
Setelah seharian menemani Ayahnya bekerja dan mempelajari sedikit banyak tentang perusahaan Ayahnya, Barbara memutuskan untuk langsung beristirahat saat tiba di rumah sore hari tadi.
Ia bahkan melewatkan waktu makan malam karena merasa lelah.
"Lapar banget ih." Barbara menggerutu ketika terbangun dari tidurnya tengah malam.
"Pengen makan yang di masak Papa lagi." Barbara kembali menggerutu.
Akhirnya ia memilih untuk bangun dari tidurnya, melangkah keluar dari kamar nya dan menuju ke kamar orang tua nya.
Tok tok tok
"Pa." Barbara mengetok pintu kamar orang tua nya sambil memanggil Papa nya.
Tok tok tok
"Pa." Barbara mengulangi sekali lagi.
Namun sama-sama tidak ada jawaban.
"Ya udah deh, besok aja lah." Barbara bergumam.
Ia pun hendak meninggalkan kamar orang tua nya.
Ceklek
Pintu kamar orang tua nya dibuka dari dalam saat ia sudah berbalik dan hendak melangkah pergi.
"Ada apa Bar?" Tanya Fanco pada putrinya dengan suara serak nya.
"Pa, laper. Pengen Papa yang masak." Barbara meminta dengan suara manja.
"Ya udah. Kamu turun dulu tunggu di bawah." Fanco bertitah lembut pada putrinya.
Barbara mengangguk semangat dan langsung melangkah turun ke dapur untuk menunggu Ayahnya.
Tak lama menunggu, Barbara pun melihat kedua orang tuanya turun bersamaan.
"Loh, kok Mama juga ikut bangun?" Barbara bertanya bingung.
"Papa kamu mana bisa jauhan dari Mama. Mungkin ninggal juga mau bareng kali." Kimberly menjawab asal sambil menadah air putih menggunakan gelas.
"Hush, Mama nggak boleh ngomong gitu." Barbara menepis perkataan Mama nya.
"Bercanda Bar. Tapi ya kita manusia kan nggak pernah tau kita bakal hidup sampe kapan. Bisa aja setelah ini Papa atau Mama yang dipanggil." Kimberly kembali berkata sambil menenggak air putih dari gelas nya.
"Ih Mama, malah makin jadi ngomong nya." Barbara menggerutu sebal.
Kimberly hanya tersenyum kecil.
"Kamu mau makan apa Bar?" Fanco bertanya bingung sambil membongkar isi kulkas nya.
"Aku pengen pasta Pa. Tapi pasta nya nggak usah pake saos atau bumbu. Cuma pasta nya doang direbus, kasih garam dikit sama penyedap rasa." Barbara menyampaikan keinginan nya.
"Nih anak Fix lagi ngidam tengah malam nih." Fanco berucap sambil menggerakkan jari telunjuk nya menunjuk Barbara.
"Nggak tau lah Pa. Tapi pengen makan nya itu, terus pengen banget yang Papa bikinin." Barbara menjawab santai sambil mengunyah cemilan yang ada di dalam toples diatas meja dapur nya.
"Ya udah. Bentar Papa bikinin." Ucap Fanco meraih sebungkus pasta dari dalam kulkas nya.
Dengan telaten Fanco membuat makanan sesuai apa yang putrinya inginkan.
__ADS_1
"Udah belom Pa?" Barbara merengek seperti anak kecil saat makanan nya belum juga datang.
"Iya iya, ini." Fanco bergegas menghidangkan makanan itu di depan putrinya.
Barbara sangat bersemangat, ia langsung menikmati dengan berhati-hati makanan masakan Ayahnya karena masih panas.
"Aku nggak nyangka anak gadis kita satu-satunya bentar lagi bakal jadi Ibu." Fanco memeluk posesif istrinya sambil memperhatikan putrinya yang sibuk menikmati makanan nya.
"Iya sayang. Nggak nyangka banget. Perasaan kayak baru kemaren aku nyusui dia. Sekarang dia malah udah bakal jadi Ibu lagi." Kimberly menimpali.
"Aku jadi takut kalo suatu saat kita tiba-tiba pergi, siapa yang bakal jagain dia?" Fanco bertanya khawatir.
Air mata nya tiba-tiba meluncur bebas, begitupun milik istrinya.
"Semoga aja Bar bisa dapat seseorang yang benar-benar sayang dan care sama dia tanpa syarat." Kimberly menjawab.
Entah kenapa mereka terasa sangat jauh dari putri mereka, padahal jelas Barbara sedang tepat berada di depan mereka.
"Pa, Ma kok malah nangis sih? Pengen makanan nya Bar?" Barbara bertanya bingung melihat kedua orang tuanya menitikkan air mata menatap nya.
"Nggak. Papa sama Mama cuma lagi mikir, kalo seandainya Papa dan Mama pergi tiba-tiba ninggalin kamu, siapa yang bakal jagain kamu?" Fanco menjawab sesuai apa yang ia dan istrinya pikirkan.
Barbara menghentikan pergerakan tangannya yang sibuk menyuapi mulutnya.
"Papa sama Mama kok ngomong gitu sih. Nggak seru ah." Barbara merengek kesal.
"Namanya umur siapa yang tau Bar. Bisa aja setelah ini kejadian." Kimberly bersuara.
