Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kecurigaan


__ADS_3

Enam Bulan Kemudian


Tidak terasa enam bulan telah berlalu, itu artinya baby Fera juga sudah memasuki usia enam bulan.


Selama Enam bulan Barbara menjaga dan merawat nya sendirian, Harvest dan Mario beberapa kali menawarkan jasa baby sitter untuknya namun Tasya selalu menghasutnya secara diam-diam agar ia menolak.


Selama enam bulan ini Felix selalu rutin menjalani sesi pengobatan dengan psikiater nya. Jika ia merindukan Barbara dan bayi mereka, ia akan mencuri waktu untuk bertemu mereka.


Selama enam bulan ini juga Frans tidak berhenti berjuang untuk mendapatkan perhatian dan cinta Barbara, bahkan Mario saja tidak segencar dirinya.


Selama enam bulan Barbara meminta Adela untuk menggantikan dirinya dalam mengurus K'Agency dan tidak dipungkiri perusahaan agensinya berkembang pesat.


Hanya saja, hal tersebut tidak terjadi pada perusahaan peninggalan Ayahnya yang justru mengalami penurunan. Bahkan sudah enam bulan ini, laporan keuangan yang Barbara dapat menyatakan perusahaan tersebut mengalami kerugian.


Seperti saat ini, Barbara sedang berada didalam ruangan kerjanya dirumah nya dan membaca setiap laporan yang Harvest bawakan, terutama laporan keuangan.


"Kenapa bisa kayak gini sih Har? Bukannya kamu itu selalu teliti? Kenapa sekarang mengalami kerugian lagi?" Barbara bertanya kesal.


"Maaf Bar, tapi kami di perusahaan udah kerja maksimal loh. Dan juga bagian operasional kita banyak yang rusak, jadi mesti banyak diganti." Harvest mencari alasan.


Kenyataan sebenarnya adalah, ia sendiri yang sudah menyelewengkan uang perusahaan Barbara kedalam rekening pribadinya.


"Alasan yang sama." Barbara membatin.


"Yaudah, gini aja. Aku mau minta laporan pengeluaran secara detail dan juga pemasukan." Barbara menuntut.


"Em, iya Bar. Aku usahakan ya. Soalnya kita tiap akhir bulan tutup buku, pasti akan menghancurkan semua bukti transaksi selama bulan itu dan semua itu udah peraturan dari mendiang Papa kamu terdahulu." Harvest kembali beralasan.


"Em..aku percaya sama kamu Har." Barbara berucap dengan sengaja.


"Iya Bar, aku nggak bakal bikin kamu kecewa kok." Harvest dengan tanpa rasa bersalah mengatakan itu.


Harvest bahkan melirik Barbara dengan tatapan bergairah.


Barbara cukup mengerti akan tatapan itu.


"Sepertinya aku mesti coba cara baru." Barbara bergumam dalam hati.


"Gerah banget ya." Barbara berkata dengan nada sensual sambil melepaskan cardigan yang ia kenakan hingga menampakkan lingerie sexynya.


Harvest menelan salivanya dengan susah payah.


Barbara melangkah kedepan Harvest dengan gerakan sensual dan duduk di sofa.


"Sini Har. Aku pengen ngobrol sama kamu dan pengen ngenal kamu lebih jauh." Barbara sengaja memancing.


Harvest menurut.


Ia duduk di samping Barbara dan sedikit melonggarkan dasinya.


"Har, kamu nikah sama Adela udah berapa lama?" Barbara bertanya.


Barbara selalu menggunakan nada dan suara sensual saat berbicara dengan Harvest, berbeda dengan tadi.


"Sekitar tiga empat tahun mungkin." Harvest menjawab acuh.


Barbara duduk mendekati Harvest dan sengaja memegang paha Harvest.


"Belum berniat punya anak?" Barbara kembali bertanya.

__ADS_1


"Pengen. Tapi bukan sama dia." Harvest menjawab dengan tangannya satu merangkul pundak mulus Barbara.


"Emang kamu mau sama siapa?" Barbara bertanya lagi.


Harvest mendekati telinga Barbara dan berbisik "Sama kamu."


Barbara tersenyum pura-pura malu.


Harvest langsung membaringkan Barbara dibawahnya dan hendak mencumbu Barbara.


"Nyonya." Suara Tasya menghentikan aksi Harvest.


Harvest menatap Tasya dengan penuh kebencian sedangkan Barbara bersikap santai.


"Maaf Nyonya, Tuan Felix sedang menunggu dibawah." Tasya berucap dengan suara gemetar menahan air matanya.


"Oke, bentar lagi aku turun." Jawab Barbara.


"Kita lanjut lain kali." Ucap Harvest kesal lalu meninggalkan ruangan Barbara dan menyenggol kuat pundak Tasya.


"Maaf Tas, itu semua nggak seperti yang kamu lihat." Barbara berucap pelan lalu meninggalkan Tasya yang mematung mencerna ucapan Barbara.


