UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Surprise untuk Nadya


__ADS_3

"Sayang..."


Lagi dan lagi, begitu masuk kedalam rumah bukannya mengucapkan salam, Fathur malah justru berteriak memanggil Nadya.


"Di dapur, Mas..." Jawab Nadya.


Nadya saat ini di dapur sedang menyusun cookies coklat yang baru saja dia buat kedalam toples. Sudah semingguan ini Nadya jadi suka membuat kue-kue kering seperti ini. Kemarin bahkan Nadya baru saja membuat roti salju, dan kemarinnya lagi Nadya membuat sagu keju. Sekarang di rumah ada banyak stok roti kering yang Nadya miliki. Setiap selesai membuat, Nadya juga tidak lupa mengirimkan roti kering buatannya itu ke rumah Mama Resti juga.


Begitu melihat Nadya, Fathur langsung memeluk tubuh istrinya itu.


"Hari ini buat cookies? Waoww... pasti enak." Bisik Fathur ditelinga Nadya.


Nadya menghentikan kegiatan tangannya menyusun cookies. Kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Fathur. Dan kini posisi mereka saling berhadapan.


Fathur tersenyum, begitu juga dengan Nadya. Kemudian...


Cup...


Seperti biasa, Fathur akan memberikan kecupan dibibir Nadya begitu dia pulang ke rumah.


"Nggak capek pulang ngajar lanjut bikin cookies?" Tanya Fathur dengan lembut.


Nadya menggelengkan kepalanya.


"Enggak, aku nggak capek." Jawab Nadya.


Fathur menyingkirkan rambut Nadya kebelekang telinga wanita itu.


"Kok sekarang aku liat-liat kamu jadi tambah cantik ya, Nad. Kemarin-kemarin kamu cantik, tapi sekarang cantiknya berkali-kali lipat." Ujar Fathur kepada Nadya.


Dan seperti biasa Nadya akan tersenyum malu-malu setiap mendapatkan gombalan dari Fathur.


"Bohong banget, aku aja masih lecek begini karena belum mandi." Jawab Nadya.


"Jadi belum mandi nih?"


Nadya menggelengkan kepalanya.


Mendadak senyum penuh arti muncul di bibir Fathur. Dengan cepat Fathur langsung mengangkat tubuh Nadya dan menggendongnya di depan.


"Mas..." Seperti biasa Nadya yang terkejut dengan aksi Fathur ini tanpa sadar langsung memekik.


Fathur sendiri menghiraukan Nadya, dengan langkah tegap tanpa sedikitpun terlihat kesulitan, Fathur membawa Nadya yang ada digendongannya naik ke lantai 2 melewati anak tangga.



"Nakal..." Ujar Nadya kepada Fathur.



Fathur sendiri hanya tersenyum lebar. Kini baik Nadya dan Fathur rambutnya sama-sama terlihat basah. Tau dong apa yang baru saja mereka lakukan? Yap, benar sekali. Setelah Nadya mengatakan kalau dia belum mandi, Fathur memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Fathur menggendong paksa Nadya dan mengajaknya mandi bersama.



"Nakal sama istri sendiri tuh diperbolehkan sayang. Malah justru sangat dianjurkan." Jawab Fathur santai.



Fathur berjalan kearah Nadya.


"Sini aku bantuin keringin rambutnya."


__ADS_1


Fathur menyalakan hairdryer dan membantu Nadya mengeringkan rambutnya.



Selesai dengan semuanya, Fathur dan Nadya sholat Maghrib berjamaah. Fathur yang sebelumnya jarang sekali sholat, kini mulai rajin karena Nadya.



Sementara Nadya sedang sibuk dengan tugasnya di kamar sebelah. Di ruangan lain Fathur juga sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya.


Tadi Rony memberitahu Fathur kalau ada berkas yang harus dia pelajari untuk rapat besok pagi. Dan di tengah-tengah kesibukannya itu, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.


from +6285*********


Haii Fath... Ini aku, Elisa.


^^^to +6285*********^^^


^^^Oo, Haii. Tau darimana nomor aku?^^^


from +6285*********


Rahasia dong. Btw, aku ganggu kamu enggak? Nggak lagi sibuk kan?


^^^to +6285*********^^^


^^^Ganggu, aku lagi sibuk.^^^


Setelah itu Fathur meletakkan kembali ponselnya keatas meja. Menurut Fathur, jika Elisa hanya sekedar basa-basi dengan menanyakan dirinya sedang sibuk atau tidak, itu sama sekali tidak penting.


Fathur menjawab seperti itu juga bukan bermaksud ketus atau bagaimana. Ini karena memang Fathur sedang sibuk dan chat yang Elisa lakukan itu mengganggu dirinya.


