Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Fashion Show (1)


__ADS_3

"Pagi Nyonya." Tasya menyapa Barbara yang baru saja duduk di kursi meja makan nya.


"Pagi Tas." Barbara membalas sapaan dari Tasya dengan lembut.


Tasya tersenyum, sepertinya Nyonya Kim sedang dalam suasana hati yang baik, pikirnya.


"Tas, keperluan dapur dan yang lain masih?" Barbara bertanya.


"Sudah mulai menipis Nyonya, rencananya siang ini saya akan pergi berbelanja." Tasya menjawab sopan.


Barbara mengangguk.


"Saya nitip susu hamil saya yah. Udah mau habis soalnya, dan hari ini nggak sempat belanja." Barbara meminta tolong dengan sopan.


"Baik Nyonya." Ucap Tasya lagi.


Barbara pun segera menyantap sarapan nya yang sudah Tasya siapkan tadi.


"Ya udah, saya berangkat dulu." Barbara pamit pada Tasya dan melenggang keluar menuju halaman rumah nya.


"Astaga." Barbara menggerutu saat melihat Mario dan Frans berada di halaman rumah nya bersamaan.


"Ngapain sih?" Barbara bertanya sedikit kesal.


"Jemput kamu dong sayang." Frans menjawab dengan nada menggoda.


Barbara memutar malas matanya dan memilih masuk kedalam mobil Mario.


Mario tersenyum sinis penuh kemenangan pada Frans.


Frans malah menggeleng santai dan masuk kedalam mobil nya setelah Mario masuk kedalam mobil nya.


Mario melajukan mobilnya terlebih dulu, Frans setia mengikuti dari belakang.


"Bar, dia tuh siapa sih sebenarnya?" Mario bertanya penasaran.


"Kakak tiri nya Felix." Barbara menjawab ketus.


"Terus ngapain dia ngejar kamu?" Mario bertanya lagi.


"Cinta kali." Barbara kembali menjawab ketus.


"Kamu nggak cinta sama dia?" Mario lagi-lagi bertanya.


"Nggak tau dan nggak mau bahas. Mending kamu fokus nyetir daripada nanya melulu." Sarkas Barbara.


Mario bergidik ngeri, baru kali ini ia melihat Barbara galak seperti itu.


Ia pun memilih diam dan fokus menyetir.


"Nanti malam temenin aku ke acara fashion show." Barbara bertitah pada Mario.


Mario hanya mengangguk, tidak berani membantah atau menolak.


Mereka sampai di perusahaan Barbara.


Barbara turun tanpa menunggu Mario membukakan pintu untuk nya.


Frans yang setia mengikuti mereka pun segera mengejar Barbara.


Ia berjalan disamping Barbara dan menggenggam erat tangan Barbara, membuat Barbara sulit meronta.


"Nurut aja kalo nggak mau aku lebih dari ini." Frans mengancam dengan nada jahil.


Mario yang melihat pemandangan itu pun tak mau kalah, ia menghampiri Barbara dari sisi berbeda dan juga menggenggam erat tangan Barbara.


Rasanya Barbara ingin mengutuk kedua pria kekanak-anakan itu.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan beriringan hingga masuk kedalam ruangan kerja Barbara.


"Lepas." Barbara menepis kasar kedua tangan kekar itu.


Frans dan Mario melepaskan tangan mereka bersamaan.


"Bar, mau minum gak?" Frans bertanya penuh sayang.


Barbara tidak bereaksi.


"Bar, nanti malam jam berapa acara nya?" Kini Mario yang bertanya.


"Jam 8." Barbara menjawab singkat.


"Oh, jadi entar malam bakal pergi bareng." Frans membatin.


"Bar sayang, aku pamit dulu ya. Ada kerjaan." Frans pamit dan tanpa menunggu jawaban Barbara ia langsung keluar dari ruangan Barbara.


Barbara menghela nafas lega. Ia tidak membenci Frans, hanya saja ia ingin bebas dari pria-pria psikopat itu.


Sepeninggal Frans, Mario melihat Barbara yang ternyata sedang menatap kepergian Frans.


Ada rasa cemburu yang mulai Mario rasakan semakin nyata.


"Bar, kamu punya perasaan lebih sama dia?" Mario bertanya datar.


Barbara menatap Mario sejenak.


"Em..tapi dulu, saat aku lagi down banget dai yang nguatin aku. Kalo sekarang aku udah nggak tau lagi." Barbara menjawab sejujurnya.


"Jangan sampai ada lagi Bar." Mario hanya bisa mengucapkannya didalam hati walau ia sangat ingin mengungkapkan secara nyata.


"Bar, aku juga masih ada kerjaan. Entar malam aku jemput ya." Mario pamit pun tanpa menunggu jawaban Barbara ia langsung keluar dari ruangan itu.


"Duh duh bumil cantik diapit dua cowo cakep ya." Adela yang baru masuk kedalam ruangan Barbara langsung menggoda nya.


Adela bukannya takut malah berjongkok di depan Barbara mensejajarkan tingginya dengan perut Barbara.


"Alo cayang, apa kabar kamu didalem. Tante pengen deh bisa hamil kayak Mommy kamu. Tapi nggak tau kapan? Kamu sehat-sehat didalem yah." Adela berbicara dengan nada lucu sambil mengelus perut buncit Barbara.


