Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Sir Erick?


__ADS_3

"Hoam." Barbara menguap lebar.


Ia baru terbangun dari tidurnya pagi ini.


Ia mengangkat tangannya menggerakkan tubuh nya ke kanan dan kiri untuk merenggangkan otot nya yang kaku.


Ia turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu balkon nya, kemudian ia membuka pintu itu dan keluar ke balkon nya untuk merasakan udara pagi yang segar.


"Selamat pagi anak Mama." Barbara berucap sambil mengelus perutnya.


Barbara mulai bisa tersenyum lepas.


"Siapa yang nelfon pagi gini?" Barbara menggerutu pelan saat ia mendengar bunyi ponselnya.


Ia berjalan masuk kembali ke kamar nya dan meraih ponselnya.


Ia tersenyum melihat si pemanggil adalah Frans.


"Em." Barbara berdehem singkat saat menjawab panggilan video dari Frans.


"Eh, ratu hati ku ternyata udah bangun. Kirain masih mimpiin aku." Frans menggoda kekasihnya.


Barbara memutar malas matanya.


"Nggak usah gombal." Barbara berucap ketus.


Frans hanya terkekeh.


"Sayang, bentar lagi nih aku udah mau take off. Sekarang udah di bandara." Frans memutar kamera ponselnya agar Barbara bisa melihat sekeliling nya.


"Iya hati-hati." Barbara berpesan.


"Nggak kangen aku gitu? Nggak ada bekal nya. Harusnya kemarin aku minta bekal dulu baru berangkat." Frans berucap dengan nada mesum nya lagi.


"Frans, please ya sekali aja pikiran kamu tuh dikondisiin. Mesum mulu isi nya." Barbara mengomeli kekasih nya.


Frans lagi-lagi terkekeh.


"Emang urusan apa sih yang bikin kamu mesti pulang mendadak gini?" Barbara bertanya bingung dan penasaran.


"Biasa urusan kerjaan. Ada tugas dari klien yang mesti aku batalin makanya mesti aku turun tangan langsung." Frans menjawab santai.


Barbara mengangguk mengerti.


"Ya udah deh sayang, nanti lagi kalo udah sampe aku kabarin yah. Kamu jaga kesehatan sama baby. Jaga mata, jaga hati, pokoknya jaga semua nya." Frans berpesan.


"Iya bawel." Barbara menjawab singkat sedikit ketus.


"Ya udah, aku tutup ya. Love you sayang." Frans meminta ijin.


Barbara hanya mengangguk pelan.


"Kok nggak dibalas?" Frans bertanya sendu.


"Love you too Frans tersayang, tercinta ku." Barbara menjawab dengan nada yang dibuat kesal.

__ADS_1


Frans tersenyum, dan panggilan pun berakhir.


Barbara kembali keluar ke balkon nya dan berdiri di sana.


"Fel." Barbara kembali mengingat Felix.


Barbara tetap saja masih merindukan pria yang sudah menyakiti nya itu walau tidak sebesar dulu.


"Bar." Suara Fanco membuyarkan lamunan nya.


"Eh, iya Pa." Barbara berbalik dan menghampiri Ayahnya.


"Ikut Papa ngantor yuk. Mama hari ini mesti ke toko bakery nya lagi. Masa kamu sendirian di rumah." Fanco mengajak putrinya agar ikut ke kantor bersama nya.


Barbara tampak berpikir sejenak.


"Iya deh Pa. Bar mau." Barbara pun menyetujui ajakan Fanco.


"Ya udah. Kamu siap-siap gih. Papa tunggu di bawah. Kita sarapan bareng baru berangkat." Fanco mengecup sayang kening putrinya lalu keluar dari kamar putrinya.


Barbara pun bersiap setelah Ayahnya keluar dari kamar nya.


Ia mengenakan pakaian yang sedikit longgar walaupun perut nya belum tampak membesar.


Setelah selesai merias wajah nya dengan make up tipis, ia pun turun ke bawah dan bergabung bersama orang tua nya untuk sarapan.


"Bar, mending kamu pikirin kapan kamu mau gantiin posisi Papa di perusahaan." Kimberly memberi saran pada putrinya.


"Masih ngarepin Bar?" Barbara bertanya ragu.


"Ya, kalo misalnya nanti Bar beneran jadi sama Frans kan Bar pasti ngikut dia." Barbara mencoba menghindar dari tanggung jawab nya.


