
Sepanjang perjalanan Fathur selalu menggandeng tangan Nadya. Tidak pernah sedetikpun dia melepaskan tangan mungil itu dari genggamannya.
Dan seperti tujuan awal, Fathur dan Nadya langsung menuju sebuah toko guna membeli celana kerja untuk Nadya. Untung saja celana-celana dengan bahan seperti seragam guru milik Nadya tidak sulit ditemukan. Hingga akhirnya kini Nadya sudah mendapatkan beberapa potong celana yang dimaksud.
"Ada yang mau dibeli lagi nggak, Nad?" Tanya Fathur kepada Nadya.
Nadya menggelengkan kepalanya.
"Udah nggak ada kayanya, Mas, paling cuma celana ini kan?"
"Beneran?" Tanya Fathur mematikan.
Kini Nadya menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas." Jawab Nadya.
Tapi...
"Eehh... kayanya perlu buat belanja bulanan deh, Mas. Aku baru inget kalau stok sayur sama buah udah mulai habis." Ujar Nadya.
Nadya ingat, semalam saat hendak memasak untuk makan malam, dia hanya mendapati beberapa bahan masakan saja yang tersisa. Dan semalam Nadya juga berpikir kalau dia tidak akan mengisinya lagi karena dia sudah bertekad untuk berpisah dengan Fathur. Tapi sekarang apa yang terjadi? Berbeda dari rencananya, kini Nadya justru untuk pertama kalinya akan belanja keperluan rumah ditemani bersama dengan Fathur.
"Oke, kita belanja sekarang." Jawab Fathur dengan senyum cerah dibibirnya.
Kini Fathur tengah mendorong troli berisi belanjaan. Mulai dari kebutuhan dapur, kebutuhan kamar mandi, dan lain sebagainya.
"Mie instan, Nad." Ujar Fathur saat dia dan Nadya melewati rak mie instan.
Nadya menoleh kearah Fathur, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Enggak boleh, Mama udah bilang sama aku supaya Mas nggak boleh kebanyakan makan mie instan lagi." Jawab Nadya.
Bukannya kesal karena Nadya melarangnya untuk makan mie instan lagi. Fathur justru malah senang. Fathur merasa dengan Nadya melarangnya seperti ini, itu berarti Nadya peduli dengan dirinya.
"Ya udah, kalau mie instan nggak boleh, terus bolehnya apa?" Tanya Fathur.
"Kalau Mas pengen makan mie, nanti aku buatin. Jadi bisa lebih sehat daripada mie instan." Jawab Nadya.
"Kamu bisa bikin mie?"
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah bisa. Karena dulu waktu di panti aku sering bikin mie buat adek-adek."
__ADS_1
Kemampuan memasak Nadya ini memang sebagian besar dia dapatkan saat masih di panti. Dulu, Nadya sering ikut kakak-kakaknya yang lain saat mereka memasak bersama dengan pengurus panti. Sampai saat Nadya sudah cukup besar, dia juga ikut andil di dapur memasak untuk yang lainnya. Ditambah saat dulu Nadya masih kuliah dan kos, dia juga lebih sering masak sendiri agar bisa hemat.
"Waoww... Ternyata istri aku ini banyak banget keahliannya." Fathur tidak lupa memberikan pujian kepada Nadya atas kemampuan wanita itu.
Nadya sendiri hanya tersenyum menanggapi pujian yang Fathur berikan kepadanya.
Setelahnya Nadya dan Fathur melanjutkan kembali pencariannya. Dan kini Nadya berhenti di stand buah-buahan.
"Mas Fathur mau buah apa?" Tanya Nadya kepada Fathur.
Hampir setiap berhenti disebuah stand Nadya pasti akan bertanya mengenai apa yang Fathur sukai. Bahkan perihal sayur pun Nadya bertanya kepada Fathur.
"Aku suka semuanya, Nad. Tenang aja, karena aku bukan tipe orang yang pemilih soal makanan. Jadi ambil aja apa yang kamu mau." Jawab Fathur.
Nadya menganggukkan kepalanya paham. Kemudian buah yang pertama Nadya ambil adalah buah anggur.
Fathur baru ingat kalau selama ini dia selalu melihat ada buah anggur di lemari es rumah.
Nadya tersenyum.
