
**NOTE : 21+++ yang terputus
...Harap Bijak Memilih Bacaan!!!...
Yang puasa tahan dulu, yang gak kuat iman skip aja.
...~ Happy Reading** ~...
.
.
.
.
.
"Frans, lepas." Barbara berusaha mendorong tubuh Frans melepaskan nya saat Frans sudah terlalu lama memeluk nya.
Frans menurut, ia melonggarkan pelukan nya.
"Frans, aku minta lepas bukan cuma dilonggarin." ,Barbara protes.
"Nggak akan sayang. Aku nggak akan pernah lepasin kamu." Frans ngotot.
"Ya ampun, apa sih mau kamu?" Barbara terus berusaha mendorong Frans agar melepaskan nya namun tidak berhasil sama sekali.
"Aku mau kamu." Frans menatap dalam mata Barbara.
Deg
Entah kenapa jantung Barbara berdegup kencang.
"Aku nggak mau." Barbara menolak dengan tegas.
"Kamu harus tau Bar, aku nggak bisa nerima penolakan. Semakin kamu nolak aku, aku akan semakin gigih dapatin kamu dengan cara apapun." Frans berkata seolah mengancam.
"Kok malah maksa. Perasaan tuh nggak bisa dipaksa Frans." Barbara malah menasehati Frans.
"Kalo perasaan nggak bisa dipaksa, tubuh bisa. Dan pada akhirnya perasaan cuma akan ngikut si pemilik tubuh." Frans tidak menyerah.
"Nggak semudah itu Frans." Barbara mulai berbicara lembut.
Entahlah tapi rasanya ia seakan mulai nyaman salam dekapan Frans.
"Nggak mudah kan? Bukan nggak bisa." Frans kini melepaskan pelukan nya.
Ia turun dari ranjang, kemudian berjalan kearah pintu dan mengunci pintu ruangan itu.
Barbara lemas di tempat, pupus sudah harapan nya untuk kabur.
Frans kemudian melepaskan kemeja nya dan menaruh nya diujung ranjang. Ia meraih rokok dari saku celana nya dan hendak membakar nya.
"Frans nggak usah ngerokok." Barbara protes.
Frans malah salah paham. Ia menyimpan kembali rokoknya dan mendekati Barbara.
__ADS_1
"Kamu peduli sama aku Bar. Kamu nggak pengen liat aku sakit." Frans menyatukan kening nya denga Barbara.
Barbara menghela nafas kasar.
"Kok malah kepedean ini anak." Barbara membatin.
"Frans, aku larang kamu rokok bukan peduli sama kamu. Tapi karena aku nggak sanggup ngisap asap rokok. Bisa mati." Barbara mendorong Frans kasar agar menjauh.
Frans seketika menjadi sendu. Ia duduk di hadapan Barbara diatas ranjang yang sama.
Barbara bingung dengan perubahan ekspresi yang sangat cepat dari Frans.
Sepertinya Frans punya lebih dari satu wajah.
"Aku mau kamu Bar. Aku pengen milikin kamu." Frans berucap sendu.
"Kamu bukan mau aku. Kamu sebenarnya mau sesuatu yang Felix miliki." Barbara menyanggah perkataan Frans.
Frans kini tersenyum sinis, dan menatap Barbara dengan tatapan menelanjangi.
"Astaga Tuhan, cabut nyawa ku aja. Dia bahkan lebih ngeri dari Felix." Barbara meminta dalam hati.
"Kamu mau tau, kenapa aku pengen banget bersaing sama dia?" Frans mengatakan pertanyaan yang tentu saja membuat Barbara penasaran.
"Apa? Awas ya kalo alasan kamu tuh nggak masuk akal." Barbara menunjuk galak pada wajah Frans.
Frans kini tersenyum manis melihat tingkah lucu Barbara.
"Karena dia adik ku." Frans berucap pelan.
"Gila." Barbara berucap histeris.
"Cerita nya panjang Bar." Frans berucap sendu.
Kini ia duduk sedikit membungkuk dan saling menggenggam kedua tangan nya erat.
"Ya udah dipendekkin aja." Barbara asal berkata.
Frans malah tertawa kecil, menanggapi arti lain dari perkataan Barbara yang menjurus ke hal mesum.
"Mama aku dulu nya selingkuhan Papa dia. Papa dia nikah sama Mama dia hampir dua tahun tapi belum punya anak. Akhirnya Papa dia mulai mencari perempuan lain yang bisa ngasih dia keturunan, akhirnya ketemu sama Mama aku. Mereka kemudian menjalin hubungan terlarang sampe setahun kemudian aku lahir. Mama nya nggak pernah tau hubungan terlarang ini. Saat aku berumur tiga tahun, Felix lahir. Anugrah memang untuk dua orang tua itu. Perlahan Papa nya mulai nggak peduli sama kami. Sampe satu saat, Mama nya mutusin buat adopsi satu anak laki-laki yang umur nyaa sebaya dengan aku." Frans berhenti sejenak dan menatap Barbara.
