UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Kanebo meresahkan


__ADS_3

Selesai mandi, seperti biasa Nadya akan langsung turun ke dapur untuk memasak sarapan. Dan jika sedang kesiangan seperti ini maka Nadya hanya akan memasak yang simpel-simpel saja. Masak apa? Benar sekali, nasi goreng.


Barulah setelah nasi goreng siap, Nadya kembali ke kamar untuk mengganti baju rumahnya dengan seragam guru. Namun, Nadya dibuat terkejut saat dia mendapati Fathur yang saat ini sedang ada di kamarnya. Laki-laki itu duduk dengan santai diatas ranjang Nadya.


"Mas Fathur kenapa disini?" Tanya Nadya.


Nadya berusaha sebaik mungkin agar dirinya tidak terlihat gugup di depan suaminya ini.


"Nungguin kamu." Jawab Fathur santai.


"Nungguin aku? Emangnya ada apa?" Tanya Nadya dengan wajah bingung.


Fathur beranjak dari ranjang, dengan langkah tegapnya, dia berjalan menghampiri Nadya. Membuat Nadya semakin dilanda rasa gugup.


"Tolong pasangin dasi." Jawab Fathur seraya menyerahkan dasi berwarna merah kepada Nadya.


"Pasang dasi?" Ujar Nadya mengulang ucapan Fathur.


"Iya." Jawab Fathur lagi. "Kamu bisa pasangin dasi kan?


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya bisa." Jawab Nadya sembari mengambil dasi yang Fathur berikan kepadanya.


Namun, tubuh Fathur yang tinggi dan juga besar membuat Nadya cukup kesulitan. Hingga akhirnya Nadya meminta Fathur untuk duduk diranjang selagi dia memasangkan dasi untuk Fathur.


Tapi... Tunggu-tunggu, Nadya baru ingat akan sesuatu. Bukankah tadi Fathur mengatakan kalau hari ini laki-laki itu mengambil libur? Tapi kenapa sekarang Fathur malah sudah rapi dengan setelan kantornya?


"Mas Fathur bukannya hari ini libur?" Tanya Nadya kepada Fathur.


Fathur yang sejak tadi menatap Nadya, kemudian menggelengkan kepala tanpa mengalihkan tatapannya dari Nadya.


"Enggak jadi." Jawab Fathur santai.


"Kenapa?"


"Buat apa aku ambil libur kalau kamu sendiri aja berangkat ngajar. Aku nggak mau lah kalau sendirian di rumah." Jawab Fathur.


Jujur, Nadya masih merasa aneh dengan perubahan sikap Fathur dalam memperlakukan dirinya. Tidak sampai 24 jam, tiba-tiba Fathur bersikap seperti seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Eeehh, tapi Fathur memang sudah menyatakan cinta kepada Nadya kan?


"Kenapa bengong?" Tanya Fathur saat melihat Nadya memasang dasinya dengan pandangan mata yang terlihat tidak fokus.


Nadya tersenyum.

__ADS_1


"Enggak bengong Mas, tadi cuma lagi kepikiran sesuatu aja." Jawab Nadya.


"Emang kepikiran apa?" Tanya Fathur kepo.


Padahal, selama ini Fathur adalah tipe orang yang cenderung tidak peduli dengan apapun yang sedang orang lain pikirkan. Tapi, entah kenapa dengan Nadya justru sangatlah berbeda. Fathur merasa kalau dia harus tau apapun yang sedang Nadya pikirkan. Fathur tidak ingin ada sesuatu yang Nadya sembunyikan darinya. Yang pasti, Fathur ingin Nadya terbuka dengannya.


"Bukan apa-apa Mas. Cuma masalah soal buat ulangan harian anak-anak nanti." Jawab Nadya.


Fathur menganggukkan kepalanya.


"Nah dasinya sekarang udah rapi, Mas bisa turun dulu. Sarapan udah aku siapin kok. Tapi cuma nasi goreng nggak papa kan?"


"Enggak papa, nasi goreng buatan kamu enak kok." Jawab Fathur. "Tapi, kenapa aku harus turun duluan? Kamu nggak mau turun buat sarapan juga?"


"Aku turun nanti Mas, aku mau ganti baju dulu. Nggak mungkin kan kalau aku ke sekolah pakai baju kaya gini?" Ujar Nadya sembari memperlihatkan baju yang dia pakai yang hanya berupa kaos putih dan celana pendek berwarna pink sebatas lutut.


