Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Frans yang keras kepala, Mario yang perhatian, dan Felix???


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Barbara tanpa sengaja kemarin, Frans menjadi tidak tenang.


Ia menjadi selalu ingin menghampiri Barbara dan memeluk nya seperti dulu.


Ia sangat yakin dengan bahwa itu memang lah Barbara.


Ia bahkan memerintah anak buahnya untuk mencari tahu tentang Barbara dan kini ia sedang gelisah menunggu laporan dari anak buahnya.


Tok tok tok


Pintu ruangan kerjanya diketok dari luar.


"Masuk." Frans bertitah dingin.


Anak buahnya pun langsung masuk.


"Tuan, maaf tapi saya tidak bisa menemukan banyak tentang wanita yang Tuan ingin ketahui itu. Saya hanya mendapat informasi bahwa dia bernama Kim Alexio. Dia merupakan CEO di salah satu agensi modelling yang baru buka beberapa bulan lalu. Nama perusahaan itu adalah K'Agency." Jelas anak buah Frans.


Frans mengangguk mengerti dan melambaikan tangannya menyuruh anak buahnya pergi.


"Kim Alexio. Jelas sekali kamu itu Barbara. Hanya mengubah sedikit nama dan penampilan kamu nggak akan membuat aku tidak bisa mengenali kamu Bar." Frans bergumam dengan seringai tipis.


Frans bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Tujuan nya adalah perusahaan modelling Barbara.


Setelah mencapai mobilnya, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Sekedar informasi, Frans memilih menetap di Australia karena hati kecil nya selalu mengatakan pada nya bahwa Barbara masih hidup.


Ia juga merintis usaha yang lebih normal di Australia dan mulai beberapa kali berkonsultasi dengan psikiater mengenai masalah kejiwaan nya.


Ia membuka perusahaan yang menyediakan jasa bodyguard sewaan.


Tak lama ia pun sampai di agensi modelling milik Barbara.


Ia turun dari mobil nya dan segera masuk kedalam perusahaan itu.


Tampak sangat sepi, sepertinya karyawan lain sudah pulang semua karena hari memang sudah sore bahkan hampir malam.


Ia menekan tombol lift menuju ke lantai paling atas yang diyakini adalah ruangan kerja Barbara.


Tak lama, pintu lift terbuka dan ia segera melangkah keluar menuju ke ruangan satu-satunya yang ada di lantai tersebut.


"Bar." Frans memanggil Barbara dengan lembut sambil membuka pintu ruangan nya.


Tidak ada jawaban.


Ia tersenyum saat melihat Barbara sedang tertidur pulas di sofa ruangannya.


Ia melepaskan jas yang ia pakai lalu menyelimuti Barbara seadanya, kemudian ia mengangkat kepala Barbara dengan pelan dan menggunakan paha nya sebagai alas.


"Kamu nggak berubah Bar, masih selalu cantik dan indah di mata aku." Frans bergumam pelan dan tersenyum manis dengan tangan setia mengelus kepala Barbara.


"Pa, Ma, Bar kangen." Barbara meracau dalam tidurnya.


Mendengar perkataan Barbara, ada rasa bersalah dalam hati Frans. Ia gagal melindungi orang tua dari wanita yang ia cintai.


"Engh." Barbara melenguh pelan sedikit menggeliat lalu perlahan membuka matanya.

__ADS_1


Saat ia membuka matanya dengan sempurna, ia terperanjat dan jatuh dari atas sofa ke lantai.


"Ya ampun, hati-hati dong Bar." Frans hendak memapah nya namun ia menolak.


"Anda siapa? Ngapain disini?" Barbara bertanya pura-pura tidak kenal pada Frans.


"Bar, nggak usah sandiwara lagi. Kamu aja barusan ngigau nyebut nama kamu." Frans tersenyum sinis.


"Saya bukan Bar. Lagi pula ngapain kamu di sini. Saya nggak kenal sama kamu." Ucap Barbara dengan suara sedikit gemetar.


Ia takut jika Frans akan berbuat gila.


Frans duduk kembali pada tempatnya tadi dan sengaja mengeluarkan sebatang rokok dan korek api dari saku nya.


"STOP." Barbara berteriak kasar melihat Frans hendak merokok.


Itu adalah kelemahan Barbara.


Frans tersenyum penuh kemenangan.


"See, cuma Barbara ku yang takut sama asap rokok." Frans bangkit dari duduk nya dan perlahan menghampiri Barbara membuat Barbara semakin mundur dan menghindar.


Mundur dan terus mundur hingga pinggul Barbara tertahan oleh meja kerja nya.


"Sial." Barbara mengumpat dalam hati.


"Aku kangen Bar." Frans menahan tubuh Barbara dengan menumpukan kedua tangannya pada meja kerja Barbara masing-masing di kiri dan kanan.


Barbara memalingkan wajahnya.


"Frans stop." Barbara bertitah kesal.


"Aku tau kamu nggak mungkin lupa sama aku." Frans langsung memeluk Barbara penuh kerinduan.


