
Kembalinya Jenk dari mengunjungi bangunan baru itu dia singgah ke warung makan langganan nya.
Warung makan itu milik seorang kakek paruh baya yang tinggal bersama cucu laki-laki nya.
Jenk selalu berkunjung hanya sekedar untuk menyapa kakek itu.
"Kau kembali lagi nak? ucap Kakek itu melihat kedatangan Jenk.
Jenk hanya mengangguk dan duduk di tempat yang biasa Ia duduk.
Kakek itu juga langsung menyiapkan apa yang biasa di pesan oleh Jenk ketika berkunjung ke rumah makan miliknya.
"Hyung" ucap seorang remaja laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu datang menghampiri Jenk.
"Aku baru melihatmu lagi Hyung" ucapnya duduk tepat di hadapan Jenk.
"Bagaimana sekolahmu? tanya Jenk.
Dia sedikit akrab dengan remaja itu hanya beda dua tahun sebenarnya dari umur Jenk.
Bocah itu berumur tiga belas tahun sedangkan Jenk berumur lima belas tahun karena Jenk memiliki tinggi orang eropa jadi dia kelihatan lebih dewasa.
"Biasa sakit pikiran belajar sepanjang waktu" ucap remaja itu sedikit mengeluh.
Semenjak biaya sekolah dan juga biaya untuk les tambahan di bayar lunas oleh Jenk tapi tidak di ketahui oleh mereka.
Mereka hanya mendapatkan kabar kalau ada seorang dermawan yang melunasi semua biaya dan juga guru les yang di sediakan. Mereka sangat ingin mengetahui siapa dermawan itu tetapi tidak di ijinkan untuk mengetahui.
Jenk hanya tersenyum tipis melihat wajah kesal anak itu di hadapannya.
"Kau hanya perlu belajar lebih keras lagi biar bisa melanjutkan pekerjaan kakek" ucap Jenk tumben dia banyak sekali berucap lebih dari sepuluh kata.
"Kau tahu mereka para guru hanya terus memasang wajah datar apalagi yang guru les itu orangnya kaku seperti patung berjalan" ucapnya lagi.
Benar yang mengajar itu adalah orang suruhan Jenk itu sendiri dan seandainya anak itu mengetahui kalau guru yang dia bilang wajah kaku itu adalah guru profesional yang mendapatkan nobel terbaik di dunia mungkin dia orang yang akan paling bahagia.
"Tapi yang walaupun begitu setidaknya aku tidak pusing seperti mendengarkan penjelasan guru di kelas. Guru les ini lebih mudah dipahami dan jalur belajar yang di gunakan juga praktis" ucap anak itu.
"Aku lebih suka bermain pisau dari pada berkutat dengan buku" ucapnya lagi.
"Kau menyukai seni beladiri? tanya Jenk.
"Ya dari kecil aku sangat ingin bergabung di perguruan beladiri tetapi karena keterbatasan ekonomi sehingga menyampingkan hal itu" ucapnya sedikit menunduk.
"Apakah kau ingin untuk bergabung bersama mereka? ucap Jenk
"Ya. tidak" ucap anak itu setuju setelah itu menggelengkan kepalanya lagi.
"Kenapa" tanya Jenk
__ADS_1
"Mungkin aku tidak akan memiliki waktu untuk belajar beladiri karena bertabrakan dengan jadwal sekolah" ucapnya.
"Kau bisa berlatih pada malam hari" ucap Jenk
"Apakah ada yang bisa begitu? ucap anak itu sedikit tidak percaya.
"Kenapa tidak? ucap Jenk mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku celananya.
"Apa ini?" ucap anak itu menerima kartu nama yang di sodorkan Jenk untuknya.
"Itu adalah sebuah perguruan beladiri yang bisa kau datangi" ucap Jenk melihat kebingungan anak itu.
"Sepertinya aku tidak pernah mendengar tentang perguruan ini" ucapnya membolak-balik kartu nama itu.
"Ya perguruan itu baru saja berdiri dan mereka sementara mencari orang yang bergabung untuk berlatih" ucap Jenk.
"Baiklah aku mempercayaimu Hyung" ucap bocah itu.
"Kalau begitu silahkan menikmati hidangan Hyung aku akan menemuimu nanti" ucap bocah yang kerap kali di panggil Min Sik itu bangkit berdiri setelah hidangan Jenk di bawakan oleh salah satu pekerja.
"Hmm" Hanya deheman sebagai jawaban.
Jenk tidak menunda lama melihat makanan di atas meja yang menggugah selera itu.
