
"Sayang bangun." Felix membangunkan Barbara dengan lembut karena baby Fera sudah merengek dari tadi.
Barbara pasti tertidur dengan sangat nyenyak setiap kali Felix memeluknya atau dia yang memeluk Felix.
"Bar, bangun ih..Fera haus atau lapar atau apalah..aku nggak ngerti loh ini.." Felix masih berusaha membangunkan Barbara namun Barbara tidak bergeming.
Felix yang sedang menggendong baby Fera pun akhirnya menyerah.
Ia mencoba memeriksa sendiri apa yang membuat baby Fera merengek.
"Oh, popok anak Papa penuh yah?" Felix menemukan masalah nya.
Ia lalu membaringkan baby Fera dengan pelan diatas ranjang setelah mengalasnya dengan kain perlak.
Felix mencoba mengganti popok baby Fera dengan berhati-hati, dan ternyata ia berhasil.
"Yes, Papa bisa dong ganti popok kamu." Felix menoel hidung baby Fera pelan membuat baby Fera tertawa cekikikan.
"Ih ketawa dia yah.." Felix kembali menggelitik pelan perut putrinya dan membuat baby Fera kembali tertawa cekikikan.
Bosan berbaring, baby Fera langsung membalikkan badannya hingga dalam posisi tengkurap.
Felix kembali berbaring dan mengangkat baby untuk tengkurap diatas perutnya.
Tangan baby Fera menyentuh wajah Felix dengan lembut seolah sedang mengenali bentuk wajah Ayahnya.
Sekali lagi Felix terharu.
"Makasih ya sayang. Kamu udah hadir di tengah-tengah Papa dan Mama. Jadi anak yang baik. Papa janji bakal jagain kamu dan Mama dengan baik. Papa nggak bakal kecewain kamu dan Mama lagi. Papa bakal kasih kamu adik yang banyak." Felix tersenyum mesum menatap istrinya yang masih saja terlelap.
Felix kemudian meraih ponselnya kemudian menyalakan fitur kamera.
"Kita foto yuk." Felix mengajak putrinya berselfie, dan tentu saja Barbara diikutsertakan walau masih terlelap.
"Bagus banget hasilnya. Anak Papa udah pinter ya, udah sadar kamera." Felix memuji hasil fotonya dan juga bayinya.
"Eng." Barbara melenguh pelan dan baru perlahan tersadar dari tidurnya.
"Pagi sayang." Barbara mengecup pipi gembul putrinya.
"Papanya nggak juga?" Felix menagih bagiannya.
Barbara memonyongkan bibirnya, dan Felix langsung beraksi menyambut bibir istrinya dengan bibirnya.
"Jangan dimakan Fel, kecup aja. Belum gosok gigi." Barbara menggerutu pelan.
Felix terkekeh.
"Nggak apa. Aku suka dan cinta walaupun kamu nggak mandi bertahun-tahun." Felix menggoda istrinya.
"Jorok." Barbara menggerutu kesal.
Ia pun bangkit dari posisinya menjadi duduk.
"Sayang, jangan pergi lagi ya. Maksud aku, mulai hari ini kamu pulangnya kesini aja. Jangan ke apartemen kamu lagi." Barbara meminta dengan suara manja.
__ADS_1
"Nggak a. Disana ada simpenan aku tau." Felix menggoda istrinya mengingat bagaimana terakhir kali Barbara menangkap basah ia tengah mencumbu seorang wanita.
Barbara mendengus kesal dan merebut baby Fera dari Felix.
"Pria murahan. Aku aja nggak macam-macam sama cowok lain. Dia? Udah nggak tau berapa banyak cewek yang udah dia sosor?" Barbara menggerutu kesal.
"Iya maaf. Aku nafsuan. Tapi aku janji nggak bakal ngulangin." Felix meminta dengan memelas dan memeluk posesif istrinya.
"Em.." Barbara berdehem namun nadanya terdengar kesal.
"Mandi bareng yuk." Felix mengajak Barbara dengan suara sensual.
"Nanti. Aku mandiin Fera dulu." Barbara pun turun dari ranjang dan meletakkan baby Fera kembali ke dalam box bayi, ia pun segera kekamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk memandikan Fera.
Setelah selesai, ia segera membawa Fera untuk dimandikan.
Setelah selesai memandikan Fera, dengan telaten ia memakaikan pakaian pada baby Fera dibantu Felix.
"Em, udah wangi udah cantik anak Mama." Barbara mencium gemas putrinya lalu meletakkan kembali Fera kedalam box bayi yang ukurannya sudah jauh lebih besar dibanding sebelumnya mengingat baby Fera sudah mulai merayap perlahan dengan perutnya.
"Yuk." Felix kembali mengajak Barbara.
Barbara pun menurut dan mereka pun mandi bersama.
••••••••••
"Bar." Frans yang baru datang, masuk kedalam rumah Barbara sambil memanggil Barbara.
"Maaf Tuan Frans, Nyonya Barbara belum turun." Tasya menghentikan langkah Frans.
