
Selesai membakar semua potongan tubuh keluarganya, Denio kembali menyeret Fera keluar dari kamar orang tuanya.
Ia memindahkan Fera ke kamarnya saat ia kecil dulu.
Kamar itu sangat menakutkan, di dominasi warna gelap dan hanya ada lampu kecil sebagai penerang.
Denio mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan memutuskan untuk menghubungi Felix.
"Pa, aku ijin liburan satu minggu sama Fera. Aku janji nggak akan macem-macem." Denio berbohong.
Panggilan pun berakhir setelah ia mendapat ijin.
Fera masih saja menangis dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya.
"Kenapa sayang? Kenapa kamu nangis? Kamu lupa dulu wanita jahat itu udah kasarin kamu?" Denio bertanya dengan suara mencekam dan naik ke atas ranjang.
Fera takut, sangat takut. Semua yang sempat ia lupakan tentang kejadian masa kecilnya kini kembali terekam jelas.
"Jangan nangis sayang! Aku nggak suka liat kamu nangis!" Denio menarik rambut Fera namun tidak kuat hingga kepala Fera mendongak.
Fera masih memejamkan kuat matanya dengan air mata yang terus mengalir.
Denio mengecup air mata Fera bahkan tak ragu menjilatnya membuat Fera semakin ketakutan.
"Ssttt...nggak usah nangis!" Denio kini menodongkan pisaunya di leher Fera.
SRETT
Denio menggores leher Fera hingga terluka dan meneteskan darah segar.
Lukanya tidak dalam dan panjang, namun tetap saja darah mengalir deras.
Denio dengan gila menjilati darah yang ada di leher Fera.
Tangannya bergerak untuk membuka pakaian Fera. Fera ketakutan dan ingin melawan namun tubuhnya seakan di kunci dan tak mampu bergerak untuk melawan.
Denio berhasil menanggalkan semua pakaian Fera dan kini Fera benar-benar polos.
Denio mulai menjamah tubuh mungil itu dengan mulut dan bibirnya.
Sungguh, tubuh Fera seolah terhipnotis padahal pikirannya ingin melawan.
Denio hendak membuka pakaiannya agar bisa melakukan penyatuan dengan Fera.
Kali ini Fera tersadar. Dengan cepat ia bangkit dari posisinya dan menghindari Denio.
Fera menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Nio, jangan!" Pinta Fera dengan suara lemah sambil menggeleng.
Sakit, itu yang Denio rasakan saat melihat gadis yang ia cintai menangis dan ketakutan karenanya.
Denio mengurungkan niatnya untuk menyetubuhi kekasihnya.
Segera, Denio menarik Fera ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maaf. Maaf udah bikin kamu takut." Denio dengan suara yang sulit diartikan.
Fera dengan segala keberaniannya membalas pelukan Denio, namun ia tidak mengatakan apapun.
Denio melepas pelukannya dan memakaikan kembali pakaian Fera.
"Kamu disini aja! Jangan kemana-mana atau coba-coba kabur atau kamu bakal tau akibatnya!" Denio terpaksa harus mengancam kekasihnya.
Jika saja Fera tidak melihat semua yang ia lakukan tadi, mungkin Denio juga tidak akan sekejam itu pada Fera.
Denio keluar dari kamar itu dan mengunci pintunya dari luar.
Ia pergi meninggalkan rumah itu sebentar untuk membeli semua keperluan Fera dan dirinya satu minggu ke depan.
Ia bertekad, harus bisa mengembalikan kepercayaan Fera padanya.
Fera yang ditinggalkan di dalam kamar seram itu hanya mampu menangis memeluk tubuhnya sendiri.
Ponselnya san segala hal yang memungkinkan ia untuk menghubungi keluarganya sudah Denio sita tadi.
Lelah menangis akhirnya Fera tertidur dengan sendirinya.
•••••••••••••••
Fera tertidur cukup lama, hingga kini saat ia bangun ia dapat melihat di luar sudah tidak ada cahaya yang menembus masuk ke dalam kamar itu.
"Nio.." Orang pertama yang Fera cari adalah Denio.
Walaupun ia sempat tertidur, namun tidak mengurangi daya ingatnya sedikitpun.
