Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Itu obat apa?


__ADS_3

Seminggu Kemudian


Kaki Barbara sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat lagi walau masih sedikit pincang dan nyeri.


"Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya." Felix pamit pada Barbara yang masih berada di dalam kamar mandi.


Mendengar Felix akan pergi, Barbara segera keluar dari kamar mandi.


"Kok buru-buru amat?" Barbara bertanya bingung.


"Iya sayang. Hari ini ada rapat penting. Ada investor mau nanam modal gede kalo jadi. Doain aku ya." Felix menjawab girang.


Barbara tersenyum.


Cup


Ia mengecup bibir Felix singkat.


"Bekal semangat buat kamu." Barbara senyum malu-malu.


Felix tersenyum.


Ia merangkul pinggang Barbara, lalu kembali mencium lembut bibir Barbara.


"Ini baru bekal semangat. Kalo yang tadi ampas nya." Felix memandang jahil pada Barbara.


"Ya udah, aku pergi yah. Kamu mau nitip sesuatu nanti?" Felix bertanya lembut.


"Nanti deh aku pikirin. Kalo ada baru aku telpon kamu." Ucap Barbara.


"Ya udah kalo gitu. Aku pergi ya sayang." Felix pamit.


Ia kembali mengecup kening Barbara lalu beranjak keluar dari kamar nya dan segera menuju ke mobil nya.


Barbara menggeleng pelan.


Sepeninggal Felix, Barbara duduk di atas ranjang nya.


Ia memegang perut ratanya.


"Sayang, maafin Papa ya. Mungkin Papa kamu masih butuh waktu yang cukup lama untuk bisa siap nerima kamu." Barbara berbicara pada janin nya.


"Tapi percaya deh sama Mama. Papa kamu pasti sayang sama kamu, jadi kamu nggak boleh ngambek sama Papa ya." Barbara menimpali.


Satu minggu ini Felix memang selalu bersikap manis pada Barbara, namun ia seolah tidak peduli pada janin dalam kandungan Barbara.


Setiap kali Barbara mencoba mengungkit, Felix dengan cepat langsung mengubah topik pembicaraan.


Akhirnya Barbara memilih mengalah dan membiarkan Felix hingga benar-benar siap menerima janin dalam kandungan nya.


Tok tok tok


Pintu kamar mereka diketok dari luar.


Barbara berjalan pelan menuju pintu kamar nya dan membuka nya.


"Ada apa?" Barbara bertanya lembut ketika melihat seorang pelayan sedang berdiri di depan pintu kamar nya.


"Ada yang mencari Tuan Felix dibawah. Saya udah bilang Tuan Felix udah berangkat, tapi beliau nya maksa." Ucap pelayan itu menjelaskan.

__ADS_1


"Siapa?" Barbara bertanya bingung.


"Dia nggak mau nyebut nama nya Nyonya. Tapi dia seorang pria." Jawab si pelayan itu lagi.


"Ya udah, minta dia tunggu. Saya akan kebawah bentar lagi." Titah Barbara pada pelayan itu.


Barbara mengganti pakaiannya menjadi pakaian lebih rapi karena tadi ia masih mengenakan lingerie tidur.


Setelahnya ia segera turun ke bawah untuk melihat siapa pria yang sudah mengganggu itu.


Tampak dari belakang, Barbara merasa seperti mengenal punggung pria itu.


"Frans?" Seru Barbara saat ia sudah tepat di belakang pria itu.


Pria itu berbalik dan tersenyum manis.


"Hai Bar. Apa kabar?" Frans mengangkat satu tangannya.


"Aku baik. Ada urusan apa?" Barbara bertanya seadanya.


"Nggak persilahkan duduk dulu nih?" Frans bertanya penuh percaya diri.


"Em, silahkan duduk." Barbara mempersilahkan ia duduk.


Frans pun duduk, Barbara duduk di hadapannya.


"Jadi ada apa?" Barbara mulai bertanya duluan.


"Nih, kasih ke Felix." Frans menyerahkan sebuah map berwarna biru pada Barbara.


"Ini apaan?" Barbara bertanya bingung.


"Kok kamu yang ngurus?" Barbara bertanya terkejut.


"Haha. Nggak kok. Bercanda. Itu dokumen pengunduran diri aku yang belum sempat aku serahin kemaren, sama surat bukti penjualan saham aku di perusahaannya. Aset yang aku tanam di perusahaan nya aku jual semua ke dia. Setelah ini aku cuma perlu fokus sama perusahaan ku aja." Frans menjelaskan panjang lebar namun suaranya terdengar sendu.


