
"Akhirnya aku bisa pulang juga" Fera memekik kesenangan. Meski jauh di dalam hatinya yang terkecil ia masih berduka atas kehilangan janinnya, tapi ia berusaha untuk bangkit lagi demi orang-orang yang menyayangi dirinya.
"Sayang, emang Papa sama Mama engga bilang mereka mau kemana?" Fera mengalungkan tangannya pada leher Denio.
"Engga tuh. Cuma katanya pengen jemput Dean sama Kaina aja" Denio memeluk posesif pinggang istrinya. Meski belum boleh menyatu, tapi hal itu tidak membuat kemesraan mereka berkurang.
"Ekhem..pengantin baru emang beda ya hawanya" Frans yang baru turun, menggoda keponakannya itu.
"Ih, om Frans ngatain aku. Yang udah pengantin lama juga masih lengket kayak lem ketemu kertas" Fera mencibir dan semakin menempel pada Denio.
"Ya harus dong Fer. Meskipun udah berumur, pernikahan juga udah berumur, tapi kita tetep harus mempertahankan keharmonisan kita seperti saat pertama kali kita saling jatuh cinta" Tasya tersenyum memandangi suaminya.
"Iya iya. Tau kok, Fera paham yang cintanya engga biasa" Fera terkekeh menggoda suami-istri itu.
"Papa sama Mama kok lama yah? Apa kejebak macet di dalam mobil?" Fera terkekeh mengingat alasan Felix dua hari yang lalu saat mereka terlambat membawakan makanan untuk putrinya.
"Kamu itu, iseng banget sama orang tua kamu" Frans menyentil kening Fera.
"Ye..kan emang alesan Papa gitu. Macet panjang, ternyata macet yang lain" Fera lagi-lagi terkekeh membuat Frans, Tasya dan Denio menggelengkan kepala. Mereka yakin Fera hanya berusaha untuk kuat, jadi mereka pun ikut memberikan dukungan dengan cara mereka.
"Fer, mending kamu sama Nio istirahat aja dulu gih di kamar. Nanti kalo Papa sama Mama kamu udah dateng, baru tante panggilin sekalian bangunin Jacob" Tasya menghardik Fera dengan lembut.
"Nyonya main ngusir aja..ayolah sayang" Fera menarik Denio dan mereka pun beranjak ke kamar lama Fera.
••••••••••
"Dean, Kaina..." Barbara memanggil kedua anak remaja itu begitu tiba di rumah Denio dan Fera.
"Kemana mereka ya?" Felix bertanya-tanya saat tidak mendengar kedua anak itu menyahuti panggilan istrinya.
"Dean, Kaina..." Barbara kembali memanggil.
"Mungkin di kamar Dean, sayang" Felix menebak-nebak.
"Ya udah, coba kita periksa ke kamar Dean. Perasaanku kok agak engga nyaman yah?" Barbara memegang dadanya yang terasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Mungkin karna kelamaan di jalan sayang" Felix mengusap punggung istrinya dengan lembut berharap dapat sedikit membantu.
"Dean" Barbara mengetuk pintu kamar Dean. Tidak ada jawaban. Barbara memutuskan untuk memutar handle pintu kamar Dean.
"DEAN" Barbara begitu terkejut dengan apa yang Dean lakukan. Anak lelaki itu bersama Kaina yang berdiri tanpa mengenakan pakaian apapun.
"Ma, Mama..." Dean gelagapan dan berdiri di depan Kaina untuk melindungi gadis kecil itu.
"Felix, bawa anak kamu keluar!" Titah Barbara sangat marah. Felix segera melaksanakan perintah istrinya. Setelah kedua lelaki itu keluar, Barbara mendekati Kaina yang menunduk ketakutan.
"Kaina, apa yang udah Dean lakuin?" Barbara bertanya lantang, apalagi ia melihat banyak bercak merah di tubuh Kaina. Barbara tidak bisa memastikan itu bercak apa.
"De-Dean cuma ngobatin Kaina kok tante" Kaina mengulurkan salep yang Dean suruh ia pegang sementara Dean mengolesi lukanya bekas air panas dua hari yang lalu.
