
"Sayang, kamu ngapain sih mondar-mandir gitu kayak cacing kepanasan?" Barbara bertanya bingung kepada Felix.
"Dean udah tidur kan tadi?" Felix tidak menjawab dan malah balik bertanya.
"Udah. Dean sama Jacob tadi aku sama Tasya suruh tidur berdua dulu." Barbara menjawab sedikit kesal karena pertanyaannya tidak dijawab.
"Aku keluar dulu.." Felix menghampiri Barbara dan mengecup keningnya.
"Malam-malam gini? Ngapain?" Barbara bertanya penasaran.
"Menghukum orang yang seharusnya di hukum!" Felix menjawab dengan dingin dan berbalik meninggalkan Barbara.
"Fel, jangan gila! Felix.." Barbara segera mengejar Felix.
"Jangan Fel!" Barbara berhasil menarik tangan Felix dan memeluknya erat.
"Maaf sayang, kali ini aku gak akan dengerin kamu! Dean dan Jacob pasti ngalamin trauma berat dan bisa jadi seumur hidup mereka. Tapi iblis berkedok guru itu kemungkinan hanya akan mendapatkan hukuman seumur hidup. Itu gak setimpal dengan trauma anak-anak kita dan anak-anak lain yang jadi korban." Felix juga memeluk erat Barbara.
"Tapi Fel ... "
"Sstt..percaya sama aku. Aku nggak bisa sayang membayangkan di masa depan Dean dan Jacob gimana? Sedangkan iblis itu mungkin empat atau lima puluh tahun di penjara dan bisa aja hukumannya lebih ringan dari trauma yang anak-anak kita dapat." Felix melonggarkan pelukannya dan menatap lekat wajah sendu istrinya.
Barbara kini hanya diam dan menitikkan air mata.
"Nggak akan lama. Aku janji." Felix melepaskan pelukannya dan mengecup dalam kening Barbara.
Setelah itu Felix langsung berbalik dan pergi, namun panggilan Frans membuat langkahnya kembali terhenti.
"Aku ikut!" Frans mengajukan dirinya untuk ikut serta seolah dia sudah tahu tujuan Felix pergi.
Felix mengangguk, dan keduanya pun pergi meninggalkan rumah mereka.
"Bar, jangan sedih lagi. Biarin mereka menghukum orang yang seharusnya di hukum." Tasya memeluk Barbara yang sedang terisak melihat kepergian Felix dan Frans.
"Kamu ijinin Frans?" Barbara bertanya bingung mendengar ucapan Tasya.
Tasya mengangguk dan kilatan amarah tergambar jelas di matanya.
"Kalo aku bisa sendiri aku pasti lakuin sendiri Bar. Masa depan anak-anak kita dirusak oleh iblis itu dan mereka pasti ngalamin trauma berat." Nada bicara Tasya pun terdengar penuh amarah.
Barbara hanya bisa mengangguk.
"Lebih baik kita temenin Dean sama Jacob aja." Tasya menuntun Barbara ikut bersamanya untuk menemani kedua putra mereka.
••••••••••••••••••
"Kamu udah tahu dimana dia sekarang?" Frans bertanya sambil memainkan pisau kesayangannya ditangannya.
"Aku udah minta orang suruhanku buat bawa dia ketempat yang aman." Felix menjawab dengan nada datar
Frans hanya mengangguk paham.
"Wait..bukannya itu mobilnya Nio?" Frans kaget karena melihat mobil Denio mengikuti mereka dari belakang.
Felix melirik sekilas kaca spion mobilnya kemudian tersenyum sinis.
__ADS_1
"Biarin aja dia. Anak itu juga perlu belajar cara untuk menghukum musuh." Felix menambah kecepatan mobilnya.
Tak lama mereka pun sampai di sebuah rumah tua di tengah hutan.
Felix dan Frans turun dari mobil, namun mereka tidak segera masuk.
Felix sengaja menunggu hingga Denio sampai.
Saat melihat mobil Denio, Felix segera melambaikan tangannya agar Denio turun dan ikut serta.
"Pa, om Frans." Denio menyapa keduanya setelah berdiri di depan mereka.
Felix dan kedua lelaki itu masuk ke dalam rumah tua itu sedangkan dua orang suruhan Felix berjaga di luar.
Di dalam rumah tua itu ada dua wanita setengah bugil yang sedang menari erotis di depan guru cabul itu.
Guru cabul itu terikat di sebuah tiang besar tanpa busana. Area pribadi pria setengah tua itu menegang hebat melihat kedua wanita yang menari erotis di depannya.
Felix memang merencanakan itu semua.
"Kalian bisa pergi!" Felix memberi perintah kepada kedua wanita bayaran itu.
Mereka menurut dan pergi dari rumah tua itu.
