
"Eehmm, aku cuma khawatir sama penilaian karyawan Mas Fathur." Jawab Nadya sembari menundukkan kepalanya.
Selama ini, Nadya bukanlah orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi. Disamping dirinya hanya berasal dari panti asuhan, juga penolakan yang Fathur pernah lakukan dihari pertama mereka sah menjadi sepasang suami istri membuat Nadya merasa bahwa dia memang tidak pantas untuk bersanding dengan Fathur.
"Kenapa kamu ngomong begitu? Memangnya menurut kamu karyawan aku akan menilai kamu seperti apa?"
Fathur tidak habis pikir dengan Nadya. Kenapa juga Nadya memikirkan penilaian para karyawannya. Fathur pikir karyawannya juga tidak akan berani menilai Nadya. Karena jika penilaian mereka kepada Nadya jelek, dan Fathur mendengar hal itu, maka Fathur juga tidak akan segan-segan untuk memecat mereka. Enak saja mereka menilai jelek istrinya yang saat ini sangat dia cintai.
"Aku nggak pantas jadi istri Mas Fathur. Aku ini cuma anak dari panti asuhan, profesi aku juga cuma guru SMA biasa, sedangkan Mas Fathur pe..." Ucapan Nadya terhenti saat Fathur tiba-tiba menghentikan mobilnya dipinggir jalan. "Kenapa berhenti, Mas?" Tanya Nadya dengan raut wajah bingung.
Terlihat, mata Fathur menatap tajam lurus kedepan. Deru nafasnya juga terlihat tidak stabil seperti sedang menahan emosi. Sementara tangan Fathur, saat ini tengah mencengkeram dengan erat setir mobilnya.
Nadya yang sadar kalau dia sudah membuat Fathur marah, seketika langsung menundukkan kepalanya. Tangannya bertaut menjadi satu karena Nadya mendadak dilanda rasa cemas.
Setelah Fathur terdiam beberapa saat dan berhasil mengontrol emosi yang mendadak merayap saat mendengar ucapan Nadya. Kini Fathur menoleh kearah Nadya. Sedikit terkejut saat Fathur mendapati Nadya seperti orang yang sedang ketakutan. Nadya menundukkan kepalanya sembari memainkan jari-jarinya yang saat ini terlihat berkeringat.
Kini Fathur menghela nafas pelan.
"Kenapa kamu bisa memiliki pikiran kalau karyawan-karyawan aku bakal berpikir kalau kamu nggak pantas jadi istri aku? Karena kamu berasal dari panti asuhan? Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan itu? Aku mencintai kamu tidak peduli darimana asal kamu. Dan karena kamu seorang guru? Lagi pula guru bukan profesi yang rendahan Nadya. Mereka tidak akan menilai kamu tidak pantas menjadi istri aku hanya karena profesi kamu. Dan kalaupun mereka menilai kamu seperti itu, maka detik itu juga akan aku pecat mereka semua." Ujar Fathur dengan nada suara yang terdengar dingin. Suara yang baru saja Nadya dengar kembali setelah semalam dan juga tadi Fathur masih berbicara lembut dengan dirinya.
Nadya sendiri memilih untuk tetap diam dan menundukkan kepalanya. Nadya terlalu takut untuk membalas ucapan Fathur.
Melihat Nadya yang hanya diam, Fathur dengan lembut meraih kedua tangan Nadya yang sejak tadi saling bertaut. Telapak tangan Nadya yang sudah basah oleh keringat.
"Kenapa kamu berpikir kalau kamu nggak pantas menjadi istri aku, Nad?" Tanya Fathur dengan lembut.
Fathur pikir penilaian itu Nadya sendiri yang membuatnya. Bukan para karyawannya, karena Nadya saja bahkan belum pernah sekalipun bertemu dengan mereka.
Nadya mengangkat kepalanya untuk menatap Fathur. Mendadak air mata menetes di pipinya.
__ADS_1
"Sejak penolakan Mas Fathur di malam itu, aku selalu merasa tidak pantas menjadi istri Mas. Ak-aku... aku merasa terlalu rendah untuk bersanding dengan Mas Fathur yang merupakan laki-laki sempurna dari keluarga kaya raya." Jawab Nadya dengan terbata.
Benar, tanpa sadar Nadya trauma dengan yang namanya penolakan. Bahkan, penolakan itu membuat Nadya merasa kalau dirinya memang rendahan dan tidak pantas untuk semua orang.
