
"Udah? Cuma itu doang?" Tanya Fathur saat Nadya berjalan ke kasir hanya membawa 2 buku saja.
"Iya, cuma ini aja Mas." Jawab Nadya.
Nadya berdiri sembari menunggu gilirannya membayar. Fathur juga dengan tenang berdiri di samping Nadya.
Saat tiba giliran Nadya membayar, Nadya meletakkan bukunya di meja kemudian baru membuka tas untuk mengambil dompetnya.
"Totalnya jadi Rp 325.000 ya Kak." Ujar kasir dengan ramah.
Nadya baru saja membuka dompet untuk mengambil uang, saat tiba-tiba Fathur sudah memberikan kartu debitnya kepada kasir.
"Pakai ini aja Mbak." Ujar Fathur dengan nada suara datar.
Seketika membuat Nadya menoleh kearah Fathur.
"Mass..." Ucap Nadya dengan suara lirih.
Fathur sendiri menghiraukan Nadya.
"Ini kartunya, Kak." Ujar Mbak kasir kembali memberikan kartu debit milik Fathur.
Setelahnya Fathur dan Nadya keluar dari toko buku.
"Cari makan dulu ya, saya sudah lapar." Ujar Fathur kepada Nadya.
"Ini Mas..." Bukannya menjawab ucapan Fathur, Nadya justru mengulurkan 3 lembar uang pecahan 100 ribuan dan 1 lembar uang 50 ribuan.
"Buat apa?" Tanya Fathur berpura-pura tidak tau.
"Ganti uang Mas Fathur yang buat beli buku aku tadi." Jawab Nadya dengan suara lirih.
Fathur berdecak.
"Nggak usah, simpen aja uang kamu." Jawab Fathur datar.
Nadya menggelengkan kepalanya.
"Jangan gitu Mas, buku ini kan aku yang mau beli." Ujar Nadya.
Nadya tidak enak saja kepada Fathur. Dengan Fathur membayarkan bukunya, ini membuat Nadya merasa merepotkan.
Fathur menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Nadya. Dan untung saja mereka berhenti di tempat yang cukup sepi. Kini Fathur menatap Nadya dengan pandangan tajam.
"Status aku ini sebenarnya siapa kamu?" Tanya Fathur dengan nada suara dingin.
"Suami." Jawab Nadya.
Sejak Fathur menatapnya, Nadya memang langsung menundukkan kepalanya. Nadya takut dengan tatapan tajam Fathur ini.
"Kalau saya suami kamu, otomatis kamu istri saya kan? Bukannya sudah sangat wajar kalau suami bayarin barang yang dibeli istrinya? Kenapa kamu seperti sangat mempermasalahkan hal sepele seperti ini?" Ujar Fathur.
"Bukan, bukan itu maksudnya Mas. Aku cuma nggak mau ngrepotin Mas Fathur aja." Jawab Nadya. "Apalagi, Mas Fathur bilang kalau selamanya Mas tidak akan pernah menganggap aku sebagai istri. Jadi aku merasa nggak enak kalau Mas Fathur mengeluarkan uang untuk keperluan aku." Tambah Nadya.
Suara Nadya semakin lirih saat mengatakan mengenai alasan dirinya tidak ingin membuat Fathur direpotkan oleh dirinya.
Fathur sendiri langsung terdiam saat mendengar Nadya mengatakan hal itu. Jujur Fathur tidak menyangka kalau itulah alasan Nadya tidak ingin dia membayarkan bukunya. Dan entah karena apa tiba-tiba Fathur merasa sangat cemas.
"Kita pulang." Ujar Fathur yang kemudian langsung berjalan begitu saja meninggalkan Nadya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Nadya langsung saja mengikuti langkah Fathur.
__ADS_1
Selama perjalanan ke rumah, suasana di dalam mobil sangat sepi dan terasa dingin. Tidak ada pembicaraan diantara Fathur dan Nadya seperti saat perjalanan menuju Mall tadi.
Fathur terlihat fokus dengan kemudinya, wajahnya juga terlihat sangat kaku seolah ada banyak hal yang sedang dia pikirkan. Sementara Nadya, dia memilih untuk menundukkan kepalanya.
Sesampainya di rumah pun Fathur langsung turun dari mobil tanpa mengatakan apa-apa kepada Nadya. Dia juga langsung masuk ke kamarnya. Bahkan Nadya bisa mendengar suara pintu yang sedikit di banting oleh laki-laki berstatus sebagai suaminya itu.
