
Waktu berjalan dengan sangat cepat dan tidak terasa putra putri Barbara dan Felix kini sudah beranjak dewasa dan remaja.
Fera kini berusia delapan belas tahun sama seperti Denio.
Dean dan Jacob berusia tiga belas tahun.
Selama tiga belas tahun kehidupan mereka berjalan dengan baik dari segala sisi.
Tak ada kekacauan yang menyulitkan mereka, atau mungkin ada namun tidak diketahui oleh mereka.
Denio dan Fera kini menjadi benar-benar dekat bak sepasang kekasih, dan Denio benar-benar sangat posesif terhadap Fera.
Denio selalu punya cara untuk membuat Fera tidak melaporkan apapun pada Felix dan Barbara, akhirnya Fera memilih bungkam selama Denio tidak melewati batas dan Fera sangat tahu, jika ia bersikap manis pada Denio maka Denio akan sangat menurut padanya.
Dan hari ini adalah Hari pertama ia dan Denio masuk kuliah. Fera mengambil jurusan art and design, sedangkan Denio mengambil jurusan kedokteran.
Entah apa yang ada dibenak Denio hingga membuatnya memilih jurusan kedokteran.
Mereka terpaksa harus berbeda kampus dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus.
"Fera, ingat pesan aku! Jangan pernah dekat-dekat sama cowok lain!" Denio menyetir dan satu tangannya menggenggam erat tangan Fera.
Fera sudah terbiasa dengan hal itu.
"Iya. Nggak perlu diingetin juga aku udah ingat." Fera menjawab kesal.
Walaupun kesal tapi sungguh, Fera nyaman dengan sikap posesif Denio yang sebenarnya melebihi batas. Dan jujur saja, Fera menyimpan perasaan lebih untuk seorang Denio yang sering ia anggap gila.
"Nio, nanti selesai kuliah kita ke mall mau? Fera pengen hangout." Fera memasang tampang memelas.
Denio tersenyum.
"Oke. Selama kamu mau dan selama itu dengan aku, aku bakal nganter kemanapun kamu mau, bahkan ke surga sekalipun." Denio tersenyum manis namun tetap fokus menyetir.
Denio dibesarkan dengan kasih sayang yang tulus dari keluarga besar Fera. Namun mereka sama sekali tidak tahu kalau Denio masih tetap menyimpan kebencian dan dendam terhadap orang tua kandungnya bahkan hingga detik ini.
"Nio, kelewatan." Fera sedikit membentak saat Denio terus menyetir padahal kampus Fera sudah terlewati.
Denio tersentak kaget dan tertawa kecil.
"Maaf, maaf." Denio akhirnya memundurkan mobilnya dengan hati-hati karena malas jika harus putar.
Semua aset dan fasilitas yang Denio miliki adalah dari Felix dan Frans.
"Aku turun dulu." Fera hendak turun namun Denio masih menggenggam tangannya.
"Nio." Fera menegur Denio namun Denio masih kekeh menggenggam tangannya.
Fera pasrah dan duduk bersandar kembali.
Denio menatap lekat wajah cantik itu dan baginya Fera adalah setengah nyawanya.
__ADS_1
"Fera, kita pacaran yuk. Aku nggak mau lagi kita cuma temenan. Aku nggak mau kehilangan kamu, dan aku nggak mau liat kamu sama cowok lain." Denio akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.
Fera ingin sekali melompat bahagia karena perasaannya terbalaskan, tapi ia mencoba untuk tenang.
"Nio, jangan bercanda! Kita itu dari kecil udah berteman. Masa udah gede malah pacaran." Fera hanya ingin melihat keseriusan seorang Denio.
Denio menangkup wajah cantik itu dengan tangan dinginnya.
"Fer, aku nggak pernah main-main kalo sama kamu. Semua yang aku lakuin itu semua tulus dan murni dari hati. Aku posesif juga karna aku gak mau dan gak bisa liat kamu dekat dengan orang lain selain aku, meskipun itu cewe. Aku mau aku adalah segalanya buat kamu setelah keluarga kamu." Tatapan Denio sangat tajam dan menusuk.
"Tapi Nio, gimana nanti jelasin sama Papa sama Mama kalo kita pacaran?" Fera tampak bingung dan berpikir.
Ia jelas tahu tidak mungkin dan tidak bisa menolak Denio. Hidupnya sudah dirantai oleh seorang Denio.
"Aku yang bakal ngomong sama Papa dan Mama." Denio juga tegas dan berani jika melakukan sesuatu untuk seorang Fera.
"Em..Fera nggak mau jawab sekarang. Nanti aja kalo kita udah selesai kuliah." Dengan gerakan cepat Fera berhasil lolos dan turun dari mobil Denio.
