
Dua Bulan Setelah Pernikahan Felix dan Barbara.
Tak terasa dua bulan sudah Felix dan Barbara menikah, yang itu artinya sudah tiga bulan berlalu sejak pertemuan mereka.
Pagi menjemput, menggantikan malam.
"Fel, geserin tangan kamu. Aku mau ke kamar mandi." Barbara berusaha menggeser tangan Felix yang melingkar sempurna di perutnya
Felix tidak bergeming dan malah semakin memeluk nya erat.
Uek..
Barbara tiba-tiba merasa ingin muntah.
Ia tidak tahan lagi.
Dengan sekuat tenaga ia mengangkat tangan Felix dan menghempaskan agak kasar.
Segera ia turun dari ranjang dan berlari masuk kedalam kamar mandi, tanpa peduli keadaan nya yang tidak berpakaian.
Mereka tadi malam habis melakukan pertempuran panas.
Uekk..uekk
Barbara mengeluarkan semua isi perutnya.
Felix yang mendengar suara gaduh dikamar mandi pun segera bangun dan menghampiri istrinya.
"Sayang kamu nggak apa-apa?" Felix bertanya khawatir.
Ia memijit sesekali menepuk pelan punggung istrinya.
Barbara hanya mampu menggeleng.
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Barbara duduk lemas bersandar pada dinding kamar mandi.
Felix sigap menggendong istrinya kembali ke kamar lalu memakaikan pakaian pada tubuh polos Barbara.
Setelah selesai, ia membaringkan Barbara dengan hati-hati.
"Kamu istirahat aku bikinin makanan sama minuman hangat dulu." Felix pun menyambar asal celana dan bajunya untuk ia kenakan lalu berjalan turun ke dapur untuk membuatkan makanan untuk istrinya.
Ia memasak beberapa makanan kecil dan juga minuman hangat untuk istrinya.
Setelah selesai, ia menyusun makanan dan minuman tersebut ke atas nampan.
Ia membawanya dengan berhati-hati menaiki setiap anak tangga hingga sampai di kamar nya.
Saat ia sudah berhasil membuka pintu, ia tidak menemukan Barbara diatas ranjang.
Ia menyimpan nampan makanan diatas nakas, dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mencari istrinya.
Dan benar saja, Barbara duduk lemas bersandar pada dinding kamar mandi nya lagi.
"Sayang, kamu kenapa? Kok tiba-tiba muntah kayak gini?" Felix bertanya khawatir.
Barbara hanya menggeleng pertanda dia tidak tahu.
Deg
Pikiran Felix tiba-tiba melayang jauh.
"Semoga kamu nggak hamil Bar. Jangan sampe kamu hamil." Felix membatin.
Ia kemudian kembali menggendong Barbara keluar dari kamar mandi dan membaringkan nya di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku panggil dokter aja yah?" Felix memberi usul.
"Nggak usah. Paling cuma masuk angin biasa. Kan semalaman nggak pake baju." Barbara berucap berusaha tersenyum walau terasa lemas.
"Ya udah, kamu makan dulu ya. Aku suap sini." Felix membantu istrinya untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Baru saja Felix menyuapi Barbara dua sendok makanan, Barbara kembali dengan cepat turun dari ranjang dan berlari masuk kedalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi.
Barbara kembali lemas.
Felix kembali memijit pundak nya sambil menepuk ringan punggungnya istrinya.
"Udah?" Felix bertanya lembut saat melihat Barbara sudah bersandar pada dinding kamar mandi.
Barbara mengangguk.
Kembali ia menggendong Barbara kembali ke kamar dan membaringkan Barbara.
"Aku panggil dokter aja. Nggak pernah juga kamu kayak gini walau pun sering tidur nggak pake baju sampe pagi." Felix ngotot.
Akhirnya ia pun meraih ponselnya untuk menghubungi dokter.
"Mau makan lagi?" Felix bertanya pelan sambil mengesah keringat di kening istrinya.
Barbara menggeleng.
"Udah nggak lapar." Barbara berucap lemah.
"Ya udah, kamu istirahat dulu sambil nunggu dokternya datang." Felix berucap lalu membantu Barbara berbaring.
Setelah itu ia pun keluar dari kamar nya dengan pikiran berkecamuk.
"Nggak, aku nggak bisa kalo sampe Bar beneran hamil. Aku nggak mau punya anak walau aku cinta mati sama Bar." Felix menggerutu.
Ia mondar mandir tak tentu arah di depan kamarnya.