Lebih dari satu jam Fathur mempelajari berkas yang Rony kirimkan, dan kini akhirnya Fathur bisa memahaminya.


Tapi sebelum itu, Fathur mengambil sesuatu terlebih dahulu. Sesuatu yang sudah Fathur pesan sejak seminggu yang lalu dan baru dia ambil tadi sore. Sesuatu yang Fathur siapkan untuk menjadi surprise Nadya.


Begitu Fathur membuka kamar, dilihatnya Nadya yang masih fokus dengan tumpukan lembaran-lembaran kertas di depannya. Wajah Nadya yang saat ini sedang serius semakin terlihat cantik dimata Fathur. Apa Fathur pernah mengatakan hal ini? Kalau pernah, tolong maafkan karena Fathur terus-menerus mengulang kalimat ini. Itu karena Nadya benar-benar terlihat sangat cantik. Hingga membuat Fathur tidak bisa menahan diri untuk tidak memujinya lagi.


Membiarkan Nadya tetap fokus dengan pekerjaannya, Fathur masuk ke kamar dan mendudukkan dirinya diatas ranjang tepat dibelakang Nadya.


Sampai akhirnya, hampir setengah jam berlalu... Terlihat Nadya mulai merapikan barang-barang yang berada diatas meja.


Saat Nadya beranjak dari kursi dan berbalik...


"Astaghfirullah, Mas Fathur. Kapan kesini?" Ujar Nadya.


Nadya sangat terkejut saat melihat Fathur ternyata ada di kamarnya dan duduk dengan santai diatas ranjang.


Fathur tersenyum.


"Udah dari tadi, ada kali setengah jam. Kamu fokus banget sih jadi nggak tau kalau aku masuk." Jawab Fathur.


Fathur beranjak dari ranjang kemudian memeluk Nadya. Setelah puas mengirup wangi Nadya, barulah Fathur melepaskan pelukannya.


"Aku punya sesuatu buat kamu." Ujar Fathur kepada Nadya.


"Sesuatu? Apa, Mas?" Tanya Nadya.


"Kamu tutup mata dulu."


Nadya mengerut dahinya.


"Kenapa harus tutup mata?"

__ADS_1


"Karena ini surprise. Jadi kamu harus tutup mata."


"Surprise? Dalam rangka apa? Apa ini hari penting yang aku lupain?" Tanya Nadya.


Nadya khawatir kalau ini adalah hari penting. Tapi seingat Nadya ini bukan hari ulang tahun dirinya ataupun Fathur. Ini juga bukan anniversary pernikahan mereka, karena Nadya dan Fathur saja menikah baru mau 8 bulan. Lalu? Kenapa tiba-tiba Fathur memberikan surprise.


"Surprise nggak harus di hari penting, Nadya. Kapanpun itu, boleh-boleh aja kok kasih surprise." Jawab Fathur. "Sekarang jangan banyak tanya dulu, cepetan kamu tutup matanya, Nad." Perintah Fathur.


Yang mau tidak mau membuat Nadya langsung memejamkan matanya.


"Aku hitung ya, di hitungan ke 3 kamu baru boleh buka matanya. Paham?"


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya paham."


Satu...


Dua...


Tiga...


Dengan perlahan Nadya membuka matanya.


Sebuah kalung yang masih berada di dalam kotak biru ada di depan mata Nadya.


"Cantik banget..." Ujar Nadya.



...Photo by Pinterest...


Nadya benar-benar terpukau melihat betapa cantik dan berkilaunya kalung itu. Memang design-nya sangat simpel. Tapi ini benar-benar terlihat sangat indah.


"Suka?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Nadya dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Suka, suka banget Mas." Jawab Nadya.


"Alhamdulillah kalau kamu suka. Aku khawatir banget loh kalau kamu nggak suka." Ujar Fathur.


"Ini beneran buat aku, Mas?" Tanya Nadya.


Nadya masih tidak percaya kalau dia mendapatkan hadiah dari Fathur. Dan... ini adalah hadiah pertama yang Fathur berikan kepada Nadya.


"Iya dong, istri aku kan cuma kamu. Jelas ini buat kamu, sayang." Jawab Fathur seraya tersenyum.


"Mau aku pakein?"


Nadya menganggukkan kepalanya.


Dan kini kalung cantik yang tidak Nadya ketahui kalau harganya mencapai 3 digit itu sudah terpasang dengan cantik di lehernya.


.


.


.


Tenang-tenang, seperti biasa di setiap novel aku nggak akan ada yang namanya pelakor atau pebinor yang berhasil. Ini cuma buat sedikit bumbu-bumbu cerita aja kok👍😁


Jangan lupa kritik dan sarannya 😍

__ADS_1


Terima Kasih 🥰😘


__ADS_2