"Itu merah-merah kenapa?" Tanya Barbara sambil membantu Kaina mengenakan pakaian.
"Em..itu...aku engga sengaja nyalain air panas di shower, jadinya melepuh" Kaina berbohong. Ia pun tidak tahu kenapa dia lebih menutupi kebenarannya. Padahal jika ia mengatakan kebenaran itu, bisa saja ia bebas dari Dean.
"Lain kali hati-hati dong Kai. Badan anak gadis jadi lecet gini" Barbara berjongkok di depan Kaina.
"Ya udah, ayo. Kita ke rumah utama, beberapa hari kedepan kalian nginep di rumah utama" Barbara menggandeng gadis remaja itu dan turun ke bawah.
"Ayo," ajak Barbara pada Dean dan Felix. Mereka pun pergi dari rumah itu setelah menguncinya dengan benar.
Barbara fokus memperhatikan sikap Dean dan Kaina yang duduk berdua di belakang. Dean begitu posesif menggenggam tangan mungil Kaina dan Kaina terlihat keberatan. Keduanya terlihat begitu tenang sesekali bercerita dan menunjuk sesuatu yang menarik perhatian mereka di jalanan. Meski terlihat baik-baik saja, tapi entah kenapa perasaan Barbara tetap saja tidak bisa tenang. Ia takut Dean bisa seperti Felix atau Denio, menjadi seorang pria psikopat yang berbahaya.
"Sayang, mikir apa?" Felix meraih satu tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Em..engga kok. Lagi mikir nanti mau masak apa buat apa buat Fera" Barbara tersenyum mencoba untuk tenang. Dia butuh teman untuk berbagi dan meminta pendapat, tapi rasanya untuk saat ini Felix bukan orang yang tepat. Mungkin Tasya dan Fera bisa membantunya nanti.
"Kamu engga kasih tau Mama kan tadi?" Dean berbisik pada Kaina.
"Engga kok" Kaina tersenyum begitu manis pada Dean seolah dirinya memang baik-baik saja.
"Pinter" Dean tersenyum puas mendengar jawaban gadis kecil itu. Mereka akhirnya sampai di rumah utama. Keempat orang itu langsung turun dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tante, Om..." Dean memekik bahagia dan berhambur memeluk Frans dan Tasya.
"Hai De, Kaina.." Frans dan Tasya menyambut pelukan Dean dan melambai pada Kaina. Kaina hanya mendekat dan tersenyum.
"Jac engga di rumah tante?" Tiba-tiba Kaina menutup mulutnya karena menyadari ia sudah salah bertanya apalagi kini Dean menatapnya tajam.
"Em, Jac ada. Lagi tidur siang, nanti juga bangun" Tasya tersenyum pada gadis kecil itu.
"Dean sama Kaina mau ke kamar dulu" Dean langsung menarik Kaina tanpa peduli ekspresi keempat orang tua itu. Kaina pasrah karena menyadari kesalahannya tadi. Seharusnya ia tidak menanyakan hal yang bisa membuatnya disiksa oleh Dean.
Sesampainya di kamar, Dean menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Dean memojokkan Kaina hingga punggung Kaina membentur dinding dengan cukup kuat. Dean mencekik leher Kaina.
"Kamu kenapa nanyain Jac? Kan udah aku bilang, jangan nyebut nama cowok lain Kaina!" Dean menekan ucapannya.
"A-aku engga sengaja" Kaina berusaha untuk setenang mungkin menghadapi Dean.
"Engga sengaja? Muka kamu aja seneng banget nyebut nama dia!" Tuduh Dean geram.
"Aku minta maaf De. Aku benar-benar engga sengaja" Kaina mulai merasa sedikit susah bernafas.
"Sekali lagi kamu berani nyebut nama cowok lain dengan mulut kamu, aku akan hukum kamu lebih sakit dari ini!" Ancam Dean melepaskan cekikan di leher Kaina.
"I-iya De. Aku janji engga bakal ulangi" Kaina mencoba tersenyum untuk meyakinkan remaja itu.
"Bagus!" Dean mengecup kening Kaina sementara Kaina berusaha untuk mendapatkan oksigen kembali.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#####
...___ RAMEKAN KUYYY ___...
__ADS_1