
"Enggak, pokoknya aku enggak akan pergi kemana-mana. Kalau kamu mau disini, maka aku juga bakal ikut disini. Pokoknya kita harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya." Jawab Fathur dengan nada tegas.
Nadya menghela nafas mendengar jawaban Fathur. Yang Fathur katakan memang benar, tapi masalahnya Nadya bukannya mau menunda untuk menyelesaikan masalah ini. Nadya hanya ingin mengistirahatkan diri terlebih dahulu agar hatinya tenang dan dia bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Tapi... Ya sudah, mau bagaimana lagi. Fathur sudah ada disini, dan tidak mungkin juga Nadya meminta Fathur untuk pergi, karena Nadya tau dengan pasti kalau Fathur tidak akan menuruti ucapan Nadya. Jadi mari kita selesaikan masalah ini.
"Ya udah, tapi kita pulang dulu aja Mas. Aku nggak mau kalau Bunda sama anak-anak disini tau kalau kita lagi berantem." Ujar Nadya pada akhirnya.
Sebenarnya kalau Fathur tidak datang menyusul dirinya kesini, Nadya juga tidak akan menceritakan masalahnya kepada Bunda Titi ataupun Bunda Sina. Nadya datang ke panti karena dia memang ingin menenangkan diri saja sebentar. Nanti sore juga Nadya pasti akan pulang.
"Kita pulang?" Tanya Fathur memastikan.
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Iya." Jawab Nadya lirih.
Nadya dan Fathur keluar dari kamar dan berjalan turun menuju lantai 1. Meski sedang marahan, tapi Nadya sama sekali tidak menolak saat Fathur menggandeng tangannya.
"Putri, Mbak pulang dulu ya. Maaf enggak tunggu sampai Bunda pulang. Soalnya Mbak Nadya sama Om Fathur ada urusan mendadak." Ujar Nadya kepada Putri.
Putri yang paham menganggukkan kepalanya.
"Iya Mbak nggak papa. Lain kali kesini lagi ya." Jawab Putri.
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Iya, inshaAllah nanti Mbak kesini lagi. Kalau gitu Mbak pamit ya."
Setelah berpamitan kepada Putri, Nadya dan Fathur keluar dari panti dan masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan Nadya tampak hanya diam. Sementara Fathur bingung sendiri harus membahas topik apa agar Nadya mau berbicara dengannya. Padahal kalau dilihat-lihat ekspresi Nadya sama sekali tidak terlihat kesal atau bagaimana. Nadya terlihat biasa saja, tapi ya memang yang Nadya lakukan hanya diam.
"Kita mampir dulu ya, Nad." Ujar Fathur kepada Nadya.
Dan ini berhasil membuat Nadya menoleh kearah Fathur.
"Mau mampir kemana?" Tanya Nadya.
__ADS_1
Walaupun hanya seperti ini, tapi Fathur tetap bahagia saat mendengar suara Nadya.
"Ke rumah makan padang, aku laper banget soalnya." Jawab Fathur. "Tadi makan siang kamu juga belum habis kan?"
Nadya tidak mengatakan apa-apa, tapi dia menganggukkan kepalanya tanda setuju kalau mereka mampir ke rumah makan Padang.
Sejujurnya mendengar Fathur yang kelaparan, Nadya menjadi merasa sangat bersalah. Pasti Fathur belum sempat makan karena laki-laki itu langsung menyusul dirinya ke panti saat mengetahui kalau Nadya ada disana.
Tiba-tiba... Air mata Nadya menetes. Ya, Nadya menangis dalam diamnya karena rasa bersalah yang dia rasakan kepada Fathur.
Mendadak Fathur memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Karena kebetulan sekali mereka berada dijalan yang tidak terlalu ramai.
Hal ini membuat Nadya dengan cepat mengusap air matanya. Dan itu semua tidak luput dari penglihatan Fathur.
Dengan lembut Fathur menggeser posisi tubuh Nadya agar menghadap kearah dirinya.
Darimana Fathur tau kalau Nadya menangis? Fathur mengetahui Nadya menangis saat dia melihat ke spion center. Dan sungguh, itu membuat Fathur merasa sangat bersalah. Fathur merasa kalau dia sudah terlalu sering membuat Nadya menangis. Padahal Fathur sudah pernah berjanji untuk tidak lagi membuat Nadya menangis. Tapi sekarang apa? Fathur mengingkari janjinya sendiri.
