
"Tuan apa perlu saya meminta mereka untuk tidak mengawasi Tuan terlalu jelas" ucap Jo mendengar dari mata-mata bahwa ada pasukan khusus yang mengawasi Jenk.
"Biarkan saja yang penting mereka tidak menggangu privasi ku" ucap Jenk tidak mempermasalahkan penjagaan yang di lakukan untuknya.
Jenk tahu pasti kalau Black Shadow tidak mau kebablasan untuk menjaga orang penting.
Kenapa pengawal Jenk sigap melaporkan hal ini karena mereka mengetahui pasti kemauan Tuan Muda mereka tidak mau ada yang mengetahui keberadaannya.
"Baik Tuan Muda saya mengerti" ucap Jo berlalu pergi.
Astaga jadi Anak sultan memang sedikit merepotkan apalagi keberadaan seperti Jenk memang harus butuh kejeniusan.
Jenk yang keluar dari apartemen kembali melintasi jalan untuk para pejalan kaki. Jalan ini adalah jalan menuju taman hiburan.
Dimana di taman tempat orang-orang biasa pergi hanya sekedar jalan-jalan dan juga olahraga.
Di perjalanan menuju taman Jenk melihat seorang bapak tampak menjajakan dagangannya dan di samping bapak itu terdapat seorang anak kecil laki-laki yang menjajakan dagangan yang sama.
Jenk mendekati anak laki-laki itu dan duduk tepat di hadapannya.
"Kakak! kakak mau membeli manisan? ucap anak laki-laki itu menatap Jenk penuh harap.
Jenk menoleh sebentar ke arah anak itu sebelum kembali melihat dagangan yang tertata rapi di depannya.
"Hm aku mau membeli semuanya" ucap Jenk membuat seorang anak laki-laki itu menganga lebar terkejut dengan ucapan Jenk.
"Serius kakak akan membeli semuanya? ucap anak laki-laki itu mengulang kembali perkataannya.
"Ya berapa totalnya? ucap Jenk.
"Kakak hanya membayar ku 200 karena kakak mendapatkan diskon dari ku" ucap anak itu dengan semangat.
"Baiklah" ucap Jenk mengeluarkan beberapa uang berwarna kuning.
"Dan selebihnya untukmu karena menjual manisan yang enak ini" ucap Jenk.
Bapak yang berada di samping anak laki-laki itu tampak tercengang. Kenapa anak muda itu memborong semua manisan itu siapa yang membantunya untuk menghabiskan manisan.
"Terimakasih Kakak" ucap anak itu setelah membungkuk beberapa kali sebagai ucapan terimakasih kepada sosok dermawan di depannya.
Jenk tidak langsung pergi tetapi memilih duduk tepat tempat duduk anak kecil itu sebelumnya.
"Anak muda apakah kau berencana untuk berjualan? tanya bapak yang berada di sebelah Jenk bingung.
"Hum" jawab Jenk dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Manisan manisan enak" ucap Jenk kepada orang-orang yang lewat di depannya.
Karena teriakannya yang terkesan berkarisma membuat orang cepat menolehkan kepalanya.
Hoho sekarang tempat Jenk ramai di datangi oleh pengunjung apalagi kaum hawa.
Siapa yang menolak untuk menonton ketampanan gratis di depan mereka. Banyak yang mengabadikan momen itu dengan mengambil gambar Jenk sebanyak-banyaknya.
Lumayan untuk di jadikan idola baru. Para pengawal Jenk yang berada di bayangan dan berada di sekitar taman hanya bisa menepuk jidat.
Ada apa dengan Tuan Muda mereka? Kenapa sekarang mengundang perhatian banyak orang.
"Ayo manisan enak" ucapnya lagi sambil memberikan ruang kepada para ibu-ibu dan gadis memilih manisan kesukaan mereka.
Dagangan yang banyak ludes tidak memakan waktu bahkan dagangan dari seorang bapak yang bersama Jenk tadi ikut ludes.
"Terimakasih semuanya" ucap Jenk melambaikan tangannya kepada ibu-ibu yang masih menggodanya.
"Anak muda terimakasih berkatmu dagangan bapak laris semua" ucap Bapak itu.
