
"Gimana sayang? Udah siap?" Felix bertanya saat melihat Barbara masih sibuk membenarkan riasan wajahnya didepan cermin.
Felix sepertinya mulai nyaman memanggil Barbara dengan sebutan sayang.
"Sebenarnya kita mau kemana dan ngapain sih Fel?" Barbara terus saja mengoceh dan menanyai hal yang sama pada Felix.
"Sabar sayang. Nanti kamu juga tahu." Felix terus berahasia sambil tersenyum manis.
Senyum yang hanya ditunjukkan pada Barbara.
"Aku yakin kamu pasti mau jual aku, biar aku bisa cepat terkenal." Barbara kemudian berjalan mendekati Felix.
Ia mengalungkan tangannya pada leher Felix.
"Udah deh Fel, aku kasih kamu yang pertama sebelum kamu jual aku." Barbara memelas pada Felix.
"Nggak nyesal?" Felix bertanya dengan senyuman licik.
Barbara tampak berpikir.
"Nggak jadi deh. Aku lihat dulu kamu jual aku ke siapa? Kalo cakep gak masalah, tapi kalo buruk rupa kamu harus ngambil duluan sebelum tu orang yang ngambil." Barbara memerintah.
"Hahaha." Felix kini tertawa terbahak-bahak.
Bagaimana bisa ada perempuan yang selain tidak takut pada nya, juga otak nya ternyata dipenuhi pikiran kotor.
"Udah Bar, yang kamu harapin nggak bakal jadi. Kamu sebenarnya minta tidur sama aku kan? Jujur aja." Felix menggoda Barbara.
"Ogah. Ntar benih yang lahir dari rahim aku malah pembunuh kelas kakap yang lebih ngeri dari bapak nya lagi." Barbara menolak halus membuat Felix kembali tertawa.
Barbara hendak melepaskan tangannya dari leher Felix, namun Felix menahan nya.
"Bar, pake ini." Felix menyerahkan satu buah cincin indah pada Barbara.
"Cincin nikah?" Barbara bertanya heran.
Felix mengangguk.
"Kenapa?" Barbara bertanya bingung.
Felix tidak menjawab, ia melepaskan tangan Barbara dari lehernya, kemudian ia memasangkan cincin itu pada jari manis kiri Barbara, dan ternyata di jari manis kiri nya juga tersemat cincin yang berbentuk sama.
"You are mine, Bar." Felix berucap setelah memasangkan cincin itu.
"Ini kita nikah? Kok gini doank?" Barbara protes.
"Bohongan Bar. Nikah benaran nya nanti, kalo kita udah saling cinta." Felix berucap santai.
"Kalo kita udah saling cinta, kamu nikah sama jasad aku dong? Kan sesuai perjanjian." Barbara berceloteh.
"Nggak masalah. Selama aku yang pertama." Dengan santai nya Felix menjawab.
"Ih, kelainan. Mayat aja diembat." Barbara mengejek nya.
"Aku sanggup ngidupin mayat kamu jadi manusia lagi Bar." Felix berucap.
Ia tampak sedikit kesusahan memakai dasi kupu-kupu nya.
"Sini aku bantu." Barbara mendekat lalu membantu nya.
__ADS_1
"Udah cakep." Barbara berucap dengan senang.
Felix tiba-tiba meraih pinggang Barbara dan memeluk nya.
Satu tangannya menyibak anak rambut Barbara yang menutupi belahan dada Barbara.
Kemudian ia membuka sedikit sebelah dress yang menutupi kulit dada Barbara.
Menatapnya lama, kemudian wajah nya turun hingga bibir nya menyentuh sebelah kulit dada Barbara lalu menghisap nya.
"Fel, apaan sih?" Barbara protes tapi Felix tidak peduli.
Setelah itu Felix melepaskan hisapan nya hingga kulit dada Barbara tampak sudah memerah.
"You are mine, Barbara Lorenzo." Felix menyebut nama Barbara dengan nama belakang nya.
Sialnya malah membuat jantung Barbara lari marathon.
Barbara melepaskan diri nya dan berlari ke arah cermin lalu melihat kulit dada nya yang tadi dihisap oleh Felix.
"Ih tuh kan Fel, berbekas." Barbara merengek kesal saat melihat bekas merah itu. Walaupun sebagian sudah tertutup kain dress nya, tapi tetap saja masih terlihat setengah nya.
"Udah, nikmatin aja sayang. Tanda itu bakal banyak manfaat nya nanti." Felix berucap santai lalu mendekati Barbara dari belakang.
Felix kembali menyibak rambut Barbara yang menutupi lehernya dan kembali meninggalkan tanda merah dileher Barbara.