"Iblis tua, gimana?" Felix bertanya meremehkan.
"Tuan, berikan aku wanita-wanita tadi. Aku mohon." Pria setengah tua itu meminta dengan sangat.
"Sebentar." Felix berjalan ke arah salah satu meja yang di atasnya terdapat berbagai alat untuk menyiksa korbannya.
Felix mengambil sebuah jarum suntik yang isinya adalah orang perangsang.
"Boleh juga ide kamu.." Frans memuji adiknya itu.
Felix duduk sejenak menunggu obat tersebut bekerja, Frans dan Denio mengikuti.
"Nio, yakin mau jadi psikopat?" Felix menatap Denio yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Tanpa ditanya pun seorang psikopat Pa." Denio menjawab santai, kemudian melirik ke arah alat-alat hukuman yang tertata rapi di atas meja.
Denio bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja tersebut dan mengenakan sepasang sarung tangan. Setelahnya, Denio mengambil sebuah pisau panjang yang jelas sangat tajam.
"Tuan, panas. Aku butuh wanita atau lebih baik anak gadis remaja." Pria cabul yang terikat itu berteriak dan meronta hebat karena obat perangsang itu telah bekerja.
Felix berjalan ke arah Denio dan meminta pisau panjang itu dari tangan Denio, Denio menurut.
"Wanita? Anak gadis remaja? Tenang! Aku kasih lebih." Felix mengambil ancang-ancang.
SHATT
"ARGHH" pria cabul itu mengerang kesakitan yang teramat sangat saat Felix memotong kelaminnya.
Darah segar menyembur begitu saja dan membasahi lantai rumah tua itu.
Felix tersenyum puas, kemudian ia mengembalikan pisau panjang itu ke tangan Denio.
__ADS_1
"Om Frans duluan atau aku?" Denio bertanya dengan santai.
"Junior silakan!" Frans menjawab juga tak kalah santai.
"Ampun Tuan-tuan. Saya mohon ampun." Pria cabul itu memohon pengampunan.
Denio sudah mendengar semua tentang pria yang mereka siksa ini, maka dari itu dia ditugaskan di rumah sakit untuk menemani Fera hingga tadi saat ia hendak masuk ke dalam rumah, tidak sengaja melihat mobil Felix keluar dari rumah hingga ia memutuskan untuk mengikuti.
"Ampun katamu? Sadar woi, guru nggak ada yang cabul. Mereka harusnya menjaga dan melindungi muridnya dari hal-hal seperti itu." Denio meninggikan nada bicaranya.
JLEB SRETT
Denio menusuk pisaunya kembali ke area pribadi tersisa dari pria cabul itu dan menarik pisau panjang itu hingga ke perut pria itu.
Felix dan Frans terkagum melihat tindakan gila Denio. Felix sudah tidak keberatan untuk menyatukan Denio dan Fera karena ia yakin Denio yang mampu menjaga dan melindungi Fera.
Pria cabul yang terikat itu menggelepar seperti ikan yang butuh air namun belum mati.
"Giliran aku yah?" Frans pura-pura bertanya dan dengan santai ia menghampiri Denio dan pria itu.
Frans kemudian memilih senjata lain.
Frans memilih sebuah rantai dengan ujung berbentuk seperti cakaran tangan yang tajam.
BAK SHATT
Frans mencambuk pria itu dengan senjatanya di bagian kepala dan menariknya hingga kulit kepala pria itu ikut tertarik dan terkelupas begitu saja.
Pria itu tidak mampu bersuara lagi karena sudah lemah dan kehilangan banyak darah.
Frans hendak mengulangi tindakannya namun bunyi ponsel Felix mengurungkan niatnya.
"Ada apa?" Felix bertanya datar.
" ... "
"APA? FERA HILANG?" Felix bertanya frustasi dan langsung menutup panggilannya.
"Selesaikan Frans!" Felix memberi perintah dan keluar dari ruangan itu.
SHATT
Frans mengulangi perbuatannya tadi di bagian perut pria cabul itu hingga dalam perutnya ikut tetarik keluar.
Denio dan Frans segera keluar dari rumah tua itu.
"Bereskan semuanya! Jangan tinggalkan jejak!" Felix yang menunggu di depan rumah pun memberi perintah kepada dua orang suruhannya.
Mereka bertiga segera meninggalkan rumah tua itu dengan mobil masing-masing dan tujuannya adalah rumah sakit.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#######
aku sengaja nggak sebut pria cabul itu dengan namanya karena toh dia akhirnya mati juga kan..jadi nggak perlu namanya.
__ADS_1
Ada yang setuju kalo kisah ini berlanjut sampe Dean dan Jacob dewasa?
Dan maaf nih kalo Felix dan Barbara udah jarang nimbrung karena memang cerita sudah mulai berpusat pada anak-anak mereka.