Mendengar ucapan Nadya, dengan cepat Fathur langsung menarik Nadya kedalam pelukannya. Jujur Fathur tidak menyangka kalau luka yang dia berikan kepada Nadya selama 6 bulan pernikahan ini sangatlah dalam. Fathur tidak menyangka kalau ucapan waktu itu membuat Nadya mengalami trauma hingga kehilangan kepercayaan dirinya.
"Maaf, sekali lagi maafkan aku Nadya. Aku tidak menyangka kalau aku memberikan luka sedalam ini untuk kamu." Ucap Fathur.
Mendengar ucapan Fathur, air mata Nadya semakin menetes. Entah kenapa, Nadya merasa perlu memberitahu Fathur akan seberapa dalam dia terluka. Karena selama ini yang selalu Nadya lakukan hanya menangis dalam diamnya.
"Kamu bukan perempuan rendah Nadya. Kamu perempuan terhormat, dan kamu sangat pantas menjadi istri aku." Ucap Fathur dengan lembut. "Dengar baik-baik Nadya, tidak ada wanita lain yang lebih pantas menjadi istri aku selain kamu. Sama sekali tidak ada." Tambah Fathur.
"Meskipun aku tau ini sulit, tapi bolehkah aku minta sama kamu untuk melupakan semua ucapan kasar dan perlakuan buruk yang selama ini aku lakukan ke kamu? Aku ingin kita memulai lagi hubungan ini dari nol, Nad. Aku ingin kamu hanya mengingat bagaimana aku mencintai kamu." Bisik Fathur lirih.
Tapi Nadya masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Lagi-lagi Nadya hanya menundukkan kepala. Dan dengan terpaksa Fathur membuat Nadya agar mengangkat kepala dan menatap matanya.
"Apapun yang ingin kamu katakan ke aku, kamu katakan saja Nadya, jangan takut lagi sama aku." Ucap Fathur seraya menatap Nadya dengan lembut. "Kamu paham?"
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Jangan menangis lagi, Nadya. Kamu membuat aku menjadi semakin merasa bersalah."
"Maaf..." Ujar Nadya dengan suara lirih.
"No, ini bukan salah kamu. Disini aku yang salah, dan seharusnya aku yang meminta maaf, Nad." Jawab Fathur seraya mengusap puncak kepala Nadya.
Setelah Nadya minum dan kini menjadi lebih tenang, Fathur melanjutkan perjalanan menuju kantor. Hal ini karena Rony sudah menelfon Fathur agar cepat-cepat datang ke kantor karena rapat sebentar lagi akan dimulai.
__ADS_1
Seperti yang sudah diduga, Nadya memang menjadi pusat perhatian para karyawan Fathur. Hal ini tentu saja mengejutkan mereka semua karena ini adalah kali pertama Fathur membawa istrinya ke kantor.
Para karyawan Fathur memang sudah tau kalau atasannya itu sudah menikah. Tapi baru hari ini mereka bisa melihat bagaimana rupa dari istri sang bos. Pasalnya, pernikahan Fathur yang memang digelar secara tertutup membuat media bahkan kesulitan untuk mengendus siapa istri dari Fathur. Dan tanpa media tentu saja para karyawan disini tidak bisa mengetahui bagaimana rupa istri Fathur. Karena untuk masalah pribadi, Fathur memang dikenal sangat tertutup. Bahkan alamat rumahnya saja dirahasiakan.
Dan pandangan mereka saat melihat Nadya adalah, mereka takjub. Karena jujur saja, Nadya terlihat terlalu imut untuk wanita usia 25 tahun dengan profesi sebagai seorang guru.
"Pantesan selama ini istri Pak Fathur disembunyikan. Ternyata emang secakep itu. Dari raut wajahnya sih pasti orangnya lembut banget." Ujar salah satu karyawan laki-laki Fathur.
"Tapi kok tiba-tiba Pak Fathur bawa istrinya kesini ya? Padahal selama ini buat tau muka istrinya aja kaya susah banget." Timpal salah satunya.
"Kalau masalah itu, mana kita tau. Coba tanya aja sama Pak Fathur."
Bertanya kepada Fathur? Yang benar saja. Untuk sekedar menatap mata Fathur saja jarang ada yang berani.
__ADS_1