
Di villa mewah milik keluarga Jean Drake Jean dan beberapa orang dari keluarga Jean sedang berkumpul di sebuah ruangan disana juga ada Bolton Wanderers yang belum lama tiba di kota Amber, Drake duduk di disebuah sofa dari wajahnya ia nampak seperti orang yang sedang marah matanya sangat tajam menatap kearah Bolton, Bolton hanya bisa menundukkan kepalanya ia tidak berani menatap mata Drake secara langsung suasana di dalam ruangan membuat Bolton ketakutan setengah mati bahkan saking takutnya tubuhnya sampai gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin.
Di sebelah kanan Drake ada seorang pria paruh baya pria ini memiliki aura yang sangat menakutkan aura orang ini hampir sama dengan aura milik Drake, pria paruh baya ini adalah Aiken Jean adik pertama dari Drake Aiken adalah wakil dari Drake selain itu ia juga orang yang cukup terkenal di dunia bawah kota Amber, Drake yang dari tadi diam segera bertanya kepada Bolton dengan nada yang sangat dingin dan mengintimidasi.
" Jelaskan padaku mengapa Tood bisa diculik oleh seseorang dan siapa orang yang telah berani menculik keturunan dari keluarga Jean." Ucap Drake Jean kepada Bolton.
" Tuan besar Jean saat aku dan juga tuan muda Tood telah sampai di bandara puluhan mobil datang mengepung mobil yang kami tumpangi seseorang turun dan menghampiri kami orang itu adalah Freddy More juru bicara keluarga Alexander, ia menyuruh anak buahnya untuk membawa Tood Jean dan juga semua bodyguard yang kami ia berkata kepada tuan muda Tood bahwa tuan mudanya ingin bertemu denganmu." Ucap Bolton dengan nada yang gemetaran karena ketakutan.
Seketika Drake membanting asbak keramik yang ada dimeja dihadapannya hingga hancur berkeping-keping semua orang yang ada diruangan itu hanya bisa diam sambil menundukkan kepala, Drake Jean mengeluarkan sebuah suara yang sangat dingin suara yang keluar tidak terlalu keras tetapi semua orang yang ada diruangan mendengar suara yang dikeluarkan oleh Drake.
" William Alexander kau pikir kau bisa bermain main dengan keluarga Jean, jika terjadi sesuatu kepada keponakan ku aku akan menghancurkan hidupmu seperti bagaimana kau menghancurkan keturunan keluarga Jean." Ucap Drake dengan suara yang sangat dingin.
Saat Drake sedang marah seseorang datang menghampiri mereka ia adalah seorang pelayan yang ditugaskan oleh Drake untuk memanggil Damian di kamarnya, pelayan itu langsung berlutut dan langsung berkata kepada Drake.
" Maaf tuan tuan muda tidak ada didalam kamarnya, nampaknya dari semalam tuan muda belum pulang kerumah." Ucap pelayan itu dengan hormat.
" Kemana anak itu, Colvin apa kau tahu kemana kakakmu." Ucap Drake sekaligus bertanya kepada seorang pemuda yang memiliki tubuh tinggi dan juga kulit putih pucat dan rambut berwarna silver.
Pria itu bernama Colvin Jean adik kedua dari Damian ia berumur dua puluh dua tahun ia beda lima tahun dari Damian Drake mempunyai dua istri dan lima anak istri pertamanya mempunyai tiga orang anak sedangkan istri kedua mempunyai dua orang anak, walaupun ia mempunyai dua orang istri tetapi kedua istrinya ini sangat akrab satu sama lain begitu juga dengan anak anak mereka mereka juga saling dekat dengan ibu tiri mereka Drake tidak pernah membedakan kedua istrinya bahkan ia sangat menyayangi keduanya.
" Aiken hubungi Damian suruh ia untuk kesini sekarang juga." Ucap Drake dengan dingin.
" Baik kak aku akan menghubunginya sekarang juga." Ucap Aiken dengan hormat.