"Sama-sama Pak itu sudah menjadi rejeki bapak" ucap Jenk Dia hanya sekedar membantu berteriak tadi.
Kedua manusia berjenis kelamin sama berbeda usia masih setia duduk di pinggir jalan hanya sekedar bercengkrama.
Jenk juga tidak terlalu menunjukkan wajah dingin dan datarnya walaupun dia tidak tersenyum tetapi dari sorotan matanya terdapat ketulusan.
"Udara sangat panas" ucap Bapak itu sambil mengibas kipas lipat di tangannya.
"Hm udara memang sangat panas" ucap Jenk menimpali.
"Yaudah Pak. Saya permisi terlebih dahulu" ucap Jenk kembali menelusuri isi taman.
Di markas baru yang di bangun oleh Jenk dan team terlebih khusus nya di ruang bawah tanah di mana para peserta berlatih keras dengan alat-alat canggih.
Dor
Dor
Dor
Bunyi tembakan yang beruntun memecah kesunyian ruang bawah tanah.
Suara tembakan itu berasal dari arena pelatihan dimana beberapa peserta melakukan latihan menembak.
Dan beberapa yang lainnya menonton peserta yang pertama.
__ADS_1
Dalam latihan seperti ini, Mereka di didik dengan kecepatan mengganti dan mengisi peluru dan ketajaman mata.
Tidak banyak yang berhasil dalam percobaan pertama. Tetapi mereka memiliki ambisi tinggi untuk menaklukkan arena pelatihan.
Mereka awalnya sedikit santai melihat arena pelatihan. Mereka berpikir bahwa mereka bisa dan membayangkan seperti di movie yang mereka selalu nonton tetapi setelah mereka mengalami sendiri akhirnya mereka menyadari bahwa yang kelihatan mudah belum tentu bisa dilakukan dengan mudah begitu juga yang kelihatan susah intinya kenerja pikiran dan fisik.
Sekarang empat orang peserta duduk berhadapan di depan mereka terdapat meja panjang di mana di atas meja terdapat beberapa peluru dan pistol yang belum terisi peluru.
Dalam tes kali ini para peserta di minta untuk mengisi peluru ke dalam pistol yang berada di atas meja.
Tes kali ini untuk menguji kecepatan mengisi dan mengganti serta menembak kalau mereka dalam keadaan mendesak.
Melihat para peserta pertama yang melakukan tes tersebut membuat para peserta lainnya dag Dig dug.
Bukan hanya kegiatan menembak yang di lakukan oleh mereka.
Kegiatan memanah di mana di sini tidak menggunakan papan target melainkan uji langsung dengan sesama peserta. Ada yang bertugas memanah dan ada yang jadi sasaran.
Beberapa peserta yang memiliki keahlian memanah berdiri berjejer dengan alat panah di tangan mereka masing-masing lengkap dengan anak panah yang bertengger rapi di punggung mereka.
Peserta yang menjadi target sudah siap sedia untuk berlari menghindari anak panah nanti.
Latihan mereka kali ini bukan di ruang bawah tanah melainkan di lapangan luas yang berada di selatan gedung latihan itu.
Di arena pelatihan terdapat beberapa spot yang mana para peserta yang menjadi target nanti melewati untuk menghindari dari buronan para pemanah.
Pelatihan start
Bunyi suara operator menginstruksi mereka bahwa permainan telah di mulai.
Syuttt
syuttt
Bunyi anak panah yang di lepas untuk mengejar sosok yang berlarian menghindari anak panah.
Dengan gesit mereka melewati semua pembatas dan halangan.
Kali ini mereka benar-benar di uji dengan ketangkasan dan gesit menghindari anak panah yang terus di tembakkan ke arah mereka.
Demi menghindari anak panah yang terus melesat bahkan dari mereka sudah terjatuh bahkan kaki mereka dan seluruh tubuh mereka berlumpur karena arena latihan lumayan menantang.
Halo sahabat Author
Salam sehat
__ADS_1
Author akan usahakan update lebih dari satu chapter hari ini.
Author baru memiliki waktu luang pekerjaan dunia nyata.