Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Penjelasan Felix


__ADS_3

"Hiks...jangan.." Fera mengigau dalam tidurnya.


"Jangan..aku mohon.." Ia kembali memohon sambil terisak bahkan tubuhnya ikut meronta.


"Fera.." Barbara yang kebetulan masuk ke dalam kamar putrinya langsung menghampiri Fera.


"Jangan..jangan..aku mohon..jangan.." Fera terus saja mengigau.


"Fera, Fera ini Mama.." Barbara membangunkan Fera pelan.


"Jangan..MAMA.." Fera langsung tersentak bangun.


"Ma, Fera takut.." Fera langsung memeluk erat Mamanya.


"Ssttt..udah sayang. Mama sama Papa disini jagain Fera. Jangam takut lagi yah.." Barbara menenangkan Fera sambil mengusap pundaknya.


Lama Barbara memeluk Fera hingga Fera merasa lebih tenang.


"Udah? Sekarang Fera mandi, habis itu turun ke bawah kita sarapan. Ayo.." Barbara melepaskan pelukannya dan menuntun Fera turun dari ranjang.


Fera segera masuk ke dalam kamar mandi dan Barbara menyiapkan pakaian untuk putrinya.


Barbara memilih untuk turun lebih dulu dan bergabung dengan yang lainnya.


"Fera mana?" Felix bertanya dengan sedikit khawatir.


"Lagi siap-siap. Bentar lagi juga turun." Barbara menjawab dengan menatap suaminya.


Felix mengangguk paham dan kembali menyantap makanannya.


Tap tap tap


Terdengar suara langkah kaki Fera menuruni tangga.


Semua anggota keluarga tanpa terkecuali langsung menoleh dan tersenyum hangat kepada Fera. Fera membalas dengan senyuman sedikit canggung.


Ia kemudian duduk di samping Denio yang sedari tadi menatap kagum padanya.


Fera memilih mengabaikan Denio dan Denio mencoba mengerti.


Fera pun langsung menyantap makanannya tanpa banyak bicara, Fera selalu menundukkan kepalanya.


Selesai sarapan, Fera hendak kembali ke kamar namun Felix mencegahnya.


"Fer, Papa mau ngomong."


Fera menatap Papanya lama hingga akhirnya ia mengangguk.


"Ayo." Felix merangkul putrinya dan mereka berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Felix.


"Duduk." Felix menuntun putrinya duduk di sofa kemudian ia duduk di atas meja dan berhadapan dengan Fera.

__ADS_1


Felix meraih kedua tangan putrinya dan menggenggamnya erat


"Fer, sebelumnya Papa minta maaf karna kamu harus dengerin itu semua dari orang lain. Papa hanya merasa belum siap untuk cerita sama kamu. Tapi karna kamu udah tau setengahnya, maka Papa harus menceritakan yang sebenarnya." Felix menatap dalam kedua manik rapuh itu.


Fera hanya mengangguk.


Felix pun mulai menceritakan semuanya. Bagaimana dan kenapa ia sempat tidak menginginkan Fera? Sampai bagaimana akhirnya ia mencoba dan berusaha menebus semua kesalahannya hingga hari ini.


"Intinya saat itu pikiran Papa terlalu takut kalau kamu bakal punya masa kecil yang suram kayak Papa. Papa takut nggak bisa berikan kamu kasih sayang. Bukan Papa tidak menginginkan kamu, tapi Papa belum siap waktu itu." Felix mengakhiri ceritanya sedangkan Fera sudah berderai air mata.


"Maafin Papa Fer, Papa salah. Kamu boleh hukum Papa kalo kamu mau." Felix masih setia menggenggam tangan putrinya.


Tanpa Felix duga, Fera melepaskan genggaman tangannya dan memeluknya erat.


"Fera minta maaf Pa. Fera udah sempet salah paham sama Papa." Fera berbicara sesenggukan.


Felix akhirnya bisa bernafas lega karena putrinya masih mau menerimanya.


"Nggak, Fera nggak salah. Papa yang salah. Papa kira dengan tidak menceritakan semuanya dan menebus semua kesalahan Papa, semuanya akan baik-baik aja. Tapi ternyata nggak. Papa minta maaf sayang." Felix mengelus lembut rambut panjang putrinya.


Fera hanya mengangguk dan memeluk erat Papanya.


"Papa, Mama, Om Frans, sama Tante Tasya mau ngajak Dean sama Jacob having fun buat nenangin mereka. Kamu mau ikut?" Felix kini melepaskan pelukannya begitupun Fera.


"Nggak Pa. Fera mau istirahat aja." Fera tersenyum manis.


