Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Pesan


__ADS_3

Pagi ini tampak di meja makan, Fanco dan Barbara sedang sarapan bersama.


"Bar, hari ini kamu mau ngapain lagi?" Fanco bertanya antusias.


Apalagi melihat putrinya sudah tidak sesedih kemarin lagi.


"Belum tahu Pa. Tapi mungkin Bar pengen jalan-jalan santai aja. Kalo ada yang pengen dibeli ya Bar beli." Barbara menjawab santai.


"Frans bilang kapan dia balik ke sini?" Fanco bertanya tentang Frans.


Fanco sebenarnya bingung untuk apa dirinya bertanya tentang Frans sedangkan menurut nya lebih baik jika putrinya tidak perlu lagi berhubungan dengan pria seperti mereka.


"Frans udah dipesawat Pa dari tiga jam yang lalu." Barbara menjawab sesuai kenyataan.


Fanco mengangguk mengerti.


"Mama mana Pa? Kok tumben nggak gabung?" Barbara bertanya heran.


"Mama kamu pagi-pagi udah keluar ngurusin toko bakery nya. Ada karyawan yang bikin masalah." Fanco menjelaskan.


Barbara mengangguk paham.


"Tapi Mama mungkin nggak akan lama sih. Paling siang entar juga udah balik." Fanco kembali berkata.


"Iya Pa." Barbara menjawab.


"Ya udah, Papa berangkat dulu ya. Mungkin Papa juga cuma setengah hari, hari ini. Soalnya badan agak capek." Fanco berkata sambil sedikit mengeluh.


"Makanya Pa, udah tua mesti banyak istirahat." Barbara menggoda Ayahnya.


"Ya gimana mau istirahat, pewaris tunggal nggak mau terlibat." Fanco menyindir putrinya.


Barbara hanya terkekeh.


"Bar, kamu udah yakin sama Frans?" Fanco bertanya meminta kepastian.


"Aku nggak tau Pa. Tapi seburuk apapun dia, dia yang bisa nerima Bar dan anak Bar bersamaan. Dia yang nguatin dan yakinin Bar bisa lewatin semuanya." Barbara menjawab sesuai yang ia rasakan.


Fanco mengangguk mengerti.


"Semoga kali ini pilihan kita nggak salah lagi yah." Fanco berucap sambil bangkit dari duduk nya karena daritadi dia masih duduk walau sudah pamit.


Entah kenapa rasanya sangat berat untuk beranjak meninggalkan putrinya.


Namun dengan berat hati ia harus berangkat ke kantor nya.


"Ya udah, Papa pergi dulu. Kali ini beneran pergi." Fanco berucap sambil tersenyum manis.


Barbara merasakan sedikit aneh, tidak biasanya Ayahnya seperti mengulur waktu seperti itu.


"Iya, Papa hati-hati." Barbara bangkit dari duduk nya untuk mengantar Ayahnya ke depan pintu.


Hal yang belum pernah Barbara lakukan.


"Bar, jangan sedih-sedih lagi ya. Kamu harus bahagia. Ingat pesan Papa pokok nya." Fanco berucap mengingatkan putrinya.


Barbara mengangguk dan memeluk erat Ayahnya.


Fanco pun memeluk putrinya tak kalah erat.


Setelah masuk kedalam mobil, Fanco pun pergi dengan mobil nya yang dikendarai oleh sopir nya.


Barbara masuk kedalam rumah nya dan langsung kembali ke kamar nya setelah meminta para pelayan membersihkan meja makan nya.


"Hari ini mesti ngapain yah? Kalo ada Frans pasti seru." Barbara bergumam sendiri.


Ia duduk di sofa kamarnya sambil bermain ponsel.


"Sayang, Mama janji bakal jagain kamu dengan baik. Kita pasti bisa lewatin semuanya sama-sama." Barbara berucap sambil mengelus perutnya.


Ia kembali memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Ternyata nggak ngapa-ngapain bosan juga." Barbara menggerutu.


Ia akhirnya memutuskan berganti pakaian lalu memoles wajahnya dengan riasan tipis, kemudian menyambar tas selempang nya.


Setelah itu ia turun kebawah hendak pergi.


"Esh, mau kemana?" Barbara berpapasan dengan kepala pelayan dirumah nya.


"Mau belanja Nona. Keperluan dapur udah banyak yang kosong." Esh menjawab sopan.


"Oh, sini aku aja yang belanja. Bosan nggak ngapa-ngapain." Barbara mengeluh.


"Ya udah Nona, maaf repotin." Esh menyerahkan daftar belanjaan dan uang belanjaan nya.


"Udah, duit nya nggak usah, buat lain waktu kamu belanja aja. Aku ambil struk nya aja." Barbara meraih daftar belanjaan dari tangan Esh dan melenggang pergi.


Saat didalam mobil dan hendak menyalakan mesin mobil, Barbara merasakan getaran pada ponselnya.


Ia pun memutuskan untuk melihat siapa yang mengirim pesan pada nya.


Ia meraih ponselnya dari dalam tas lalu membuka ponsel dan pesan yang ia terima.


"Jangan kemana-mana. Aku pengen ketemu sama kamu. Ada hal penting yang mau aku bahas." Isi pesan dari nomor asing.


Barbara mengernyitkan kening nya merasa bingung dengan isi pesan yang ia terima.