Saat ia hendak melangkah ke arah pintu, ia melihat Denio sedang berdiri di balkon kamarnya dengan bertelanjang dada.
Fera menarik nafas panjang dan mengumpulkan segala keberaniannya.
Dengan perlahan ia melangkah mendekati Denio da. memeluk Denio dengan lembut dari belakang.
Denio memejamkan matanya merasakan kelembutan sentuhan Fera.
"Nio, maaf." Fera meminta maaf padahal ia sendiri tidak tahu untuk apa ia meminta maaf.
Denio tidak bergeming.
Fera semakin mempererat pelukannya.
Fera sangat mencintai Denio, dan ia tahu Denio juga sama.
Denio merasa bersalah, bukan karena menghabisi keluarganya melainkan karena sudah menyakiti dan membuat Fera menangis.
"Aku janji nggak akan takut lagi sama kamu." Fera mencoba membujuk Denio.
Fera tahu, jika ia terus melawan Denio yang ada Denio malah akan semakin beringas dan gila.
"Aku juga janji nggak akan ninggalin kamu." Fera kembali membujuk Denio.
Denio masih diam mematung.
__ADS_1
"Nio, ngomong!" Fera sedikit meninggikan suaranya. Namun lagi-lagi Denio hanya diam.
Fera menyerah dan melepaskan pelukannya.
Ia mundur dan berbalik hendak keluar dari kamar itu. Denio yang tersadar segera berbalik dan dengan cepat menarik Fera ke dalam pelukannya.
"Janji Fer, jangan pernah pergi dari aku! Kamu boleh benci sama aku, kamu boleh gak cinta lagi sama aku, tapi aku mohon jangan pernah pergi dari aku!" Denio meminta dengan tulus.
Fera mengangguk dalam pelukan Denio dan membalas pelukan Denio.
"Nio, aku boleh minta sesuatu?" Fera bertanya ragu.
Denio mengangguk.
"Aku nggak mau di sini. Aku takut. Kita ke tempat lain aja yah?" Fera meminta dengan ragu pula.
Denio melonggarkan pelukannya dan menatap Fera sejenak.
Wajah Fera memang menunjukkan ketakutan, namun entah itu takut dengan keadaan kamar ini atau takut pada Denio sebenarnya.
"Please Nio, aku bakal ikut kemanapun kamu pergi tapi jangan di sini." Fera membenamkan wajahnya pada dada Denio.
"Ya udah, kita nanti ke hotel aja." Suara Denio kini terdengar lebih lembut dan tidak menakutkan.
"Ke hotel? Nggak pulang aja?" Fera mencoba bernegosiasi dengan Denio.
"Nggak! Aku pengen punya waktu berdua sama kamu, kalo di rumah banyak yang gangguin." Denio menjawab tegas.
Fera hanya pasrah. Ingin sekali ia memutar ulang waktu dimana ia mendekati Denio dan menawarkan pertemanan pada Denio.
Ia ingin mengulang hari itu dan menghapus kejadian itu, tapi ia sadar semua sudah terjadi.
Dan memang salahnya juga resikonya memilih masuk ke dalam kehidupan Denio yang kelam.
Mungkin hingga akhir hayatnya pun ia hanya bisa menerima segala kegilaan Denio.
"Ya udah, iya. Fera ikut." Fera malah mempererat pelukannya.
Fera akui, berada dalam pelukan Denio membuatnya merasa nyaman dan aman.
"Aku cinta sama kamu Fer, aku sayang sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku sekalipun kamu nggak cinta lagi sama aku!" Titah Denio tegas.
Fera hanya mengangguk.
"Kamu lapar sayang?" Suara Denio yang penuh cinta kini kembali.
"Em.." Fera menjawab namun tidak melepas pelukannya.
Denio merasa gemas dengan kekasihnya.
Dengan gerakan cepat ia menggendong Fera keluar dari kamar dan turun ke dapur untuk membuat makanan untuk Fera sebelum mereka meninggalkan rumah itu.
Mereka menikmati makan malam itu bersama san setelah selesai, Denio membawa Fera pergi dari rumah itu.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1