"Tuan Felix, dokter nya sudah sampe." Ujar si pelayan nya itu.
Felix mengangguk dan melambaikan tangannya seperti mengusir seseorang untuk menyuruh pelayan nya itu pergi.
"Istri saya didalam dokter." Felix menunjuk kamar nya dan menyuruh dokter wanita itu langsung masuk.
Dokter tersebut menurut dan segera masuk.
Barbara tersenyum saat melihat dokter itu masuk kedalam kamar nya.
Ia mencoba bangun untuk duduk, namun dokter itu mencegahnya.
"Nggak masalah, Nyonya baring aja." Dokter tersebut berucap sopan.
Barbara tersenyum.
"Saya periksa dulu yah. Kalo boleh tau ada keluhan apa aja?" Tanya dokter itu sopan.
Barbara pun menceritakan sesuai yang ia alami.
"Telat menstruasi sudah berapa lama?" Tanya dokter itu lagi.
Barbara tampak berpikir.
"Kayaknya udah satu bulanan deh." Barbara menjawab bingung.
Ia bukan tipe perempuan yang terlalu memperhatikan atau mengingat siklus menstruasi nya.
Kembali dokter tersebut memeriksa keadaan Barbara dengan teliti menggunakan semua alat-alat yang ia bawa.
__ADS_1
Felix memilih tidak masuk.
Ia menunggu diluar dengan hati tak tenang dan perasaan berkecamuk.
Selesai memeriksa, dokter wanita itu pun menata kembali semua peralatan nya kedalam tas khusus nya.
Ia tampak menulis sesuatu.
"Nyonya Barbara bukan sakit berbahaya." Dokter itu akhirnya bersuara sambil tersenyum.
Barbara mengerutkan kening nya, bingung.
"Selamat Nyonya. Nyonya Barbara sedang mengandung. Perkiraan usia kehamilan nya baru menginjak lima minggu." Ucap dokter itu sopan.
Barbara menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter tersebut.
Barbara terharu dan sangat bahagia.
"Ini bener dok?" Barbara bertanya memastikan.
Air mata haru nya meluncur bebas dari mata indahnya.
"Benar Nyonya. Tapi Nyonya harus ingat, jaga kesehatan. Kandungan Nyonya masih sangat muda, jadi masih rentan. Ini resep Vitamin untuk Nyonya. Usahakan Nyonya harus banyak makan makanan yang bergizi. Dipaksa gimana pun caranya biar nggak membahayakan janin nya." Dokter tersebut memberi nasehat.
Barbara mengangguk.
"Ya udah, saya tinggal dulu ya." Ucap Dokter tersebut sambil bangkit dari duduk nya.
"Dokter, jangan kasih tau suami saya. Biar saya aja yang ngomong ke dia." Barbara memberi pesan pada sang dokter.
Dokter wanita tersebut mengangguk dan berjalan keluar dari kamar nya.
"Dokter, gimana istri saya?" Felix bertanya khawatir.
"Nyonya Barbara ingin menyampaikan hasilnya sendiri pada anda Tuan Felix." Dokter tersebut menjawab sopan.
Felix mengangguk dan segera masuk kedalam kamar nya meninggalkan dokter tersebut.
"Sayang, kamu nggak papa?" Felix bertanya khawatir sambil mendekat pada istrinya yang kini sudah duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Barbara tersenyum.
Felix duduk di samping nya dengan posisi menghadap nya.
"Aku nggak papa." Barbara menjawab pelan.
Felix terdiam melihat senyum Barbara.
"Sayang, kamu masih ingat nggak awal pertama kita ketemu, apa tujuan aku?" Barbara bertanya mengingat masa lalu nya.
Felix mengangguk.
"Aku bahagia banget, akhirnya aku bisa menyelesaikan tantangan aku, walaupun yah aku juga ikutan cinta sama kamu dan malah kita menikah." Barbara berkata dengan senyuman yang semakin manis.
"Tiga bulan. Aku bukan cuma berhasil naklukin kamu, aku juga jatuh cinta sama kamu dan menikah sama kamu. Dan sekarang, hal yang paling bikin aku bahagia lagi adalah aku hamil sayang. Aku hamil anak kamu, dan kita bakal jadi orang tua nggak lama lagi." Barbara berucap bahagia sambil menggenggam tangan Felix.
Felix seketika bangkit dari duduk nya dan menepis kasar tangan istri nya.
"Aku nggak mau punya anak. Gugurkan."
...~ **To Be Continue ~...
*******
Mulai deh, mulai.
__ADS_1
Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih**.