Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Aku Mau Pulang.


__ADS_3

Frans setia menemani Barbara dirumah sakit. Walaupun ia belum bisa menengok keadaan Barbara, namun ia tetap setia menunggu di luar ruangan.


Tidak sekalipun ia beranjak dari tempatnya setelah tadi kembali dari menghajar Felix.


Gelisah, khawatir, takut akan kehilangan, rasa bersalah berbaur menjadi satu dalam hati nya.


Saat ini, dokter sedang memeriksa kembali keadaan Barbara untuk melihat perkembangan kondisi janin nya.


Frans tentu saja menanti dengan cemas, berharap kondisi wanita yang ia cintai dan janin nya baik-baik saja.


Tak lama kemudian yang ditunggu pun akhirnya keluar dari ruangan UGD.


"Gimana dokter?" Frans bertanya khawatir saat melihat dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Keadaan janin Nyonya Barbara sudah stabil. Sepertinya janin Nyonya Barbara sangat kuat dan sangat menyayangi Ibunya. Sehingga walaupun sudah terluka seperti itu, dia masih memilih bertahan dan menjadi kuat untuk Ibu nya." Dokter tersebut menjelaskan dengan tersenyum.


Frans menghela nafas lega.


"Jadi, kapan Barbara bisa saya tengokin?" Frans bertanya penuh harap.


"Setelah ini perawat akan pindahin Nyonya Barbara ke ruang inap. Baru Tuan bisa menengok dan menemaninya." Dokter itu menjawab sopan.


Frans mengangguk paham.


"Kalo gitu saya permisi dulu." Dokter tersebut pamit setelah mendapat anggukan dari Frans.


Frans pun duduk kembali sambil menunggu perawat yang akan memindahkan Barbara ke ruang inap keluar dari ruangan UGD.


Frans bersyukur, sekali lagi janin Barbara baik-baik saja walau hampir meregang nyawa.


Sungguh satu keajaiban, pikirnya.


Tak lama kemudian, dua perawat pun keluar mendorong brankar dengan Barbara diatasnya.


Frans tentu saja mengikuti dari belakang.


Ia setia menatap Barbara yang sedang terlelap.


Entah karena pengaruh bius atau karena lelah, Frans juga tidak tahu. Yang ingin ia tahu hanyalah Barbara dan janin nya baik-baik saja.


Saat kedua perawat itu masuk kedalam ruangan inap dan mengatur posisi ranjang Barbara, Frans langsung masuk tanpa menunggu aba-aba.


"Jika nanti terjadi masalah, Tuan bisa memencet tombol darurat itu untuk memanggil kami." Salah satu perawat itu menjelaskan pada Frans sambil menunjuk ke arah tombol darurat yang terletak di atas kanan kepala ranjang Barbara.


Frans hanya mengangguk.


Kedua perawat itu pun pamit dan keluar dari ruangan itu.


Frans memilih untuk duduk di kursi samping ranjang Barbara.


Ia meraih tangan Barbara dalam genggaman nya.


"Bar, maaf. Maafin aku udah salah langkah. Harusnya aku dari awal nggak bujukin dia. Berharap kamu bisa bahagia tapi aku malah bikin kamu makin sakit. Maaf ya." Frans terus meminta maaf dan melimpahkan kesalahan pada dirinya.


"Aku nggak ngerti kenapa dia bisa tega kayak gitu Bar. Selama ini aku emang lebih bejat dari dia. Aku juga lebih munafik dari dia. Tapi aku nggak akan pernah bisa nyakitin anak kecil apalagi itu masih dalam bentuk janin. Apalagi ini adalah darah daging dia sendiri. Aku nggak habis pikir kenapa dia tega kayak gitu." Frans merasa menyesal telah membujuk Felix waktu itu.

__ADS_1


Frans benar-benar tidak menyangka jika pikiran Felix akan sedangkal itu.


"Pokoknya aku janji Bar, aku janji aku nggak akan biarin dia ngambil kamu balik lagi. Aku nggak akan pernah ijinin dia menyesal dan bujuk kamu lagi. Aku bakal pastiin penyesalan nya nggak berarti dan bikin dia hidup menderita. Kalo perlu aku habisin dia biar dia nggak bisa sekalipun buat rayu kamu lagi Bar. Aku janji aku yang bakal jagain kamu dan bayi kamu." Frans mencium beberapa kali tangan Barbara dan terus menggenggam nya erat seolah menyalurkan kekuatan untuk Barbara.


Barbara masih setia memejamkan matanya, entah kapan Barbara akan sadar.


Frans terus setia menanti sadarnya Barbara, ia meletakkan kepalanya ditepi ranjang Barbara, sedangkan tangannya setia menggenggam erat tangan Barbara.


Perlahan Frans pun ikut terlelap, mungkin karena merasa lelah, dan juga hari yang memang sudah malam.


Frans saat ini benar-benar menjadi seseorang yang selalu ada untuk Barbara disaat Barbara berada dalam masa sulit nya.


Entah takdir nanti akan menyatukan mereka dengan cara nya, atau justru akan memisahkan mereka dengan cara nya.


