
Drrttt drttt
Ponsel Frans berbunyi diatas nakas.
Frans yang tengah bersiap segera mendekati nakas nya dan meraih ponselnya.
Senyum nya terbit saat melihat yang menghubungi nya adalah Barbara.
"Frans, tolong aku. Bantu aku." Suara Barbara terdengar merintih kesakitan.
Brukk
Terdengar suara seperti seseorang jatuh atau tumbang.
"Bar, Barbara..?" Frans berteriak memanggil nama Barbara.
Tidak ada jawaban.
Segera Frans berlari keluar dari kamar nya dan dengan langkah lebar ia menuruni setiap anak tangga lalu berlari keluar menuju mobil nya.
Segera ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Felix.
"Apa lagi kali ini Bar?" Frans bertanya dan mencengkeram kuat setir mobil nya.
"Jangan sampe semua ini ulah Felix lagi. Kalo iya, aku benar-benar nggak akan kasih dia kesempatan buat menyesal lagi Bar. Aku nggak akan ngijinin dia buat gapai hati kamu lagi. Nggak akan." Frans komat kamit berbicara sendiri.
Frans mengendarai mobil nya dengan sangat cepat melewati setiap kendaraan didepan nya. Tak sedikit ia mendapat umpatan dari pengendara lain, namun tidak ia pedulikan.
Fokus nya saat ini adalah Barbara.
Sampai di rumah Felix, Frans segera turun dari mobil dan masuk kedalam.
Tak ada siapapun, Frans mulai merasa tidak enak hati.
Lalu pandangan nya melihat pintu kamar atas yang terbuka.
Segera ia berlari keatas dengan langkah lebar nya.
"BARBARA." Frans berteriak memanggil nama Barbara saat ia melihat Barbara sudah dalam keadaan pingsan dan dari celah paha nya mengeluarkan darah.
Tanpa menunggu lama, ia segera menggendong Barbara ala bridal style turun ke bawah dan langsung menuju mobil nya.
Ia mendudukan Barbara dengan benar dikursi depan, tidak lupa memasang seat belt nya.
Segera ia pun masuk kedalam kursi kemudi dan tanpa menunggu lama ia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
"Bertahan Bar. Jangan lemah. Kalian pasti bisa." Frans bergumam sesekali memegang perut Barbara dan tangan Barbara seolah memberi kekuatan kepada Barbara dan janin nya.
Sampai di rumah sakit.
Segera Frans turun dari mobil dan kembali menggendong Barbara ala bridal style dan berlari masuk kedalam rumah sakit.
__ADS_1
Para perawat yang melihat kedatangan Frans pun segera menarik brankar dorong terdekat mereka dan menyuruh Frans membaringkan Barbara.
Mereka segera mendorong Barbara menuju ruang UGD.
Frans mengikuti dari belakang.
Frans memang kejam dan berdarah dingin, tapi sesuai apa yang ia katakan, dirinya tidak pernah membunuh anak kecil terlebih lagi yang masih berbentuk janin.
"Maafin aku Bar. Harusnya aku nggak ngijinin kamu balik hari itu. Aku bodoh. Aku pikir aku bisa rubah cara pandang dia walaupun sedikit. Tapi ternyata aku malah semakin membuat kamu menderita. Maaf Bar, maaf." Frans berucap lirih.
Ia bahkan tak segan memukul dinding rumah sakit didekat nya.
Frustasi melihat wanita yang ia cintai mengalami rasa sakit dan penderitaan seperti itu.
"Kalian harus kuat. Harus Bar. Kalo nggak aku nggak akan pernah bisa maafin diri aku sendiri. Dan aku akan pastikan dia nerima akibat dari perbuatan nya." Frans kembali bergumam.
Lama menunggu hingga akhirnya satu dokter keluar dari ruangan UGD.
"Keluarga pasien?" Suara dokter tersebut.
"Saya dokter. Gimana keadaan Barbara dan bayinya?" Frans bertanya panik.
Bahkan bisa dilihat wajah Frans sembab, tanda habis menangis.
"Keadaan Ibu nya baik-baik saja. Tapi bayinya benar-benar sangat lemah namun masih bernyawa. Untuk saat ini kami hanya bisa menunggu dan menanti keajaiban. Jika nanti kondisi bayi nya bisa pulih, maka kami tidak perlu melakukan tindakan operasi untuk mengangkat janin nya. Tapi jika pada akhirnya janin nya tidak dapat bertahan, maka dengan sangat terpaksa kami harus melakukan operasi pengangkatan janin." Tutur dokter itu.