Barbara berbinar, antusias mendengar semua perkataan Frans.
Frans akhirnya kembali melanjutkan perkataannya.
"Papa nya nggak setuju dan nggak suka sama itu anak. Tapi Mama nya kekeh mau adopsi itu anak. Akhirnya Papa nya marah dan pergi dari rumah, balik kerumah Mama aku. Tapi bukan berarti Papa nya baik dan sayang sama kami. Papa nya cuma jadiin Mama aku pelampiasan nafsu nya aja. Lalu perlahan Papa nya juga serong sama banyak perempuan. Aku udah tahan semua nya sampe aku umur lima belas tahun dengan gilanya aku bunuh Mama aku sendiri. Mama aku terlalu naif dan percayaan sama Papa dia." Frans kembali menghentikan perkataannya.
Barbara kesal. Barbara tidak suka orang yang cerita setengah-setengah.
Frans kembali melanjutkan perkataannya lagi.
"Ternyata di hari yang sama dia juga ngebunuh Papa Mama nya. Itu yang membuat aku pengen terus bersaing sama dia. Aku marah kenapa aku cuma punya satu orang untuk dibunuh sedangkan dia bisa dua." Frans kini benar-benar menghentikan perkataannya.
Barbara merasa iba.
Barbara mendekati Frans dan perlahan memeluk nya.
__ADS_1
"Udah jangan sedih." Barbara menenangkan Frans.
Barbara walaupun galak dan pemberani, tapi dia juga punya hati yang lembut.
Frans merasakan nyaman nya pelukan Barbara yang sial nya malah memancing tubuh bawah nya menegang.
"Bar, please. Aku pengen." Frans meminta pada Barbara seolah Barbara adalah wanitanya.
Barbara langsung melepaskan pelukan nya.
"Nggak. Gila kamu ya. Ternyata benar kata Felix ya, kamu tuh pake topeng kemana-mana." Barbara memaki Frans dan mengundang amarah Frans.
Frans perlahan mendekati Barbara, Barbara semakin mundur ke belakang.
"Frans jangan macam-macam atau aku teriak." Barbara mengancam sambil menunjuk wajah Frans.
"Teriak aja. Aku justru menantikan kamu teriak dibawah ku." Frans sigap menarik kaki Barbara dan langsung naik keatas tubuh Barbara.
Barbara menggeleng kuat.
Dengan brutal Frans mencumbu Barbara.
"Frans aku mohon, jangan." Barbara memohon dan terisak.
"Sssttt." Frans menempelkan pisau yang entah sejak kapan ada ditangan nya pada bibir Barbara.
Kemudian ia kembali mencumbu tubuh Barbara dengan lembut dan mengoyak pakaian Barbara dengan pisau nya.
Frans menghentikan sejenak aksinya dan menatap tubuh Barbara yang setengah polos.
Panas, itu yang dirasakan Frans.
Barbara menangis tanpa suara, air matanya mengalir deras. Namun Frans tidak lagi iba.
"Ssttt. Jangan nangis sayang. Nggak akan sakit." Frans menghapus air mata Barbara dengan bibir nya.
Perlahan ia kembali mencumbu Barbara dengan lembut, membuat Barbara kini ikut terpancing.
Tubuh Barbara bereaksi walau hatinya menolak keras. Barbara mencengkeram kuat kasur dibawahnya.
Frans melepaskan pakaian dalam Barbara dengan pisau miliknya.
Terlalu indah, itu yang ada dalam pikiran Frans.
"Aku pengen kamu Bar." Frans menghentikan sejenak aksinya kemudian menatap lekat setiap lekuk tubuh yang terekspos sempurna didepan nya.
Frans meraih ponselnya lalu memotret tubuh polos Barbara. Barbara berusaha menghindar, namun semakin menghindar, Frans semakin bergairah dan terus memotret nya dari segala sisi. Ingat, Frans adalah fotografer.
"Jangan Frans aku mohon. Aku nggak mau nyakitin Felix." Barbara kembali memohon, berusaha untuk turun dari ranjang.
Namun dengan cepat kakinya kembali ditarik oleh Frans, apalagi setelah mendengar nama Felix, amarahnya semakin memuncak.
...~ **To Be Continue ~...
*********
Stop dulu deh..
__ADS_1
Like dan komentar jangan lupa yah.
Makasih**.