················


Malam dengan sangat cepat ditelan oleh fajar yang menyongsong.


Perlahan Frans tersadar dari tidur nya.


Ia melihat mata Barbara masih terpejam.


"Kamu kapan mau bangun Bar?" Frans bertanya lembut dan penuh perhatian.


Satu tangannya mengelus kepala Barbara dan satunya lagi setia menggenggam tangan Barbara dari tadi malam.


Entah merasakan pegal atau tidak, kesemutan atau tidak, yang jelas saat ini Barbara yang terpenting baginya.


Ia kemudian bangkit dari duduk nya.


Ia kemudian mengecup dalam kening Barbara.


Lalu beranjak keluar dari ruangan Barbara untuk membeli makanan dan minuman untuk Barbara.


Entah Barbara bisa makan atau tidak, yang jelas harus ada makanan dan minuman yang ia siapkan untuk Barbara.


Tak lama setelah Frans beranjak, Barbara akhirnya tersadar dari tidur nya.


Pandangannya menelusuri tempat ia berada saat ini hingga akhirnya ia sadar ia sedang berada di rumah sakit.


Barbara juga mengingat apa yang membuatnya bisa masuk ke rumah sakit.


Seketika matanya langsung berkaca-kaca mengingat kejadian kemarin, dimana dengan teganya Felix meracuni bayi mereka.


"Maafin Mama nak. Mama gagal jagain kamu. Mama nggak bisa lindungin kamu." Barbara memeluk erat perutnya.


Ia mengira ia sudah benar-benar kehilangan bayi nya.


Ia terus menangis dengan posisi meringkuk dan memeluk perutnya.


"Maafin mama sayang. Harusnya Mama nggak pernah berharap lagi sama Papa kamu. Apalagi berharap dia nerima kamu. Maaf nak." Pinta Barbara lagi.


"Barbara." Frans yang baru saja kembali, panik melihat kondisi Barbara yang memilukan.


Ia melempar sembarangan barang belanjaan nya dan segera menghampiri Barbara.

__ADS_1


"Bar, kenapa mana yang sakit?" Frans bertanya khawatir.


"Bayi aku Frans, bayi aku..aku gagal jagain dia." Ucap Barbara masih menangis dan berbalik lalu bangkit duduk memeluk Frans.


"Bar, hei tenang dulu. Nggak usah nangis yah. Bayi kamu nggak papa kok. Dia baik-baik aja. Dia masih pengen ikut sama kamu Bar. Dia tau kamu sayang sama dia." Frans menenangkan Barbara.


Barbara kaget mendengar perkataan Frans.


"Jadi bayi aku masih ada bersama aku? Bayi aku masih hidup?" Barbara bertanya antusias sambil menghapus air mata nya setelah melepas pelukan nya dari Frans.


Frans sedikit membungkuk menyesuaikan tingginya dengan Barbara.


Frans menangkup wajah Barbara dengan telapak tangannya.


"Iya sayang. Bayi kamu, bayi kita masih ada. Dia masih sayang banget sama Mama nya. Makanya dia berjuang dan bertahan buat Mamanya. Dia nggak mau kalo dia pergi duluan, Mamanya bakal sedih terus." Frans menjawab dengan lembut menatap dalam mata Barbara menunjukkan bahwa ia tidak sedang berbohong.


"Udah yah. Jangan nangis lagi. Nggak usah sedih-sedih, nanti baby nya ikutan sedih loh." Frans membujuk sambil menghapus air mata Barbara dengan telapak tangannya dan satu tangannya masih menangkup wajah Barbara.


Barbara sedikit tersenyum.


"Makasih Frans. Makasih sekali lagi kamu nyelamatin aku dan bayi aku." Barbara memeluk leher Frans.


Frans tersenyum.


"Bayi kita Bar. Mulai hari ini dia bayi aku juga." Frans berucap tegas.


Barbara malah melepaskan pelukan nya dab menatap pilu pada Frans.


Disaat Ayah kandung bayi nya berusaha membunuh nya, pria lain yang tidak tahu apa-apa malah dengan senang hati menerima bayi nya sebagai anak nya sendiri.


Barbara menggeleng.


Frans tersenyum.


"Udah, kita bicarain itu nanti ya sayang. Sekarang kamu makan dulu. Mau kan? Makan yang ringan aja." Frans membujuk Barbara.


Barbara hanya mengangguk pelan.


Frans pun melangkah untuk mengambil belanjaan nya yang ia lempar sembarang tadi.


"Ini, makan ini aja dulu ya." Frans memberikan sebungkus roti yang lembut tekstur nya pada Barbara setelah Frans membuka bungkusan nya.


Barbara menerima roti itu dan memakan nya perlahan, sedangkan Frans hanya memperhatikan.


"Frans, aku mau pulang. Aku mau pulang ke Australia." Barbara meminta dengan segala keberanian nya.


Frans tersenyum dan mengacak rambut Barbara pelan.


"Aku bakal anterin kamu pulang. Tapi nanti ya, kalo kamu dan baby udah benar-benar sehat." Ujar Frans tersenyum.


...~ To Be Continue ~...


*******


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2