
Di sebuah ruangan yang penerangannya minim. Terdapat beberapa orang yang menyiksa lima orang dewasa yang sudah tidak berdaya itu.
Rasanya sekarang tubuh mereka mati rasa. Dan ingin sekali mereka di bunuh segera daripada harus menerima siksaan yang menyakitkan itu.
Bahkan mengeluarkan sedikit suara saja mereka tidak sanggup. Bertahun tahun mereka menjalani pelatihan tetapi tidak merasakan sakit seperti ini.
Orang yang berada di depan mereka bukan manusia lagi yang memiliki rasa melainkan monster mengerikan.
"Bagaimana dengan hadiahnya? ucap salah satu dari mereka mengelus lembut belati yang baru di gunakan untuk menyiksa mangsa.
Aish rupanya pengawal elit milik keluarga Bright keturunan psyco sehingga melihat mangsa mereka menderita mendapatkan kebahagiaan tak terhingga.
Padahal kelima orang itu juga adalah pembunuh berdarah dingin sudah lama mereka berkecimpung di dunia berdarah tetapi baru kali ini ada orang yang bisa menyiksa mereka begitu kejamnya.
Anggota tubuh yang terluka terus mengeluarkan cairannya membuat mereka pusing dan pingsan karena kesadaran mereka hilang akibat siksaan dan hilangnya banyak darah.
"Bawa mereka kembali dan minumkan ini kepada mereka biar mereka mengetahui kalau ada yang bertindak melewati batas maka hukumnya adalah mati" ucap pemimpin pengawal itu.
Segera beberapa anak buah meminumkan sebotol cairan berwarna ungu kepada kelima orang itu sebelum kirim kembali ke daerah dari mana mereka di kirim beserta catatan kecil.
Kelima orang yang anggota tubuhnya sudah tidak bisa di kenali lagi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Di sebuah villa milik keluarga berpengaruh seorang pria tua duduk di sofa tunggal melayani seorang tetua sepuh di depannya.
"Ada keperluan apa tetua ketiga keluarga Yawen menemui yang rendah ini? ucap Pria itu
Sambil menuangkan teh hijau yang berjuta harga itu.
"Saya hanya sekedar berkunjung di kerabat saja" ucap pria sepuh itu.
"Saya hanya merasa sedikit terkejut dengan kedatangan Tuan ketiga" ucap pria itu.
Tidak ada lagi perkataan penuh sarkasme mereka melanjutkan dengan mengobrol ringan.
Tiba-tiba pelayan keluarga memasuki ruangan dengan langkah cepat.
"Biasakan kalau melaporkan itu dengan nada santai jangan tergesa-gesa seperti itu biar masalah besarpun kita harus bisa mengontrol emosi" ucap pria tua itu.
"Maafkan pelayan ini Tuan tetapi di depan ada beberapa orang yang mengatakan mengantar pesan penting" ucap pelayan itu.
"Pesan penting? aku tidak memiliki kunjungan tamu" ucap pria itu.
"Sebaiknya tuan segera menghampiri mereka" ucap pelayan itu.
Pria muda itu langsung mengikuti pelayan itu. Sesampainya di gerbang villa mereka dapat melihat sebuah Van hitam dan mewah.
Pengawal yang berada di dalam mobil langsung melemparkan kelima orang yang sudah tidak berbentuk itu.
memberikan pesan sesuai perintah dari atasan.
Tentu dengan pemandangan di depan mereka yang mengerikan memberikan mereka kejutan yang tidak biasa.
Mereka tidak menyangka kalau orang-orang itu mengetahui kalau mereka adalah orang-orang suruhan darinya untuk menangkap seorang bocah yang ternyata orang-orangnya salah mengenali orang.
"Hanya Anda yang bisa memutuskan" ucap pengawal itu sebelum pergi.
__ADS_1
"Brengsek bagaimana bisa mereka salah mengenali orang? Kalian pikir bisa menggertak dengan trik licik seperti ini" ucapnya geram berani sekali mereka menekannya dengan trik seperti ini.
Siapa dia? Dia adalah kepala keluarga Kim. salah satu keluarga bangsawan berpengaruh ibukota ini.
Pria tua Yawen hanya menatap itu dengan datar. Awalnya dia juga sedikit terkejut dengan pemandangan di depannya.
Kembali ke markas tempat kelompok pengawal yang di bentuk oleh Jenk itu sendiri.
"Tuan Muda saya memiliki saran" ucap Jo
"Katakan" Jenk memintanya untuk melanjutkan perkataan.
"Untuk menghindari asumsi publik bagaimana kalau Tuan Muda mendirikan camp pelatihan yang bisa di jangkau oleh orang biasa dan merekrut anak muda yang mau berlatih beladiri." Ucap Jo.
"Sepertinya saya akan mempertimbangkan saran mu itu" ucap Jenk setelah berpikir sesaat apa yang di sampaikan oleh Jo masuk akal.
