
Usia Kehamilan Barbara tak terasa telah memasuki bulan ke sembilan, yang itu artinya ia sebentar lagi akan melahirkan.
Barbara sudah memutuskan untuk melahirkan secara sesar.
Ia bahkan sudah membuat janji dengan dokter untuk waktu operasi yang tepat.
Akhirnya dokter memutuskan untuk menjadwalkan besok sore untuk jadwal operasi sesar nya.
Ia tidak memberitahu baik pada Mario, Harvest, atau siapapun tentang rencana dan keputusannya selain pada Tasya.
Ia juga meminta Tasya untuk merahasiakan hal ini. Bukan apa, ia hanya tidak ingin merepotkan banyak orang.
Cukup dirinya sendiri dan Tasya saja.
"Nyonya, ini semua udah saya siapin. Ada lagi nggak yang mau di bawa?" Tasya bertanya setelah mengemas keperluan yang akan Barbara bawa ke rumah sakit besok sore.
"Kayaknya sih nggak ada lagi deh Tas. Udah lengkap ini." Barbara memeriksa barang yang sudah ia pisahkan dan tidak perlu ia bawa ke rumah sakit.
Tasya mengangguk paham.
"Em..ya udah kalo gitu Nyonya. Saya simpan ini dimobil aja ya biar nggak kelupaan besok." Tasya meminta ijin sambil menenteng tas yang sudah mereka kemaskan tadi.
"Iya. Oh ya Tas, kamu bisa nyetir kan?" Barbara bertanya memastikan.
"Bisa Nyonya. Tapi kalo disuruh balap saya nggak berani." Tasya menjawab sedikit berkelakar.
"Apaan sih?" Barbara tertawa kecil.
"Ya udah, saya nyimpan ini dulu." Tasya lalu melangkah keluar dari kamar Barbara menuju ke garasi mobil milik Barbara.
Terdapat beberapa mobil mewah di garasi tersebut.
•••••••••••
Barbara di kamar.
"Sayang, besok sore kita bakal bertemu. Akhirnya kita bisa tatap muka dan saling peluk." Barbara berbicara pada bayinya yang masih di dalam perut nya.
Bayinya dengan cepat merespon dengan tendangan keras.
"Ho..anak Mama seneng ya bakal ketemu Mama bentar lagi. Sabar ya sayang." Barbara berbicara lagi.
Bayinya kembali menendang.
Barbara tersenyum bahagia.
Ia sangat bersyukur setelah semua yang ia lalui kemarin, Tuhan masih mengijinkan bayinya untuk tinggal dirahim nya bahkan dalam keadaan sehat tanpa cacat sedikit pun.
"Sayang, kita jalan jalan sore yuk. Kalo nanti kamu udah lahir, kita bakal lama loh baru bisa jalan jalan lagi." Barbara berbicara seolah mengajak putri nya.
Kembali bayinya merespon dengan tendangan.
Barbara pun memutuskan untuk pergi.
Saat hendak keluar kamar, ia merasa ingin menyantap es krim.
Ia lalu balik untuk membawa tas dan kunci mobilnya.
Perlahan ia menuruni anak tangga lalu berjalan menuju garasi mobil nya dan keluar dengan mengendarai mobil nya.
__ADS_1
Ia harus keluar cukup jauh dari rumahnya yang cukup terpencil meskipun hanya untuk ke supermarket terdekat.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam hingga akhirnya ia sampai di sebuah kedai dessert.
Barbara masuk ke dalam kedai tersebut lalu memilih tempat duduk yang nyaman.
Ia memutuskan untuk duduk di dekat dinding kaca yang memperlihatkan hiruk-pikuk keramaian kota.
Tak lama seorang pelayan datang membawa sebuah buku menu dan menanyakan pesanan Barbara.
Setelah Barbara memesan, pelayan itu pun kembali pada tempatnya untuk memberikan pesanan Barbara.
Barbara menunggu sambil memperhatikan keramaian kota.
"Nggak nyangka, pada akhirnya aku tetap aja bertahan di kota ini. Padahal dulu bela-belain pergi jauh cuma karna Papa maksa biar aku ngelanjutin bisnisnya." Barbara bergumam dan tersenyum kecil.
"Permisi Nyonya, ini pesanan anda. Selamat menikmati." Pelayan tadi datang dengan membawa es krim pesanan Barbara.
"Thanks." Barbara tersenyum kecil pada pelayan tersebut, lalu pelayan itu pun pergi setelah menata pesanan Barbara diatas meja.
Barbara memilih untuk memotret terlebih dahulu es krim nya sebelum menyantap nya.
"Em..ini enak banget sayang." Barbara kegirangan saat baru menyantap satu sendok kecil es krim nya.
Dengan semangat Barbara menyantap semua es krim pesanannya.
"Em..enak banget semua es krim nya." Barbara bergumam pelan namun sangat semangat.
Barbara sangat menikmati es krim lezatnya, ia tidak sadar ada yang sedang memperhatikan setiap pergerakan nya dari seberang jalan.