"Em, gini. Kalo emang terbukti Frans serius sama kamu, Papa bakal pindahin semua aset Papa atas nama kalian." Fanco berbicara serius.


"Nggak usah Pa. Mending Papa nanti berikan ke yang membutuhkan. Yayasan amal kan banyak di kota ini. Papa bisa bagiin ke mereka." Barbara memberi usul.


"Ya itu juga. Tapi tetap aja, Papa mau kamu yang pegang kendali. Semua buat kebaikan kamu dan anak kamu Bar. Papa pengen nanti masa depan cucu Papa terjamin." Ucap Fanco serius.


Barbara hanya mengangguk pasrah.


Jika pembicaraan sudah mengarah pada janin nya, ia hanya bisa menerima jika itu hal positif.


Mereka pun melanjutkan sarapan mereka tanpa pembicaraan lagi.


Selesai sarapan Fanco dan Barbara segera berangkat ke perusahaan utamanya yang bergerak di bidang jasa.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan diantara mereka.


Tak lama kemudian mereka pun sampai.


Saat akan masuk kedalam perusahaan itu, pandangan mata Barbara justru tertuju pada hotel bintang lima yang tak jauh dari perusahaan Papa nya.


Hotel yang pernah menjadi tempat ikrar janji dan sumpah darah antara dirinya dan Felix.


"Pa, Bar kesana dulu bentar." Barbara pamit dengan Ayahnya dan menunjuk asal sebuah cafe agar Ayahnya tidak curiga.

__ADS_1


Fanco mengganggu dan masuk kedalam perusahaannya setelan Barbara melenggang pergi.


Barbara berjalan kaki menuju ke hotel tersebut.


Saat masuk ke lobi, langkahnya menjadi lebih pelan.


Ia menelisik pada setiap sudut ruangan lobi hotel itu.


Otak nya kembali mengingat saat ia dan Felix mengucapkan janji suci di lobi itu yang saat itu didekor sedemikian rupa menjadi panggung altar pernikahan mereka.


Barbara tersenyum miris, tatkala mengingat kenangan indah yang kini justru membuat nya terluka.


Ia kemudian berjalan masuk kedalam lift dan menekan angka pada panel lift yang akan membawa nya naik keatas rooftop.


Tak lama ia pun sampai di atas rooftop hotel itu.


Dua kejadian ia ingat bersamaan.


Pertama saat ia dan Felix bersumpah darah, dan yang kedua saat Felix dijebak seolah membunuh seseorang.


Barbara tersenyum miris dan berjalan hingga ketepian rooftop.


Ia memejamkan matanya sejenak dan merentangkan kedua tangannya untuk merasakan hembusan angin yang cukup kuat.


Ia kemudian menurunkan tangannya dan membuka matanya, lalu menaruh kedua belah telapak tangannya di masing-masing kiri dan kanan pipi nya.


"Felix, mulai detik ini aku bakal lupain kamu. Lupain semua kisah yang kisah yang pernah kita rangkai. Lupain semua janji yang pernah kita ucapkan. Aku bakal jalanin hidup aku sendiri. Aku nggak bakal berharap apapun lagi sama kamu." Barbara berteriak sekencang kencangnya meluapkan segala isi hati nya mewakili rasa sakit nya.


"Makasih buat semuanya. Makasih buat kado terindah yang kamu kasih buat aku. Aku bakal rawat dan didik dia dengan baik." Barbara kembali berteriak.


Setelah dirasa cukup, Barbara pun memilih untuk duduk sejenak di kursi yang ada disana sambil menikmati hari yang cerah.


"Ada yang lagi patah hati nih kayak nya?" Terdengar suara berat dari arah belakang Barbara.


Barbara menoleh, namun karena cahaya matahari yang sedikit silau membuat ia agak kesulitan melihat jelas wajah pria itu.


"Siapa kamu?" Barbara bertanya dengan segala keberanian nya.


Hati nya mulai tidak tenang, takut kalau-kalau itu adalah Felix.


"Kita ketemu lagi Nona Barbara." Pria itu melangkah semakin mendekat pada Barbara membuat Barbara sontak berdiri dari tempat duduknya.


"It's me, Sir Erick." Pria itu tersenyum manis didepan Barbara.


"Sir Erick?"


...~ To Be Continue ~...


#######


lagi nggak konsen, jadi ngetik seadanya aja.


Maaf kalo kerasa aneh.


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2