Dengan begini dia bisa memancing banyak ikan besar keluar dari kandang mereka.
"Carikan lokasi yang sesuai jauh dari pemukiman warga dan juga cari beberapa kandidat untuk menjadi calon pengawal pertama di Korea" ucap Jenk setelah menetapkan pikiran.
"Baik Tuan Muda" ucap Jo.
Dia akan mendukung penuh apa yang menjadi kehendak tuannya itu.
"Kau kembalilah aku akan kembali ke sekolah" Ujar Jenk sebelum meninggalkan markas.
Markas tersembunyi yang berada di Korea adalah cabang markas mereka.
Beberapa hari berlalu kegiatan kelas belajar mengajar juga sudah kembali normal.
Lokasi yang di inginkan Jenk untuk di jadikan markas latihan sudah di temukan.
Itu berada di pinggiran kota. Markas itu bekas kantor perusahaan yang sudah bangkrut yang di ambil alih oleh Jenk.
Sekarang bangunan itu tengah di renovasi untuk di jadikan hunian yang layak bagi pengawalnya nanti.
Jenk yang berjalan sore sendirian di kaget kan dengan kedatangan anak kecil berumur tujuh tahun memanggilnya dengan sebutan Paman.
Membuat dia melotot tidak percaya. Dia masih muda loh lah sekarang anak kecil yang beda berapa tahun darinya memanggil dia Paman? Siapa yang kesal.
"Paman kenapa paman tidak datang kepesta ulang tahun Mama? ucap anak kecil itu terus menarik ujung baju Jenk.
"Adik kecil kamu salah mengenali orang" ucap Jenk menahan diri untuk tidak menyentil hidung anak itu.
Jenk terus berjalan dan anak kecil itu masih Ter mengejar Jenk dari belakang.
"Benar kok mama pernah menceritakan kalau aku memiliki seorang paman yang masih muda persis dengan penampilan paman." ucap anak kecil itu.
"Adik kecil aku bukan pamanmu dan aku tidak memiliki sepupu atau apapun." Rupanya Jenk harus ekstra sabar untuk menghadapi anak kecil itu yang terus mengaku sebagai keponakan.
"Tapi Paman memang adalah pamanku" ucap anak kecil itu masih setia menarik ujung baju Jenk.
Apakah penyamarannya ini menyerupai rupa seseorang? Sehingga anak kecil ini memanggilnya dengan sebutan Paman?
Jenk bermonolog sendiri.
__ADS_1
"Paman memang benar pamanku" ucap anak itu terus menempel ke arah Jenk.
Belum Jenk merespon perkataan anak kecil itu tiba-tiba seorang pria dewasa muncul.
"Nak kemarilah kau salah mengenali orang aku adalah pamanmu" ucap orang itu.
Anak itu menggelengkan kepalanya berulang kali bahwa dia tidak mengenali orang itu.
"Adik kecil dia adalah keluarga mu" ucap Jenk.
Anak itu masih setia menggelengkan kepalanya keras.
"Aku tidak mengenalinya paman" ucap anak kecil itu.
"Aku adalah paman yang kau cari" ucap pria dewasa itu.
"Adik kecil harus kembali ya" ucap Jenk lanjut berjalan.
"Dia bukan pamanku" teriak anak kecil itu.
Pria dewasa itu langsung mengangkat tubuh kecil itu yang terus memberontak.
Jenk mengangkat kepalanya dan terpancar aura tajam dari kedua matanya itu.
Dengan kecepatan bak angin dia sudah berdiri di hadapan pria yang berusaha untuk membawa anak itu.
"Ayo adik ibumu sudah menunggu di rumah paman baru mendapatkan pesan darinya" ucap Jenk.
"Siapa kau aku adalah pamannya" ucap pria itu.
"Apakah kau mengetahui siapa anak ini? tanya Jenk.
"Apa urusannya denganmu? tanya pria itu sinis
"Seharusnya kalau memang kau pamannya mengetahui siapa namanya" ucap Jenk.
"Kasus penculikan akan di kenakan sanksi hukum pidana bla bla bla" Jenk menjelaskan aturan hukum yang panjang.
Membuat pria itu langsung putar balik di tambah Jenk sudah menghubungi pihak berwajib.
Jenk hanya tersenyum kejam.
"Halo Tuan ada yang kami bisa bantu? ucap seorang operator di seberang telepon.
"Batal terimakasih" ucap Jenk mematikan teleponnya sepihak.
"Adik kecil dimana orang tuamu? tanya Jenk.
"Terimakasih kakak maaf aku memanggil mu paman tadi" cicit anak kecil itu pelan.
"Adik kecil di mana orang tuamu? tanya Jenk
Hai hai hai sobat ๐ Author baru come back nih ๐
Apa kabar kalian?
__ADS_1