"Iya, Mas. Suka banget." Jawab Nadya. "Dulu buat bisa makan buah anggur itu jarang bangettt. Karena buah anggur terlalu mahal dibandingkan sama buah-buah lainnya. Jadi baru bisa makan anggur kalau ada orang yang kasih. Karena kalau uangnya buat beli anggur tuh sayang, mending buat beli lauk makan." Ujar Nadya bercerita.
Fathur terdiam, tidak menyangka jika Nadya menjalani hidup yang sangat sulit dibandingkan dengan dirinya.
Fathur, dia sendiri sejak dulu sudah lahir dengan semua kekayaan yang orang tuanya. Apapun yang Fathur inginkan selalu dia dapatkan. Ditambah Fathur adalah anak satu-satunya yang menjadi kesayangan kedua orang tuanya. Jangankan anggur, mungkin hampir semua buah yang ada di dunia ini sudah pernah Fathur rasakan.
"Kalau kamu suka anggur, ambil yang banyak, Nad." Ujar Fathur kepada Nadya.
Fathur melihat Nadya hanya memasukkan anggur 2 box yang berukuran sedang.
__ADS_1
Nadya tersenyum.
"Ini udah lebih dari cukup kok, Mas." Jawab Nadya.
Setelahnya Nadya memasukkan buah lain kedalam trolinya.
Sampai akhirnya semua perlengkapan yang Nadya butuhkan sudah dia dapatkan. Nadya dan Fathur berjalan menuju kasir. Saat Nadya sudah berada di depan kasir, Fathur bisa melihat Nadya mengambil sebuah kartu ATM yang Fathur tau bukan kartu ATM yang pernah dia berikan kepada Nadya. Untuk sekarang Fathur memilih untuk diam, dia akan menanyakannya nanti saat mereka sudah sampai di rumah.
Begitu giliran mereka untuk membayar barang belanjaan, Fathur dengan segera mengambil kartu ATM milik Nadya dan memasukkannya kedalam kedalam saku celananya. Sementara itu Fathur mengeluarkan kartu debit miliknya.
Nadya tentu saja terkejut dengan apa yang Fathur lakukan, hanya saja Nadya juga memilih untuk diam karena tidak mungkin juga mereka membuat keributan kecil di depan kasir hanya karena sebuah kartu ATM.
"Sekalian makan malam disini aja gimana, Nad?" Ujar Fathur kepada Nadya setelah mereka selesai dengan belanjaannya.
"Boleh, Mas." Jawab Nadya.
"Kamu pengen makan apa?"
"Ehm..."
"Jangan jawab terserah." Ujar Fathur saat melihat Nadya yang sedang berpikir.
Sedikit demi sedikit Fathur mulai hafal dengan sifat Nadya yang satu ini. Setiap diminta untuk memilih, pasti Nadya akan menjawab terserah.
Nadya tersenyum.
"Aku bingung Mas, aku nggak tau makanan enak disini." Jawab Nadya. "Soalnya aku jarang banget makan di Mall." Tambahnya lagi.
Melihat wajah polos Nadya membuat Fathur ikut tersenyum.
"Kamu suka makanan Jepang?" Tanya Fathur kepada Nadya.
"Eehmm, pernah makan Ramen beberapa kali sih, dan... rasanya enak, aku suka." Jawab Nadya.
"Kalau Sushi pernah coba?"
Nadya menggelengkan kepalanya.
"Belum pernah, Mas."
Nadya memang pernah makan Ramen, sementara Sushi, sampai saat ini Nadya belum pernah mencobanya.
"Gimana kalau kita makan Sushi? Kamu cobain Sushi biar tau kamu suka apa enggak." Ujar Fathur.
Karena Sushi sendiri adalah salah satu makanan favorit Fathur. Jadi Fathur ingin tau apakah Sushi juga bisa menjadi favorit Nadya atau tidak. Karena kalau mereka sama-sama suka Sushi kan jadinya enak.
"Boleh." Jawab Nadya seraya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oke, kalau gitu sekarang kita ke restoran sushi."
Tidak lupa Fathur meraih tangan Nadya dan menggandengnya. Sementara belanjaan tadi sudah Fathur masukkan ke bagasi mobil. Karena akan ribet kalau mereka makan masih membawa barang belanjaan.