"Paling cuma salah kirim lah." Barbara bergumam.


Ia pun menyalakan mesin mobil nya dan segera melajukan dengan kekuatan sedang menuju ke supermarket terkenal di kota nya.


Sepanjang perjalanan Barbara terlihat sangat ceria, ia juga menyalakan musik dari tape di mobilnya dan sesekali bersenandung saat lagu kesukaan nya dimainkan.


Kurang lebih empat puluh menit akhirnya ia sampai di supermarket tujuannya.


Ia memarkirkan mobilnya dengan benar dan turun dari mobil nya.


Beberapa orang menatapnya dengan tatapan kagum.


"Cantik banget."


"Dia model kali ya?"


"Pasti artis terkenal."


"Pengen banget punya body kayak gitu."


Itulah beberapa bisikan yang terdengar, bahkan ada yang berbisik mengatakan Barbara perempuan ramah saat ia beberapa kali tersenyum ketika melewati orang-orang tersebut.


Barbara menarik sebuah keranjang dorong dari tempatnya dan mulai mengelilingi setiap lorong supermarket itu untuk mencari barang-barang yang tertera di daftar belanjaan dari Esh.


"Banyak juga belanjaan nya. Buat stok setahun kali ini." Barbara bergumam geli, tidak menyangka pengeluaran perbulan orang tua nya dirumah ternyata berjumlah sangat besar hanya untuk kebutuhan pokok.


Drrtt drrrtt


Barbara kembali merasakan ponselnya bergetar.


Ia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan meraih ponselnya dari tas nya.


Pesan dari nomor asing tadi lagi.


Barbara mencoba membuka nya.


"Kamu dimana? Aku udah di depan pagar rumah kamu, tapi nggak ada yang bukain." Isi pesan itu.


Barbara menghela nafas kasar. Ia memutuskan untuk menghubungi nomor tersebut.


Namun saat dihubungi nomor tersebut sudah tidak aktif.


"Males banget deh sama orang suka ngerjain gini." Barbara menggerutu sedikit kesal karena merasa dirinya dikerjai.


Barbara memutuskan untuk menggenggam ponselnya sambil memilih barang belanjaan nya.

__ADS_1


Setelah selesai, ia pun segera melangkah ke kasir untuk membayar semua belanjaan nya.


Para ibu-ibu yang mengantri dan pegawai supermarket tersebut menatap Barbara dengan tatapan kagum dan ada juga yang mencibir. Terutama saat melihat Barbara mengeluarkan black card untuk membayar tagihan nya.


"Buset, itu kartu hitam?"


"Kaya banget dia. Udah cantik, body goals, kaya juga. Sempurna banget."


"Pasti perempuan simpenan miliarder nih."


"Atau jangan-jangan perempuan eksklusif di club malam, makanya cantik gitu."


Begitu bisikan yang terdengar.


Barbara memilih tidak menanggapi perkataan mereka.


Selesai melakuka transaksi Barbara memilih tidak langsung pulang, ia ingin cuci mata sejenak.


Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke mal setelah menyimpan barang belanjaan di bagasi mobil nya.


Jarak supermarket tempat ia berbelanja saat ini tidak terlalu jauh, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki menikmati suasana kota kelahirannya.


Hampir tiga puluh menit akhirnya ia sampai di mal itu.


Ia pun masuk kedalam mal itu.


Mata nya berbinar setiap melihat barang-barang yang ada di dalam mal, maklum saja Barbara sudah lama tidak berbelanja terutama sejak mendapat masalah dengan Felix.


Ia menghabiskan waktu nya dengan berkeliling di dalam mal dan membeli barang yang ia inginkan.


Tidak terasa bahkan saat ia keluar dari mal, ternyata hari sudah sore bahkan hampir gelap.


Ia pun segera kembali ke parkiran supermarket tadi dan mempercepat langkah nya dengan membawa beberapa kantong belanjaan nya.


Saat sudah menyimpan semua barang-barang nya di dalam bagasi mobil, ia pun masuk kedalam mobil nya dan hendak menghidupkan mesin mobil nya.


Namun lagi ponselnya bergetar dan ada pesan masuk.


Ia meraih ponselnya dan membuka pesan itu.


"Pulang sekarang atau semua nya bakal terlambat." Isi pesan tersebut yang bernada ancaman dan terdapat foto kedua orang tuanya meringkuk ketakutan serta keadaan ruang tamu yang cukup berantakan.


Barbara seketika merasa khawatir dan takut.


Ia mencoba menghubungi nomor tersebut namun lagi-lagi sudah tidak aktif.


Barbara segera melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah nya.


Namun sialnya ia malah terjebak macet ditengah jalan.


"Ya Tuhan, jangan sampe Papa Mama kenapa-napa." Barbara menggerutu takut.


Menunggu hampir satu jam akhirnya ia berhasil melewati jalanan macet itu, dengan kecepatan penuh ia melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Sampai di rumah ia memarkirkan mobilnya dengan asal.


Ia segera turun dan melangkah masuk kedalam rumah.


Keadaan rumahnya tampak sangat sepi.


Hingga ia melangkah semakin kedalam.


"PAPA MAMA."


...~ To Be Continue ~...


#####


Otak ku sedang sekarat berat, ngetik part ini aja pending sampe beberapa kali.


Maafkan diriku jika part ini ngawur isi nya. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2