
Fathur melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 lebih 15 menit, membuat Fathur dengan cepat langsung mematikan laptopnya dan beranjak dari kursi kebesarannya itu.
"Mau kemana lo?" Rony yang datang dengan berkas ditangannya seketika mengerutkan dahinya saat dia melihat Fathur sedang merapikan mejanya. Hal itu membuat Rony menduga kalau Fathur akan pulang. Tapi... masalahnya ini belum jam pulang Kantor. Masa iya Fathur jam segini sudah bersiap untuk pulang?
"Pulang." Jawab Fathur santai. "Gue duluan ya..." Ujar Fathur kepada Rony.
Ternyata dugaan Rony benar, Fathur memang merapikan meja kerjanya karena laki-laki itu hendak pulang.
"Kenapa? Ada sesuatu di rumah? Nggak biasanya lo pulang cepat." Sebelum Fathur benar-benar pergi, Rony segera menghentikannya. Rony juga khawatir kalau-kalau ada sesuatu buruk yang terjadi dengan keluarga Fathur. Karena tidak biasanya Fathur pulang sebelum jam kantor selesai.
"Enggak ada apa-apa, gue cuma mau jemput Nadya." Jawab Fathur yang kemudian langsung pergi begitu saja meninggalkan Rony yang masih terdiam berdiri di tempatnya.
"Jemput Nadya?" Ujar Rony bergumam kepada dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit, Rony baru bisa mencerna semuanya. Seketika senyum langsung tersungging dibibir laki-laki itu.
"Oalah, udah mulai bucin sama bini ternyata." Ujar Rony seraya tertawa kecil.
Setelah mengatakan itu Rony keluar dari ruangan Fathur. Mengenai berkas, bisalah ditanda tangani besok saja. Rony tidak ingin mengganggu bos sekaligus sahabat yang sedang bucin itu.
Sesi les untuk kelas 12 selesai tepat saat jam menunjukkan pukul 4 sore. Para siswa langsung saja berhamburan keluar kelas untuk pulang. Kelas yang Nadya ajar juga langsung kosong hanya dalam waktu kurang dari 5 menit saja. Sementara Nadya keluar paling akhir karena dia masih harus membereskan buku-buku miliknya terlebih dahulu.
Dengan langkah anggun, Nadya berjalan menuruni tangga untuk menuju ruang guru yang berada di lantai dasar. Belum juga Nadya sampai ke ruang guru, Nadya dibuat salfok dengan keberadaan mobil mewah yang keberadaan sangat mencolok diantara motor-motor siswa yang beberapa masih terparkir.
Dan saat Nadya menyadari akan keberadaan seseorang yang sepertinya sangat dia kenal, Nadya semakin terkejut dibuatnya.
Fathur, Nadya bisa melihat dengan jelas Fathur yang saat ini sedang duduk di salah satu bangku dibawah pohon yang tempatnya tidak jauh dari parkiran.
Fathur sendiri terlihat gagah dengan kemeja yang digulung sampai siku dan celana bahannya. Jangan lupakan juga kacamata yang saat ini membuat Fathur terlihat semakin misterius namun tetap tampan. Fathur sendiri saat ini terlihat duduk dengan tenang sembari memainkan ponselnya.
Nadya bisa melihat kalau keberadaan Fathur ini menjadi perhatian beberapa murid yang belum pulang. Terutama para siswi.
__ADS_1
Nadya dengan cepat melangkahkan kakinya menuju tempat Fathur sedang duduk. Jujur Nadya sama sekali tidak tau kalau Fathur akan datang menjemputnya. Eehh, iya kan? Fathur memang datang kesini pasti untuk menjemputnya kan? Kalau bukan, untuk apa juga datang kesini. Sementara Fathur sendiri tidak memiliki keperluan apapun di sekolah ini.
"Mas Fathur..." Nadya memanggil Fathur dengan suara lembutnya.
Mendengar seseorang memanggilnya, Fathur mendongakkan kepalanya, kemudian berdiri berhadapan dengan Nadya. Tangan kanannya dengan segera membuka kacamata yang dia pakai.
"Mas Fathur jemput aku?" Tanya Nadya langsung pada intinya.
Fathur yang mendapat pertanyaan dari Nadya, langsung saja berdecak.
"Kalau bukan buat jemput kamu, mau ngapain lagi saya datang kesini." Ujar Fathur dengan suara datar.
