapa diikat?" Tasya bertanya bingung.


"Nurut aja sayang." Frans memerintah lembut.


Ia mengambil alih Fera dari Tasya dan merangkul Tasya dengan tangannya yang bebas.


"Hati-hati. Pelan-pelan." Frans mengingatkan calon istrinya.


Frans langsung menuntun Tasya hingga masuk kedalam tenda sesuai yang diperintahkan Barbara, dan rupanya Felix juga sudah ditempat itu.


Felix melambaikan tangannya sambil menaik turunkan kedua alisnya, lalu mengambil alih baby Fera.


Frans segera membuka penutup mata Tasya.


"Eh, Tuan sama Nyonya kok disini juga?" Tasya bertanya bingung.


"Udah, kalian yang cowok keluar ke tenda satunya. Semua kebutuhan kalian disana." Barbara mengusir halus suami dan kakak iparnya.


"Fera gimana sayang?" Felix bertanya bingung.


"Ya kamu bawalah. Aku sibuk sama Tasya." Barbara menjawab sok ketus pada suaminya.


Kedua pria tersebut mengalah dan pergi.


Sepeninggal Frans dan Felix, Barbara pun segera mengurus Tasya.


Barbara segera merias wajah Tasya dengan sangat cantik namun tidak menor.


"Nyonya, sebenarnya kita mau ngapain sih?" Tasya bertanya penasaran.


"Mancing." Barbara menjawab iseng.


"Emang mancing perlu dandan secantik ini?" Tasya benar-benar tidak mencurigai apapun.


"Ikannya tuh ikan jantan. Jadi cuma mau makan umpan cewek cantik." Barbara kembali menjawab iseng dan dengan polosnya Tasya mengangguk.


"Ini dress kamu. Cepetan ganti. dan satu lagi, mulai sekarang nggak usah panggil saya Nyonya lagi." Barbara memerintah tegas.


Tasya hanya menurut.


"Cantik banget." Barbara berucap girang saat melihat Tasya sangat cantik dalam balutan dress berwarna putih tulang dengan lengan setali dan belahan dada rendah.


Tasya sedikit tidak nyaman dengan penampilannya yang tak biasa itu


Barbara juga sudah selesai mengganti pakaian dan merias wajahnya.

__ADS_1


"Udah, kita keluar yuk, ikan jantannya udah minta dipancing." Barbara menggandeng tangan Tasya keluar dari tenda tersebut menuju ke arah danau.


"Cantik banget tempat ini. Bukannya ini tempat piknik kita kemarin kemarin ya?" Tasya baru menyadari tempat ia berada sekarang dan Barbara hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tak lama mereka pun sampai ditepi danau. Disana sudah ada Frans bersama Felix yang menggendong Fera.


Kedua pria itu tampak sangat tampan dalam balutan busana yang lebih formal.


Barbara langsung menghadapkan Tasya pada Frans, sedangkan ia berlari kecil kesamping suaminya.


Frans tidak menyediakan lamaran makan malam seperti kebanyakan orang, ia tidak ingin basa basi. Ia bahkan ingin segera menikah jika bukan karena Tasya mengimpikan sebuah lamaran yang tulus dan romantis.


"Ada apa sih sebenernya?" Tasya baru merasa sedikit curiga.


Frans maju beberapa langkah hingga berdiri sangat dekat dengan Tasya.


Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy, lalu ia berjongkok dengan satu lutut menyentuh tanah.


Ia membuka kotak tersebut dan tampaklah sebuah cintai yang sangat indah.


"Tasya, aku bukan tipe pria yang suka basa basi. Aku bukan tipe pria yang suka mengumbar janji. Apa yang aku ucapkan aku cukup ucapkan sekali dan selebihnya tindakan ku yang berbicara. So, disini, dihadapan adikku dan adik ipar ku, maukah kau menikah dengan ku?" Frans mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Tasya.


Tanpa perlu menunggu, Tasya langsung mengangguk.


"Aku mau." Ucap Tasya dengan air mata haru.


Frans langsung berdiri dan memasangkan cincin tersebut dijari Tasya.


"Makasih sayang." Frans memeluk erat Tasya.


Tasya sangat terharu walau lamaran Frans terbilang sederhana.


"Jadi pengen dilamar lagi." Barbara bergelayut manja pada lengan suaminya.


"Nanti aku lamar lagi. Tapi dikamar lamarnya." Felix menimpali dengan nada menggoda membuat Barbara tersipu malu.


"Ciee..yang bentar lagi ehem ehem.." Barbara menggoda kedua orang didepan mereka.


"Jadi kapan nikah Frans?" Felix bertanya perhatian.


"Tiga minggu lagi." Frans menjawab yakin sambil melepas pelukannya dari Tasya namun tetap merangkul Tasya.


"Cepet banget?" Barbara bertanya terkejut.


"Em, sebenarnya aku udah mulai persiapan untuk nikahan dari minggu lalu. Cuma karna Tasya pengen dilamar dulu, jadi ya tercetuslah lamaran saat ini." Frans menjawab sedikit tersipu.


Felix dan Barbara mengangguk paham.


"Ya udah, aku sama Barbara dan Fera pamit dulu ya. Kasian Fera dari tadi udah nyenyak tidur." Felix pamit.


Frans hanya mengangguk begitupun Tasya.


Sepeninggal Felix dan Barbara, Frans kembali memeluk Tasya.


"Makasih ya Tas mesum, udah mau nerima lamaran aku." Frans berucap tulus.


"Em.." Tasya berdehem lembut merasakan nyaman dan hangatnya pelukan Frans. Pelukan yang sangat ia dambakan, pelukan dari seorang pria yang tulus mencintainya.


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


Kasih penyelesaian sejenak buat kedua pasangan kita yah..udah sedih2 sekarang bahagia bentar..

__ADS_1


Mampir juga di "TWINS (Belenggu Gangster Kejam)" yuk..


__ADS_2