Dan seperti yang kita tau, jika sudah seperti ini maka Nadya akan semakin bertambah menangis. Melihat itu, Fathur langsung saja membawa Nadya kedalam pelukannya. Sembari terus menggumamkan kata maaf.
"Maaf Nad... Maaf..." Ujar Fathur.
"A-aku minta maaf..." Ujar Nadya dengan suara sesenggukan.
Sampai akhirnya setelah Nadya mulai tenang, barulah Fathur kembali menjalankan mobilnya. Langsung ke rumah, tidak jadi ke rumah makan Padang seperti rencana awal. Lagi pula Fathur tidak benar-benar lapar. Alasan sebenarnya Fathur mengajak Nadya untuk ke rumah makan Padang adalah karena tadi siang Nadya hanya makan sedikit.
Sesampainya di rumah, Fathur langsung mendudukkan Nadya di ruang makan, kemudian memberi segelas air minum untuknya.
__ADS_1
Terlihat Nadya sudah tidak lagi menangis. Nadya sudah tampak lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
"Mas Fathur mau aku masakin apa?" Tanya Nadya tiba-tiba.
Fathur jelas saja terkejut mendapatkan pertanyaan seperti ini. Fathur pikir Nadya tidak akan peduli lagi kepadanya disaat sedang marah seperti ini. Tapi ternyata Fathur salah. Nadya tepatlah Nadya yang selalu peduli kepada Fathur.
"Nggak usah Nad, hari ini kamu istirahat aja. Nanti soal makanan kita bisa delivery food aja." Jawab Fathur dengan lembut.
"Tapi Mas Fathur belum makan... Tadi dijalan Mas bilang lapar..." Ujar Nadya seraya menundukkan kepalanya.
Fathur tersenyum, ternyata ini yang membuat Nadya menangis. Nadya menangis karena dia merasa bersalah kepada Fathur.
Fathur mengusap dengan lembut puncak kepala Nadya.
"Enggak Nadya... Aku sebenarnya enggak laper kok. Aku bilang laper dan ajak kamu mampir buat makan di rumah makan Padang itu karena aku ingat kalau tadi siang kamu cuma makan sedikit." Jawab Fathur jujur.
Nadya menatap Fathur dengan tatapan tidak percaya.
"Beneran?" Tanya Nadya.
Fathur menganggukkan kepalanya.
"Iya beneran."
Mendengar jawaban Fathur, rasa bersalah Nadya sedikit demi sedikit mulai hilang berganti dengan sebuah perasaan hangat. Nadya tidak menyangka kalau Fathur akan seperhatian ini kepada dirinya.
Malam harinya, Nadya sudah terlihat biasa saja. Padahal Fathur sama sekali belum menjelaskan tentang Elisa. Jadi, apakah Fathur harus tetap membahasnya malam ini? Fathur benar-benar bingung. Kalau dibahas malam ini juga, Fathur khawatir Nadya akan kembali marah kepada dirinya. Tapi kalau tidak dia bahas sekarang, Fathur lebih khawatir kalau masalah ini suatu saat nanti akan menjadi masalah besar untuk hubungan rumah tangganya dirinya dengan Nadya. Jadi, apa yang harus Fathur lakukan?
"Nad..." Fathur memanggil Nadya yang saat ini sedang duduk di atas ranjang sembari memainkan ponselnya.
Nadya mengangkat kepalanya menatap Fathur.
"Iya, Mas. Kenapa?" Tanya Nadya dengan pandangan bertanya.
"Ekhem..." Fathur berdehem sebentar. "Mau enggak kalau kita lanjutin yang tadi? Kita selesaikan masalah tentang Elisa. Biar semuanya clear dan nggak ada kesalahpahaman lagi." Ujar Fathur.
Nadya menatap Fathur dengan pandangan yang Fathur sendiri tidak tau apa artinya. Tapi setelah itu
"Boleh." Jawab Nadya.
__ADS_1
Iya, Nadya setuju mereka menyelesaikan masalah tadi siang yang masih menggantung.