Saat ini Damian sedang berada di apartemen pribadi miliknya tidak seorang pun dari keluarga Jean yang mengetahui apartemen ini hanya anak buah miliknya yang mengetahui tempat ini, Damian sedang tertidur pulas di atas kasur di atas dadanya ada Nancy sedang tertidur pulas karena kecapean dengan pertempurannya dengan Damian tadi malam, mereka berdua tidur tanpa mengenakan sehelai kain pun hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua saat sedang asik menikmati alam mimpinya Damian dikejutkan dengan bunyi teleponnya dengan mata yang masih ngantuk ia meraih handphonenya di atas meja ketika melihat nama pamannya Aiken ia langsung mengangkat teleponnya.
" Halo paman ada apa." Tanya Damian sambil mengucek matanya.
" Ayahmu menunggu mu di villa ada hal buruk yang terjadi semalam.
Damian yang mendengar suara serius dari pamannya segera menjawabnya." Baik aku kesana sekarang juga." Ucap Damian dengan dingin.
Damian langsung bangun dari tempat tidurnya hingga membuat Nancy terbangun juga dari tidurnya Nancy yang melihat Damian terburu-buru segera bertanya kepadanya.
" Sayang kau mau kemana aku masih mau bermain denganmu." Ucap Nancy dengan menggoda.
" Aku harus kembali ke villa ayahku memanggil ku untuk menghadap kepadanya." Jawab Damian sambil memakai pakaiannya kembali.
" Terus aku bagaimana apa kau mau meninggalkan aku sendirian." Ucap Nancy dengan menggoda.
" Kau bisa tinggal disini di atas meja ada kartu pintu apartemen, kunci mobil milikku, aku juga sudah mentransfer lima juta dolar ke rekening milikmu kau bisa gunakan itu untuk membeli apa saja yang kau inginkan jika kurang kau bisa hubungi aku." Ucap Damian sambil memakai dasinya.
__ADS_1
Setelah selesai memakai pakaiannya Damian pergi meninggalkan apartemen di depan gedung apartemen sudah ada beberapa orang yang menunggunya mereka adalah orang kepercayaan miliknya, Damian masuk kedalam mobil RollsRoyce Pantom berwarna putih dan langsung pergi meninggalkan apartemen di waktu yang sama William, Chelsea dan juga kedua mertuanya telah sampai di rumah sakit William menurunkan mereka bertiga dan pergi mencari tempat parkir setelah menemukan tempat parkir ia langsung turun dari dalam mobil sambil membakar rokoknya, William melihat dari kaca spion bahwa ada beberapa orang yang masih mengikutinya ia pun memancing mereka menuju basemen rumah sakit
Sesampainya di basemen rumah sakit ia pun berhenti tidak lama setelah itu lima belas pria berbadan tinggi besar datang menghampirinya mereka adalah orang yang William lihat malam itu memantau dirinya, sekolompok orang itu mulai mengelilingi William mereka juga mengeluarkan senjata dari belakang mereka sebuah pisau dan juga pistol William hanya tersenyum melihat itu sambil membuang rokoknya.
Orang-orang itu maju dan langsung menyerang William dengan pisau ditangan mereka gerakan mereka sangat cepat William menangkis serangan mereka sambil melakukan serangan balik, satu orang diantara mereka berhasil ditendang mundur oleh William sebuah serangan dari belakang hampir mengenai punggungnya William menghindari serangan itu dengan cepat dan menangkap tangan pria itu, setelah menggenggam tangan pria itu William menghajarnya hingga jatuh ke tanah dan langsung mematahkan salah satu kakinya sedangkan anak buah Jhon yang sedang memantau mereka segera melaporkan hal ini kepada Jhon.
" Halo bos gawat nampaknya mereka mulai menyerang tuan muda Alexander." Ucap anak buah John.
"Apa berapa jumlah mereka, apakah tuan muda Alexander baik-baik saja." Ucap Jhon dengan terkejut sekaligus bertanya kepada anak buahnya.
" Jumlah mereka lima belas orang, saat ini mereka sedang bertarung di basemen rumah sakit aku tidak bisa memastikan keadaan tuan muda Alexander." Jawab anak buah Jhon dengan sedikit rasa takut.
" Aku ingin kalian pergi kesana dan membantu tuan muda Alexander, jika terjadi sesuatu kepadanya jangan harap kalian bisa hidup." Ucap Jhon dengan nada yang sangat dingin.
" Baik bos." Jawab anak buahnya dengan tegas.