"Ih, nggak boleh ngomong gitu. Kesel banget ah. Ngomong yang happy-happy aja." Barbara masih merengek.
"Ya udah iya iya." Fanco membujuk.
Barbara tersenyum dan kembali menikmati makanan nya.
"Iya Pa. Bar janji. Bar pasti hidup dengan baik." Barbara berucap sambil tersenyum manis pada Ayah dan Ibu nya.
Fanco dan Kimberly menghela nafas kasar namun juga lega.
"Ah..kenyang banget." Barbara mendesah kekenyangan setelah menghabiskan semua makanan masakan Ayahnya tanpa sisa.
Fanco menggeleng gemas melihat tingkah putri kesayangan nya itu.
"Ini minum dulu." Kimberly menyodorkan segelas air putih pada Barbara.
"Mau yang dingin. Nggak mau yang biasa." Barbara merengek meminta air putih dingin.
Kimberly akhirnya mendekati kulkas nya lalu mengambil sebotol air mineral dingin dan menuangkannya dalam gelas.
"Ini yang dingin." Kimberly menyodorkan gelas berisi air dingin itu pada Barbara.
"Makasih Mama." Barbara menerima dengan senang hati.
Ia meneguk minuman nya hingga tak tersisa.
"Ah..lega." Barbara mendesah lega dan kenyang.
"Bar lanjut tidur yah." Barbara pamit lagi pada kedua orang tua nya.
Fanco dan Kimberly mengangguk bersamaan.
"Istirahat gih, nggak boleh begadang. Kasian cucu Mama sama Papa." Ucap Kimberly tersenyum.
__ADS_1
Barbara pun beranjak kembali ke kamar nya setelah mengecup pipi Papa dan Mama nya.
Fanco dan Kimberly menggeleng gemas melihat tingkah putri kesayangan nya.
"Sayang, aku jadi nggak bisa tidur lagi. Olahraga yuk." Fanco memeluk posesif istrinya dan berbisik sensual di telinga istrinya.
"Ih, apaan sih. Baru juga tadi." Kimberly menepuk pelan dada suaminya dan tersipu malu.
"Ya udah, aku yang mimpin." Sigap Fanco menggendong istrinya dan kembali ke kamar mereka.
Didalam kamar, Barbara tidak langsung tidur.
Ia masih duduk di ranjang nya bersandar pada kepala ranjang nya dan kaki nya ia tutupi dengan selimut hingga ke perut nya.
Pikirannya berkelana memikirkan setiap perkataan orang tua nya tadi.
Air mata nya meluncur bebas mengingat apa yang diucapkan oleh kedua orang tua nya tadi.
Rasa takut kehilangan tiba-tiba saja menghantam nya.
"Ih, apaan sih. Kok malah mikir yang nggak-nggak." Barbara memukul ringan kepalanya menepis segala pikiran buruk nya.
Ia pun memutuskan untuk tidur kembali, namun dering ponselnya membatalkan niat nya.
Ia meraih ponselnya dari nakas dan ternyata sang kekasih lah yang menghubungi nya.
Barbara seketika tersenyum manis.
"Sayang." Frans menyapa duluan saat Barbara menjawab panggilan nya.
"Iya sayang." Barbara menjawab tak kalah manis.
Frans tersenyum.
"Aku udah sampe nih. Dan sekarang udah di rumah. Dikamar kita." Frans mengarahkan kamera ponsel nya merekam setiap sudut ruangan kamarnya pada Barbara.
"Iya." Barbara menjawab singkat.
"Sayang, kenapa kok sedih?" Frans bertanya khawatir saat melihat wajah sendu Barbara.
"Aku nggak tau. Tapi perasaan ku nggak enak. Papa sama Mama juga tadi ngomongin perpisahan terus." Barbara menjawab sendu.
"Udah sayang. Jangan mikir yang nggak-nggak. Namanya orang tua, pasti ada aja kekhawatiran nya sendiri." Frans berusaha menenangkan kekasih nya.
"Tapi aku takut." Barbara berucap.
"Udah jangan takut ya. Semua pasti baik baik aja. Nggak bakal kenapa-napa. Sekarang kamu istirahat dulu gih. Disana udah tengah malam kan? Disini masih pagi. Bentar lagi aku bakal langsung temuin klien aku buat batalin orderan mereka yang nggak bisa aku kerjain, setelah itu aku bakal langsung balik lagi ke sana." Frans berucap panjang lebar berharap kekasihnya bisa lebih tenang mengetahui dirinya tidak akan pergi lama dari sisinya.
"Kamu nggak capek? Perjalanan panjang gitu trus langsung kerja habis itu langsung terbang balik sini lagi?" Barbara bertanya khawatir.
"Capek sih. Tapi demi kamu dan baby aku nggak masalah." Frans menjawab semangat.
"Ya udah, aku istirahat lagi. Kamu juga, kalo bisa sempetin dulu istirahat bentar sebelum balik ke sini." Barbara menyarankan pada Frans.
"Iya sayang. Love you sayang." Frans berucap manja.
"Iya, love you too." Barbara membalas. Ia harus membalas karena Frans pasti memintanya.
Panggilan pun berakhir.
"Semoga aja deh cuma aku yang berlebihan." Barbara bergumam.
__ADS_1
Ia pun memutuskan untuk berbaring dan mencoba memejamkan matanya dengan bersusah payah hingga akhirnya terlelap kembali.
...~ To Be Continue ~...