Pria itu adalah Felix.
Namun Felix masih bingung apa itu benar Barbara atau hanya sekedar mirip.
Ia mulai turun dari mobilnya dan menyebrang lalu masuk ke dalam kedai dessert tersebut.
"Barbara." Felix memanggil nama nya.
Barbara yang tidak mendengar jelas suara yang memanggil nya dan hanya mendengar namanya disebut malah menoleh dan matanya membulat sempurna saat mendapati Felix dibelakangnya.
Barbara kembali menatap ke depan seolah ia hanya salah mendengar namun sialnya Felix malah memilih duduk di depan nya.
"Bar. Maaf." Kata yang dapat terucap saat itu.
Barbara mengernyitkan keningnya pura-pura bingung.
"Maaf." Felix berucap sekali lagi.
"Sepertinya anda salah orang Tuan." Barbara berbicara dengan nada datar.
Felix kembali ragu, apa benar yang ada di hadapannya adalah Barbara.
"Kita pernah bertemu?" Felix bertanyberkilah menatap wajah Barbara namun juga terasa asing dimatanya.
Barbara menatap tajam kedalam matanya.
"Pernah. Di acara Fashion Show Tuan." Barbara menjawab singkat tanpa kebohongan.
Ia ingin melihat reaksi yang ditunjukkan Felix.
__ADS_1
Felix mencoba mengingat.
"Damn!" Felix memaki dalam hati saat mengingat perbuatan terkutuk nya disaksikan oleh Barbara, bahkan ia sudah mengatakan bahwa ia yang telah membunuh orang tua Barbara.
Ia kini yakin wanita di depannya benar adalah Barbara, apalagi saat itu juga Frans sangat melindungi nya.
Barbara bangkit dari duduknya dan beranjak pergi namun Felix segera mengejarnya.
"Bar, tunggu!" Felix bertitah tegas namun Barbara tidak peduli.
"Bar, tunggu! Aku bisa jelasin semuanya." Felix kembali berteriak dan berhasil mencekal tangan Barbara.
"Bar, aku bisa jelasin semuanya. Aku memang sempat melukai orang tua kamu, tapi aku yakin banget itu nggak akan mematikan mereka." Felix kembali menjelaskan.
Barbara menepis kuat tangan Felix.
"Saya nggak tau maksud anda apa Tuan? Dan saya bukan Bar yang anda maksud. Kita memang pernah bertemu tapi bukan berarti kita saling mengenal." Barbara berkilah.
Barbara lansung masuk kedalam mobilnya.
"Bar, please dengerin aku. Aku bisa jelasin semuanya. Please kasih aku satu kesempatan lagi." Felix meminta sambil menggedor kaca pintu mobil Barbara.
Barbara tidak menghiraukan nya dan langsung memilih melakukan mobilnya meninggalkan Felix.
Felix tidak ingin tinggal diam dan memutuskan untuk mencapai mobilnya agar bisa mengejar Barbara, namun sayang Felix mengalami kesulitan untuk menyebrang. Felix tidak menyerah hingga akhirnya ia berhasil menyebrang.
Segera ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya untuk mengejar Barbara.
Namun sayang, dewi fortuna tidak berpihak kepada nya hingga ia kehilangan jejak Barbara.
"Shit!" Felix memukul keras setir mobilnya.
"Aku pasti bakal dapetin kamu lagi Bar. Pasti. Aku bakal berusaha gimanapun caranya agar kamu kembali lagi sama aku. Aku nggak akan nyerah gitu aja. Nggak akan." Felix bergumam.
••••••••••
Sementara Barbara didalam mobil sedang dalam perjalanan pulang ke rumah nya.
Ia menitikkan air mata nya.
Rasa rindu sekali rasa sakit hati dan hancur bercampur menjadi satu saat mendengar semua perkataan Felix.
"Kenapa? Kenapa harus disaat sekarang aku kembali ketemu lagi sama dia? Kenapa dia harus tau identitas asli ku di saat seperti ini? Kenapa?" Barbara bergumam sendiri.
Rasa sesak menyerang dada nya begitu hebat.
Padahal Barbara sudah merasa jauh lebih baik dan bahagia dari pagi tadi sambil menyiapkan setiap keperluan untuk ia bersalin besok.
Namun rasa senang dan bahagianya seketika menjadi kebencian dan amarah setelah bertemu dengan Felix.
Entah bagaimana ia bisa melewati malam ini hingga besok sore, sedangkan dokter sudah berpesan padanya agar tidak setres menjelang hari persalinan terlebih lagi jika sudah sangat dekat dengan hari H nya.
...~ To Be Continue ~...
######
Yuuhuuu..like dan komentar dong..
Nggak minta lebih..kalo berkenan bisa kasih vote nya sesekali dong..nggak usah tiap minggu..seikhlas nya aja..atau hadiahnya bisa juga..
__ADS_1
Makasih yang sudah mendukung ku dari awal sampai sekarang..lop yiu so matchh..😘😘
Happy Monday and Have a nice day. ❤❤