Barbara segera turun kebawah untuk menemui Felix.


"Sayang." Barbara berteriak pelan dan langsung memeluk Felix.


"I miss you." Felix membalas pelukan Barbara tak kalah erat.


"Kamar yuk." Barbara menarik tangan Felix setelah melepaskan pelukan mereka.


"No Bar! Nggak bisa sekarang. Aku udah janji sama diriku sendiri, aku harus pulih dulu." Felix menyalah artikan ajakan Barbara.


"Kita lihatin Fera, bukan mesum." Barbara menjawab ketus.


Mereka pun melangkah hingga masuk ke dalam kamar Barbara.


"Anak Papa." Felix langsung menghampiri baby Fera yang ternyata masih terlelap.


"Yah, dia masih tidur." Felix mendesah kecewa.


"Ya udah sama Mamanya aja." Barbara menggoda Felix dan berbaring diatas ranjang.


Felix tersenyum dan menghampiri Barbara lalu bergabung dengannya.


"Kangen kamu Bar." Felix mengeluh pelan lalu memeluk Barbara.


Barbara mengusap lembut rambut Felix tanpa berkata apapun.


"Fel." Barbara memanggil Felix pelan.


"Em." Felix berdehem lembut.


"Gimana kalo seandainya aku deketin Harvest atau Mario dan goda mereka dengan tubuh aku agar mereka mau mengatakan kebenaran sama aku. Aku yakin kematian Papa sama Mama berkaitan sama mereka." Ungkap Barbara meminta persetujuan Felix.


"Nggak. Aku nggak setuju. Pake cara lain." Felix menyatakan keberatan dan semakin memeluk erat Barbara.


Barbara mendengus kecewa.


"Masih banyak cara lain sayang. Kenapa kamu nggak minta bantuan dari Sir Erick." Felix memberi usulan.

__ADS_1


Barbara menurut dan meminta Felix meraih ponselnya dari atas nakas.


Ia mencoba menghubungi Sir Erick, dan ternyata terhubung.


"Hei Nyonya, kamu ganggu kami tau gak?" Sir Erick menggerutu kesal.


"Pasti lagi bikin anak." Barbara terkekeh.


"Cepetan ngomong, udah nanggung nih." Sir Erick kembali mengomel, padahal sebenarnya ia dan istrinya baru akan mulai.


"Aku mau minta tolong kamu bantu aku menyelidiki kasus kematian Papa sama Mama aku lagi." Barbara langsung to the point.


"Iya." Sir Erick langsung mematikan panggilan secara sepihak.


"Mesum juga dia." Barbara bergumam.


"Ya kalo sama istri sendiri wajar kali." Felix menimpali.


"Sayang, aku punya sesuatu buat kamu." Felix mengeluarkan sebuah gulungan dari saku jas nya.


"Ini, kamu simpan." Felix memberikan gulungan tersebut pada Barbara.


Barbara membuka gulungan tersebut perlahan dan membulatkan matanya melihat isi gulungan tersebut.


"Ini..?" Barbara bertanya tak percaya dan terharu.


"Em..sekarang kita resmi suami istri lagi." Felix menjawab lembut.


Barbara tidak berkata apapun dan memeluk erat Felix yang kini kembali resmi jadi suaminya.


"I love you Bar, always." Ungkap Felix.


"Me too Fel, i love you too." Ungkap Barbara mengecup kening suaminya.


"Apa kamu securiga itu sama Harvest dan Mario?" Felix bertanya penasaran pada istrinya.


"Bukan curiga lagi. Aku emang ngerasa ada yang gak beres sama mereka. Dan aku juga rasa Tasya tau sesuatu." Barbara mengungkapkan pikirannya.


"Kenapa nggak coba tanya sama Tasya?" Felix memberi usul.


"Nggak segampang itu Fel. Kita nggak pernah tau sejauh apa Tasya tau akan hal ini? Atau seberapa berbahaya Tasya?" Ucap Barbara.


Felix mengangguk mengerti.


"Istri cantik ku udah bisa jadi detektif kayaknya." Felix menggoda Barbara dengan mencubit pelan hidungnya.


Barbara hanya terkekeh.


Felix kemudian melepaskan pelukannya lalu menghadap ke box baby Fera.


"Anak Papa bangun dong." Felix menggoyang pelan box baby Fera.


"Udah jangan diganggu kalo dia tidur. Mending kamu juga istirahat. Dia pasti kecapekan karna udah aktif mau main dan tadi main sama Tasya." Felix memukul geram lengan Felix.


"Ya udah, aku tidur. Tapi peluk." Felix pasrah bersyarat.


Barbara menurut dan langsung memeluk suaminya.


Felix menggeser posisinya sedikit turun dan menenggelamkan wajahnya pada dada Barbara dan perlahan pun terlelap.

__ADS_1


"Dasar bayi tua." Barbara mengusap lembut kepala Felix dan mengecup kening suaminya penuh cinta.


...~ To Be Continue ~...


__ADS_2