UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Interaksi dengan anak-anak


__ADS_3

"Ya ampun nak Fathur, harusnya kamu nggak perlu repot-repot seperti ini. Apalagi sampai bawa sebanyak ini. Dengan kamu datang kesini saja udah buat kita semua seneng. Kalau begini Bunda jadi nggak enak loh sama kamu." Ujar Bunda Sina kepada Fathur.


Bunda Sina benar-benar dibuat terkejut dengan makanan dan juga hadiah-hadiah yang berdatangan sampai harus dibawa menggunakan 3 mobil.


"Nggak papa Bunda, mumpung saya lagi ada rezeki." Jawab Fathur kalem.


Bukan mumpung sih, lebih tepat sehari-hari Fathur memang selalu memiliki banyak rezeki.


Sementara Nadya, sama seperti Fathur, gadis itu juga terkejut dengan banyaknya hadiah yang Fathur bawa. Padahal tadi Nadya sudah mengatakan kalau Fathur tidak perlu membawa apa-apa. Tapi nyatanya bawaan Fathur benar-benar sangat diluar ekspektasi Nadya.


"Mas, ini beneran banyak banget loh." Ujar Nadya kepada Fathur.


Fathur menatap Nadya, sebelum mengatakan...


"Tau kok." Jawab Fathur datar.


Menyebalkan bukan?


Saat berbicara dengan Bunda Sina, Fathur terlihat kalem dan juga sangat sopan. Tapi lihatlah bagaimana Fathur kalau berbicara dengan Nadya? Sifat datar dan dinginnya kembali muncul.


Dan itu membuat Nadya kembali memiliki pikiran kalau selama ini Fathur ternyata benar-benar tidak menyukainya. Respon Fathur saat berbicara dengan orang lain dan saat berbicara dengannya benar-benar berbeda. Jadi dengan Fathur yang seperti ini, itu sudah menunjukkan semuanya. Dan Nadya sangat paham.


Mendengar jawaban Fathur, Nadya memilih diam. Sebenarnya Nadya masih ingin mengatakan sesuatu, tapi khawatir kalau respon yang Fathur berikan akan membuatnya semakin kecewa. Jadi Nadya memilih untuk diam.


"Kenapa?" Tanya Fathur tiba-tiba.


Sepertinya Fathur bisa merasakan perubahan yang terjadi pada Nadya. Eemm... Atau hanya kebetulan saja Fathur bertanya seperti itu?


Nadya mendongak menatap Fathur.


"Ha? Enggak papa kok. Aku mau bantu yang lain dulu." Nadya sudah akan beranjak dari samping Fathur. Namun baru satu langkah, mendadak langkahnya terhenti karena seseorang mencekal tangannya.


"Nggak usah, kamu disini aja. Biar yang lain yang turunin barangnya." Ujar Fathur masih dengan suara datar.


Bunda Sina sendiri sudah tidak ada bersama dengan mereka. Bunda Sina bersama dengan pengurus panti yang lainnya sudah sibuk mengurus barang-barang bawaan Fathur.

__ADS_1


Nadya yang terlalu terkejut hanya diam. Tatapannya tertuju kepada tautan tangannya yang tidak Fathur lepas. Membuat jantung Nadya mendadak berdetak menjadi sangat cepat. Ya, Nadya gugup.


Fathur sendiri juga hanya diam setelah meminta Nadya untuk tetap disampingnya. Entahlah Fathur sadar atau tidak kalau saat ini tangannya masih menggenggam tangan mungil Nadya yang sepertinya sangat pas dalam genggamannya.


"Huaaa..."


Suara tangisan seorang anak membuat Nadya refleks melepaskan tautan tangan Fathur. Dengan cepat Nadya juga beranjak dari samping Fathur untuk menghampiri anak yang menangis.


Melihat kepergian Nadya yang tiba-tiba, membuat Fathur sadar kalau sejak tadi tanpa sadar dia menggenggam tangan Nadya. Benar, tadi Fathur tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Jadi aksinya tidak melepas genggaman tangannya pada tangan Nadya itu bukan karena sengaja.


Tapi meskipun tidak sengaja Fathur tetap harus mengakui bahwa tangan Nadya terasa pas dan juga nyaman saat dia genggam. Kalau begini ceritanya, haruskah Fathur sering-sering menggenggam tangan Nadya? Sepertinya menggenggam tangan Nadya akan menjadi kesukaan baru Fathur.


Dengan cepat Fathur menggelengkan kepalanya setelah memikirkan itu.


"Lo jangan gila Fathur. Apa yang bakal Nadya pikirin kalau lo pegang-pegang tangan Nadya tanpa alasan? Isi pikiran otak lo akhir-akhir ini emang nyebelin." Ujar Fathur berbicara dengan dirinya sendiri didalam hati.


Kini tatapan Fathur langsung tertuju kearah kemana Nadya tadi pergi. Dan dari tempatnya saat ini duduk, Fathur bisa melihat Nadya yang saat ini sedang menggendong seorang anak perempuan yang usianya mungkin sekitar 2 tahunan. Nadya terlihat sedang menenangkan balita yang saat ini masih menangis itu.


