Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Dibunuh/Bunuh diri?


__ADS_3

"Nio, bayi kita..." Fera menangis pilu dalam pelukan Denio. Fera baru saja beberapa jam yang lalu dan sudah dihantam dengan kabar yang begitu menyakitkan.


"Maaf sayang, maaf" hanya itu yang sanggup Denio ucapkan.


"Maaf, apa kami bisa meminta waktunya sebentar?" Sir Erick bersama seorang anak buahnya menghampiri Fera dan Denio. Barbara datang dari belakang Sir Erick dan meminta untuk menemani Fera sementara Denio menepi lebih dulu. Fera mengangguk pelan.


"Boleh saya tau, siapa pelaku penyerangan itu?" Tanya Sir Erick setelah duduk di depan Fera dan Barbara sedangkan anak buahnya bertugas mencatat keterangan yang akan Fera sampaikan.


"Aku engga kenal dia Sir. Aku engga pernah ketemu sama dia sebelumnya" Fera menggenggam erat satu tangan Ibunya. Kejadian menyakitkan itu kembali berputar di otaknya hingga penyiksaan kejam yang ia dapatkan.


"Bisa diceritakan bagaimana pelaku itu menyerang kamu?" Sir Erick kembali bertanya.


"Dia...mereka...dia menyuruh teman-temannya untuk melecehkan saya. Dia merekamnya, dan setelah itu...setelah itu dia pukul saya pake kursi" Fera memejamkan matanya dan tubuhnya bergetar ketakutan.


"Bisa kamu ingat berapa jumlah mereka?" Sir Erick menatap Barbara tidak enak hati karena harus menyiksa putri dari wanita yang pernah ia sukai dengan pertanyaan yang berat.


"Mereka...mereka lims orang. Yang satu sepertinya masih mahasiswi, dan yang empat aku kurang yakin" Fera kini menatap Ibunya yang tersenyum tipis dan mengangguk seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Baik, untuk sementara cukup segini dulu. Kalo ada yang ingin disampaikan lagi, kamu bisa hubungi kami. Kami pamit, cepet sembuh Fera" Sir Erick tersenyum dan keluar dari ruangan itu.


"Nio..." Fera memanggil Denio yang hendak pergi. Denio berhenti tapi tidak berbalik. Barbara menuntun Fera untuk berjalan menghampiri pria itu lalu Barbara keluar dari ruangan itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fera meraih kedua tangan Denio. Denio tidak menjawab tapi Fera bisa menebak jawaban suaminya itu dari tatapan matanya. Tatapan Denio menyiratkan luka dan kemarahan bersamaan.


"Jangan ya sayang! Biarkan polisi yang menghukum mereka. Aku mohon!" Fera memeluk Denio erat.


"Tapi..."


"Sayang, apa kamu pernah berpikir dengan semua yang kamu lakukan? Kamu membunuh mereka, kamu puas. Tapi kamu engga pernah tau setelah itu akan ada keluarga mereka yang benci sama kamu dan akan menuntut balas dendam sama kamu. Orang-orang yang kamu sayangi pasti jadi sasaran mereka. Udah cukup selama ini Nio, berubah ya" Fera mencoba bernegosiasi dengan suaminya.


Fera sangat tidak ingin jika suaminya kembali harus membunuh untuk menyelesaikan masalah. Meski kelima wanita itu memang harus diadili, tapi bukan Denio yang harus melakukan itu. Fera ingin menyerahkan semuanya kepada hukum, biar hukum yang mengadili mereka.


"Maaf...maaf..." Hanya itu yang mampu Denio ucapkan seraya membalas pelukan istrinya.

__ADS_1


"Aku maafin. Tapi jangan pernah lakuin itu lagi! Sekarang mau kan temenin aku?" Fera mencoba untuk tersenyum. Ia tahu jika ia terus menunjukkan lukanya pada Denio, hal itu akan membuat keinginan membunuh Denio semakin besar.


"Em..ayo..aku temenin kamu" Denio menggendong istrinya dan membaringkan Fera dengan berhati-hati. Setelah itu ia menemani Fera hingga istrinya itu kembali terlelap.