Walaupun Jenk seorang pangeran tetapi tidak memungkiri kalau dia sangat menikmati makanan kalangan masyarakat.
Asalkan itu makanan dan cocok dengan pencernaan nya dia tidak memilih. Dia adalah Tuan Muda yang serba iya.
"Kakek! Jenk Hyung meninggalkan tips banyak lagi? tanya Min Sik melihat beberapa lembaran uang berwarna kuning di tangan sang kakek.
"Ya anak itu selalu memberikan lebih" ucap kakek itu menghela nafas.
Sudah berulangkali Jenk meninggalkan banyak lembaran uang dan dia bilang itu sebagai tips karena makanannya enak.
Bahkan Jenk pernah membayar dengan dolar USA karena memang waktu itu dia tidak memiliki uang cash Korea di tangannya melainkan kartu hitam dan platinum.
Tidak mungkinkan dia makan di warung kecil bayar dengan kartu kredit.
Ya benar dia jarang sekali berbelanja dengan uang cash selalu dengan kartu kredit setelah kejadian itu dia mulai selalu menyiapkan cash di tas kecilnya yang selalu dia ikatkan di pinggang.
"Ya sudah panggil Seo Oh dan Hyun Ji" ucap kakek itu kepada Min Sik.
Min Sik langsung melakukan perintah kakaknya. Tidak lama kemudian ketiga orang itu kembali muncul di hadapan kakek itu.
"Ini kalian mendapatkan tips dari pelanggan" ucapnya membagikan langsung di hadapan mereka secara merata.
"Kakek kau memang yang terbaik" ucap Seo Oh semangat mendapatkan tips yang banyak hari ini.
Akhirnya dia memiliki uang untuk membayar sewa apartemennya yang sudah jatuh tempo.
__ADS_1
"Ya karena kalian melayani dengan baik sehingga mereka memberikan kalian tips yang banyak" ucap kakek Kim tersenyum tipis melihat antusias ketiga cucunya itu.
"Terimakasih Kakek" ucap Hyun Ji.
Laki-laki itu memang berbanding terbalik karakter dengan Seo Oh. Kedua orang itu adalah anak yatim-piatu yang hanya mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup.
Seo Oh dan Hyun Ji berkenalan di tempat kerja kakek Kim dan karena karakter mereka yang berlawanan mempermudah mereka akrab.
Apalagi mereka sama-sama anak yang tidak memiliki siapapun.
Kakek Kim juga menyayangi mereka seperti cucunya Min Sik.
Kebetulan pelanggan terakhir yang makan adalah Jenk karena itu mereka pulang setelah menutup warung makan itu.
Jenk kembali pulang ke asrama setelah mengunjungi warung makan milik kakek itu.
Bukan karena apa Jenk selalu berkunjung karena dia menginginkan potensi yang di miliki oleh Min Sik anak itu memiliki kemampuan yang mungkin kedepannya akan sangat membantu.
Yah namanya pembisnis pasti dong harus ada timbal balik.
Jenk menginginkan Min Sik nanti menjadi orang yang dia percayai di Korea.
Ya membentuk sekutu dari pada dasarnya itu lebih baik dari pada mengambil orang yang sudah memiliki pegangan.
Seperti perkiraan Jenk, Selesai menutup toko Min Sik sudah langsung datang ke tempat yang di maksud oleh Jenk.
Dia mendatangi tempat itu dengan di antar oleh Hyun Ji yang dia harus paksa hanya sekedar mengantarnya.
"Apa kau yakin di sini tempatnya? tanya Hyun Ji ketika mereka tiba di gerbang lokasi gedung mewah.
"Ya seharusnya disini! ucap Min Sik.
"Tapi kok ini seperti kediaman orang kaya ya? bingung Min Sik.
Bagaimana dia tidak bingung melihat gedung tinggi dan mewah bak hotel itu.
"Coba bertanya'' saran Hyun Ji.
"Permisi! teriak Min Sik dari luar gerbang.
"Ini gimana cara panggilnya ya? kok tidak ada bel seperti rumah orang kaya lainnya" ucap Min Sik menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat apakah ada tombol bel.
Jenk yang melihat mereka lewat pantauan kamera di lubang pintu gerbang terkekeh dengan kelakuan absurd Min Sik yang mengobrak-abrik dinding pintu itu.
Hai hai hai sobat ๐ Author baru come back nih ๐
Apa kabar kalian semua?
Sehat?
__ADS_1
Jangan lupa dukung ya biar semangat author menulis