Mendadak gambaran sepasang suami istri dengan seorang anak muncul di kepala Fathur. Namun tentu saja Fathur tidak membiarkan otaknya semakin berpikir ngawur.


"Hussttt, enggak papa sayang. Dea kan anak kuat. Lain kali hati-hati mainnya ya. Mana yang sakit? Biar Kak Nadya sembuhin." Ujar Nadya kepada balita bernama Dea itu.


Dan ucapan Nadya itu terdengar oleh Fathur. Suara lembut Nadya saat menenangkan anak perempuan yang Fathur ketahui bernama Dea itu mendadak membuat sebuah perasaan hangat menyusup didalam dirinya.


"Kenapa Nad?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Nadya refleks menoleh kearah Fathur.


"Ini Mas, tadi Dea nggak sengaja kepentok meja waktu lagi main." Jawab Nadya.


Kali ini tatapan Fathur tertuju kepada Dea yang mendadak sudah berhenti menangis. Dan saat ini Dea sedang menatap Fathur dengan wajah sembabnya. Fathur juga bisa melihat dahi Dea yang sedikit memerah. Mungkin dahi merah itulah efek dari kepentok meja tadi.


"Yuk ikut om sayang?" Lagi-lagi Fathur dikejutkan dengan tindakannya sendiri. Selama ini Fathur tidak pernah menggendong anak kecil. Karena pada dasarnya Fathur tidak tau bagaimana dia harus memperlakukan anak kecil. Fathur terlalu kaku untuk urusan yang berhubungan dengan anak kecil apalagi balita seperti ini.


Dan tanpa di duga, ternyata Dea juga langsung mau digendong oleh Fathur.

__ADS_1


Nadya yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Dalam hati Nadya cukup bangga karena ternyata Fathur cukup peduli dengan anak-anak.


"Coba kasih tau om, mana yang sakit sayang?" Tanya Fathur dengan lembut. Fathur cukup tau diri dengan menyebut dirinya dengan panggilan om. Usianya yang sudah kepala 3 rasanya tidak pantas saja kalau harus dipanggil dengan panggilan kak seperti Nadya. Oke, lupakan masalah usia.


Menurut Nadya, suara Fathur saat berbicara dengan Dea bahkan lebih lembut dari yang biasa digunakan saat berbicara dengan Nabila. Dan, Nadya jadi iri rasanya.


"Yan itiii..." Jawab Dea dengan suara menggemaskan sembari menunjuk dahinya. Seperti tebakan Fathur, dahi merah itulah hasil dari Dea kepentok meja.


"Huftt... Huftt...Huftt..." Fathur meniup-niup dahi Dea. "Udah, sekarang sakitnya udah Om obatin. Sebentar lagi udah sembuh kok." Ujar Fathur kepada Dea.


Dan apa yang Fathur lakukan itu tidak luput dari perhatian Nadya.


"Sekarang sama Kak Nadya lagi ya?" Fathur yang sudah bingung harus melakukan apalagi berniat untuk memberikan Dea kepada Nadya lagi. Tapi yang terjadi, Dea justru merangkulkan tangannya membelit leher Fathur cukup erat.


"Kayanya Dea pengen digendong sama Mas Fathur." Ujar Nadya.


Ya seperti inilah anak-anak panti asuhan. Tumbuh besar tanpa adanya orang tua membuat sebagian besar dari mereka menjadi sangat mandiri. Namun tidak bisa dipungkiri kalau mereka juga sangat haus dan menginginkan kasih sayang dari orang disekitarnya. Karena Nadya juga pernah merasakan hal seperti itu, bahkan sampai sekarang Nadya masih menginginkannya.


"Ini saya harus gimana Nad?" Tanya Fathur dengan wajah bingung.


"Gimana apanya? Mas Fathur ajak Dea main aja, sama ajak yang lain." Jawab Nadya.


"Saya nggak bisa ajak anak-anak main Nad. Ini aja kali pertama saya gendong anak kecil." Mau tidak mau Fathur harus jujur kalau selama ini dia tidak pernah dekat apalagi mengurus anak kecil.


"Ya udah, aku temenin. Yuk kita main kesana." Ujar Nadya menunjukkan area bermain anak-anak yang rata-rata masih berusia balita.


Nadya melangkahkan kakinya kesana, yang mau tidak mau diikuti oleh Fathur bersama dengan Dea yang ada di gendongannya.


"Kak Nad..." Seorang anak laki-laki berusia kira-kira sekitar 4 sampai 5 tahunan langsung berlari kearah Nadya.


"Pelan-pelan Yusuf, nanti jatuh sakit loh. Kak Nad juga mau kesana." Ucap Nadya dengan lembut.


Saat ini, anak laki-laki yang Nadya panggil Yusuf itu sudah ada di gendongan Nadya.


Fathur bersama dengan Nadya bermain bersama dengan anak-anak yang lain juga. Entah kenapa, Fathur merasakan sesuatu yang damai saat bersama dengan anak-anak disini.

__ADS_1


__ADS_2