"Apa tadi ucapan aku ada yang menyinggung Mas Fathur?" Ujar Nadya kepada dirinya sendiri.
Yang Nadya ingat, tadi dia mengatakan kalau dia merasa tidak enak kalau Fathur membayarkan barang miliknya. Apa Fathur merasa tersinggung karena itu?
Nadya sama sekali tidak berpikir kalau yang membuat Fathur seperti ini adalah mengenai ucapannya tentang Fathur yang tidak akan pernah menganggap Nadya sebagai istri.
Selesai mandi, Nadya memilih untuk tetap di kamar sembari menunggu adzan Maghrib datang. Baru setelah itu Nadya akan turun ke bawah untuk memasak makan malam. Nadya ingat kalau tadi Fathur berkata kalau dia lapar.
Selain itu, Nadya juga ingin berbicara sesuatu kepada Fathur. Dengan adanya kejadian tadi, itu membuat Nadya semakin yakin untuk... Baiklah, kita bahas nanti saja sekalian.
Selesai menunaikan sholat Magrib, Nadya langsung turun menuju dapur. Seperti yang sudah Nadya bilang tadi, dia akan memasak untuk makan malam.
"Mungkin kemarin akan menjadi terakhir kalinya aku mengisi kulkas ini." Ujar Nadya seraya tersenyum sendu.
Untuk makan malam kali ini Nadya berniat untuk memasak tumis kangkung, tahu goreng, dan ayam goreng.
Dengan cekatan Nadya langsung mempersiapkan semua bahan yang dia butuhkan untuk memasak. Hingga tidak sampai 1 jam, semua masakan sudah selesai. Nadya tersenyum menatap hasil masakannya itu.
Selesai menata masakannya di piring, Nadya beranjak naik ke lantai 2. Tujuan utamanya tentu saja untuk memanggil Fathur.
Tok... tok... tok...
"Mas Fathur..." Ujar Nadya dengan suara lembutnya.
Namun tidak ada sahutan dari dalam. Fathur sama sekali tidak menjawab panggilan Nadya.
__ADS_1
"Mas Fathur, aku udah selesai masak. Katanya tadi Mas laper. Aku tunggu di bawah ya." Sambung Nadya.
Setelah mengatakan itu, Nadya pergi dari depan kamar Fathur. Nadya yakin kalau Fathur pasti mendengar ucapannya, dan pasti nanti akan turun. Jadi Nadya memilih untuk menunggu Fathur dibawah.
Namun, sampai 10 menit lamanya Nadya menunggu, Fathur tidak kunjung turun. Kini yang hanya bisa Nadya lakukan adalah menatap masakannya dengan senyum sendu.
"Kalau 15 menit lagi Mas Fathur nggak turun, ya udah makan sendiri aja. Kamu juga udah biasa makan sendiri kan?" Ucap Nadya kepada dirinya sendiri.
Sampai akhirnya, tidak lama kemudian Fathur turun juga. Dari raut wajahnya, Nadya tau kalau Fathur sepertinya sedang banyak pikiran.
Tapi, yang membuat Fathur seperti itu bukan masalah buku tadi kan? Masa iya hanya karena masalah itu Fathur sampai seperti ini.
Nadya sendiri bersikap seolah memang tidak ada apa-apa. Begitu Fathur duduk, Nadya dengan sigap langsung mengisi piring Fathur dengan nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya.
Seperti tadi, Fathur juga masih mengaktifkan mode diamnya. Laki-laki itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Nadya juga memilih untuk tetap diam.
Sampai setelah Fathur menghabiskan makan malamnya, barulah Nadya memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.
"Mas Fathur, ada yang mau aku bicarakan sama Mas."
Fathur hanya menatap Nadya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Entah kenapa, Nadya bisa melihat adanya kegelisahan dimata Fathur.
"Apa ini adalah waktu yang tepat?" Ucap Nadya dalam hati.
Tapi, menurut Nadya semakin cepat justru akan semakin baik. Nadya tidak ingin kalau ini di tunda justru akan membuat Fathur semakin menderita.
"Bicara soal apa?" Tanya Fathur dengan suara datar.
Nadya menganggap kalau itu berarti Fathur setuju untuk diajak berbicara.
"Sebentar, aku ke kamar dulu ambil sesuatu." Jawab Nadya yang kemudian beranjak dari kursinya.
__ADS_1