Nadya tersenyum tipis.
"Ya kan siapa tau aja Mas Fathur emang ada keperluan di sini." Balas Nadya. Meskipun Fathur kembali datar seperti sebelumnya, tapi Nadya tidak merasakan adanya aura intimidasi yang biasanya selalu Nadya rasakan saat berdekatan dengan Fathur. Jadi, tanpa dibuat-buat pun Nadya bisa berbicara lebih santai kepada Fathur.
"Ayo cepet masuk." Ujar Fathur kepada Nadya.
Fathur memilih untuk tidak menanggapi ucapan Nadya.
"Eehh? aku mau ambil tas dulu di ruang guru Mas. Aku baru selesai ngajar, dan belum ke ruang guru karena tadi liat Mas Fathur disini. Sebentar ya, aku ambil dulu." Ujar Nadya yang langsung saja berbalik arah kemudian berlari kecil meninggalkan Fathur.
__ADS_1
Fathur sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nadya. Bisa-bisanya Nadya lari-lari seperti itu disaat kakinya terbalut sepatu dengan hak yang cukup tinggi. Bagaimana mana kalau Nadya terjatuh? Apalagi kalau jatuh terus kakinya sampai patah. Kan nggak lucu.
Memikirkan itu, dengan cepat Fathur menggelengkan kepalanya.
"Jangan sampai, jangan sampai."
Sementara itu, Nadya berlari menuju ruang guru dengan senyum yang terus tersungging dibibirnya. Nadya merasa dia harus cepat, karena Nadya tidak ingin membuat Fathur menunggunya terlalu lama.
Nadya, dia sama sekali tidak menduga kalau Fathur akan menjemputnya. Tadi Nadya bahkan sudah berpikir untuk memesan ojek online. Karena kalau naik angkot, biasanya jam segini sudah jarang yang melewati perumahan tempat tinggal Nadya dan Fathur. Sementara untuk naik taksi, pasti akan sangat mahal. Jadi jalan tengahnya ya dengan naik ojek online, meski lebih mahal dari pada angkot, tapi setidaknya masih terjangkau daripada taksi.
Di ruang guru ternyata masih ada beberapa guru mapel UN yang tadi juga mengajar les seperti Nadya. Nadya sendiri hanya berbasa-basi sebentar lalu langsung berpamitan setelah mengambil tas miliknya.
Seperti tadi, saat kembali ke parkiran, Nadya masih juga sembari berlari kecil. Hal ini karena Nadya benar-benar tidak ingin membuat Fathur menunggunya terlalu lama.
Fathur yang melihat itu berdecak. Dan begitu Nadya sampai dihadapannya...
"Nggak usah lari-lari bisa kan? Toh nggak akan saya tinggal juga. Jalan kaki kaya biasa juga bakal bikin kamu sampai sini." Ujar Fathur dengan suara datar.
Nadya sendiri hanya tersenyum. Nafasnya ngos-ngosan, karena pada dasarnya Nadya bukan orang yang suka olahraga apalagi lari. Jadi lari sebentar saja membuat dirinya merasa cukup lelah.
Tanpa di duga, Fathur membukakan pintu mobil untuk Nadya.
"Masuk." Ujar Fathur masih den suara datarnya.
Nadya sendiri langsung melakukan perintah Fathur tanpa bertanya apa-apa.
Setelah Nadya masuk, barulah Fathur menyusul masuk ke mobil.
"Itu di depan kamu air mineral, minum dulu." Ujar Fathur sembari menyalakan mobilnya.
Nadya melihat kantong kresek putih yang tergeletak di depannya. Didalamnya terdapat 2 botol air mineral. Jadi Nadya mengambilnya satu .
"Bisa bukanya?" Tanya Fathur tiba-tiba.
"Bisa Mas." Jawab Nadya.
Membuka tutup botol air mineral? Tentu saja itu adalah hal yang sangat mudah untuk Nadya. Jangan lupakan kalau Nadya itu mandiri, jadi hampir semuanya bisa dia lakukan sendiri.
Setelah Nadya minum, lagi-lagi Nadya dibuat terkejut lagi dengan tingkah Fathur. Pasalnya....
__ADS_1
"Saya juga haus." Ucap Fathur saat mengambil botol ditangan Nadya. Bahkan wajah Fathur terlihat santai seolah apa yang laki-laki itu lakukan bukanlah apa-apa.