Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Sisi Lain Dean


__ADS_3

"Fer, kamu mau kuliah lagi hari ini?" Barbara bertanya pada putrinya yang sudah tampil rapi.


"Iya Ma. Udah satu minggu ini Fera engga masuk, pasti udah ketinggalan banyak materi" Fera tersenyum memelas. Sudah satu minggu ini ia tinggal di rumah utama bersama Denio. Barbara dan Felix yang memaksa mereka dengan alasan agar lebih mudah merawat Fera.


"Ya udah kalo emang udah mau masuk lagi" Barbara tersenyum melihat kondisi putrinya yang sudah berangsur pulih.


"Nio, nanti sekalian anterin Dean sama Kaina ya. Papa lagi bolos ngantor hari ini, capek" Felix tersenyum mencurigakan.


"Alesan Papa aja tuh" Denio menggoda mertuanya.


"Jac, engga mau ikutan sekolah umum kayak Dean sama Kaina?" Fera mengusap kepala Jacob.


"Engga Kak. Jacob sekolah privat aja, Jacob takut" Jacob menggeleng namun ia tetap tersenyum. Semua yang ada di sana pun tahu kondisi mental Jacob jauh lebih baik dari Dean meski remaja itu benar-benar tidak ingin lagi kembali bersekolah di sekolah umum. Dengan sekolah privat, Jacob merasa lebih aman karena Tasya selalu mengawasi dirinya saat belajar bersama guru-guru yang sudah Frans rekrut.


"Ya udah kalo gitu. Nanti udah Senior High School baru lanjut di sekolah umum aja ya" Fera mencoba membujuk remaja itu dan tak disangka, Jacob mengangguk. Mereka pun menikmati sarapan mereka pagi ini dengan canda dan tawa kecuali Dean dan Kaina.


"Pa, Ma, kami berangkat dulu" Fera berpamitan dengan kedua orang tuanya disusul oleh Denio juga Dean dan Kaina. Keempat orang itu pun berangkat setelah mendapatkan izin.


"De, gimana sekolahnya? Seru engga?" Tanya Fera antusias.


"Seru kak. Karna ada Kaina semuanya jadi seru" Dean meraih tangan Kaina dan menggenggamnya erat.


"Anak remaja gitu amat lengketnya?" Fera tersenyum melihat tingkah adiknya. Dean pun tersenyum tapi tidak dengan Kaina. Ia memang tersenyum tapi hanya senyum palsu.


"De, udah sampe. Belajar yang rajin ya, jangan nakal-nakal sama Kaina" Fera menasehati adiknya.


"Iya" kedua remaja itu pun turun dari mobil Denio.


"Kalo diperhatiin, Dean sama Kaina itu mirip sama kita yah" Denio tersenyum manis melihat adik iparnya yang menggandeng Kaina begitu posesif.


"Engga. Dean lebih berbahaya dari kamu. Mama bilang anak itu kalau engga diawasi, bisa lebih berbahaya terutama untuk Kaina" Fera juga menatap adiknya dan Kaina yang sudah menghilang ke dalam sekolah.


"Ya udah sih sayang, anak-anak juga. Palingan bentar lagi bosan" Denio tersenyum dan meluncur pergi ke kampus Fera.


"Sayang, jadi kita gimana? Program bayi lagi? Atau nunggu sampe lulus?" Denio menggenggam tangan istrinya.


"Lulus aja dulu ya biar kita engga kewalahan juga kuliah sambil ngurus anak. Kalo udah lulus kan udah enak" Fera tersenyum tenang meski pikirannya kembali mengingat bayinya yang sudah tiada.


"Ya udah. Aku ikut aja, kamu engga mau punya anak juga aku ikut aja" Denio tersenyum dan menghentikan mobilnya di depan kampus Fera.


"Aku turun ya sayang" Fera memberi satu ciuman manis untuk Denio dan langsung dibalas oleh Denio.


"Iya, hati-hati ya. Belajar yang bener. Love you" Denio melambaikan tangannya.


"Love you too" Fera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam kampus. Denio pergi lagi setelah memastikan istrinya benar-benar sudah di dalam kampus.

__ADS_1


••••••••••


"Kaina, main yuk" seorang remaja laki-laki sepantaran Kaina menghampiri gadis itu.


"Engga, George" Kaina menggeleng dan menjauh dari remaja bernama George itu.


"Ih Kaina sombong" George nekat duduk di samping Kaina.


"George jangan duduk di sini, ini tempat Dean" Kaina berusaha mengusir George. Ia tidak ingin mendapatkan masalah dari Dean lagi. Terlalu sakit untuk anak seusianya.


"Biarin aja. Kan masih banyak tempat yang lain" George tetap nekat ingin duduk di samping remaja putri itu.


"KAINA" suara teriakan yang sudah sangat Kaina kenali. Dean datang dengan mengepalkan tangannya. Dean tiba-tiba berlari mendekati George lalu tangannya tiba-tiba berada di perut George.


"DEAN JANGAN!" Kaina memekik histeris saat mendapati Dean menusuk George dengan sebuah pisau kecil.


Dean menarik tangannya dan George seketika tumbang. Kaina berteriak meminta pertolongan dan seorang guru yang kebetulan lewat segera menghampiri ketiga anak itu.


