Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Jangan Gegabah.


__ADS_3

"Bar, ini makan yang banyak. Biar kamu dan bayi kamu sama-sama sehat." Kimberly menyendok beberapa jenis sayur dan lauk untuk putrinya.


Barbara tersenyum.


"Udah, jangan dipikirin lagi. Yang udah terjadi juga nggak perlu di sesali. Papa dan Mama selalu ada buat kamu." Fanco menenangkan putrinya karena ia melihat tetap saja masih ada raut kesedihan diwajah putrinya.


Barbara kembali tersenyum singkat.


"Kenapa aku jadi mikirin Frans sih?" Barbara menggerutu dalam hati.


Ya, saat ini Barbara malah memikirkan Frans. Pria yang selalu hadir di saat ia terjatuh dan menopang nya bangun, pria yang menghapus air matanya saat ia menangis, pria yang memeluk nya saat ia ketakutan belakangan ini.


"Semoga aja dia nggak kenapa-napa deh." Barbara kembali membatin.


"Bar, kamu kenapa sih? Kok malah diam aja?" Fanco bertanya bingung melihat putrinya diam membisu.


Barbara hanya menggeleng dan tersenyum kecil.


"Kamu mikirin Frans ya?" Giliran Kimberly yang bertanya.


Barbara langsung menatap wajah Mama nya, namun tidak menjawab.


"Bar, jujur sama Papa. Kamu mulai ada rasa sama Frans?" Fanco bertanya menyelidik.


Barbara masih diam.


Ia menghentikan kegiatan makan nya dan meletakkan sendok dan garpu nya di atas piring nya.


"Aku nggak tau juga Pa. Tapi Frans yang selalu ada buat Bar disaat Bar lagi down. Dia yang selalu nguatin Bar." Barbara akhirnya bersuara.


Hah


Fanco menghela nafas kasar.


Ia menghentikan kegiatan makan nya sejenak.


"Bar, Papa nggak akan larang kamu berhubungan dengan siapapun. Tapi kamu juga jangan gegabah. Papa saat ini bukan mau menjelekkan siapapun. Tapi Felix dan Frans adalah dua orang dengan kepribadian yang sama hanya berbeda karakter dan pemikiran. Frans bisa berpikir dewasa, tapi cara nya mencintai kamu, kamu nggak tahu seperti apa. Felix, udah jelas dia hanya mencintai kamu, tapi bukan berarti dia ingin membangun keluarga bersama kamu." Ucap Fanco sedikit menerka tentang Felix dan Frans.


"Aku nggak tau lah Pa. Yang jelas saat ini yah, selain Papa dan Mama, Frans yang nguatin aku." Barbara berucap lembut.


"Papa tau Bar. Tapi sekali lagi ingat pesan Papa. Jangan gegabah. Jangan ambil keputusan yang nanti masih akan kamu sesali lagi." Fanco menasehati putrinya.


Barbara mengangguk pelan.


Mereka pun meneruskan kegiatan makan mereka tanpa suara.


Hari masih siang, Fanco memutuskan untuk berangkat ke kantor setelah makan siang.


"Sayang, aku entar ikut mobil kamu ya." Pinta Kimberly pada suaminya.


"Lah, kamu mau pergi?" Tanya Fanco sedikit kaget.


Kimberly mengangguk.


"Toko bakery aku lagi ada sedikit masalah. Jadi aku harus selesaikan dulu kesana." Kimberly menjelaskan alasan nya.


"Bar, kamu ikut Mama aja kalo gitu." Fanco bertitah pada putrinya.


"Nggak deh Pa. Bar pengen istirahat aja." Barbara menolak halus.


"Ya udah, kamu istirahat aja. Kapan-kapan baru ikut Mama." Ucap Kimberly semangat.


Selesai makan, Fanco dan Kimberly pun pergi meninggalkan rumah mereka setelah pamit dengan Barbara.


Tinggallah Barbara sendirian di rumah bersama satu pelayan rumah nya yang jelas sangat sibuk membenahi rumah kedua orang tua nya.


"Aku ngapain yah enak nya?" Barbara bertanya pada diri nya sendiri.


Ia memutuskan untuk kembali ke kamar nya.

__ADS_1


"Bosen ternyata. Kalo ada Frans, pasti ada aja kejahilan yang bikin." Barbara menggerutu sambil tersenyum sendiri.


Ia berjalan kearah pintu kamar nya yang membawa nya keluar balkon.


Dibuka nya pintu itu perlahan, lalu ia melangkah kaki nya berdiri di tepi balkon.


Merasakan hembusan angin yang cukup kuat.


Matanya terpejam dan tangan nya memeluk tubuhnya sendiri.


Bibir nya melengkung dengan manis.


Barbara tiba-tiba merasakan dekapan dari seseorang di belakang tubuhnya.


Dekapan yang cukup ia kenali.


"Frans, kayaknya aku udah nggak bener deh. Bahkan pelukan kamu aja terasa banget sekarang." Barbara berucap sambil menikmati pelukan hangat itu dengan mata terpejam.


"Makasih udah mikirin aku sayang." Suara berat itu terasa sangat nyata di telinga nya.


Sontak mata Barbara terbuka lebar.


Ia menatap kebawah, ternyata Frans benar-benar sedang memeluknya erat.


"Frans." Barbara melepaskan tangan Frans dan berbalik menghadap Frans.


Frans tersenyum.


Ia menahan tubuh Barbara dengan kedua tangannya yang berpegang pada besi pembatas di balkon kamar Barbara.