"Oh, ya udah aku naik ke atas." Frans ingin menuju ke kamar Barbara.
"Lah, kenapa? Aku kan udah sering kekamar nya. Lagian aku juga pasti ketok pintu kok." Frans bersikukuh dengan keinginannya.
"Pokoknya jangan Tuan Frans. Nanti Nyonya Barbara bisa marah." Tasya tetap berusaha mencegah Frans.
Frans menatap Tasya bertingkah aneh, ia gugup dan juga wajahnya tersipu.
"Tau ah, kamu ngomong nggak jelas. Kalo Bar marah, entar aku yang bujuk dia." Frans kembali melangkah.
Dengan cepat Tasya kembali menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.
"Tasya lepasin nggak." Frans memaksa Tasya agar melepaskan pelukan nya namun Tasya justru memeluknya semakin kuat.
"Nggak mau. Pokoknya saya nggak akan ijinkan Tuan Frans ganggu Nyonya Barbara." Tasya bersikeras dengan keputusannya.
"O ow..sayang kayaknya kita ganggu orang lagi mesra nih." Suara Barbara terdengar dari atas tangga.
Frans mendongak mendapati Barbara sedang berjalan menuruni tangga bersama Felix yang sedang menggendong Fera.
Frans mengepalkan tangannya, namun entah kenapa pelukan Tasya seolah melunturkan amarah itu.
"Maaf Tuan Frans, saya lancang." Tasya melepaskan pelukan nya dan langsung meninggalkan keempat orang itu.
"Ngapain kamu kesini? Pasti cuma minta yang enak habis itu mau pergi lagi." Frans menuduh Felix.
__ADS_1
Felix mengedikkan acuh bahunya, dan mendudukkan baby Fera pada kursi khusus nya dan perlahan menyuapi nya makanan khusus untuk bayi yang sudah Tasya siapkan tadi.
"Bar, aku mau ngomong sama kamu." Felix meraih satu tangan Barbara.
"Aku juga perlu ngomong sama kamu." Barbara kemudian memandang kearah Felix dan Felix mengangguk.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke taman belakang rumah Barbara.
Barbara duduk di kursi tamannya, Frans duduk di sampingnya.
"Jadi kamu udah ambil keputusan?" Frans bersuara terlebih dulu.
Barbara mengangguk pelan.
"Maaf Frans. Tapi aku nggak bisa bohong sama hati aku. Apalagi sekarang Felix benar-benar nunjukin perubahan yang positif." Barbara berkata jujur dan berharap Frans akan mengerti.
"Jadi aku benar-benar nggak punya kesempatan lagi?" Frans kembali bertanya dengan sedikit berharap.
"Maaf." Hanya itu yang mampu Barbara ucapkan.
Frans tersenyum walau menahan perih di hatinya.
"Kamu berhak bahagia. Kamu benar, aku nggak berhak ngatur kamu. Aku lepasin kamu sekali lagi untuk kembali sama dia. Ingat, kamu harus bahagia!" Frans berucap penuh penekanan pada kalimat terakhir.
"Makasih Frans." Barbara memeluk Frans terlebih dulu.
"Makasih untuk semuanya dan maaf untuk rasa kecewa yang aku kasih ke kamu." Barbara berucap tulus.
"Aku tulus Bar. Walaupun aku berharap kamu bisa menerima aku, tapi aku tau cinta nggak bisa dipaksa. Makasih, seenggaknya kamu sempat ijinin aku jagain kalian." Frans pun berucap tulus namun tidak membalas pelukan Barbara.
Ia tidak ingin terlena saat memeluk Barbara dan akan semakin susah melepaskan perasaannya.
Barbara pun melepaskan pelukan nya.
"Frans, Tasya itu baik." Barbara menawarkan Tasya pada Frans.
"Nggak kayak yang kamu lihat. Itu salah paham." Ucap Frans kesal.
"Ya kan nggak ada salahnya coba Frans. Emang kamu mau lajang seumur hidup nggak punya pendamping?" Barbara menghasut Frans.
"Bilang aja mau pamer kalo kamu udah punya pasangan lagi." Frans mendengus kesal lalu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Barbara duluan.
"Frans, aku kasih Tasya cuti satu bulan deh biar kalian bisa punya waktu saling kenal." Barbara mengejar Frans dan terus menggoda nya.
Frans tidak menghiraukan dan terus melangkah hingga menghampiri Felix yang sedang bermain dengan Fera.
"Aku balikin Barbara sekali lagi ke kamu. Tapi kalo kamu berbuat kesalahan yang sama satu kali lagi, maka jangan harap aku bakal ngalah lagi." Frans mengancam Felix dan langsung meninggalkan dirinya.
"Frans pertimbangkan Tasya." Barbara berteriak tanpa ragu.
"Persetan." Frans menjawab kasar malah membuat Barbara tertawa.
"Semoga kali ini kamu benar-benar bahagia dan pilihan kamu tepat Bar."
...~ To Be Continue ~...
__ADS_1
######
Happy Weekend semuanya..Have a nice day..❤❤❤