Fathur sendiri langsung menatap penampilan Nadya dari atas kebawah. Dengan penampilannya ini, ditambah rambut yang diikat satu, Nadya tidak ubahnya seperti seorang anak SMA. Membuat Fathur tidak jadi heran kenapa banyak siswa laki-laki Nadya yang menyimpan rasa kepada istrinya ini disaat usia mereka saja terpaut cukup jauh.


"Udah, sana Mas keluar dulu." Ujar Nadya lagi.


Tapi, Fathur tetap bergeming di tempatnya. Membuat Nadya jadi kikuk sendiri.


"Hari ini pakai seragam yang mana?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Nadya mengerutkan dahinya. Kenapa Fathur jadi bertanya seragam yang akan Nadya pakai?


"Enggak kenapa-napa, cuma pengen tau aja hari ini kamu pakai seragam yang mana." Jawab Fathur santai.


Meski masih tidak paham dengan maksud Fathur sampai menanyakan seragam yang akan dia pakai, tapi Nadya tetap menunjukkan seragamnya kepada Fathur.


"Yang ini Mas..." Ujar Nadya setelah mengeluarkan seragamnya dari lemari.


Fathur diam menatap setelan yang Nadya perlihatkan kepadanya.


"Emang harus banget pakai rok?" Tanya Fathur kepada Nadya.


"Enggak juga sih, tapi aku biasanya emang pakai rok." Jawab Nadya.


"Berarti bolehkan kalau kamu pakai celana?"


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Boleh."

__ADS_1


"Ya udah, kalau gitu pakai celana aja. Kamu lebih cocok pakai celana." Ujar Fathur.


Nadya mengerutkan dahinya.


"Tapi aku nggak punya celana warna ini Mas."


"Kok gitu? kenapa bisa sampai nggak punya?" Fathur terlihat terkejut saat Nadya mengatakan kalau dia tidak memiliki celana dengan warna yang sama seperti rok nya.


"Ya bisa, kan bahannya cuma cukup buat bikin atasan sama bawahan. Dan aku kan bikin bawahan jadi rok."


Fathur langsung saja menghela nafas.


"Nanti pulang ngajar jam berapa?"


"Karena hari ini nggak ada jadwal les kelas 12, jadi aku pulang jam 2." Jawab Nadya.


"Ya udahlah, pakai itu dulu. Mau gimana lagi."


Sepertinya Fathur terlihat kesal? Tapi karena apa? Hanya karena Nadya tidak memiliki celana yang warnanya sama dengan seragam yang akan Nadya pakai?


"Ya udah, Mas Fathur keluar dulu aja. Aku mau ganti baju dulu." Ujar Nadya yang secara tidak langsung mengusir Fathur dari kamarnya. Lagi pula sejak tadi Fathur benar-benar membuat waktu Nadya banyak terbuang. Yang tiba-tiba minta buat dipasangin dasi lah. Terus tiba-tiba ribut masalah rok Nadya juga.


Tapi, meski begitu Nadya sama sekali tidak merasa kesal. Entah kenapa Nadya justru merasa senang karena Fathur merecoki dirinya.


"Kenapa aku harus keluar? Kalau mau ganti baju ya ganti aja." Jawab Fathur santai.


"Ini kenapa sekarang Mas Fathur jadi nyebelin sih." Gimana Nadya dalam hati.


"Ya masa aku ganti baju di depan Mas Fathur."


Fathur mengangkat satu alisnya.


"Ya emangnya kenapa? Kita suami istri loh. Apa salahnya kalau kamu ganti baju didepan suami?"


Saat ini Fathur benar-benar berbeda dengan Fathur yang biasanya. Dan dimata Nadya perubahannya ini seperti hampir 180 derajat. Karena sangat-sangat berbeda dengan Fathur yang sebelumnya.


"Mas... Please, tunggu dibawah aja ya. Aku malu kalau harus ganti baju dan ada Mas Fathur disini." Nadya mencoba untuk menunjukkan wajah memelasnya kepada Fathur. Berharap laki-laki itu akan luluh dan mau keluar dari kamarnya.


Fathur beranjak dari ranjang Nadya.


"Ya udah, buat kali ini aku akan keluar. Tapi... nggak akan ada lain kali lagi Nadya."


Dan...

__ADS_1


Cup...


Sebelum benar-benar keluar dari kamar Nadya, Fathur memberikan sebuah kecupan pada bibir lembut milik istrinya itu.


__ADS_2