"Yakin nggak papa tinggal?" Felix menangkup wajah cantik putrinya yang sedikit pucat.


"Ya udah, kamu istirahat gih. Papa sama yang lain mau siap-siap. Nanti kalo ada apa-apa kamu cepet hubungi Papa atau Mama yah!" Felix mengacak pelan rambut putrinya.


"Iya Pa, Fera balik ke kamar dulu." Fera pun keluar dari ruang kerja Felix dengan perasaan sedikit lebih tenang.


Setidaknya ia sudah mengetahui kebenaran tentang Papanya.


Fera kembali ke kamarnya dan duduk bersandar di ranjangnya.


Fera memainkan ponselnya, melihat-lihat beberapa foto pakaian yang bisa ia jadikan sumber inspirasi untuk mendesain


Ceklek


Pintu kamar Fera dibuka dari luar, membuat Fera was-was.


Ternyata pelakunya adalah Denio.


Denio masuk ke dalam kamar Fera dan mengunci pintunya.


"Sayang.." Denio tersenyum jahil dan berjalan menghampiri kekasihnya.


"Nio, ngapain sih dikunci?" Fera bertanya sedikit kesal.


"Biar nggak ada yang gangguin kita bikin baby." Denio menggoda kekasihnya dan kini duduk di samping Fera.

__ADS_1


"Jangan gila!" Fera dengan ketus dan enggan menatap Denio.


Denio pun diam di tempat dan berbaring santai.


"Denio, aku mau batalin pernikahan kita!" Fera tiba-tiba bersuara membuat mata Denio yang semula terpejam kini melotot tajam meski tidak memandang Fera.


"Aku nggak bisa nikah sama kamu!" Fera kembali berbicara dengan mengambil keputusan sepihak.


"Batalin aja! Batalin dan siap-siap kamu lihat mayat aku di depan rumah kamu besok!" Denio mengancam dengan santai.


Ia sudah tahu arah bahasan Fera selanjutnya.


"Aku udah kotor Denio! Aku nggak pantes nikah sama kamu!" Fera menghakimi dirinya sendiri dan berusaha menahan air matanya.


"Lebih kotor lagi kalau kamu milih batalin pernikahan kita!" Denio dengan santai menanggapi.


"Tapi aku udah disentuh orang lain. Aku hina!" Fera masih bersikukuh dengan pemikirannya.


"Ah, gimana kalo aku juga nyentuh atau sekalian tidurin cewek lain biar kita impas. Atau kalo perlu sekalian aku hamilin tu cewek biar aku lebih hina dari kamu. Baru deh kita nikah." Denio kini tersenyum jahil menatap Fera.


"Berani kamu lakuin itu, aku nggak akan maafin kamu!" Fera menatap tajam pada Denio.


"Kan emang aku nggak butuh maaf kamu. Aku lakuin itu biar kita impas dan kita bisa nikah." Denio memasang tampang manisnya dan tersenyum cengengesan.


"Denio...." Fera kini berada di atas Denio dan mencekik Denio namun tidak kuat.


Denio tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada. Ia menahan dan memeluk Fera yang ada diatasnya.


"Jangan pernah berpikir kamu kotor atah hina sayang. Aku mencintai kamu bukan karena keperawanan kamu atau karna hal seksual aja. Aku mencintai kamu karna kamu, kamu segalanya buat aku." Denio berbisik lembut di telinga Fera.


"Tapi aku ... "


"Ssttt..aku nggak peduli! Sekalipun maaf, mereka berhasil per**sa kamu pun, aku tetep terima kamu. Aku cinta sama kamu. Aku nggak bisa tanpa kamu. Jadi jangan berpikir bodoh lagi." Denio kembali berbisik bahkan meniup telinga Fera membuat tubuh Fera meremang.


Fera terharu dan menitikkan air mata.


Dengan cepat Denio membalikkan posisi mereka hingga kini Fera yang berada di bawah.


Dengan lembut Denio membersihkan air mata Fera dengan cara mengecupnya.


Kecupan Denio kini beralih ke bibir mungil Fera.


Mereka berciuman dengan sangat lembut namun panas dan menuntut.


Gairah Denio terpancing.


Ciuman Denio kini menjalar ke leher Fera dan tangan Denio bergerak bebas membuka baju Fera.


Fera tidak ingin menghentikan Denio, dalam pikirannya terserah jika Denio mengambil haknya saat ini. Ia hanya ingin Denio membersihkan kotoran di tubuhnya yang ditinggalkan Harvest.


"Babe, can i?" Denio meminta ijin sambil mencium belahan bukit kembar Fera.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2