Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Malam Pengantin Berdarah


__ADS_3

...NOTE : PART INI MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN!!!...


...JANGAN DITIRU!!!...


.


.


.


.


.


"Hai.." Denio melambaikan tangannya menyapa empat perempuan yang bergosip tadi sore.


Kebetulan sekali mereka belum beranjak dari hotel itu dan baru akan beranjak sekarang.


Keempat perempuan itu tersenyum canggung dan mencoba mengingat siapa pria tampan di depan mereka itu.


"Pasti lupa ya sama aku." Denio mencoba bersikap seramah mungkin.


"Ah..Denio yah? Suaminya Fera?" Salah satu dari mereka bertanya antusias.


Denio mengangguk dan memasang senyum manisnya.


"Ngapain di sini?" Perempuan yang lain bertanya dengan tatapan menggoda.


"Nyapa kalian kok. Temennya Fera kan sekarang otomatis temen aku juga." Denio bersandiwara dengan baik.


Keempat perempuan itu tertawa kecil.


"Eh, by the way, kita nongkrong bentar nggak papa kan? Sekalian kenalan lebih dalam gitu." Denio mulai melancarkan aksinya.


"Ya gak papa dong sayang. Aku malah dari tadi mau kenalan sama kamu. Siapa tau bisa jadi simpenan kamu?" Perempuan yang berambut se-pundak membelai wajah Denio dengan berani.


"Menjijikkan." Denio membatin.


"Ya udah, ikut aku aja. Kita nyantai di tempat yang lebih privat. Mau ngapain aja bebas." Denio sengaja menggunakan kata-kata yang memancing.


Keempat perempuan itu mengangguk semangat.


Denio pun segera menuntun mereka masuk ke dalam mobilnya.


"Wah, maaf jadi sesak yah?" Denio menujukkan perhatian palsunya.


"Nggak kok. Demi kamu, nggak masalah." Seorang perempuan yang lain menjawab dengan nada mendayu-dayu.


Denio pun menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran hotel.


Mereka menempuh perjalanan yang sangat jauh, semakin jauh semakin masuk ke dalam hutan yang lebat.


"Denio, kita mau kemana?" Perempuan yang duduk di samping Denio bertanya sedikit takut.


"Kita back to nature. Kalian pasti belum pernah kan main di alam terbuka?" Denio sengaja mengalihkan ketakutan keempat perempuan itu.


"Awh..kamu ternyata nakal juga yah." Seorang yang lain menggoda Denio dengan suara desahannya.


Denio hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di tengah hutan belantara itu.


Denio menuntun keempat perempuan itu turun dari mobilnya.


Denio menuntun mereka masuk ke dalam satu gubuk reot.


"Kok ke sini sih?" Perempuan yang berambut pirang protes.


"Enjoy sayang. Cuma kita berlima, aman." Denio kemudian berlari ke mobilnya dan mengambil satu kotak berisi perkakas nya.


"Itu apaan?" Perempuan berambut pirang tadi kembali bertanya.


"Ssttt..aku pengen main sesuatu yang berbeda dengan kalian berempat. Istriku itu terlalu polos dan nggak bisa muasin aku." Denio mengeluarkan satu gulungan tali.


Keempat perempuan yang tidak tahu sama sekali niat Denio pun hanya tersenyum menggoda mengira perkataan Denio adalah yang sebenarnya.


"Ayo.." Denio mengajak keempat perempuan itu mendekati sebuat tiang besar.


Keempat perempuan itu menurut dan seolah sudah tau apa perintah Denio selanjutnya, mereka pun berdiri menempel pada keempat sisi tiang itu masing-masing.


"Pintar juga kalian." Denio memuji dengan kepura-puraan.


Denio segera mengikat tubuh keempat perempuan itu dengan samgat kuat di tiang itu.


"Akh..Denio, kamu baru ikat aku aja, aku udah gak tahan.." Perempuan yang memakai dress sangat sexy itu menggoda Denio.


Denio tidak menghiraukan dan ia kembali ke kota perkakas nya lalu memilih alat yang nyaman untuk ia gunakan. Sebelumnya Denio memakai sarung tangan terlebih dulu.


Denio memilih sebuah pisau yang tidak panjang juga tidak pendek.


Sebelum mendekati keempat perempuan itu, Denio kembali memutuskan untuk menggunakan jas hujan yang ada di dalam kotak perkakas nya agar tidak terpercik darah keempat perempuan itu.


Denio kini tidak bersandiwara lagi. Ia menampilkan senyuman yang sangat menakutkan.