Didalam William masih bertarung dengan mereka tetapi kali ini William sudah melumpuhkan delapan dari mereka William menangkap tangan pria yang sedang bertarung dengannya dan langsung memukuli pergelangan tangannya menggenakan sikunya seketika terdengar suara retakan tulang yang sangat nyaring, tidak sampai di situ William juga menendang kepala orang itu menggunakan lututnya hingga membuat hidung pria itu mengeluarkan banyak darah tidak sampai di situ William berjalan maju menuju dua orang yang ada didepannya setelah sampai William menendang perut salah satu dari mereka.
William sudah melumpuhkan sebelas orang William mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat sampai- sampai empat orang yang tersisa mengeluarkan keringat dingin badan mereka bergetar hebat, mereka tidak menyangka bahwa William sehebat ini William maju dan meraih kerah baju salah satu dari mereka tatapan mata William sangat dingin dan juga tajam ia memukul wajah pria itu hingga terjatuh ke tanah William mengangkat kakinya dan langsung menginjak mukanya hingga hancur ketiga temannya yang melihat itu hanya bisa diam.
" Kalian bisa melihatnya kan aku akan memberikan kalian satu kesempatan jika kalian tidak bisa menjawab pertanyaan ku, akan aku pastikan keadaan kalian sama seperti teman teman kalian yang sedang terbaring di tanah." Ucap William dengan dingin sambil berjalan menuju mereka
" Pertanyaannya gampang siapa yang telah menyuruh kalian menyerang ku." Jawab William dengan dingin.
" Kami tidak tahu siapa orang itu, kami hanya di hubungi oleh seseorang orang itu memberikan fotomu dan juga sebuah pesan untuk menghabisi nyawa mu." Jawab salah satu dari mereka dengan takut.
William yang mendengar jawaban itu langsung mengambil pistol yang tergeletak di tanah dan langsung menembak kaki pria itu sambil berjalan menghampiri mereka.
" Kalian pikir aku percaya kepada kalian." Ucap William dengan dingin sambil tetap berjalan.
Saat ingin menarik pelatuk pistol handphone miliknya berdering itu adalah panggilan dari Chelsea William mengambil handphonenya dan langsung mengangkatnya.
" Halo sayang kau dimana." Ucap Chelsea dari ujung telepon.
" Aku sedang di supermarket tadi aku kehausan jadi aku pergi membeli minuman." Jawab William dengan santai.
" Baiklah setelah itu temui aku di dalam rumah sakit." Jawab Chelsea dengan santai.
Setelah mematikan Handphonenya William menembakkan peluru kearah kaki mereka bertiga William melakukan itu karena ia masih belum mendapatkan informasi dari mereka, setelah selesai melumpuhkan mereka bertiga William pergi meninggalkan mereka di depan gerbang basemen William bertemu dengan anak buah dari Jhon jumlah mereka ada sepuluh orang, setelah mereka melihat William keluar tanpa cedera sedikitpun mereka segera membungkuk.
" Bersihkan mereka bawa mereka semua ke ruang bawah tanah diamond surface jika ada diantara mereka yang sudah mati aku ingin kalian menyingkirkannya dengan rapi." Ucap William dengan dingin.
__ADS_1
" Baik tuan muda." Ucap orang yang berdiri paling depan tanpa berani menatap langsung mata William.
Sementara itu Damian telah sampai di villa mewah milik keluarga Jean saat ini ia sedang berada di hadapan ayahnya ia hanya bisa diam melihat wajah ayahnya yang sedang menahan amarahnya, ia tidak berani bertanya kepada ayahnya apa yang sedang terjadi saat suasana didalam ruangan semakin tegang seorang pelayan datang menghampiri mereka.
" Tuan besar tuan Jean ketiga telah tiba saat ini ia sedang berada di depan." Ucap pelayan dengan hormat.
"Bawa ia Kesini ada yang ingin aku beritahu kepadanya." Ucap
Di depan villa keluarga Jean seorang pria berbadan tinggi dan bertubuh kurus turun dari sebuah mobil bantley Mulsanne pria itu mengenakan setelan berwarna hitam ia adalah Byron Jean ayah dari Tood Jean Jean, pria itu memiliki wajah yang hampir sama dengan Drake Jean Byron seumuran dengan Billy Alexander dulu ia dan Billy satu kuliah mereka berdua adalah mahasiswa terbaik di kampus mereka, setelah lulus kuliah mereka menjadi semakin bersaing di dunia bisnis Byron sering kalah dalam soal memenangkan tender dengan berbagai perusahaan yang ingin menjadi partner bisnis mereka.