"Maaf sayang. Maaf aku gagal lindungin Papa sama Mama kamu. Maaf aku nggak ada disamping kamu saat itu. Aku minta maaf." Ucap Frans dengan suara sendu.


"Lepasin Frans." Barbara mendorong kuat Frans agar melepaskan nya, dan Frans hampir terjungkal akibat dorongan dari Barbara.


"Udah cukup. Aku nggak mau lagi terlibat dengan kalian. Aku cuma pengen hidup normal tanpa terikat sama pria-pria gila kayak kalian." Barbara berucap meninggikan nada bicaranya.


"Kenapa Bar? Aku nggak mungkin nyakitin kamu. Aku tahu aku nggak normal, tapi aku bisa berusaha untuk menjadi normal buat kamu dan baby. Kasih aku kesempatan Bar." Frans meminta dengan tulus.


Ia bahkan tidak malu jika harus dianggap pria bodoh yang mengemis cinta dari seorang wanita hamil.


"Nggak lagi Frans. Aku nggak mau lagi. Aku udah muak dengan semua yang berkaitan dengan kalian terutama si bangsat itu. Aku cuma mau hidup tanpa beban pikiran." Barbara berucap menahan isak.


"Si bangsat? Bar, jangan bilang kalo dia yang udah ... "" Frans tidak melanjutkan pertanyaan nya.


Barbara tidak menjawab dan langsung meraih tas jinjing nya dan keluar dari ruangan itu.


Frans tentu saja mengejarnya.


"Please Bar, katakan apa yang kamu tau? Kamu tau siapa yang udah merenggut nyawa kedua orang tua kamu kan? Please tell me. Aku bisa bantu kamu." Frans memohon pada Barbara.


Barbara tidak menggubris nya dan terus melangkah hingga masuk kedalam lift. Frans tentu saja ikut masuk.


Barbara tetap tidak menghiraukan nya, walaupun Frans berulang kali memohon.

__ADS_1


Mereka telah sampai di lobi perusahaan Barbara.


"Bar please jangan kayak gini. Aku nggak bisa tanpa kamu." Pinta Frans.


Ada rasa iba dalam hati Barbara, namun lebih baik tidak ia tunjukkan.


"Kim." Mario yang baru sampai pun langsung turun dari mobil dan menyapa Barbara.


Barbara dengan cepat menghampiri Mario dan mengecup lembut bibir Mario.


Mario tentu saja terkejut, namun ia cukup tahu itu adalah untuk mengalihkan perhatian Frans.


Sigap ia menahan tengkuk leher Barbara dan membalas kecupan Barbara membuat Barbara membulatkan mata nya.


Ingin lepas, namun Frans masih di tempat.


Frans tersenyum sinis.


"Kamu mau ngalihkan perhatian aku dengan cara cium dia. Nggak ngaruh Bar. Aku tetap akan ngejar kamu sampe kamu kembali disamping aku kayak dulu. Aku nggak akan pake cara kotor lagi. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kamu kembali." Ucap Frans.


Ia lalu menarik tangan Barbara hingga ciuman Barbara dan Mario berakhir.


Sigap kini Frans yang ******* lembut bibir Barbara.


"Semua yang ada di dalam diri kamu itu cuma milik aku dan cuma aku yang boleh nyentuh kamu." Frans melepas tautan bibir nya dari Barbara dan memeluk erat Barbara.


"Aku pulang, tapi aku janji aku bakal datang lagi buat buktikan semua perkataan aku." Ucap Frans datar dan melangkah pergi dari tempat itu masuk kedalam mobil nya.


"Bar, kamu nggak papa kan? Dia siapa sebenarnya?" Mario bertanya khawatir dengan rasa cemburu dihatinya.


Barbara tidak menjawab dan langsung melenggang masuk kedalam mobil Mario.


Mario segera menyusul.


"Bar, kamu nggak disakitin kan? Nggak ada yang luka kan?" Mario kembali bertanya khawatir.


Barbara hanya menggeleng.


"Kamu udah makan? Mau makan dulu atau langsung pulang?" Mario memberi pilihan pada Barbara.


"Pulang." Barbara menjawab dingin.


Mario pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bar, kalo ada masalah cerita sama aku. Jangan pendam sendiri. Mungkin aku bukan siapa-siapa kamu, tapi senggaknya kamu bisa nganggap aku teman." Mario membujuk Barbara.


Barbara tidak menjawab dan malah sibuk dengan pikiran nya sendiri.


"Kenapa sih secepat ini aku ketahuan sama Frans? Kenapa lagi keras kepalanya Frans nggak hilang-hilang? Mario juga, kenapa makin hari makin perhatian kayak gini? Ahk..bisa gila aku. Dan Felix??" Barbara dengan cepat menggelengkan kepalanya saat mengingat tentang Felix.


...~ To Be Continue ~...


________


Like dan komentar jangan lupa dong walaupun alur ceritanya mulai membosankan..hihi


kita reda dulu lah konflik2 nya.

__ADS_1


__ADS_2