"Aku engga akan lakukan dengan tanganku sayang! Tapi nyawa harus diganti dengan nyawa!" Denio mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memutuskan menghubungi seseorang.


"Erico, aku butuh bantuan kamu!" Suara Denio terdengar begitu menakutkan.


"Apa?" Tanya pria bernama Erico itu dari seberang panggilan.


"Cari wanita bernama Anneth dan keempat temannya. Habisi mereka tapi buat seolah-olah mereka bunuh diri!" Denio memberi perintah dengan sisi psiko nya.


"Okay. Tunggu kabar baik dariku!" Erico pun mengakhiri panggilan itu setelah menyanggupi perintah Denio.


"Selamat menemui nerakamu Anneth!" Batin Denio yang sangat yakin pelakunya adalah Anneth meski Fera enggan menyebut secara gamblang karena memang Fera juga tidak mengenal wanita itu. Denio kembali mendampingi istrinya dan berbaring di samping Fera memeluk erat wanitanya hingga ia ikut terlelap.


••••••••••


"Frans, gimana?" Felix masuk ke dalam ruangan kerja Frans dengan tergesa-gesa.


"Brengsek!" Felix mengumpat kasar.


"Kamu yakin mereka bunuh diri?" Felix bertanya menyangsikan.


"Enggak! Aku yakin mereka dibunuh, tapi dibuat seolah bunuh diri!" Frans mengangkat bahunya acuh.


"Siapa yang bisa melakukan itu?" Felix bergumam tak percaya.


"Engga tau. Tapi yang jelas pasti orang yang berpengalaman" Frans menunjukkan foto-foto jasad Anneth dan keempat temannya yang mati mengenaskan dengan cara yang berbeda.


"Arghh.." Felix mengusap kasar wajahnya.


"Harusnya aku yang bunuh mereka!" Felix keluar dari ruangan Frans tanpa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


"Fel, kamu mau kemana?" Barbara melihat suaminya terburu-buru.


"Mau jemput Dean sama Kaina sekalian jenguk Fera" Felix menjawab malas. Bukan malas dengan istrinya, ia sedang tidak mood karena mangsanya mati di tangan orang lain.


"Aku ikut ya." Barbara segera menyusul suaminya.


"Ah...tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku pengen kamu..." Felix menarik istrinya sedikit kasar menuju kamar mereka. Barbara yang paham dengan kondisi hati suaminya pun dengan senang hati menyenangkan Felix.


••••••••••


"Dean, kita engga ke rumah sakit jenguk kak Fera?" Kaina bertanya dengan lembut. Mereka hanya berduaan di rumah Denio dan Fera.


"Engga tau. Papa sama Mama belum datang jemput" Dean menjawab santai sambil memainkan ponselnya.


"Kasian banget kak Fera. Semoga aja dia dikasih dedek bayi lagi secepatnya" Kaina menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kaina..." Dean memanggil gadis itu hingga tatapan mereka bertemu. Perlahan Dean mengikis jarak wajah mereka hingga akhirnya bibir keduanya saling menempel.


"Kita nikah yah kalo udah dewasa nanti" Dean menggenggam tangan Kaina.


"Iya.." Kaina yang polos dan belum paham banyak hal pun mengangguk.


"Janji kan? Jangan ingkar janji loh!" Dean mengangkat jari kelingkingnya dan disambut Kaina dengan menautkan jari kelingkingnya juga.


"Janji De. Kalo aku ingkar janji, kamu boleh hukum aku" Kaina tersenyum begitu manis.


"Hei, janji-janji apa nih?" Suara seorang lelaki mengganggu ketenangan dua anak remaja itu.


"Jacob?" Kaina memekik girang dan langsung menghampiri sepupu Dean itu.


"Hai sayang.." Jacob dengan centil mengecup pipi Kaina.


"Ih, Jacob nakal" Kaina terkekeh sambil mengelus pipinya.

__ADS_1


"Kaina!" Dean membentak anak gadis itu dan langsung menghampiri Kaina lalu menarik Kaina meninggalkan Jacob sendiri.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2