"Well..kita cuma akan main-main." Denio menjawab dengan suara mencekam membuat keempat perempuan itu meronta dan berteriak ketakutan.


Di tengah hutan lebat seperti itu sudah dipastikan tidak ada yang akan mendengarkan mereka.


"Sstttt..aku main lembut kok.." Denio mencengkram dagu perempuan yang berambut pirang hingga mulutnya sedikit terbuka.


JLEB SRETTT


Denio menusuk pisau itu ke dalam mulut perempuan itu lalu menyeretnya hingga membelah pipinya


Darah segar mengalir deras dari mulut perempuan itu.


Denio tersenyum sinis. Ketiga perempuan lainnya sudah menangis memohon ampun.


"Please, jangan Denio " keren berambut se-pundak itu memohon ketakutan namun justru semakin membuat keinginan membunuh Denio membesar.


Denio mendekati perempuan itu dan meliriknya dari atas sampai bawah. Denio akui bentuk tubuh perempuan itu sangat menggoda namun bukan berarti Denio tergoda.


Denio menatap lekat kedua bukit kembar perempuan itu membuat perempuan itu semakin ketakutan.


JLEBB SREETT


Denio menusuk salah satu dada perempuan itu dan menyeretnya hingga ke dada satunya.


Darah segar mengalir begitu saja membasahi lantai gubuk reot itu.

__ADS_1


Perempuan pertama sudah merengang nyawa karena kehabisan darah.


Kini tinggal dua yang tersisa.


"Denio, jangan. Apa salah kami?" Kedua perempuan yang tersisa memohon dan bertanya ketakutan.


"Cih..ampun? Kesalahan kalian? Apa kesalahan kalian dan kalian bertanya sama aku? Wow...." Denio mengayunkan pisau berlumuran darah yang ia pegang.


Kedua perempuan itu menggeleng kuat karena ketakutan.


"Jalang seperti kalian memang nggak ada gunanya. Mati pun masih terlalu bagus untuk menghukum kalian." Denio geram dan langsung menusuk perut perempuan yang berambut panjang se-pinggul itu lalu menarik pisaunya hingga naik ke dada perempuan itu.


Satu yang tersisa.


"Dan kamu? Cih..daritadi menatap ku seperti orang yang kelaparan. Nggak cukup makan?" Denio bertanya seolah sedang bercanda namun terdengar menakutkan.


JLEB


Denio menusukkan pisaunya ke lambung perempuan itu dan menyeretnya hingga ke samping membelah perut perempuan itu secara horizontal.


Denio tersenyum puas melihat keempat perempuan itu dibasahi darah dari tubuh mereka sendiri.


"Cuih..itu memang pantas buat kalian." Denio meludahi jasad keempat perempuan yang sudah tidak bernyawa itu.


Denio segera mengemaskan semua perkakas nya tanpa terkecuali.


Jas hujan yang ia pakai, ia lepaskan dan ia simpan di dekat keempat perempuan yang masih terikat itu.


Denio memasang beberapa alat peledak di gubuk reot itu.


Setelah selesai dengan semuanya, Denio keluar dari gubuk reot itu dan masuk kembali ke dalam masih mobilnya.


BOOM


Suara ledakan yang cukup kuat memekakkan telinga.


Denio pun segera meninggalkan hutan belantara itu dengan kepuasan hati yang besar karena sudah mampu menghabisi keempat perempuan itu.


Denio segera kembali ke hotel namun sebelum itu ia memutuskan untuk membeli beberapa jenis makanan untuk Fera.


Sesampainya di hotel dan selesai memarkirkan mobilnya, Denio pun segera menuju ke kamarnya dan Fera.


Sesampainya di kamar, Denio melihat istrinya tertidur pulas.


Ada rasa tidak tega untuk membangunkan Fera, namun ia ingat pesan Fera. Akhirnya mau tidak mau ia harus membangunkan Fera..


"Em..Nio, kamu udah pulang?" Fera bertanya sambil bangun dari tidurnya.


Denio tersenyum dan membantu istrinya untuk duduk..


"Aku udah bawain makanan, ayo kita makan." Denio mengajak dengan lembut sambil merapikan rambut Fera.


"Maaf Nio, tadi karna lama banget nungguin kamu dan aku udah kelaperan akhirnya aku pesan makan dari hotel." Fera dengan wajah bersalah.


Denio merasa bersalah karena membuat istrinya sempat kelaparan.


"Ya udah, nggak papa. Kita tidur aja." Denio pun naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Fera setelah Fera berbaring kembali.


Tak lama kemudian mereka sama-sama kembali terlelap.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2