Byron berjalan menuju pintu villa ia disambut oleh semua pelayan dari keluarga Jean Byron semua pelayan membungkuk ketika Byron sampai di hadapan mereka, salah satu pelayan maju dan menyampaikan pesan dari Drake kepadanya Byron hanya diam dan langsung masuk kedalam villa ia menaiki tangga dan pergi ketempat kakaknya dan juga beberapa anggota keluarga Jean berkumpul, sementara di rumah sakit Jacob telah selesai mencabut gipsum kakinya ia dan juga dokter keluar dari dalam ruangan didepan sudah ada William, Chelsea, dan juga istrinya setelah semuanya selesai mereka langsung izin pergi.
Saat dalam perjalanan menuju mobil handphone William berdering itu adalah panggilan dari Aurora William yang melihat itu langsung izin mengangkat telepon kepada mereka William berjalan menjauh dari mereka sambil mengangkat teleponnya.
" Halo ada apa." Tanya William dengan santai.
" CEO di kantor ada seseorang yang sedang mencari anda." Jawab Aurora dengan sopan.
" Apa dia partner bisnis atau ingin menjalin kerjasama dengan kita, apa kau mengenal orang itu." Tanya William dengan santai.
" Bukan CEO dia bukan rekan bisnis kita dan dia juga tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan kita, aku juga tidak mengenalnya." Jawab Aurora dengan hormat.
" Bagaimana ciri-ciri orang itu." Tanya William dengan nada yang mulai penasaran.
" Nampaknya orang itu bukan berasal dari negara Nordik karena kulit, mata, dan warna rambut orang itu sama seperti orang Amerika, tetapi Wajah orang itu nampak seperti orang Chinese tetapi ia sangat mahir dalam menggunakan bahasa negara kita." Ucap Aurora dengan sopan.
William merasa bahwa ia tidak mengenal orang seperti itu ia juga tidak mempunyai teman dengan ciri-ciri yang dikatakan oleh Aurora.
" Dimana Quinton dan juga Peter apa kau tidak menanyakan orang itu kepada mereka." Ucap William Dengan santai.
" Mereka juga sama mereka tidak mengenal orang itu, saat ini pak Quinton sedang bersama orang itu di loby kantor." Ucap Aurora dengan tersenyum.
"Baiklah kau temui orang itu tanyakan siapa nama orang itu jika ia tidak ingin memberi tahu namanya beritahu kepadanya bahwa siapapun yang ingin bertemu dengan CEO harus memberi tahu namanya terlebih dahulu, karena tidak sembarang orang yang ingin ditemui oleh CEO karena CEO tidak ingin dirinya diketahui oleh orang lain selain keluarganya dan juga beberapa rekannya." Ucap William dengan tersenyum.
"Baik CEO saya akan pergi kebawah untuk menemui orang itu." Ucap Aurora dengan hormat.
Sementara di villa keluarga Jean Byron Jean sangat marah ia mengepalkan tangannya dengan kuat saking kuatnya kuku tangannya menembus daging, ia tidak menyangka anak satu satunya diculik oleh William ia yang tidak bisa membendung emosinya langsung membalikkan meja yang ada didepannya semua orang yang ada disitu terkejut melihat itu, Drake dan juga Colvin segera menghampiri Byron Drake sebagai kakak pertama mulai menenangkan adiknya itu ia juga berjanji kepada adiknya bahwa ia akan mengirimkan petarung terbaik mereka untuk menjemput Tood pulang dari berilon.
" Kakak akan mengirimkan salah satu dari pasukan terbaik kita untuk menjemput Tood." Ucap Drake dengan dingin.
Semua orang yang ada disana terkejut mendengar perkataan Drake tujuh pasukan khusus milik keluarga Jean sangat hebat walaupun tidak sehebat pasukan dari delapan keluarga terkaya di negara Nordik, di kota Amber pasukan milik keluarga Jean sangat terkenal di mata masyarakat kelas bawah Dimata mereka pasukan keluarga Jean berada di peringkat ketiga setelah keluarga Amstrong dan Brooke.
__ADS_1