"Astaga..." Guru wanita itu langsung menggendong George menuju ke ruang UKS.


"Mau ke mana?" Dean menahan tangan Kaina.


"Kamu jahat Dean! Kamu jahat!" Kaina menepis tangan Dean dan berlari keluar. Dean segera menyusul gadis itu.


"KAINA JANGAN LARI!" Dean berteriak menggema di sepanjang lorong sekolah itu. Banyak anak-anak yang sedang bersantai karena sedang jam istirahat pun melihat mereka kebingungan.


"Dean jahat! Dean jahat!" Kaina terus bergumam dan duduk di lantai pojok gudang tua itu.


"Kaina?" Dean masuk ke dalam gudang itu untuk mencari Kaina.


"Dean jahat! Dean jahat!" Kaina menangis terisak memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.


"Kaina" Dean menemukan gadis itu dan segera menghampiri Kaina.


"Kaina jangan nangis" Dean memaksa Kaina mengangkat kepalanya.


"Dean jahat! Pergi!" Kaina berusaha mendorong Dean tapi Dean sama sekali tidak bergeming.


"Aku engga jahat! Aku cuma lindungi kamu!" Dean mencengkram dagu Kaina dengan begitu kuat.


"Kamu engga lihat anak itu mau celakain kamu? Aku cuma lindungi kamu" Tangan Dean kini berpindah mencekik leher Kaina dan memaksa gadis kecil itu untuk berdiri.


"De-an sa-kit" Kaina memukul-mukul tangan Dean yang mencekik lehernya.


"DEAN" teriak sebuah suara yang sangat Dean kenali. Dean menoleh ke belakang dan benar saja, Barbara sedang berdiri dengan raut wajah penuh amarah, ada juga Tasya di sampingnya.

__ADS_1


"Ma-Mama" Dean melepaskan Kaina hingga gadis itu terkulai lemas di lantai.


Barbara dan Tasya segera menghampiri kedua anak remaja itu.


"Tas, tolong bawa Kaina pulang. Aku bakal urus Dean" Barbara menarik Dean untuk keluarga dari gudang itu sementara Tasya membawa Kaina pulang.


"Ma, Dean engga..."


"Cukup Dean! Kamu udah keterlaluan, guru kamu udah cerita semuanya ke Mama" Barbara menarik Dean hingga masuk ke dalam ruangan UKS di mana ada juga orang tua George dan guru yang tadi membawa George ke sana.


"Minta maaf sama George! Minta maaf sama Papa Mamanya juga!" Titah Barbara sangat kesal pada putranya.


"Engga mau! Dia yang ganggu Kaina duluan" Dean hendak lari tapi Barbara berhasil mencegahnya.


"Dean, minta maaf atau selamanya kamu engga akan ketemu Kaina lagi!" Barbara mau tidak mau harus menggunakan jurus mengancam. Dean menatap Ibunya sengit, namun menit berikutnya ia membungkuk ke arah George dan kedua orang tuanya.


"Aku minta maaf! Aku salah udah tusuk George!" Dean menegakkan badannya kembali dan menatap Ibunya lagi seolah bertanya pada Barbara apa wanita itu sudah puas?


"Tuan, Nyonya, sekali lagi saya minta maaf mewakili Dean. Semoga George cepat sembuh, biaya pengobatannya sudah saya urus semuanya. Kalau mau bawa George untuk dirawat di rumah sakit juga silakan, nanti saya yang akan biayai semuanya" Barbara membungkuk. Setelah itu ia membawa Dean meninggalkan sekolahan itu.


"DEAN!" Barbara membentak putranya namun Dean tidak menunjukkan keterkejutan nya sedikitpun.


"Mama minta kamu berhenti menyakiti Kaina atau siapapun! Apa salah mereka?" Tanya Barbara menangkup wajah putranya. Barbara bahkan menitikkan air matanya.


"Mama jangan nangis! Dean janji engga nakal lagi" Dean menghapus air mata Ibunya.


"Jangan kayak gini De! Mama mohon sama kamu" Barbara memeluk Dean dengan air mata yang masih mengalir deras.


"De, janji sama Mama jangan ulangi hal ini lagi! Dean sayang sama Mama kan? Sayang sama Kaina juga? Jangan bikin Kaina takut dan sedih! Kalo Dean lakuin hal seperti tadi, Kaina justru akan takut dan bisa pergi dari kamu. Janji sama Mama jangan ulangi lagi!" Barbara menggenggam tangan putranya dengan erat dan menatap kedua mata Dean dalam-dalam. Seandainya Barbara bisa menghipnotis putranya, pasti sudah dia lakukan.


Dean mengangguk.


"Dean janji Ma. Dean engga mau Kaina pergi, Dean engga mau Mama sedih. Dean janji" Dean melepaskan satu tangannya dari genggaman Barbara dan mengelus wajah Ibunya, menghapus air mata wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Sekarang kita pulang dan kamu minta maaf sama Kaina" ajak Barbara.


"Iya Ma. Dean minta maaf sama Kaina" Dean mengangguk dan Barbara pun melajukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


..._____ YUHUUU RAMEKAN YUK _____...


__ADS_1



__ADS_2