"Sebenarnya apa yang udah terjadi sama Barbara dok?" Frans bertanya bingung.
Frans hanya mengangguk paham, dan kedua tangan nya mengepal kuat. Sudah bisa Frans pastikan jika pelakunya adalah Felix, karena Barbara tidak mungkin membunuh janin nya sendiri.
"Untuk sekarang biarkan Nyonya Barbara beristirahat dulu sambil kami memantau perkembangan kondisi janin nya. Kami belum bisa memindahkan Nyonya Barbara ke ruang inap sebelum memastikan kondisi janin nya benar-benar stabil." Ucap dokter itu kembali menjelaskan.
Frans mengangguk.
"Lakukan yang terbaik dokter. Jangan sampai janin Barbara kenapa-napa. Berikan penanganan yang terbaik. Berapapun biaya nya, saya akan bayar." Frans berucap tegas.
Dokter tersebut mengangguk.
"Baik, kalo gitu saya permisi sebentar. Masih ada pasien yang harus saya tangani. Kalo terjadi apa-apa, perawat saya yang didalam akan segera menghubungi saya." Ucap dokter itu pamit, lalu melangkah pergi.
Sepeninggal dokter tersebut, Frans terduduk lemas di kursi tunggu di depan ruang UGD itu.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Entah kenapa mendengar Barbara dalam kondisi memprihatinkan seperti itu membuatnya menjadi lemah.
Barbara yang ia kenal dulu adalah Barbara yang kuat, tegas, bahkan tidak takut mati.
Barbara yang berusaha sekuat tenaga menolak segala rayuan nya demi menjaga dirinya untuk seorang Felix.
Barbara yang dulu selalu membuat dirinya bertekad untuk memilikinya walau sesaat.
__ADS_1
Kini Frans tidak akan pernah melepaskan Barbara kembali pada Felix. Ia bertekad bagaimanapun caranya, ia harus memaksa Barbara tinggal disisi nya.
Frans bangkit dari duduk nya.
Dengan langkah lebar, ia berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran untuk mencapai mobilnya.
Setelah masuk kedalam mobil, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke perusahaan Felix.
Tujuannya adalah memberi Felix pelajaran, sebelum ia benar-benar memisahkan Felix dan Barbara.
Sampai di perusahaan Felix, dengan langkah lebar ia masuk kedalam perusahaan itu, lalu menaiki lift menuju ke ruangan Felix.
Pintu lift terbuka.
Dengan langkah lebar, ia segera melangkah menuju ruangan Felix.
Saat ia membuka pintu, ia cukup kaget melihat Felix sedang bertelanjang dada dan terdapat banyak goresan didada nya.
Pandangan Felix kosong, ditangan nya menggenggam sebilah pisau yang terdapat bercak darah.
Sudah bisa dipastikan, Felix melukai dirinya sendiri.
Frans mendekati nya dan mencekik leher nya, lalu menarik nya berdiri dan mendorong nya hingga punggung nya berbenturan dengan dinding.
BUKK
Frans melayangkan tinju pada perut Felix dengan sangat kuat.
Felix hanya menyeringai, wajahnya mulai membiru karena dari tadi Frans mencekik leher nya.
"Bangsat. Kalo kamu nggak mau sama Barbara atau anak nya, nggak perlu rayu dia buat balik." Ketus Frans.
Ia lalu melempar Felix dengan sangat kuat hingga Felix tersungkur di lantai.
BUKK
Kembali ia menghajar wajah Felix hingga hidung dan bibir Felix mengeluarkan darah segar.
"Ingat. Aku nggak akan biarin dan ijinin Barbara balik lagi sama kamu dengan atau tanpa bayi dia." Ucap Frans kasar lalu pergi meninggalkan Felix.
"Bunuh aku. Bunuh aku."
Frans mendengar teriakan Felix, namun ia tidak peduli.
"Hari ini aku biarin kamu hidup. Tapi aku bakal pastiin kamu akan hidup menderita." Frans membatin.
...~ To Be Continue ~...
******
Like dan komentar jangan lupa. Makasih.
__ADS_1