"Makanya ngajak Harvest bikin nya sering." Barbara menggoda bawahannya itu.


"Udah sering kali Bar, cuma belum dikasih kepercayaan aja." Adela bangkit dari posisinya.


"Eh by the way, entar malam aku bareng Harvest yah." Adela meminta ijin untuk menghadiri acara Fashion show bersama suaminya.


Barbara mengangguk tanpa banyak bicara, mereka pun mulai mengerjakan setiap pekerjaan yang harus dikerjakan.


············


Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


"Aku siap-siap dulu deh." Barbara bergumam.


Ia masih di ruangan kerjanya, sedangkan Adela sudah pamit satu jam yang lalu saat Harvest menjemput nya.


Barbara pun segera mulai bersiap didalam ruangan pribadinya yang masih berada di dalam ruangan kerjanya.


Ia tampak memilih pakaian apa yang akan ia kenakan dan pilihan nya jatuh pada sehelai dress sexy namun tidak ketat.


Ia pun segera membersihkan dirinya dan setelah selesai ia lansung mengenakan dress yang sudah ia pilih dan mulai merias wajah cantik nya.


Selesai dengan semua ritual nya, ia pun keluar dari ruangan pribadinya.


"Oh my.." Barbara kaget saat melihat dua pria dewasa sedang beradu tatapan maut di ruangan kerjanya.


"Pada ngapain sih?" Barbara bertanya sedikit kesal dan sudah dipastikan Mario dan Frans masih dalam mode bersaing.

__ADS_1


"Jemput kamu." Frans dan Mario menjawab serentak.


Barbara memilih menggandeng lengan Mario dan melangkah keluar dari ruangan nya, Frans tentu tidak ingin ketinggalan dan memutuskan untuk mengikuti dari belakang.


Mereka pun berangkat ketempat acara Fashion show tersebut dengan mobil yang berbeda.


Frans tidak akan melepaskan Barbara mungkin sampai Barbara menentukan pilihan nya.


Tak lama mereka pun sampai di tempat acara tersebut.


Tampak sangat ramai.


Baru saja sampai dan turun dari mobil, Mario sudah ditarik oleh beberapa rekan bisnis mendiang Fanco yang mengagumi nya.


Frans tentu saja senang dengan hal itu karena ia bisa lebih leluasa berduaan dengan Barbara.


"Yuk." Frans menggenggam hangat tangan Barbara.


Barbara mau tidak mau hanya bisa menurut, tidak bisa berpaling pada Mario.


Mereka melangkah dengan pasti masuk kedalam gedung megah itu.


"Bar, masih ingat gak dulu kita pernah juga hadirin acara kayak gini?" Tanya Frans flashback dengan kenangan masa dulu.


Barbara memilih tidak menjawab, karena masih merasa malu mengingat hal panas yang sudah mereka lakukan dan hampir membuat Barbara menyerahkan diri nya.


"Sayang kok diem? Nggak nimbrung sama kolega lain?" Frans bertanya bingung.


Barbara menggeleng.


"Sejujurnya aku nggak terlalu kenal sama mereka karna banyakan Adela yang handle semuanya." Barbara menjawab jujur.


Frans mengangguk paham.


"Ya udah, kita mojok aja." Frans memberi usul dengan tatapan mesum.


Bukan Frans namanya jika tidak mesum saat bersama Barbara.


"Nggak usah ngaco." Barbara menolak ajakan Frans membuat Frans terkekeh.


"Wow, korban baru nih." Terdengar suara yang sangat familiar di telinga mereka dari arah belakang.


Mereka berbalik bersamaan dan kaget melihat Felix di depan mereka.


Frans inisiatif menggenggam tangan Barbara dan menyembunyikan Barbara dibelakang nya.


"Jaga kata-kata kamu." Frans melotot tajam dan benci pada Felix.


Felix tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan mereka, namun sebelum benar-benar pergi, Felix berhenti disamping Barbara.


"Jaga nyawa kamu, jangan sampai berakhir ditangan dia." Felix mengingatkan Barbara dan menepuk pundak Barbara dua kali lalu berlalu dari sana.


Felix sama sekali tidak tahu jika itu adalah Barbara, wanita yang mungkin sampai saat ini masih ia cintai.


"Pria brengsek." Barbara bergumam dalam hati dan mencengkeram erat tangan Frans yang sedang menggenggam tangan nya.


Frans menarik Barbara keluar dari keramaian.


...~ To Be Continue ~...


#####


Setelah beberapa Bab Frans dan Mario bersaingan, aku bakal langsung menuju masa depan..ciaaaa


Maksud nya bakal cepetin alur nya..


Sedih banget, waktu lagi konflik panas pada semangat komen, tapi sekali konflik mereda dan kehidupan Barbara sedikit membaik, eh pada ngilang ditelan entahlah oleh apa.

__ADS_1


Like dan komentar nya yah bagi yang masih setia mengikuti kisah Barbara, hidup itu ada pasang surut begitupun kisah di novel..kalo semuanya pasang bisa2 entar banjir bandang pulak yah.


__ADS_2