"Makasih, akhirnya kamu mikirin aku." Frans berucap sangat dekat dengan wajah Barbara.


Wajah Barbara memerah.


Barbara berusaha ingin lepas, namun Frans malah memeluk nya erat.


Spontan Barbara membalas pelukan nya dan mengusap lembut punggung nya.


Frans tersenyum.


Ia setia memeluk Barbara hingga beberapa saat, merasakan nyaman dan hangat nya tubuh Barbara.


Ia kemudian melepaskan pelukan nya dan menarik Barbara kembali ke kamar.


Ia menuntun Barbara duduk di depan meja rias.


"Eh, mau ngapain?" Barbara bertanya bingung saat melihat Frans mengambil gunting.


Frans tidak menjawab.


Ia perlahan menggunting rambut Barbara menjadi pendek. Kira-kira sampai bahu.


"Ih, Frans kok digunting sih?" Barbara menggerutu kesal.


Frans tersenyum dan membungkuk.


Ia memegang kedua pundak Barbara dari belakang.


"Lupakan masa lalu kamu. Kita bangun masa depan kita, bangun keluarga kecil kita bersama dia." Frans berucap sambil memegang perut Barbara dari belakang.


Barbara lagi-lagi dibuat takjub dengan perkataan Frans.


Frans selalu mengucapkan sesuatu yang membuat Barbara sulit untuk menolak nya.


"Sayang, mau kan?" Tanya Frans.


Ia memejamkan matanya dan menghirup dalam aroma wangi dari rambut Barbara.


Frans sedang tidak ada niatan mesum pada Barbara.

__ADS_1


Barbara diam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku tahu aku bukan pria yang baik. Aku juga sering main wanita dulu. Tapi aku jujur soal perasaan aku Bar, aku tulus cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu dan bayi kamu. Kasih aku kesempatan Bar. Aku tau, aku sadar dari awal kita ketemu aku nggak pernah baik sama kamu. Bukan aku yang kamu mau. Tapi please, coba sekali aja buka hati kamu buat aku. Secelah aja mungkin Bar." Pinta Frans memeluk erat pundak Barbara.


Barbara masih terdiam.


Frans pun diam.


Mereka sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing.


"Kalo kamu nggak mau, aku tetap maksa Bar. Aku nggak bakal ijinin orang lain milikin kamu selain aku." Frans kembali meminta dengan ancaman.


"Frans." Barbara melepaskan tangan Frans dari pundaknya.


Ia memutar badannya duduk berhadapan dengan Frans.


Frans memilih berjongkok agar tinggi mereka sejajar.


"Aku bakal ngomong sama Papa dan Mama kamu. Aku bakal jelasin semua kesalah pahaman ini Bar." Frans kembali meminta.


Barbara menghela nafas kasar.


"Frans, aku coba untuk percaya sama kamu. Mungkin setelah ini kamu bakal anggap aku wanita murahan karna dengan cepat mau buka hati buat orang lain. Tapi aku bakal coba. Aku nggak janji, tapi aku bakal coba." Barbara berucap menunduk.


"Nggak sayang. Kamu nggak murahan. Kamu berharga, sangat sangat berharga buat aku. Percaya sama aku, walaupun aku bukan pria baik, tapi aku janji aku bakal jagain dan sayangi kalian. Aku nggak akan biarin siapa pun nyakitin kalian." Ucap Frans.


Barbara hanya diam dan tersenyum. Ia jelas tahu tidak mungkin untuk menolak Frans, Frans sangat keras dengan tekad nya, apa yang ia mau harus ia miliki.


Barbara hanya mencoba membuka hati, entah itu pilihan yang tepat atau pun salah, tapi bagaimanapun Frans tidak akan membiarkan dirinya ditolak oleh Barbara.


Anggap saja Barbara sedang membalas budi mungkin.


"Ijinin aku buat ngomong sama Papa dan Mama kamu yah?" Frans meminta ijin.


Barbara menggeleng.


"Jangan gegabah Frans. Mereka percaya sama aku. Tapi untuk masalah kita, jangan dulu diungkit sama mereka ya. Kita jalanin pelan-pelan bisa kan?" Barbara bertanya menuntut kepastian.


Frans mengangguk.


"Bisa sayang. Nggak apa pelan-pelan. Asal kamu setuju mau nerima aku dan mau buka hati buat aku." Frans berucap semangat.


Barbara tersenyum.


"Ya udah. Aku janji bakal ngomong sama Papa dan Mama kamu nanti, kalo situasi nya udah membaik yan." Frans meminta ijin.


Barbara tersenyum dan mengangguk.


"Makasih sayang. Ya udah, aku pergi sekarang, aku nggak mau nanti kamu di marah Papa dan Mama kamu karna aku disini." Frans berucap pamit.


Ia mengecup sayang kening Barbara.


"Papa pamit dulu ya sayang. Nanti Papa pasti datang jemput kamu sama Mama. Jagain Mama ya, jangan nakal." Frans berbicara pada perut Barbara.


Ia lalu mengecup sayang perut Barbara.


Frans lalu beranjak ke pintu kamar Barbara dan sedikit mengintip, setelah dipastikan aman, ia segera turun dari kamar Barbara dan segera meninggalkan rumah orang tua Barbara.


Sudah bisa dipastikan tadi Frans masuk dengan cara menyelinap.


...~ To Be Continue ~...


*******


Please jangan hujat Barbara.


Aku rela gantiin Barbara buat kalian hujat. Hehehe


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2