"Felix." Barbara berteriak kesal lalu menginjak kuat kaki Felix membuat Felix mengerang kesakitan.
"Tanda gitu doang sayang. Aku bahkan belum berbuat lebih." Felix protes saat mendapat perlakuan kasar dari Barbara.
Barbara kesal lalu melotot pada Felix.
"Maaf, tapi ini cara ku melindungi kamu." Felix berucap sendu.
"Tau ah." Barbara kesal dan melangkah meninggalkan Felix.
Felix pasti mengejarnya, tidak mungkin tidak.
Barbara langsung berjalan masuk ke mobil Felix tanpa menunggu aba-aba.
"Nggak cantik kalo ngambek sayang." Felix merayu Barbara, tapi Barbara membuang muka nya menghadap jendela mobil.
Felix tersenyum melihat Barbara yang begitu menggemaskan, rasanya ingin menerkam.
Felix pun segera melajukan mobilnya. Ditengah perjalanan, tangannya yang bebas meraih tangan Barbara dalam genggaman nya. Ia menggenggam posesif tangan Barbara, membuat jantung Barbara lagi dan lagi berlari marathon.
Hening.
Barbara yang memang sedang kesal tidak ingin banyak bicara.
Hampir satu jam akhirnya mereka pun sampai di depan sebuah gedung mewah.
Felix turun terlebih dahulu lalu mengitari mobilnya kearah Barbara dan membukakan pintu untuk nya dan mengulurkan tangannya untuk menyambut Barbara.
Barbara menerima dengan senang hati.
Felix kemudian memberikan kunci pada staf disana untuk memarkirkan mobilnya.
Mereka pun masuk kedalam gedung yang tampak sudah dipadati oleh banyak orang.
__ADS_1
Semua berpenampilan elegan dan mewah.
Felix meraih tangan Barbara agar menggandeng lengannya, setelah itu Felix sengaja menyibak rambut Barbara yang menutupi dada Barbara.
Barbara menatapnya kesal, sedang dirinya hanya tersenyum.
"Tuan Felix." Seorang pria paruh baya mendatangi Felix dengan merangkul seorang wanita sexy.
"Tuan Robert." Felix menyalami pria itu dengan tatapan jijik.
Robert lalu melirik ke arah Barbara dari wajahnya yang cantik hingga berhenti di dada Barbara. Ia menelan ludah nya kasar. Tergoda tapi ketakutan lebih mendominan.
"Ini istri ku, Barbara." Felix memperkenalkan Barbara sebagai istrinya.
Barbara menatap Felix kagum, baru mengerti semua yang Felix lakukan dan ucapkan tadi.
"Aku Barbara istri pertama dan satu-satunya milik Felix." Barbara semangat memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Robert tidak berani menyambut, atau tangannya akan putus dengan sia-sia ditangan Felix.
Felix pun merangkul mesra pinggang Barbara dan berlalu dari hadapan Robert.
"Fel, ini pesta apaan?" Barbara bertanya penasaran.
"Panggil aku sayang." Felix memerintah dan mendelik Barbara tajam.
"Sayang ini pesta apaan?" Barbara memanggil Felix dengan selembut mungkin.
"Ini pesta penghargaan untuk model-model berbakat." Felix menjawab singkat.
"Aku aku?" Barbara bertanya girang menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu belum sayang. Yang bisa ikut acara ini itu syarat nya minimal udah jadi model satu tahun. Dan nanti mereka juga masih harus menampilkan kemampuan mereka di atas sana, dan kemudian dinilai sama juri." Felix menjelaskan dan menunjuk kearah panggung catwalk.
"Waw..terus siapa aja yang jadi juri nya?" Barbara kembali bertanya semangat.
"Salah satunya aku." Felix berucap santai.
"Wah. Nggak nyangka ya, cowok gila kayak kamu bisa sehebat itu." Barbara menyindir Felix dengan pujian.
Felix hanya mampu mendelik tajam pada Barbara, tidak sanggup marah lagi.
"Sayang, toilet dimana yah?" Barbara bertanya sambil celingukan.
"Disana." Felix menunjuk kearah lorong sebelah pojok kanan ruangan itu.
"Bentar yah." Barbara pamit lalu berjalan menuju arah yang ditunjuk Felix.
Felix berbalik arah saat melihat Barbara sudah hampir sampai di lorong tempat toilet berada.
Glep
Tangan Barbara ditarik seseorang sebelum Barbara sempat sampai di lorong tersebut.
...~ *To Be Continue ~...
*****
Like dan komentar jangan lupa.
__ADS_1
Makasih**.