Denio merasa gemas melihat tingkah Fera yang malu-malu. Denio memutuskan untuk menurunkan kaca mobilnya.
"Ingat! Jangan nakal sayang!" Denio berteriak tanpa rasa malu.
Fera hanya mengkode menggunakan tangannya sebagai tanda okay pada Denio.
Denio pun berlalu dari kampus Fera setelah ia memastikan Fera sudah masuk dengan aman.
Sepanjang perjalanan Denio selalu tersenyum mengingat wajah cantik Fera. Sungguh, tidak ada yang bisa menggantikan Fera didalam hati dan hidupnya.
Namun Denio sama sekali tidak menanggapi hal tersebut dan berlalu begitu saja. Baginya Fera adalah segalanya jika sedang berhadapan dengan perempuan-perempuan seperti itu.
Denio memilih untuk tidak berteman dengan siapapun. Ia berjalan sendirian dan masuk ke dalam kelas sendirian.
Denio memilih duduk di kursi paling belakang dan terpojok.
Seorang mahasiswi dengan tubuh molek bak model berjalan melenggang menghampiri Denio.
"Hai, Anneth." Mahasiswi itu mengulurkan tangannya dengan gaya menggoda.
Denio menatap Anneth dari atas sampai bawah dan kembali sebaliknya.
Jijik, itulah yang ada di dalam otak Denio saat melihat penampilan Anneth yang terlalu terbuka untuk golongan seorang mahasiswi.
Denio menghardik Anneth dengan menggerakkan tangannya. Anneth langsung menghentakkan kakinya kesal dan kembali duduk di kursinya.
Tak lama seorang dosen masuk dan mulai menyampaikan materi.
Denio menyimak dengan seksama, sedangkan beberapa mahasiswi mencuri pandang ke arahnya.
Waktu berlalu begitu saja, dan tidak terasa kelas Denio hari ini sudah selesai.
Denio segera keluar dari kelasnya setelah merapikan semua buku dan peralatannya.
__ADS_1
Ia mengabaikan semua mata yang memandangnya dan fokus berjalan menuju mobilnya.
Segera ia masuk ke dalam mobilnya, namun saat hendak menjalankan mobilnya tanpa rasa malu, Anneth masuk dan duduk di sampingnya.
Tempat istimewa baginya untuk seorang Fera.
Denio murka begitu saja.
Ia meraih sebilah pisau lipat dari laci mobilnya.
"Turun sekarang kalau nggak pengen muka jelekmu ini hancur!" Denio mengarahkan ujung pisaunya yang runcing kearah wajah Anneth.
Anneth ketakutan dan langsung turun dari mobil Denio.
"Bodoh!" Denio memaki dan segera menjalankan mobilnya untuk menjemput Fera.
Wajahnya yang tadi ceria, kini berubah menjadi dingin gara-gara Anneth.
Dan kini menjadi merah padam saat melihat Fera di kelilingi oleh beberapa mahasiswa.
Denio segera turun dari mobil dan menghampiri Fera.
"Fera!" Denio berteriak lantang.
Fera yang melihat Denio datang pun langsung berlari ke arah Denio. Fera ketakutan dan Denio bisa melihat itu, namun ia tidak tahu kenapa Fera ketakutan.
Fera segera memeluk Denio, ia tidak ingin Denio melakukan hal gila.
Denio menjadi sedikit lebih tenang dan memutuskan untuk tidak menyerang para mahasiswa itu.
Ia membawa Fera masuk ke dalam mobilnya. Fera masih ketakutan dan Denio mengira Fera takut padanya.
"Apa lagi? Kenapa takut sama aku?" Denio bertanya dengan nada dingin dan mencekam.
Fera menggeleng.
"Bukan kamu. Tapi mereka. Mereka dari tadi berusaha pegang-pegang aku, tapi nggak ada yang mau bantuin aku." Fera mulai terisak.
Denio murka namun tidak ingin ia perlihatkan pada Fera. Ia menarik Fera ke dalam pelukannya.
"Udah jangan takut! Kamu aman sekarang. Kita pulang aja ya, ke mall nya lain kali aja." Denio membujuk Fera.
Fera mengangguk dan perlahan mulai tenang.
Denio menjalankan mobilnya setelah melepas pelukannya.
Denio tersenyum menakutkan dan percayalah, dalam otaknya sudah tersusun rencana untuk membalaskan dendam pada beberapa mahasiswa yang sudah mengganggu Fera tadi.
...~ TO BE CONTINUE ~...
######
__ADS_1
Yokk..yang mau join grup buat ngerusuh, tinggalkn kontaknya di kolom komentar ya...