Barbara mengangguk mengerti.


"Bar." Frans memanggil Barbara sendu.


"Em." Barbara menjawab pendek sedikit tersentak.


"Dia nggak nyakitin kamu kan selama seminggu ini?" Frans bertanya sendu sambil menatap lekat pada Barbara yang sibuk merapikan map yang ia berikan tadi.


"Nggak kok." Barbara menjawab seadanya.


Setelah selesai, ia mengangkat kepalanya dan mata nya langsung ditangkap oleh mata tajam Frans.


"Bar, kalo misalnya dia nyakitin kamu lagi gimana?" Frans bertanya masih dengan suara sendu.


"Selama dia nggak nyakitin bayi kami, aku nggak masalah." Barbara menjawab jujur.


"Kalo misal dia justru pengen nyakitin bayi kalian?" Frans kembali bertanya.


Barbara diam sejenak.


"Kalo dia benar-benar sampe lakuin itu, aku nggak bisa terima. Gimana pun bayi kami nggak bersalah." Barbara menjawab tegas kali ini.


Frans mengangguk.

__ADS_1


"Bar, kalo misalnya nanti dia sakitin kalian lagi, jangan ragu ya buat masuk kedalam pelukan aku. Aku janji aku akan nerima kamu dan anak kamu dengan baik. Aku akan didik anak kamu dengan baik agar nggak menjadi seperti kami." Pinta Frans penuh harap.


Barbara terdiam. Ia menatap lekat kedua mata Frans berusaha mencari kebohongan dan rayuan disana, namun nyatanya nihil.


Frans tampak sangat serius.


"Aku nggak bisa janji Frans. Hati, apalagi cinta tuh nggak bisa dipaksa." Barbara menjawab.


"Tapi tubuh bisa Bar. Aku udah pernah bilang kan, tubuh bisa dipaksa dan pada akhirnya perasaan cinta hanya akan tunduk sama pemilik tubuhnya." Frans menjawab tak mau kalah.


Barbara menghela nafas kasar.


Percuma berdebat dengan Frans, tidak akan menemui akhir dan titik kesepakatan.


Frans bangkit dari duduk nya.


"Ingat Bar. Kalo sampe dia nyakitin kamu sekali lagi, aku nggak akan kasih celah buat kalian balikan lagi. Kalo kamu nggak mau masuk kedalam pelukan aku dan jadiin diri kamu milik aku, maka aku akan maksa kamu dengan cara apapun Bar. Aku nggak main-main." Frans berkata dengan tegas, lantang, dan tak terbantahkan.


Ia kemudian melangkah meninggalkan rumah Felix tanpa menunggu jawaban dari Barbara.


Barbara hanya bisa menghela nafas kasar mendengar perkataan Frans yang jelas adalah ancaman.


Sepeninggal Frans, Barbara memilih kembali ke kamar untuk beristirahat karena entah kenapa ia merasa sangat lelah hari ini.


Setelah dikamar, Barbara berbaring di atas ranjang sedangkan pikiran nya berkecamuk.


Perlahan ia pun terlelap.


..........


"Sayang, bangun. Ini udah malam. Kami pasti belum makan malam kab?" Felix membangunkan Barbara dengan lembut.


Barbara tidur dari siang tadi hingga hari malam.


Barbara perlahan membuka matanya dan tersenyum.


Ia perlahan bangun dari posisinya menjadi duduk.


"Sayang, nih aku beliin kamu banyak banget makanan ringan, mie instant, terus ini ada susu buat si bayi." Felix mengeluarkan satu persatu barang belanjaan yang ia bawa dari dalam paper back.


Saat ia mengeluarkan susu ibu hamil untuk Barbara, ada sebotol kecil obat sirup tanpa label yang ikut terbawa keluar hingga jatuh ke atas ranjang mereka.


"Ini obat apa?" Barbara mengambil obat tersebut dan menerawang isi nya.


Felix segera merebut nya dan memasukkan kedalam saku celana nya.


"Bukan obat apa-apa kok. Vitamin aku doang." Felix menjawab gelagapan.


Barbara hanya mengangguk mencoba percaya pada perkataan Felix, walau didalam hati nya ia merasa curiga dan janggal.


"Aku bikinin kamu makanan yah." Felix pamit dan segera turun ke bawah menghindar dari Barbara.


...~ **To Be Continue ~...


*******


Segini dulu ya..diriku udah lima watt matanya. Kalo ceritanya rada ngawur harap maklum.


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**

__ADS_1


__ADS_2